Bab 26
"Lam, aku tahu kau pasti menduga ini semua ulah Ji-sung," ungkap Pak Ahsan tanpa melirik kepada Lam. Pandangannya menerawang jauh ke depan. Seolah-olah apa yang akan dibicarakannya ini adalah masalah yang sangat krusial.
"Aku memang meminta tolong kepadanya untuk itu. Walaupun tak bisa dimungkiri jika aku juga sedikit terkejut dia akan mempertemukanku denganmu, Pak."
"Kau kecewa?"
"Aku terkejut."
Suara engsel yang berdecit mengiringi setiap ayunan keduanya. Lam sebenarnya ingin mengayun setinggi-tingginya. Ia ingin berteriak dengan lantang dan lepas. Sekencang-kencangnya sampai mendiang ayahnya terbangun dari tidur panjangnya.
"Bagaimana, Lam?"
"Apanya yang bagaimana, Pak?"
"Oh. Tidak apa-apa."
Langit sudah mulai memerah. Burung-burung terbang dengan lelah. Dua ekor layangan saling beradu di udara. Salah satu kalah dan sekumpulan manusia meneriakinya.
Bagi Pak Ahsan, Sedap Malam tak lebih dari khayalan terliar yang pernah terlahir dari pemikirannya. Banyak siswi cantik datang dan pergi, tetapi sedikit yang membekas dalam ingatan. Jikalau Sedap Malam tidak melakukan kekonyolan ketika ujian atletik, mungkin Pak Ahsan tidak akan pernah mengingatnya.
Kala itu Sedap Malam berhasil memecahkan rekor lari 100 meter di sekolahnya dengan bertelanjang kaki. Meskipun ternyata alasan di balik itu adalah karena Sedap Malam menahan hajat, tetapi momen tersebut tak pernah bisa dilupakannya.
"Lam, boleh aku tahu apa cita-citamu?"
"Eh?"
Pak Ahsan merasa bersalah atas pertanyaan yang diajukannya tadi. Hampir saja ia mengutarakan permintaan maaf sebelum Lam berkomentar.
"Aku tidak pernah punya cita-cita, Pak. Kata ibuku perempuan tidak membutuhkan itu. Yang penting jadi istri yang baik. Bisa masak, bisa momong anak."
Pak Ahsan tergelak. Ia tidak menduga akan jawaban yang dilontarkan oleh Lam.
"Bagiku tidak seperti itu, Lam. Perempuan sama halnya dengan laki-laki. Berhak mengejar apa pun yang ingin diraihnya."
"Lalu, bagaimana dengan omong kosong soal sumur, dapur, dan kasur?"
"Aku bukan tipikal suami konvensional. Men ... istriku dulu juga kuperbolehkan bekerja."
Lam mendengus. Cukup halus untuk tidak terdengar oleh lawan bicaranya.
"Lam, apakah kau ingin meneruskan ini atau tidak?"
"Kau sendiri bagaimana, Pak?"
Kali ini gantian Pak Ahsan yang mendengus. Embusan napasnya berat.
"Awalnya kukira aku bisa membesarkan kedua putriku sendiri. Namun, baru kusadari kalau itu adalah keputusan yang egois. Anak-anakku membutuhkan seorang ibu."
"Porto folioku buruk. Pacaran sekali saja pun aku ditinggal nikah."
"Jadi, benar kau sempat berpacaran dengan Hidayah. Kukira itu cuma gosip."
"Aku pun berharap seperti itu juga, Pak."
"Maaf."
"Tidak usah dipikirkan. Itu masalahku."
"Tetap saja itu ...."
"Pak, apakah kau merasa aku bisa menjadi seorang ibu yang baik?"
"Lam, apakah maksudmu kau ...."
"Jawab saja."
Pak Ahsan harusnya tahu kalau gadis di depannya itu sudah bukan siswinya lagi. Lagipula ini bukan di ruang kelas.
"Kupikir demikian. Harus kuakui kamu adalah gadis yang unik, Lam."
"Unik saja tidak akan cukup membuat anak-anakmu memanggilku ibu, bukan?"
"Itu masalahmu waktu."
"Aku merokok."
"Aku tahu."
"Sejak kapan?"
"Aku pernah memergokimu membolos di warung samping sekolah. Aku melihat kalian semua merokok."
"Kau masalah dengan hal itu?"
"Kau mau berhenti dari kebiasaan merokokmu?"
"Belum tahu. Mungkin saja suatu saat nanti."
"Asal kau ada niatan untuk berhenti, bagiku itu bukan masalah."
"Kau seperti seorang malaikat saja, Pak. Kerjaannya menghitung niat."
Mereka berdua berbagi tawa.
"Hidup ini lucu, bukan, Lam?"
"Benar. Aku sepakat denganmu. Belum pernah sekalipun, bahkan di dalam mimpi, aku membayangkan akan bernegosiasi tentang urusan pernikahan dengan guruku sendiri."
Pak Ahsan tahu itu bukanlah sebuah pernyataan yang harus ditanggapi.
"Pak, kau tadi bilang sudah memerhatikanku sejak kelas satu."
"Benar."
"Kenapa kau tidak berusaha mendekatiku saat itu?"
"Memangnya kau mau?"
"Mungkin. Saat itu aku belum terlalu dekat dengan Hide. Bisa saja aku menerimamu."
"Kau tidak lupa aku gurumu dan kau itu muridku, kan?"
"Memangnya kenapa? Kau taku dengan pandangan miring dari orang lain."
"Benar. Alasan pertama memang itu. Yang keda tentu karena aku baru saja menduda. Aku takut perasaanku kepadamu hanya sebatas pelampiasan dari kesepianku saja."
"Apakah sekarang akan berbeda? Maksudku kau tidak akan menjadikanku pelampiasan saja."
"Kali ini aku sudah cukup yakin dengan perasaanku. Bagaimana denganmu sendiri, Lam?"
"Aku tidak mencintaimu, Pak. Aku tidak yakin bisa mencintaimu. Namun, aku yakin bisa mencintai kedua anakmu. Tergantung kau akan membutuhkanku sebagai istri atau ibu untuk anak-anakmu. Malahan sebenarnya aku lebih cocok jadi kakak mereka."
"Aku tidak ingin punya anak sepertimu."
"Tentu saja. Mana ada ayah yang berencana menikahi anaknya sendiri."
Seorang pedagang sate lewat sambil meneriakkan dagangannya. Menenggelamkan tawa Sedap Malam dan Pak Ahsan.
"Kau mau?"
"Boleh."
Pak Ahsan memesan dua porsi sate plus ceker ayam. Lam menyambutnya dengan sangat gembira.
"Kau suka ceker ayam?"
"Yup. Itu salah satu makanan favoritku," jawab Lam yang sudah lupa dengan mode alimnya. Ia telah kembali ke wujud gadis tomboi. Disikatnya sepincuk sate itu hingga kering tak bersisa. Tak lupa dengan menjilati ujung-ujung jarinya yang basah karena bumbu makanannya.
"Kau lapar rupanya."
"Anak-anakmu tidak dipesankan sekalian?" tukas Lam mengalihkan topik pembicaraan. "Ayah macam apa kau ini, Pak Ahsan."
"Mereka aman bersama adikku." Lam teringat dengan gadis yang ditemuinya tadi.
"Adikmu cantik sekali."
"Siapa dulu kakaknya."
"Menyesal aku bertanya."
"Pertanyaan terkadang membunuhmu."
"Sebentar. Ada yang ingin kutanyakan."
"Silakan," ujar Pak Ahsan yang tengah menikmati beberapa tusuk sate terakhirnya.
"Berapa usia adikmu?"
"Dua tahun di atasmu, Lam. Ada apa?"
"Bagaimana kalau kita jodohkan dengan Ji-sung?"
"Kukira Ji-sung tidak akan mau. Bukankah dia menyukaimu?"
Pertanyaan Pak Ahsan seperti pukulan smash keras dari Kento Momota. Tidak dapat terbaca dan masuk dengan telak.
"Sepertinya semua orang sudah mengetahuinya."
"Tentu saja siapa pun yang melihat bagaimana cara pemuda itu memandang matamu dan mendengar bagaimana dia memanggil namamu, pastilah akan berujung pada kesimpulan yang sama," terang Pak Ahsan. "Kau ini bodoh atau pura-pura bodoh?"
"Dia yang bodoh."
Pak Ahsan menuntaskan makannya. Ia mematahkan tusuk-tusuk sate miliknya, lalu, bersama dengan kertas dan daun pisang yang dijadikan alas, ditekuk sedemikian rupa dan dilemparkan dari tempatnya berdiri hingga ke tong sampah di sudut rumahnya. Lemparannya akurat. Tiga angka untuknya.
"Lam, dia telah menceritakan padaku semuanya."
"Semuanya?"
"Semuanya," tegas Pak Ahsan. Pria itu mengamati lekat-lekat perubahan ekspresi gadis di depannya. "Kini kau dihadapkan dengan pilihan terakhir, bukan?"
Lam menoleh. Sorot matanya mengancam. Pak Ahsan tahu resiko atas apa yang akan diucapkannya. Ini adalah kesempatan terakhirnya. Sekarang atau tidak sama sekali.
"Jadi, bagaimana, Lam? Maukah kau menjadi ibu untuk anak-anakku atau kau terpaksa harus menikahi sahabatmu sendiri."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top