Ocha Archanielelsker : Mimpi Buruk Terbesarmu

Mereka pasti bercanda!

Ujung bibir Troy tertarik ke bawah, mengatup dan meringis menahan sakit di leher yang dicekik tangan tertutup lengan baju warna hitam. Di manset kemeja yang dipakai penyerang Troy, ada serumpun bunga krisan hasil bordiran dari benang warna abu-abu. Terbuat dari asap yang sama dengan kabut abu-abu gelap di dekat mulut Troy.

Troy mengerang. Kembali, untuk yang kesekian kalinya dalam beberapa menit itu. Penyerangnya tersenyum, mengerdip-ngerdipkan mata dengani ceria. Jexe mengetatkan cengkraman jarinya di leher Troy, membuat pemuda itu tak dapat menahan diri untuk memekik dan mengeluarkan suara tercekik. Mata Jexe seperti kucing yang tersenyum melihat buruannya terperangkap di cakar mereka.

"Kau punya masalah dengan penjahat? Kenalanmu masuk daftar buronan yang kuburu? Atau pernah kubunuh tanpa sengaja, seperti 859.736.123 makhluk lainnya?"

Mereka sudah gila!

"Dia bukanlah yang harus kau ancam, Jexe Rolft."

Suara yang dalam dan berkuasa muncul dari pria paruh baya bertubuh besar, mukany penuh baret. Ketua dari aliansi penyihir negeri Ghrunklesombe, berpopulasi mahluk sihir terbesar di dunia. Salah satu dari empat penyihir perapal mantra terkuat, Vrown Darrister.

"Dan, kau, manusia, adakah gagasan yang lebih tepat daripada menyewa dua pembunuh dengan tingkat kegagalan nol seperti mereka?" istri Vrown bertanya, suara lembutnya mengalahkan dewi air bersuara indah manapun. Shalasa, lengkungan alis sempurna dan diberi rajah emas dekat kedua matanya yang berwarna putih polos, bertanya pada Troy. "Aku tidak melihat kesalahannya. Mereka terpilih. Dibandingkan manusia tanpa keahlian yang hanya tahu jalan menuju Gunung Besar Sangkaria agar tidak tersesat, kau sama sekali bukan ancaman bagi Sang Naga."

Dengan susah payah, Troy menelan kembali ludahnya. Jexe masih belum melepaskan tangannya sampai sebuah jemari putih yang kukunya sewarna rubi merah darah menyentuh lengan baju pemuda itu. Hevja, salah satu dari dua penjahat yang direkrut oleh Vrown dan Shalasa menatap mereka dari cadar hitam dan topeng yang terbuat dari jalinan batu Jadeite,Permata merah, Serendibite,Garnet Biru, Grandidierite, Painite, Musgravite,Bixbites, Opal Hitam dan Jeremejevite. Permata-permata itu melingkari kedua mata hijau kebiruan milik Hevja yang berkilat dari hijau emerald menjadi merah dan jingga kekuningan. Seolah memberi isyarat pada Jexe untuk berhenti mempermainkan pemandu perjalanan mereka.

"Oke,"jawab Jexe pada Hevja yang memberinya tatapan datar, entah menyetujui keputusannya atau tak peduli.

"Kau, kutitahkan untuk membawa dua orang terpilih ini untuk menemukan Sang Naga dalam misi mereka menemukan kristal Sang Naga."

Meski lehernya sakit, Troy tetap menjawab. Dengan suara pelan yang mengalahkan desahan debu, ia menyetujui titah itu," ya, Tuanku."

Pemuda lemah tak berdaya, yang tak memiliki kekuatan untuk mengalahkan dua pembunuh bayaran paling mahal di Ghrunklesombe itu segera menyeka keringatnya. Kembali memikirkan betapa gilanya keputusan sang Penyihir Perapal Mantra-hal yang mana tadi membawa petaka ketika ia berani mempertanyakannya. Diperbaikinya kain sorban yang meliliti kepala juga sepotong kain lusuh di mata tertutupnya. "Kami mohon diri, Tuanku."

Lalu sebuah batu permata merah dari salah satu rantai permata Hevja membungkus mereka; memerangkap ketiganya dan memindahkan mereka seribu lim[1] jauhnya dari perbatasan Ghrunklesombe. Posisi mereka saat ini tepat di gurun Nuvuwat yang panasnya merupakan perpaduan dari belasan matahari disatukan. Tak ada yang bisa ditawarkan tempat itu kecuali debu, udara kering, suhu yang sanggup mematangkan daging, dan angin panas. Binatang tak dapat menghuni tempat itu, hanya mahluk tertentu yang dapat bertahan dan mereka selalu tersembunyi.

"Jadi dimana letak gunung itu?" Jexe menggembungkan bibir dan menaikkan alis, bertanya pada Troy yang hanya diam tak bersuara. Bulir keringat menuruni wajah tampan pemuda yang dijuluki "Iblis yang memakai Halo di atas kepalanya" karena metode pelaksanaan misinya yang sangat berbanding terbalik dengan keagungan rupanya. Terlepas dari tugasnya sebagai pembunuh bayaran, Jexe Rolft dikenal benar dalam kepiawaiannya menyiapkan sebuah kehancuran suatu daerah dalam skala besar. Dibalik sifatnya yang suka bermain-main, pemuda itu menjanjikan pembunuhan besar-besaran, dengan intensitas kekejaman yang mengalahkan para penjemput kematian dari setiap pantheon manapun.

"Di dekat sini,"ujar Troy begitu pelan hingga Jexe harus menajamkan telinga dan mendengus ketika menangkap arti kalimat itu. "Kalau begitu dekat mengapa kami butuh pemandu?"

"Karena mahluk sihir tidak dapat melihatnya."

Dengusan Jexe kembali terdengar. "Jadi bagaimana kami-aku dan Hevja-bisa masuk kesana?"

"Ada peta udara yang ditunjukkan jejak angin guna menemukan pintu itu. Kalian tidak boleh jauh dariku jika ingin selamat. " Jexe tak menunggu lama untuk segera memutar kepalanya menghadap Troy. Fatamorgana di kejauhan tak lagi menarik baginya saat ini. Pemuda buta itu jauh lebih menarik sekarang.

"Apa aku baru saja mendengar mahluk paling lemah di muka bumi mengatakan aku harus menggantungkan leherku di pundaknya?"

"T-tapi itu benar! Kalian akan segera mati kalau para predator menemukan kalian berada di wilayah mere-Akh!" bantahan Troy berubah menjadi pekik tajam kala Jexe mencambuk pipinya menggunakan asap tipis yang muncul dari telapak tangannya.

Hevja menatap mereka dengan pandangan kosong serta ekspresi, yang meski tak jelas, seolah mengatakan, apa kalian ini sekumpulan bayi naga yang baru lepas cangkang dan lapar akan lava pertama kalian?

Wah, kau sangat membantu, Hevja,rutuk Troy dengan wajah datar.

"Terima kasih atas perhatianmu yang salah sasaran. Dan sebagai rasa terimakasih-"Jexe membuyarkan lamunan Troy-bayangan tentang mencekik wanita botak rekan mereka itu-dengan kalimat yang menggantung di udara.

"Sebaiknya kuingatkan kau, siapa yang predator, dan siapa yang mangsa."

Mata Troy terbuka lebar saat melihat asap yang tadi mencambuk pipinya kini menelusuri tubuhnya makin ke bawah dan melingkari salah satu pergelangan kakinya erat-erat. Tak lama kemudian, ia sudah berbaring di atas permukaan gurun yang panas dan penuh debu tajam. Jexe menyeret tubuh tubuh pemuda itu lalu membungkukkan diri ke arah tubuh Troy. Sebelum mangsanya sempat bangkit duduk, Jexe sudah menendang dada Troy, lalu menumpukan tangannya di lututnya sendiri. Kedua kakinya mengapit lengan luar Troy, sedikit menginjak bajunya, dan sama sekali tak membiarkan Troy bergerak bebas.

Suara rendah menahan tawa, serta kegagapan samar akibat kegembiraan yang begitu intens, Jexe berbisik di telinga Troy dan menggoda pemuda itu. Jexe selalu suka bermain dengan kematian, terutama kematian mangsanya. Hal itu selalu membuatya gembira setengah mati.

"Kuingatkan Troy. Kau bisa, dan selalu bisa, kubuat melukai orang yang kau anggap penting. Atau bahkan yang tak berarti dan tak kau kenal sekali pun. Dan TA-DA! Kau dipenjara. Lalu aku akan mengunjungimu, membawakanmu seikat mawar hitam kering. Membusuklah, Troy!"

Sebuah suara derak kasar mengejutkan keduanya. Hevja tengah menutup matanya, dan saat membuka, kedua mata itu sudah berubah warna merah keunguan. Di hadapan mereka bertiga tampak sebuah kotak persegi dari batu, dan Hevja kemudian menaiki undakan di bagian depan lalu membaringkan diri di sebuah sofa batu yang anehnya terlihat menggoda. Hevja tampak nyaman dengan baling-baling besar mengirimkan angin gurun yang panas tapi cukup untuk menyamankannya sementara.

Tubuh gadis itu berbaring menyamping, sengaja memposisikan diri agar bisa menonton mereka. Setelah itu salah satu tangannya yang tertutup lengan baju, dan hanya menyisakan ujung jarinya, mendekati bibir yang membuka sedikit seolah menahan kuap.

Itu, dari sisi manapun, jelas terlihat dan jauh lebih menyebalkan daripada Hevja bertanya, "kalian belum selesai berdebat?"

Jexe mundur dan menendang pasir ke arah Troy." Cepat lakukan tugasmu, sialan!"

Tanpa keinginan berpikir untuk membalas perkataan itu demi kebaikannya sendiri, Troy segera mengambil segulung perkamen yang ia selipkan di pinggangnya. Ditiupnya perkamen itu lembut, memudarkan warna kuning kecokelatan lusuh dari sana dan menjadikannya selembar kain segi empat transparan.

Troy mengambil sebuah kantung dari kulit ular di sisi lain pingganya, mengambil sebuah tabung berisi air dan menuangkannya sedikit di tangan. Ia membawa tangannya yang basah ke atas kepala, merasakan udara berhembus dari suatu arah. Ketika ia sudah mengetahui jalur udaranya, dibentangkan kain transparan tadi menghadang aliran udara yang akan datang. Debu-debu keperakan menempel dan seketika membentuk peta di permukaan kain.

"Kau sudah mendapatkan yang kau cari?"

"Ya. Pergerakan angin yang berhembus ke arah sana, pernah terpecah di suatu tempat. Membentur sesuatu jika dilihat dari polanya. Teksturnya agak aneh, seolah yang tertangkap peta bukan hanya angin gurun tapi dari beberapa tempat lain sekaligus. Ini agak aneh karena menurutku jika hanya gunung yang kita cari seharusnya tidak sebanyak ini. Bahkan untuk angin yang sudah berputar-putar dan-"

"Kau tak perlu menjelaskannya padaku. Kata-katamu tak dapat dimengerti kecuali aku aneh, dan kau mengerti kan kalau kau itu sudah cukup aneh? Jadi intinya dimana pintu masuknya?"

Troy memasang raut wajah serius yang pertama kali dilihat Jexe sejak mereka berdua bertemu. "Ada masalah kawan?" Tangan Troy masih meraba permukaan kain transparan yang kasar itu, mencari jawaban dari pertanyaan di benaknya.

Kawan? Sejak kapan musuhku ini menganggapku kawan? Ringisnya pada kata-kata Jexe.

"Tunggu, kawan?" Jexe mengerang, ia salah memilih kata tadi. Sekarang si lemah itu akan mengira ia bisa menjadi kawannya.

"Tidak. lupakan saja kata kawan itu barusan. Kau pasti paling tidak mengerti arti terbawa suasana,kan?" tawar Jexe mencoba memperbaiki kesalahan tadi.

"Tidak. Aku mengerti, tapi bukan itu maksudku. Ada kawanan disana. Tentu saja! Kawanan predator itu berada di dekat pintu masuknya! Entah diperintahkan untuk menjaga atau hanya supaya bisa memangsa mereka yang mencoba masuk, dengan izin ataupun tidak."

"Hevja!" panggil Jexe dan memandang gadis yang tak berubah posisi dari tadi dan sibuk di dunianya sendiri.

"Tunggu apa lagi? Ayo berangkat!"

Jexe menyeret tali lusuh yang menutupi mata Troy dan berjalan ke arah yang ia tahu menuju ke gunung itu. Hevja berjalan mengikuti mereka dan memandang datar pertengkaran yang sedang dimulai kembali itu.

"Tidak! Kita harus memikirkan sebuah strategi agar tidak melakukan pertarungan sia-sia dengan para predator itu."

"Urusan bertarung dengan predator itu menjadi urusanku!"

Kekeras kepalan Jexe membuat troy ingin mengertakkan gigi dan berteriak ke depan muka Jexe bahwa gagasan langsung maju dan membunuh lawan itu kuno. Jelas ketinggalan jaman dan tingkat kesembronoan Jexe bisa membunuh mereka semua. Tapi akhirnya, Troy memendam itu semua lalu berjalan maju memimpin mereka.

Mereka berjalan cukup lama. Menuruni gundukan bukit pasir yang panas dan membuat mereka lelah. Padang gurun yang luas, membosankan, dan sepi selalu sanggup membuat konsentrasi orang biasa terpecah. Tak jauh berbeda dengan Jexe, Hevja, dan Troy. Mereka kelelahan.

"Lebih baik kita membuat kemah," usul Troy yang staminanya berbeda baik dengan Jexe maunpun Hevja.

"Dan akan memperlama tugas kita,"bantah Jexe keras. Wajah pemuda itu menunjukkan ia bosan, dan kelelahan memperparah kondisinya. Cuaca tak memperbaiki situasi, dan pertikaiannya dengan Troy tadi sudah menyita sebagian besar kesabarannya.

Hevja sekali lagi hanya memandang, tak mau terlibat dalam argumen.

"Dengarkan aku sekali ini saja. Perasa-"

Kalimat troy terpotong oleh sebuah geraman kasar. Ketiganya serempak menoleh ke arah sumber suara dan menatap sesosok makhluk tinggi besar dengan sayap beristirahan di kedua sisi tubuhnya. Di balik makhluk itu, beberapa yang lebih kecil dan jelas berbeda jenis karena cenderung terlihat sebagai hewan melata, menunggu giliran mereka untuk mengancam.

Argumen mereka terpaksa dihentikan oleh sekumpulan predator yang memiliki aura berbahaya, kejam, buas, dan sanggup mencabik mereka bertiga dalam satu kali sapuan.

"Ini yang tadi kucemaskan."

"Ya. Cemas lah sesukamu. Aku mengambil yang besar, Hevja, kau tangani yang bagian belakang. Dan buat lah kursi untuk Troy, dia lelah. Biarkan dia menonton Predator Versus Predator secara langsung."

Sayap dari mahluk di depan mereka seketika mengembang saat melihat Jexe dan Hevja memutuskan berkonfrontasi dengannya. Letupan besar dari bola api keluar dari paruh makhluk itu, disertai gelegar suara yang seperti auman. Bola api itu mengarah ke Jexe, menghasilkan ledakan di tempat Jexe tadinya berdiri.

"Jexe!" teriak Troy sebelum ia menyadari sesuatu. Jexe lenyap. Perubahannya menjadi asap terlalu cepat ditangkap oleh mata makhluk itu atau pun Troy. Rekan seperjalanannya itu kini sudah berada di balik tubuh mahluk itu, menghunuskan sebilah senjata mirip pedang dan terbuat dari separuh lengan Jexe. Tajam dan mengilat saat tertimpa cahaya. Mata Jexe berbinar karena senang ia bisa bermain dan menemukan alasan untuk menghilangkan kebosanannya.

Tapi Jexe salah, sebuah sayap tiba-tiba muncul hampir saja memukulnya jatuh kalau Hevja tidak menusuk sayap itu dengan tombak dari batu yang warnanya mirip kristal es. Hevja tidak berkata apapun, melanjutkan pertarungannya sendiri yang hampir selesai dari singgasana batu yang tertupi perisai dari batu berwarna merah dan transparan. Semua korbannya masih hidup dan terluka parah akibat serangan dari ratusan batu yang menyerang mereka secara serempak.

"Seseorang menyerang kediamanku, dan mahluk hina buatan mahluk yang ingin menyamai tuhan turut serta."

Sebuah pisau menusuk di antara kedua mata Troy, merobek sedikit kain yang meliliti kepala si pemuda dan menutupi matanya. Kedua mata yang menutup itu membuka dan menatap pasir di bawah kakinya sebelum menutup dan tak membuka lagi.

Jexe meneriakkan nama Troy dan kabut kemarahan menutupi matanya. Dalam kecepatan yang berbeda jauh dari tadi, Jexe memotong mahluk bersayap itu lalu melesat ke arah Troy. Pisau itu sudah tidak menembus kepala Troy dan darah mengucur keluar dari lubang lukanya.

"Troy! Brengsek! Troy! Bertahanlah bedebah!"

Kata-kata itu percuma karena Troy bahkan sudah tak bergerak dan hanya tergeletak di sana sebagai tubuh tanpa jiwa. Jexe mengalihkan matanya dan menatap benci sesosok tubuh tinggi dengan tampang seperti dewa dengan senyum dingin menghiasi wajahnya.

"Siapa kau! Kau-kau membunuhnya!" Jexe berdiri dan menyadari ia lebih pendek dari makhluk itu. Ia tak menyukai fakta itu.

"Kau pun hampir membunuhnya tadi, kalau aku tidak salah. Bagaimana dengan itu? Lagipula makhluk hina ini mengotori pemandangan."

"Siapa kau sebenarnya!"

"Aku juru kunci dari naga yang kalian cari. Tapi, kalian bahkan sepertinya tidak tahu bahwa kalian sudah digiring masuk ke dalam gunung ini ya?"

Jexe menatap orang itu tak sabar dan asap yang muncul dari seluruh tubuhnya segera ia arahkan untuk menyerang. Tapi tak satupun ujung tajam dari asap Jexe yang mengenai tubuh Si Juru Kunci.

"Kau berani menyerangku? Setelah kupikir, kalian memang sekumpulan makhluk bodoh. Rugi jika berpikir aku tadinya hendak mengirim kalian pulang baik-baik."

Jexe merasakan seseorang berada di belakangnya dan menatap Hevja menghela cepat nafasnya. Firasat buruk menghampiri Jexe kala mata Hevja berubah menjadi merah pekat dan isakan yang muncul dari bibir gadis itu berubah menjadi tangisan yang sangat memekakkan telinga. Jeritan menyayat hati yang sanggup membuat hewan di belakangnya meraung marah dan ikut merasakan kesedihan Hevja.

"Hentikan dia. Tangisan para batu sanggup membuatmu gila dan membunuh kita semua!" perintah orang itu pada Jexe yang berusaha menutupi telinganya. Darah mengalir keluar dari telinganya dan Jexe hanya menggeleng.

"Kalau itu bisa membunuhmu, aku tak keberatan. Kau membunuh mangsaku. Dan aku cukup kesal untuk membiarkanmu lepas begitu saja. Kecuali dengan satu kondisi."

"Apa?"

"Pertemukan aku dengan Sang Naga!" jawab Jexe tegas, jelas tak mengharapkan jawaban tidak. Jexe menatap Hevja dan juru kunci itu secara bergantian dan kemudian menatap lawannya dengan kedengkian serta dendam.

"Tidak masalah. Hati para batu memang lemah dan mudah retak. Dan hatimu seperti anak kecil yang mainannya kurusakkan."

"Cepat pertemukan aku dengan Sang Naga!"

"Dasar tidak sabaran."

Sebuah ledakan muncul dari letak si juru kunci tadi berdiri dan di balik gulungan asap yang timbul, sesosok makhluk melesat ke angkasa. Berwarna hitam dengan garis keemasan di sisiknya yang berkilau. Sang Naga ternyata adalah juru kunci tadi.

Kau puas sekarang, Jexe Rolft?

Naga yang menipu orang-orang dengan samaran agar tahu arti kedatangan orang yang mencarinya. Naga yang memegang kristal berkekuatan maha dahsyat karena dapat menyembuh hampir separuh benua hanya dalam kerdipan mata. Naga Agung Gunung Sangkaria.

"Lebih dari puas," bisik Jexe sebelum merubah wujud sepenuhnya menjadi asap dan terbang ke arah Hevja dan mengendalikan pikiran gadis itu sepenuhnya.

Berikan kristalmu sebagai pengganti nyawa mainanku! teriak Jexe dari dalam tubuh Hevja yang belum berhenti berguncang dan bergetar karena ledakan amarah serta kesedihannya. Hevja di balik sosok tak berekspresinya memiliki hati yang sangat lembut dan sebenarnya mudah terluka. Kematian Troy yang bukan teman dekatnya sekalipun dapat membangkitkan kesedihan mendalam bagi Hevja.

Dan kalau aku tidak menyerahkannya? tantang naga padanya.

Aku akan memburumu seperti binatang melata lainnya.

Jexe dan naga itu sama-sama tahu khasiat dari kristal naga tak hanya untuk menyembuhkan tapi juga membangkitkan mereka yang mati. Bahkan jika makhluk itu sudah mati jauh sebelum penyelamatnya lahir.

Coba saja!

Tak perlu diperintah, Jexe sudah mengendalikan tubuh Hevja guna membuat seribu patung batu yang besarnya tak kalah dari makhluk-makhluk yang tadi ia kalahkan bersama Hevja. Patung-patung batu itu terbuat dari pasir dan diciptakan menggunakan konsep yang sama dengan asap milik Jexe. Mereka bisa hancur, tapi akan kembali lagi ke bentuk semula.

Bersamaan dengan itu Jexe membuat pasukannya membawa anak panah untuk dilepaskan ke arah Sang Naga. Ribuan anak panah tajam dilepaskan dan dihindari Sang Naga. Namun serangan Jexe tak berhenti disana, dikendalikannya anak panah itu untuk mengikuti Sang Naga sementara ribuan lainnya kembali diluncurkan.

Serangan itu kemudian dibagi menjadi dua kepentingan: separuh mengejar, dan separuh mengelabui. Ketika serangan anak panah kedua muncul, Jexe mengarahkannya jauh tinggi ke angkasa hingga menembus awan.

Sang Naga berputar-putar di langit seperti cacing kepanasan. Ia hanya bisa bertahan tanpa memiliki kesempatan untuk menyerang, karena kekuatan serangannya harus dihimpun terlebih dahulu. Dan Jexe tahu kelemahan dari Sang Naga. Ketika Sang Naga akhirnya terkepung dengan anak panah serangan pertama, Jexe menggabungkan anak panah serangan kedua menjadi satu anak panah besar dari balik awan tanpa diketahui Sang Naga.

Tak lama, ribuan anak panah menancap di tubuh Sang Naga dan disertai satu anak panah besar menusuk tubuhnya. Sang Naga pun jatuh ke tanah dan disambut Jexe dengan pasukan batu miliknya. Tak lupa, Jexe memerintahkan mereka menggunakan pedang untuk mengancam.

Hevja akhirnya kembali kepada kesadarannya, setelah Jexe keluar dari tubuhnya dan berjalan ke arah Sang Naga yang tengah terkapar.

Kau makhluk keparat! Kau bisa mengambil kristal itu, tapi kau akan tahu akibatnya jika menghidupkan kembali bocah itu!

Sebuah cahaya yang menyilaukan muncul dari sisik-sisik Sang Naga dan sekejap kemudian melenyapkan sosok Sang Naga, mengembalikannya ke tubuh awalnya, seorang pemuda. Pemuda itu penuh luka dan mengalami pendarahan hebat, tapi tak membuat Jexe iba sedikit pun ketika ia mengambil sebutir batu kerikil dari tangan Sang Naga.

Jexe tak menunggu lama dan segera menggunakan khasiat batu itu dengan menempelkannya ke luka menganga Troy. Hevja berjalan ke arahnya, duduk dan menekuk lutut kemudian menunggu Troy hidup kembali.

"Hei, Jexe, apa kau tahu nama temanmu?"

"Aku tidak peduli."

"Benar. Kau tidak peduli. Karena toh, dia hanya akan memanfaatkanmu, Vrown, dan membunuh kalian semua pada akhirnya."

Jexe segera menolehkan kepala dan menatap tajam Sang Naga. "Aku tak suka itu."

"Dia membuat anak Vrown dan Shalasa sakit, lalu membuat Vrown menugaskanmu, kemudian mengambil alih krsitalku melaluimu. Cerdas bukan?"

"Aku tidak mengerti maksudmu."

"Dia membangkitkan sisimu yang menyukai perang dan membuatmu menghadapi para predator. Kau tak tahu kan nama panjangnya?"

"Tidak,"jawab Jexe cepat.

"Namanya adalah, Troy Worsu Mighnare, Your Worst Nightmare."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top