PART 21 - MURID-MURID ANEH

Jika dihadapkan dengan sebuah pilihan memang susah. Tapi hasil dari itulah yang seharusnya dipermudah.
###

BEL pulang sudah berbunyi, Kayra bergegas keluar menuju pintu gerbang. Dan ia memilih untuk melewati lapangan basket agar lebih dekat.

Drrt... Drrt...

Ponselnya bergetar.

Sebuah nama tercantum di sana. Seorang teman baiknya di kelas 10 dulu. Abella Diandra.

Bella: Kay, bisa ke sini nggak. Lo masih belum pulang kan? Gue di gazebo dekat lapangan basket. Sebelah ring.

Kayra membaca pesan itu sekilas.

Lalu dengan cepat ia berjalan menuju arah yang sudah dituliskan dengan menenteng tas bekalnya tadi.

Dilihatnya siswa kelas 12 belum ada yang pulang. Mungkin masih ada keperluan.

Ia mengedarkan pandangannya.

Sampai pandangannya tertuju pada seorang perempuan yang tengah duduk di gazebo.

Kayra berjalan cepat menuju sana.

"Hei! " sapanya.

Bella menoleh ke Kayra.

"Duduk sini aja, Kay," kata Bella.

Kayra duduk di sebelah temannya itu.

Dilihatnya temannya itu tampak murung. Belum juga genap satu bulan ia meninggalkan kelas 10. Rasanya seperti sangat lama.

Kayra duduk menggantung di gazebo itu.

"Kamu kenapa Bell?" Kayra menggeser duduknya lalu memeluk pundak temannya itu.

"Gue bingung Kay," ucap Bella pelan.

"Kenapa?"

"Lo pasti tahu, sejak lo pindah ke kelas 11 gue duduknya sama Devan." Bella mulai bercerita.

"Terus?"

"Devan udah beberapa kali nembak gue Kay."

Kayra bergeming.

Hah... Kenapa malah masalah percintaan ujung-ujungnya.

Ia tidak tahu apa-apa. Jujur. Yah... Walaupun ia memiliki Jovi.

"Apa yang buat kamu bingung Bell? Setahuku, Devan emang suka sama kamu."

Kayra menaruh tas bekal itu di sampingnya.

"Gue bingung sama perasaan gue Kay!"

"Di sisi lain... Gue suka sama Devan. Dia selalu bisa buat gue seneng setelah lo pindah. Tapi gue nggak yakin.. Karena itu gue belum ngasih jawaban ke dia."

Kayra mengembuskan napasnya. Ia sebenarnya tidak tahu menahu tentang masalah yang semacam itu.

Kayra memberanikan diri untuk bersuara "Kamu suka orang lain?"

Dan seketika itu pula Bella menatap Kayra. Gadis berponi tipis itu menatap temannya intens.

Bella mengangguk samar.

"Tapi kayaknya itu nggak mungkin. Gue sama dia beda banget," ucap Bella pesimis.

"Dia siapa?"

"Kak Dave..." jawabnya pelan.

Hah... Kenapa selalu ada nama komdis? Pikirnya.

Tiada hari tanpa menyebut nama salah satu komdis.

"Lo tahu kan Kay, dia kayak apa, gue kayak nunggu kepastian dari dia. Jujur aja... Gue tertarik sama dia. Sikapnya, perhatiannya ke gue itu yang buat gue suka sama tuh komdis," jelasnya.

Kayra menyimak dengan seksama, setahunya komdis yang berjurusan IPS itu memiliki sifat yang sama dengan kekasihnya. Jovi.

Kadang cuek tapi sikapnya berubah-ubah. Itulah yang membuat sebagian anak enggan berbicara banyak dengannya.

"Kok kamu bisa deket sama dia?"

Bella mengembuskan napasnya.

"Lo tahu kan, gue ikut ekstra paskib. Dan dia ketuanya."

Kayra mengangguk.

"Apa kayak gini, nasib cewek biasa yang suka cowok yang levelnya nggak bisa dicapai?"

Kayra menelan ludahnya.

Kenapa nasib temannya satu ini hampir sama dengannya?

Kayra juga gadis biasa. Dan Jovi...tidak usah ditanya. Malah lebih di atas David.

Sudah tampan, pintar, kebanggaan sekolah, banyak fansnya. Bisa dibayangkan bagaimana sedihnya jika orang yang selama ini menyanjungnya tahu jika ada seseorang yang menjadi pacarnya.

"Kak Dave pernah nggak nyatain perasaannya ke kamu?"

Hah... Lidah Kayra serasa keluh jika menyangkutkan dengan perasaan.

Bella menggeleng.

"Gimana jadinya Kay, kalo gue sama dia? Gue... Belum siap dibully banyak orang." Bella berucap frustasi.

Lagi-lagi Kayra merasa pernyataan itu mengena juga di dalam dirinya.

Benar yang dikatakan Bella. Ia belum siap mendapatkan cibiran dari mereka.

Tidak semua orang pasti menyukainya bukan? Bahkan mungkin tidak ada yang setuju.

Karena itu Kayra sebisa mungkin menutupi hubungannya dengan Jovi. Walaupun pasti lambat laun akan terbongkar.

"Aku nggak tahu Bell."

"Lo pasti punya cowok kan Kay?"

Pertanyaan Bella membuat Kayra terbelalak.

"Aku... " Kayra gugup harus berbuat apa.

"Nggak apa Kay kalo nggak mau cerita. Pasti cowok lo kakak kelas ya?" tebak Bella dengan senyuman miring.

Kayra bergeming.

"Kenapa ya, Kay, cewek biasa kayak kita banyak dibikin sulit dalam hal pilihan?"

"Em.. Aku nggak bisa kasih kamu saran Bell, aku juga nggak tahu."

"Nggak apa kok Kay. Oh ya, jangan lupain gue ya, walaupun sekarang lo jadi kakel gue." Bella mencoba tersenyum memaksa.

Kayra tersenyum tipis.

"Oh ya, Bell. Kak Dave emang udah punya cewek?"

Bella menggeleng

"Dia cuek banget Kay... Dan kadang-kadang sikapnya nggak bisa ditebak."

Kayra bisa mengerti bagaimana perasaan Bella. Karena ia juga pernah mengalaminya.

Jovi juga sering berubah sikapnya. Kadang cuek dan kadang juga perhatian. Dan kadang juga sikapnya jauh di luar perkiraan.

"Kay... Makasih lo udah mau dengerin curhatan gue."

Kayra tersenyum tipis sambil menyelipkan anak rambut di belakang telinganya.

"Iya sama-sama."

Bella lalu memeluk temannya itu.

"Gue pulang dulu Kay, lo mau bareng nggak, ke depan?"

"Boleh, ayo!"

Mereka kemudian beranjak dari gazebo dan berjalan melewati lapangan.

Dilihatnya beberapa siswa kelas 12 sudah pulang.

Dan saat itu pula ia tidak sengaja melihat dua komdis yang tengah berjalan bersama.

"Kay, Kay, Kak Kevin sama Frisya itu mereka pacaran ya?"

"Em... Iya kayaknya. Aku nggak tahu." Kayra tersenyum kikuk

"Mereka langgeng ya, Kay. Denger-denger sih, mereka pacaran udah mulai kelas 10."

Kayra ber "Oh."

"Udah hampir tiga tahun ya?" ucap Kayra sambil menengok sekilas komdis itu.

"Ehm... Kay, gue duluan ya. Sopir gue udah jemput tuh," pamit Bella ketika mereka sudah berada di ambang gerbang.

"Oh... Iya hati-hati"

Kayra berjalan menuju halte di sebelah timur gerbang.

Ia biasa menunggu di sana memang.

Dilihatnya banyak siswa keluar dari gerbang.

Dan saat itu pula ia melihat motor Jovi keluar dari gerbang.

Jovi mengenakan jaketnya serta sarung tangan untuk mengemudi.

Kayra tersenyum sekilas. Mungkin Jovi tidak mengetahui keberadaannya.

***

Hari Kamis, dimana ketika jam ke 3 dan 4 kelas Kayra mendapat jadwal pelajaran 'sejarah.'

Yah, dominan siswa di kelas itu tidak terlalu suka pelajaran itu. Selain karena gurunya yang... Sudah tua, gaya pembawaannya tidak disukai. Namun mereka tetap menghargai.

Memang, tidak semua guru cara pembelajarannya bisa diterima dengan senang hati oleh muridnya.

Biasanya diam-diam semua siswanya mengeluarkan handphone di saat jam pelajaran.

Bukan, bukan untuk bermain handphone. Tapi untuk merekam suara sang guru itu.

Mereka semua tahu menggunakan handphone dilarang di saat jam pelajaran kecuali guru memperbolehkan.

Kayra pun begitu. Rekaman itu akan ia putar di malam hari. Hitung-hitung ia belajar sejarah dari rekaman suara itu.

Dua puluh menit kemudian, bel berbunyi. Pertanda jam istirahat.

Guru laki-laki yang sudah tua itu. Berdiri, bersiap untuk menutup pelajaran hari ini.

"Ya sudah.. Karena jam sudah selesai. Saya akhiri dulu... Jangan lupa PR kalian halaman 51 sampai 52," kata guru itu dengan suara serak.

"Yah.... Udah habis... Padahal aku kan excited bangeeet." suara lebay itu berasal dari seorang cowok yang duduknya di sebelah Raka. Ya, itu Billy.

Guru itu sepertinya tidak mendengar. Ia sudah keluar dari kelas tersebut.

"Alah... Lo kalo mau cari muka atau bohong nggak handal! Orang gue tadi tahu lo tidur dan di kepala ada buku paket!" sembur Ratih.

Temannya yang lain hanya terkikik geli. Ada-ada saja memang yang diperbuat.

"Kalo lo ngejek, basi pake cara gitu Bill, seharusnya lo ke depan orangnya dan ikut dia ke kelas lain yang mau diajar," sahut Deka.

Gelak tawa tak henti-hentinya dari mereka.

Sepertinya memang ada anak teater di kelas itu.

"Wah.. Gila, seksi banget. Ya ampun... Putih!!!"

Gelak tawa tadi berkurang ketika suara seruan heboh berasal dari bangku paling pojok.

"Eh, lo nonton apaan?" Billy, Fano dan Deka berbondong-bondong melihat ke arah laptop salah satu temnnya itu.

"Anjiiir... Kalo gini gue juga mau. Bibirnya, aish ..." celetuk Billy dengan kurang ajarnya.

Pacarnya yang tidak lain adalah teman sekelasnya juga menatap dengan tatapan horor ke arahnya.

"Eh, Babe. Enggak kok Babe, ini cuma film hollywood aja kok." Billy yang tahu Risha menatapnya, seketika kikuk.

"Lo lihat apa hayo?!" ujar salah satu anggita OSIS. Yang juga menjadi teman sekelas Kayra saat ini. Ya, itu Farrel.

Sikap Farrel tidak jauh beda dari temannya yang lain.

Farrel mendekat ke arah kerumunan cowok tadi.

Kayra yang merasa kegerahan kemudian berani dari duduknya. Ia memilih duduk di bangku depan ruang kelasnya.

Tidak la kemudian Raka menyusulnya keluar.

Ia duduk di sebelah Kayra.

"Nggak kerasa ya, Kay, kurang beberapa bulan lagi kita kelas 12?" ucap Raka membuka pembicaraan.

"Hm.. Iya."

"Kayaknya lulus SMA, gue bakal ke rumah gue yang di sana deh."

Raka menyugar rambutnya sekilas.

"Yang di mana?"

"Kalau nggak di Amerika mungkin gue bakal ada di Kanada," jawab Raka.

Kayra mengangguk pelan.

"Gimana olim lo?"

"Ehm... Anak aksel yang mau ikut ada dua. Gue sama Fika."

"Believe me, if you seriously, you must be get what you want!"

"Hmm."

"Kalo boleh jujur Kay, gue pasti ngiri sama cowok yang jadi pacar lo."

Kayra terbelalak lalu menatap Raka.

"Apa sih, Ka. Ngomongnya kok kayak gitu?"

Raka tersenyum miring.

"Yeah... I think i am falling love with you. But... "

"Hmm? "

"I can't to explain it. You are a beautiful girl, smart and... Your kindness made me comfort whenever you're near me."

Kayra diam mendengar penuturan Raka.

Ada apa sebenarnya dengan Raka?

Selama ini Raka tidak pernah bercerita tentang kehidupan percintaannya.

Terakhir, yang Kayra tahu Raka menyukai Audy dan Kayra mendegar langsung jika komdis itu tidak mempunyai ketertarikan dengan cowok di sebelahnya saat ini.

Tapi Kayra diam. Tidak ingin jika Raka tahu.

Padahal di sekolahnya banyak yang terang-terangan mengagumi Raka. Apalagi kakak kelas.

"Kay, lo mau nggak jadi pacar gue?"

Kayra melotot seketika.

"Ka... Lo... Kayaknya lagi nggak fit ya?"

Raka menggeleng.

"Jangan ngalihin pembicaraan!"

Raka mendekat ke Kayra.

Sepertinya cowok itu lupa situasi dan kondisi. Apalagi ini di depan kelas.

"Kalau lo kira gue suka Audy, itu dulu, tapi sekarang gue nyerah. Dia nggak naruh perasaan sama sekali ke gue Kay. Gue tahu itu, bahkan dia udah punya cowok yang... Udah lama mereka bersama," ucap Raka pelan.

Raka sudah tahu?

"I want your answer right now!"

Wajah Raka terlihat lesu.

Kayra bingung harus berkata apa.

"Ka... Lo... Em... "

Kayra menjadi gugup.

Tidak, tidak, dia sudah menjadi milik Jovi.

Saat ini hanya mereka berdualah yang duduk di bangku itu dan keadaan sekitar tidak terlalu ramai.

"Please..." Raka memohon.

"Nggak Ka... Ini salah!"

Raka semakin memajukan wajahnya.

Jarak di antara mereka tinggal setengah jengkal.

Deru napas mereka saling beradu.

Brakk!!!

Suara gebrakan pintu membuat mereka mengalihkan pandangan ke arah kiri Raka.

Ternyata Fano dan kawan-kawannya.

"Hai kalian! Para muggles, sedang apa kalian hahaha... " ucap Deka mendramatisir. Deka menatap ke arah mereka berdua.

Kayra menatap bingung pada kedua cowok itu saat ini. Deka dan Fano berbicara layaknya di film Harry Potter.

"Ehm.. Gue masuk dulu." Karena kikuk, Kayra akhirnya memutuskan untuk masuk.

Kegilaan Deka dan Fano tidak berhenti di situ.

"Expelliarmus!" Fano mengucapkan mantra itu sambil mengarahkan telunjuknya ke Deka.

Hah... Apa mereka tidak malu dilihat adik-adik kelas. Bahkan ini di depan kelas.

Raka menggeleng heran.

"Lacarnum inflamere!" kini gantian Deka yang mengucapkan mantra lalu diarahannya jari telunjuknya ke Fano.

Raka yang tengah dilanda galau kemudian melangah ke mereka berdua.

"Expecto patronum!" ucap Raka. Ia mngarahkan jari telunjuk kanan ke Fano, sedangkan yang satunya ke Deka.

Dan detik itu juga gelak tawa mereka pecah.

Dasar cowok-cowok aneh!

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top