♟8♟Terdampar di zaman Joseon.

“Yang Mulia Goryeo dan Permaisuri tiba!”

Jeong Soon sontak bangkit dari duduknya. Tak lama pintu terbuka dari luar. Masuklah Raja dan Ratu Kerajaan itu, mereka adalah kedua orang tua Jeong Soon. Permaisuri langsung menyongsong ke arah In Hyun yang masih melongo melihat kedatangan mereka.

Wanita separuh baya itu duduk di pinggir ranjang lalu memeluk In Hyun erat. “Hwa Young. Akhirnya kau kami temukan juga,” wanita itu mencium kening In Hyun penuh haru, kemudian melepaskan pelukannya itu menatap penuh rindu kepada In Hyun.

Hwa Young? Batin In Hyun selalu bertanya-tanya, sebuah pertanyaan di atas pertanyaan yang lain kini menumpuk di benaknya.

“Kami sudah lama mencarimu, Putri kecilku. Tak kusangka kau akan tumbuh lebih cantik dari waktu kecil dulu.” Puji Kaisar Goryeo berdiri menatapnya.

“Terima kasih atas pujian Anda Yang Mulia, saya-”

“Panggil aku Ayahanda dan Ibunda Ratu. Kau adalah menantu kami dari dulu dan dua hari lagi akan resmi menjadi pendamping emberator penerus Kerajaan ini,” ujar Kaisar Goryeo tersenyum hangat.

In Hyun malah terlihat bingung dan otaknya masih mencerna semua ucapan-ucapan mereka.

“Kami tahu kalau kau hilang ingatan dan kami mengerti kebingunganmu itu.” Ibu Suri tersenyum memegang erat tangan In Hyun.

Kruyuuukkk!! Perut In Hyun tiba-tiba berbunyi membuatnya tersenyum malu sendiri.

“Kalau begitu, kita segera makan. Aku tahu kamu pasti lapar dari kemarin belum makan apa pun,” kata Ibu Suri tertawa kecil.

“Dan kau Pangeran, bawa istrimu untuk makan bersama kami,” kata Kaisar Goryeo menatap ke arah Jeong Soon yang dari tadi tampak diam mendengar percakapan mereka.

Ibu Suri berdiri, masih tersenyum memandang In Hyun dan melirik sekilas kepada Jeong Soon. Ia mengedipkan kedua matanya. Entah isyarat apa yang diberikan Ibu Suri pada anaknya itu yang langsung disambut dengan anggukkan dari Jeong Soon.

“Kami akan menunggu di ruang makan.” Ibu Suri mengakhiri percakapan mereka.

Setelah Raja dan Ratu keluar. In Hyun mengembuskan napasnya keras-keras melepas ketegangannya itu.

“Nanti kita lanjut lagi bercerita, aku akan ke kamarku dulu. Kamu pergilah ke ruang makan.” Jeong Soon dengan santainya melangkah pergi keluar.

Eohh, aku merasa berada di negeri dongeng, bagaimana bisa aku terjebak di zaman kuno ini? Ditatapnya ruangan kamar itu. Masih dihiasi lampu-lampu lentera, belum ada lampu listrik apalagi elektronik.

Mongyi dan Gahee masuk. Mereka tidak tahu kalau Pangeran dan Putri mereka sudah menikah dari kecil.

“Tidak saya sangka, begitu istimewanya Tuan Putri di mata Yang Mulia dan Permasuri, mereka sampai datang ke kamar Anda.” Gahee terlihat girang karena bisa menjadi dayang pribadi calon istri Putra Mahkota di Kerajaan itu.

“Itu memang selayaknya mengingat kalau dua hari lagi mereka akan menikah. Tapi memang benar, jangankan ke kamar lain, ke kamar Pangeran saja mereka jarang. Mereka selalu bertemu di majelis Raja dan tak pernah mengunjungi antar kamar manapun juga.” Mongyi tampak berpikir, begitu istimewanyakah Tuan Putri mereka itu.

“Aish, kalian terlalu menyanjung. Tapi bisakah kalian menceritakan bagaimana aku bisa sampai ke istana ini dan siapa yang membawaku ke sini?” In Hyun menatap kedua dayangnya itu dengan penuh penasaran.

♠♠Flashback♠♠

Beberapa hari yang lalu seorang Panglima perang kepercayaan Jeong Soon berlari meminta izin ke pengawal penjaga taman agar diizinkan masuk ke taman larangan untuk menemui Pangeran Jeong Soon. Setelah mendapat izin dia berlari menghampiri Jeong Soon yang saat itu sedang memainkan suling di pinggir kolam.

Setelah dekat, dia menaruh pedangnya ke atas rumput lalu jongkok berlutut di atas satu lututnya di hadapan Jeong Soon sambil mengepalkan kedua tangannya disejajarkan dengan kepalanya yang menunduk memberi hormat. “Hormat saya Pangeran, maaf sudah menganggu. Tapi kami sudah berhasil menemukan di mana Tuan Putri Hwa Young berada,” ujarnya sembari masih menunduk menunggu jawaban dari Jeong Soon.

Jeong Soon menghentikan permainan sulingnya itu. Terlihat kedua matanya sedikit berbinar-binar. Akhirnya aku menemukanmu Hwa Young, setelah sekian lama aku mencarimu, ternyata takdir masih berpihak kepadaku.

Berdirilah Panglima Zheng Yan.

Panglima itu langsung berdiri, kini menatap serius pada Pangerannya itu.

Kalau begitu, aku akan ikut dengan kalian. Bawa aku ke sana.” Perintah Jeong Soon tegas bergegas menyuruh prajurit lain membawakan pedangnya dan menyiapkan juga kudanya.

Jeong Soon bersama kedua Panglima dan beberapa prajurit menaiki kuda dan membawa kereta kuda juga untuk menjemput istrinya itu.

Setelah melewati sebuah danau dan juga menelusuri jalanan tengah hutan.

Akhirnya mereka sampai di sebuah Desa kecil yang terpencil di tengah hutan di mana Hwa Young berada. Desa itu terlihat sudah hancur lebur oleh lahapan api dan dilihatnya dari kejauhan beberapa bandit Kerajaan lain yang mengetahui bahwa Putri Kerajaan Timur ada di sana. Mereka terlihat sedang menyiksa dan membunuh penduduknya menanyakan di mana Putri Kaisar Jumong itu berada.

Seorang temannya tampak berbicara padanya lalu pergi masuk ke arah hutan.

Kalian bereskan para pengkhianat itu, aku akan mengikuti kedua bandit yang pergi ke hutan, firasatku mengatakan mereka sudah menemukan Putri Hwa Young di sana.” Jeong Soon memerintah kedua Panglimanya itu.

Tapi Pangeran, apa Anda akan bisa membereskan mereka yang tampak berbahaya itu?” tanya satu Panglima mengkhawatirkannya.

Panglima Zheng Yan menyeringai. “Jangankan mengalahkan para bandit itu, mengalahkan seratus Panglima seperti kita pun, Yang Mulia sangat sanggup.

Panglima yang satunya terkejut. Dia memang baru saja diangkat menjadi Panglima, jadi dia meragukan kekuatan dan kemampuan bertarung sang Putra Mahkota.

Tanpa banyak kata lagi, Jeong Soon turun dari kudanya menyelinap ke pohon-pohon besar hutan itu. Sementara para prajurit dan kedua Panglimanya menjalankan perintah untuk membunuh para bandit dan menyelamatkan penduduknya di Desa itu.

Langkah Jeong Soon terhenti kala pandangannya tertuju pada tiga wanita yang sedang terluka, bersandar di bawah pohon besar.

Satu di antaranya sudah tua sedang memeluk seorang gadis muda yang tak sadarkan diri. Satu lagi masih muda dan sedang membelitkan kain ke tangannya yang terluka.

Eomeoni. Bertahanlah, kita akan membawa Tuan Putri jauh dari sin-” belum selesai perkataannya, dua bandit tadi sudah berada di hadapan mereka.

Serahkan Tuan Putri kalian atau aku akan membunuh kalian!” bentaknya sambil tersenyum lebar melihat ke arah gadis yang pingsan itu.

Kalau kau menginginkannya, langkahi dulu mayatku!” jawab gadis itu sembari mengacungkan pedangnya.

Sombong sekali kau wanita, baiklah jika itu maumu!” kata bandit yang bertubuh besar itu dengan geramnya.

Lelaki itu menyerang duluan namun secepat kilat pedangnya terhenti oleh pedang Jeong Soon yang sudah berada di hadapannya.

Siapa kau? Beraninya mencampuri urusan kami!” katanya geram tak mengenali Jeong Soon.

Beraninya kau melawan wanita, kalau berani lawanmu adalah aku.” Jawab Jeong Soon dingin.

Rupanya dia sudah bosan hidup,” kata teman bandit itu yang bertubuh kurus.

Mereka malah tertawa. Jeong Soon melipat tangan kirinya ke belakang dan memainkan pedangnya yang berada di tangan kanannya itu.

Sreettt, crraass!! Darah menyembur dari pergelangan tangan bandit gemuk itu yang kini buntung terkena ayunan pedang yang sangat tajam milik Jeong Soon.

Aakkkhh!!” pekiknya kesakitan.

Sialan kau pemuda, pencampur urusan orang!” teriak temannya terkejut melihat tangan temannya yang gemuk itu mengeluarkan banyak darah dan masih menjerit kesakitan.

Jeong Soon menyeringai. “Jika itu menyangkut istriku, itu adalah urusanku juga.” Jawabnya datar.

Istri!?” Wanita tua dan gadis pembawa pedang itu terkejut mendengarnya.

Di-dia Pangeran Kerajaan Goguryeo (Barat),” kata wanita tua itu mengenalinya.

Pangeran, suami dari Young Yi (Hwa Young yang disamarkan namanya oleh mereka agar tak diketahui kalau dia masih hidup).” Gadis pembawa pedang menatap gadis dipelukan ibunya itu yang selama ini tumbuh besar bersama dengannya.

Wanita tua itu mengangguk.

Dasar sialan hiiaattt! Traanngg!” Lelaki kurus itu mulai menyerang, namun dengan lihai Jeong Soon selalu berhasil menghidari setiap serangannya dan hanya dengan satu tangan kanannya ia memainkan pedang dan tangan kirinya masih melipat di belakang punggungnya.

Tak memakan waktu lama lelaki kurus itu tertusuk pedang Jeong Soon dan mati seketika.

Jeong Soon menghampiri wanita tua yang terluka parah dan kedua gadis itu.

Pangeran Jeong Soon.” Wanita tua itu mencoba bergerak untuk memberi hormat padanya.

Anda jangan bergerak dulu, kami akan membawa kalian ke istanaku, terima kasih sudah merawat istriku dengan baik selama ini. Di istana kalian akan mendapat ke istimewaan yang layak kalian dapatkan.” Jeong Soon jongkok menatap gadis yang masih pingsan itu.

Tiba-tiba. “Awas Pangeran!” Gadis pembawa pedang itu mengadang lelaki gemuk yang buntung tangannya. Lelaki gemuk itu ingin menusuk Jeong Soon dari belakang. Namun, keburu diadang olehnya dan alhasil pedang itu menancap tepat di perutnya. Darah mengalir deras keluar dari perut gadis itu.

Srrettt.. jleebb.. srrangg!! Jeong Soon langsung menusuk perut lelaki gemuk itu dan menarik pedangnya, seketika lelaki gemuk itu jatuh terkapar ke tanah mati dalam hitungan detik.

Bruugg!! Gadis pembawa pedang itu pun jatuh di tanah.

Pa.. Pangeran.. tolong ja.. jaga.. a.. adikku.. baik ba-” belum selesai mengucapkan perkataan itu, dia mengembuskan napas terakhirnya.

Jeong Soon menoleh ke wanita tua itu yang ternyata sudah meninggal juga. Dia berjongkok memeriksa nadi gadis yang bernama Hwa Young itu di bagian tangan dan leher, dibuka sedikit baju Hwa Young di atas dada kanannya melihat sebuah tatto yang sama dengannya. Lalu digendong keluar dari hutan menuju kereta kuda.

Mereka disambut oleh prajurit yang masih utuh dengan kedua Panglimanya.

Pangeran, dia ...?” Zheng Yan menatap gadis yang di pangkuan Jeong Soon.

Dia masih hidup.” Jawab Jeong Soon terlihat lega.

Panglima Zheng mengambil pedang yang berlumuran darah dari tangan Jeong Soon.

Di dalam hutan ada dua wanita, mereka yang telah merawat dan menjaga Putri dengan seluruh jiwa raga mereka sampai berkorban dengan nyawa mereka juga, jadi tolong makamkan mereka dengan istimewa serta mayat para penduduk ini kubur dengan layak juga.” Perintah Jeong Soon kepada prajurit dan satu Panglima barunya.

Baik! Akan kami laksanakan Pangeran!” jawab mereka serentak.

Jeong Soon membawa masuk Hwa Young ke dalam kereta kuda untuk duduk bersamanya lalu menyandarkan kepala gadis itu ke dalam pelukannya. Diremas dengan erat pinggir lengan Hwa Young. Akhirnya aku menemukanmu, maafkan aku, kau telah menunggu lama dan pastinya sudah banyak menderita selama ini. Batinnya lirih.

Mereka pun kembali ke istana membawa Hwa Young.

Sementara yang lainnya masih di sana untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Jeong Soon tadi.

♠♠Flashback Off♠♠

“Nah, seperti itu cerita bagaimana Anda bisa dibawa ke istana ini, Putri dan kedatangan Anda disambut dengan hangat di sini, sampai hari ini Anda baru sadar. Tapi kalau masalah kenapa kalian dinikahkan dengan cepat, saya tidak tahu.” Jelas Gahee mengakhiri ceritanya.

In Hyun dan Mongyi bengong mendengar ceritanya.

In Hyun menghela napasnya. “Kalau masalah pernikahan aku sudah tahu.” Ia teringat kembali penjelasan Jeong Soon tadi.

“Dari mana kamu bisa tahu cerita itu dengan lengkap?” Tiba-tiba Mongyi bertanya dengan penuh keheranan menatap Gahee.

Gahee nyengir kuda. “Karena Panglima Zheng Yan adalah kakak kandungku.” Jawabnya sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.

Mongyi malah menganga. “Ternyata dia kakakmu, aku tak pernah menyangka kau punya kakak segagah itu.”

In Hyun malah melamun, merenung, mengingat-ingat semuanya. Berarti gadis yang pingsan itu adalah aku, tapi aku kan masih di zamanku di mana kak Nam Suuk menikah dengan Yurika. Bagaimana aku bisa jadi ada di sini dan menjadi gadis yang bernama Hwa Young itu? Kalau aku di sini, terus gadis itu di mana sekarang? Batinnya diselimuti dengan pertanyaan yang menumpuk dan itu benar-benar di luar kendali serta di luar akal pikiran manusia biasa.

Kruyuuukk!! Perut In Hyun protes lagi meminta jatahnya. “Aku lapar,” ucapnya sembari mengusap-usap perutnya.

“Hampir lupa, mari Tuan Putri, kita harus ke ruang makan.” Ajak Mongyi baru sadar.

In Hyun langsung beranjak dari atas ranjangnya. Dipersilakan berjalan di depan menuju ke tempat di mana semua orang sedang menunggunya.

Sebuah pintu berukuran besar dibuka oleh kedua penjaga di sana sambil berteriak. “Tuan Putri Hwa Young tiba!”

Teriakan itu sempat membuat In Hyun kaget. Seperti meneriaki maling saja. Gumamnya melangkah masuk ke dalam. Ternyata di dalam sebuah ruangan yang sangat luas dan hanya ada meja-meja pendek serta bantal-bantal kecil untuk duduknya. Di ujung ada sebuah panggung yang di atasnya dua meja milik Raja dan Ratu Muryeo.

Indah, tapi masih kuno. Batin In Hyun sembari menatap sekeliling ruangan itu, ia terhenti ketika melihat kedatangan Kaisar dan Permaisuri masuk dari pintu lain.

In Hyun menundukkan punggungnya hormat, melipat tangan kirinya ke belakang dan mendekapkan tangan kanannya ke depan ke bagian perutnya, hormat ala Kerajaan Inggris.

Mereka tersenyum melihatnya. Masih belum ada yang mengajari In Hyun bagaimana cara hormat dan sapaan di istana itu.

“Duduklah Putriku.” Tunjuk Ibu Suri ke sebuah meja dengan senyum hangatnya itu.

In Hyun pun menurut duduk di meja yang ditunjuk oleh Ibu Suri yang berada di samping bawah mereka.

Dia duduk di sebuah bantal empuk. Tak lama teriakan pengawal memberitahukan kalau Jeong Soon dan satu Pangeran lainnya masuk ke sana.

Jeong Soon dan Lee Hwon? In Hyun bertanya-tanya melihat seorang pemuda lain berjalan masuk dengan Pangeran Jeong Soon.

Lee Hwon adalah sepupu Jeong Soon. Mereka tumbuh bersama, dia melirik ke arah In Hyun dan tersenyum membuat In Hyun terpaksa menundukkan kepalanya karena malu. Dia terkejut ketika seseorang sudah duduk di sampingnya. Ia menoleh ke samping ternyata itu adalah Jeong Soon.

“Kenapa kau duduk di sini? Masih banyak meja kosong di sana,” tunjuk In Hyun ke meja lain dengan nada pelan hampir berbisik kepada Jeong Soon.

“Ini mejaku.” Jawab Jeong Soon dingin.

“Kalau begitu aku yang pindah.”

Baru saja In Hyun hendak beranjak dari duduknya, tangannya sudah ditarik oleh Jeong Soon sehingga membuatnya terpaksa duduk kembali.

“Kau juga adalah istriku, jadi di sini suami istri harus duduk bersama,” ujar Jeong Soon selalu tanpa menatap wajah atau mata In Hyun.

“Tapi kita kan-”

“Ehemm!” Kaisar Goryeo berdeham membuat mereka diam seketika tak bisik-bisikkan lagi.

Ibu Suri hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.

Tak lama iringan pelayan membawa hidangan bermacam-macam lalu ditaruh di atas meja masing-masing.

Dihidangkan masakan yang belum pernah dimakan oleh In Hyun ketika di zamannya. Masakan yang lezat baginya itu membuatnya seakan lupa di masa zamannya.

Jeong Soon hanya tersenyum tipis melihat In Hyun yang lahap memakan makanannya. Ia hanya berpikir mungkin waktu di desanya dulu, istrinya itu jarang menemukan makanan yang enak-enak.

Setelah selesai makan. In Hyun keluar diikuti oleh Gahee dan Mongyi mengitari taman dan Kerajaan yang luas dan besar itu.

Ini benar-benar sebuah surga, aku tak menyangka bahwa zaman dulu lebih indah dari pada zamanku yang hanya sesak oleh gedung dan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Kata In Hyun dalam hati sembari berputar-putar menghirup udara segar.

Tak sengaja dia menabrak seseorang, dia sedikit mendongak ke atas melihat wajah siapa, ternyata itu adalah Jeong Soon.

Jeong Soon tiba-tiba menarik tangan In Hyun erat. “Ikut denganku.”

In Hyun menoleh ke belakang melihat kedua dayangnya itu dengan wajah sendu seakan meminta tolong. Namun Mongyi dan Gahee hanya tersenyum tak berani mengikuti mereka yang masuk ke taman larangan, sebuah taman pribadi milik Jeong Soon.

“Ka-kamu mau apa membawaku ke sini?” tanya In Hyun masih mengikuti Jeong Soon dari belakang dan sesekali melirik tangannya yang ditarik erat oleh Jeong Soon.

Ӝ----TBC----Ӝ

Maaf ya.. Gk bisa tiap hari soal'y kemarin up dlu PAPZ.. 😁 jdi edit revisi'y ke cancel..

Revisi ulang*
21 Januari 2020

By~ Rhanesya_grapes 🍇

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top