16

*****

Aku menggeliat dalam tidurku dan tanpa sengaja kurasakan tanganku menyentuh sesuatu yang aneh, sesuatu yang lembut dan hangat.

Lekas saja aku mulai mencoba membuka mata. Dan dalam riap-riap mataku yang masih menyipit hal pertama yang kutemukan dalam netraku adalah wajah Ranu yang sedang tertidur lelap dengan satu sisi wajahnya menempel di bantal.

Aku berusaha mengumpulkan nyawa dan memunguti kepingan otakku untuk mencerna adegan ini. Kenapa Ranu ada di sini? Kenapa aku bisa tidur satu ranjang dengannya? Kenapa ini bisa terjadi?

Lalu setelah otakku memproses semuanya dan kepingan kesadaranku mulai terkumpul sepenuhnya, kini aku baru ingat kalau semalam akulah yang mendatanginya di kamarnya dan berakhir ketiduran di kamar ini.

Untung saja aku belum berteriak heboh dan menendang Ranu dari ranjang karena itulah yang terlintas dalam kepalaku tadi. Jika saja itu sudah kulakukan betapa malunya aku untuk bertemu Ranu nanti.

Kulihat jam di dinding yang baru menunjukkan pukul tiga kurang lima menit, masih lama untuk waktunya orang-orang bangun tidur, dan jika dipaksa untuk tidur lagi aku takkan bisa melakukannya. Ini sudah menjadi kebiasaanku sejak lama. Dan kalau aku memaksa bangun sekarang aku tidak tahu harus melakukan apa.

Aku bukan tipe orang yang suka di dapur menyiapkan segalanya. Selama tinggal di sini pun aku tak pernah ikut membantu Bunda di dapur untuk menyiapkan sarapan. Dan Bunda juga sepertinya tidak merasa keberatan dengan itu semua.

Entah, apa benar itu yang dirasakan Bunda atau tidak, yang jelas aku tidak pernah mendengar atau melihat Bunda mengeluh akan sikapku karena toh hampir semua pekerjaan di rumah ini sudah dikerjakan oleh pembantu.

Jadi hal yang kulakukan sekarang adalah tetap berada di posisi yang sama saat aku pertama kali membuka mata. Berbaring menyamping menghadap Ranu yang masih tertidur lelap dalam posisi tengkurap.

Kupandangi wajah itu, wajah yang terlihat begitu damai dan tenang. Wajah orang yang sekarang berstatus suamiku. Wajah orang yang akan hidup denganku mulai saat ini. Wajah orang yang memiliki mata cokelat madu terang yang sekarang tengah terbuka.

"Eh."

Aku mengerjap beberapa kali saat mataku dan Ranu saling berpandangan dalam posisi saling berhadapan satu sama lain.

Tidak ada suara yang keluar dari mulut kami berdua selain suaraku tadi yang begitu terkejut saat melihat matanya yang terbuka. Dan yang terdengar sekarang adalah suara deru napas kami yang mengalun begitu pelan, juga gema jantungku yang berdegup kencang.

Ranu tak bereaksi apa-apa setelahnya. Tidak ada sapaan selamat pagi atau apa. Yang dia lakukan hanya menatapku saja. Seolah dia belum terjaga sepenuhnya. Atau memang belum terjaga? Kurasa memang begitu, karena mata Ranu bahkan tak berkedip sama sekali.

Kutatap mata cokelat madu itu. Mata yang begitu indah menurutku. Karena yang kurasakan sekarang aku begitu terpesona dengan mata itu hingga membuatku enggan untuk berpaling dari sorot matanya yang seolah ingin mengunciku di dalam sana.

Dan karena keterpanaanku terhadap mata Ranu membuatku tak sadar jika sekarang Ranu sudah berada di atas tubuhku. Tubuhnya menjulang tinggi di sana membuatku terkejut seketika.

Refleks, kututup tubuhku dengan menyilangkan tangan di depan dada seolah itu bisa melindungi tubuhku dari Ranu dan menaikkan kaki untuk menutupi bagian di bawah sana. Tapi nahas, gerakanku yang tiba-tiba justru membuat bencana bagi Ranu. Karena tanpa sengaja lututku menendang asetnya yang bagitu berharga.

Ranu mengerang kesakitan. Aku meringis membayangkan betapa ngilunya milik Ranu yang baru saja aku tendang.

"Mas Ranu mau ngapain?!" tanyaku panik seraya beringsut menjauhinya. Ranu sendiri kini terduduk sambil memegangi asetnya. Wajahnya terlihat sangat kesakitan.

Jujur aku merasa takut dan khawatir padanya, bagaimana jika punya Ranu kenapa-kenapa?

Kulihat Ranu mendelik padaku sambil memegangi asetnya yang sepertinya masih terasa ngilu.

"Kamu ini yang ngapain?" balasnya galak.

Aku semakin beringsut menjauhinya karena wajah Ranu benar-benar terlihat merah padam sekarang.

"Ma-maaf. Aku nggak sengaja," kataku. "Mas Ranu ngagetin sih tiba-tiba di atas tubuhku. Ya kan aku pikir Mas Ranu mau ngapa-ngapain."

Ranu semakin mendelik padaku. "Memangnya kamu pikir aku mau ngapain kamu?!"

"Ya kan siapa yang tahu?" Aku ikut mendelik padanya. Merasa sebal juga. Di sini memang aku salah tapi dia juga salah. Salah siapa yang tiba-tiba ada di atas tubuh orang?

Ranu membuang napas panjang. Tangannya menunjuk nakas di sebelahku. "Lihat. Dari tadi ponselku bergetar. Aku hanya ingin mengambilnya."

Aku ikut menoleh ke arah ponselnya yang memang sedang bergetar. Lho kok akunggak asadar ya?

"Dan kamu malah menendang juniorku," geramnya.

Aku meringis padanya. "Ya, maaf. Aku kan nggak tahu."

"Bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu sendiri bengong seperti itu.."

"Hah?"

"Kan! Sepertinya kamu sendiri tak sadar," rutuknya. "Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan? Bangun tidur sudah bengong saja."

"Siapa yang bengong? Aku nggak bengong!" sanggahku.

"Oh, ya? Lalu apa yang sejak tadi kamu lakukan?" sarkasnya.

"Ya, aku, kan …."

"Kan, nggak bisa jawab."

"Ya , ini kan baru mau dijawab, ih."

"Coba jawabannya apa?" tantangnya.

"Ya. Ya. Ya. Kan …."

Ranu berdecak. "Kenapa? Terpesona kamu padaku?" celetuknya.

Aku terkejut mendengarnya. "Hah!"

Ranu menyeringai padaku. "Kamu tahu apa yang sejak tadi kamu lakukan?" tanyanya. Aku diam tak menyahut ucapan Ranu. "Kamu diam sambil terus lihatin aku. Terus kamu bilang, 'indahnya'."

"Nggak mungkin," sanggahku. Aku nggak mungkin melakukannya.

"Nggak percaya ya sudah."

"Ya udah nggak usah dibahas," kataku. "Kalaupun iya, mungkin karena mata kamu mirip punya Binar."

Seketika Ranu diam dan tak lagi menyanggah komentarku. Jujur aku semakin nggak enak terhadap Ranu. Meskipun hal itu benar. Mata mereka memang mirip. Hanyasaja mata Binar lebih gelap, sedangkan mata Ranu lebih terang. Seperti ombak di lautan.

"Begitu?" katanya dengan suara yang memprihatinkan. "Tapi Aru, tak bisakah kamu ambilkan aku sesuatu untuk mengompres ini?" tunjuknya pada milik pribadinya. "Ini benar-benar ngilu. Kamu nggak mau kan suamimu ini jadi impoten di malam pertama kita tidur bersama?"

Aku melebarkan mata, tapi juga segera bangkit dari ranjang, keluar kamar dan menuju dapur mengambil entah apa saja yang bisa aku temukan.

Dan beruntungnya aku, Bunda ada di sana bersama Rinjani dan Mbak Nani asisten rumah tangga di rumah ini. Sepertinya mereka sedang bersiap-siap memasak untuk sarapan nanti.

"Aru?" sapa Bunda begitu melihatku yang sedang berjalan menuju ke arahnya.

"Bunda," kataku merasa lega.

"Ada apa? Kenapa wajahmu panik begitu?" tanya Bunda ikut panik melihat wajahku.

"Itu ...." Aku bingung bagaimana cara mengatakannya.

"Ada apa, Kak Aru?" tanya Rinjani. Dia ikut mendekat ke arah kami.

Kini Bunda, Rinjani dan Mbak Nani menatap penasaran padaku. Tapi aku yang malah tidak tahu apa yang harus dikatakan. Duh.

"Ada apa Aru?" tanya Bunda lagi.

Aku masih berpikir apakah benar jika menceritakan ini pada mereka? Tapi ini keadaan urgen pasti gak apa-apa lah ya.

"Itu Bund. Punya Mas Ranu ngilu," kataku pada akhirnya.

Mereka bertiga diam menatapku.

"Tadi punya dia kena sama punyaku."

Mereka bertiga masih diam menatapku tapi kali ini dengan kening berkerut bingung. Awalnya hanya ada satu tapi lama-lama semakin banyak. Nah kan. Aku juga bingung dengan apa yang mau aku katakan.

"Nggak sengaja, Bund. Sebenarnya bukan salahku juga. Salahnya Mas Ranu juga yang tiba-tiba ada di atasku."

Aku tidak tahu apa yang sekarang mereka pikirkan. Karena sekarang Rinjani sudah menyeringai padaku dan wajah Bunda merah padam. Hanya Mbak Nani yang sepertinya masih belum paham ada situasinya.

"Dan sekarang dia sedang kesakitan. Dia nyuruh aku buat nyari sesuatu buat bantu dia biar punyanya nggak ngilu lagi," pungkasku.

Aku berharap mereka paham dengan maksud ucapanku karena aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya dengan gamblang. Aku tidak mungkin menyebut nama alat kelamin pria di depan Bunda sebagai orang tua, 'kan? Dan aku juga tidak bisa menyebutkan itu di depan Rinjani yang belum menikah. Jadi aku sangat berharap ucapanku bisa dimengerti mereka. Karena aku ingin membantu Ranu. Aku tidak mau punyanya kenapa-kenapa. Selain karena dia suamiku bukankah itu aset paling berharga milik seorang pria?

Aku menatap mereka bertiga penuh tanda tanya. Tapi Rinjani malah tertawa terbahak-bahak setelahnya. Bunda menepuk pundaknya agar Rinjani menghentikan tawanya. Mbak Nani juga ikut terkikik di belakang sana, sedangkan wajah bunda semakin merah padam.

"Jadi, Kak Aru sama Mas Ranu mau malam pertama?" tanya Rinjani.

Aku menggeleng. "Nggak kok. Tadi kami cuma tidur biasa."

"Lalu?"

"Lalu dia tiba-tiba di atasku. Karena aku terkejut, punya dia kena punyaku. Dan sekarang katanya ngilu."

Rinjani semakin terbahak mendengar penjelasanku.

"Kak Aru! Kak Aru! Kalau cuma gitu mah gampang biar punya Mas Ranu nggak ngilu lagi!"

Aku menatap Rinjani antusias.

"Dia cuma butuh Kak Aru buat bantu agar punya Mas Ranu nggak ngilu lagi," katanya.

Hah? Bagaimana bisa?

TBC
*****

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top