Satu
Based on True Story
Nama, Tempat, dan Kejadian disamarkan demi kredensial pemilik cerita.
https://youtu.be/VmM_JBZAwP8
POV
Lingga Hananto
Tebet, Juli 2021
Sabtu siang yang tak terganggu, kami berhasil memutihkan pagar depan rumah. Seorang kurir bahkan sampai memuji Jian yang telah membantu dengan kuas kecilnya sejak pagi. Selain membuatku bangga, anak ini sepertinya selalu bisa membaca pikiranku dan menempatkan dirinya pada posisi yang baik. Maksudku, aku telah melalui masa-masa sulit sendirian ketika semua orang percaya aku baik-baik saja. Namun, Jian tidak seperti itu. Aku tidak bisa berbohong di depannya tak peduli seberapa keras aku mencoba.
"Kenapa Papa bekerja setiap hari sampai jam segini? Kenapa Papa makannya sedikit sekali? Kenapa Papa sering tidak ada di tempat tidur? Mata Papa kenapa?"
Jian selalu bisa melihat semuanya. Seolah-olah sejak kedua orang tuanya tak seatap lagi, Papanya ini telah berubah menjadi manusia yang terbuat dari kaca. Transparan dan rawan benturan.
Aku membantu membersihkan noda cat di tangan kecilnya dengan minyak tanah. Dia menyeringai karena tak kuat dengan baunya. Itu saja bisa membuatku tergelak dan tak menyesali libur siang yang sengaja kuambil. Lagipula ini hari terakhir jatahku di pekan ini bersamanya.
"Selanjutnya, bilas pakai air dari selang. Itu Nene sudah bawain sabun. Minta tolong sama Nene, ya," kataku sebelum mengecup kepalanya.
Ibu melambaikan tangan seraya memanggil Jian. Bocah laki-laki itu berlari antusias, mengibaskan tangannya sambil berseru, "Bau, bau, bau!"
Aku hendak membereskan kaleng-kaleng cat saat ponsel di saku jinku bergetar terus-menerus. Nama Yesi mengapung di layar sebelum kuusap dengan ibu jari.
"Mas, kamu belum mau anter Jian, kan? Aku masih harus ngerias ke satu lokasi lagi. Kayaknya bakal rampung agak maleman. Ini dadakan soalnya buat gantiin Kak Roro," ucapnya serta-merta.
"Belum. Itu anaknya baru mau makan siang. Kira-kira sampai jam berapa?" tanyaku sungkan.
"Jam sembilan. Soalnya di Bogor."
"Aku antar besok pagi gimana? Jian nginep semalam lagi aja di sini. Soalnya abis magrib persis aku juga harus pergi angkut barang."
"Kata Jian bukannya kamu libur?"
"Aku sengaja ambil libur siangnya. Udah terlanjur iyain order orang juga. Nggak enak kalau aku batalin."
Yesi terdiam sesaat memikirkan tawaranku. "Kamu nggak apa-apa kalau dia nginep di situ semalam lagi?"
Aku berdecap. "Jian itu anakku juga. Jatah Sabtu-Minggu sama dia nggak akan pernah cukup," ujarku terus terang.
"Besok aku yang jemput ke sana. Takutnya kamu lagi angkut barang dan nggak sempet nganter Jian ke rumahku," pungkasnya dengan nada tak mengenakkan.
Aku menatap layar ponsel saat panggilan terputus begitu saja.
Meski sudah lama berpisah, sikap Yesi yang seperti itu masih berhasil menggores perasaanku.
Jariku bergerak otomatis menyentuh ikon Instagram hanya untuk memastikan sesuatu. Yesi pernah log in ke akunnya melalui ponselku dan sampai sekarang masih ada. Jadi sekalipun ia memblokir akunku untuk alasan egoisnya, aku masih bisa memeriksa beberapa hal. Dari sekadar melihat laman Ceritanya yang selalu ada foto terbaru, sampai mengecek dengan siapa dia sedang berkirim pesan atau laki-laki mana yang sedang berusaha mendekatinya. Meski harus dengan perasaan terbakar.
Benar, dia memang sedang menuju ke Bogor dengan tim rias pengantinnya. Tentu, bersama Esa yang jadi sopir pribadinya. Aku tergerak mengeklik profil Esa yang seketika aku sesali karena dia sudah tak malu lagi mengunggah foto berdua dengan Yesi.
Ibu mengamatiku dari jauh. Segera kuselundupkan ponsel ke saku jin lalu melenggang ke arahnya.
"Jian nginep semalam lagi di sini," kataku lirih tanpa berani menatap wajah Ibu.
Ia memberiku anggukan mengerti. "Ajak anakmu makan siang dulu. Abis itu tidurin, sekalian kamu juga. Biar nanti nggak capek kalau mau ngangkut lagi."
"Setelah nyuci pikap nanti aku tidurin Jian."
"Biar Bapak yang cuciin. Temani anakmu makan aja. Itu lagi ganti baju sendirian di dalam." Suara Bapak menyela dari ambang pintu.
Aku tidak suka saat mereka berdua menatapku dengan keprihatinan. Tetapi, cuma merekalah sumber kekuatan dari luar yang selalu menyangga langkah gontai perjalanan rumah tanggaku selama ini.
***
"Nanti malam Papa pulang jam berapa?" tanya Jian dengan suara kantuknya setelah kekenyangan makan ikan nila goreng hasil pancingan Bapak dari kolam.
Aku mengecilkan volume televisi. Udara dari jendela ruang tengah yang terbuka berembus mengenai rambut keriting Jian.
"Papa pulang jam ... Jian maunya Papa pulang jam berapa?" gurauku sambil menciumi pipinya.
"Kenapa Papa pergi, sih? Kan Jian mau nginep lagi," rajuknya.
"Jadi, kan tadinya Jian mau Papa antar tuh ke rumah Mama. Terus niatnya sehabis antar Jian, Papa mau angkut barang lagi karena ada yang mau pindahan. Tapi Papa janji bakal pulang cepet kok. Sebelum Jian tidur Papa udah balik."
Anak itu tampak tak puas dengan alasanku. Wajahnya memberengut.
"Nanti main PS deh sama Papa!" bujukku.
"Beneran, ya?"
"Iya, beneran."
"Janji, ya?"
"Janji! Makanya Jian tidur siang dulu biar nanti malam nggak ngantuk."
Anak yang ulang tahun kelima nanti minta dibelikan kostum Spiderman itu lalu memiringkan tubuhnya menghadapku. Aku meniupi dahi dan mengusap-usap rambutnya. Saat kukira Jian mulai terlelap, aku menjauhkan tangan dari kepalanya. Namun kemudian dia berkata lirih, penuh harap, nyaris terdengar seperti memohon, "Besok giliran Papa yang nginep di rumah Mama, ya."
******
Urgent Publication
Marathon Setiap Hari
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top