Ian Alegar303 : Crystal Languages

Malam itu gelap, langit mendung dan sosok rembulan tertutup oleh kelamnya awan. Sesekali terdengar suara gemuruh dari langit, pertanda akan turun hujan.


Dari kegelapan malam yang semula sunyi, terdengar suara gemerisik dedaunan. Sesuatu sedang bergerak didalam hutan. Tak lama kemudian terdengar suara ledakan, dua sosok manusia yang sedang terlibat pertarungan hebat, hampir menghancurkan seisi hutan itu.


"Rein berhentilah!" Sosok seorang perempuan terdengar mengomel sambil mendengus kesal. "Pertarungan ini hanya akan menyebabkan kristal membawa kematian"


"Itu tidak akan terjadi, jika aku bisa membunuhmu lebih cepat" Balas Rein, sesosok pria tinggi berambut panjang berwarna hitam pekat "Jadi diamlah dan biarkan aku membunuhmu"


Rein melempar satu bahkan dua pedang ke arah perempuan itu. Tapi beruntung perempuan itu dapat menghidarinya dengan meloncat tinggi kebelakang


"Sira, kau harus mengetahuinya. Hanya ada boleh satu naga didunia ini dan satu pemegang kristal." Rein tampak tersenyum mengerikan dengan tatapan beringas.


"Untuk apa itu semua? Menjadi yang terkuat dialam semesta ini. Aku tidak pernah menginginkan itu" Hardik Sira dengan keras. "Kau tidak tau seberapa pahitnya hidupku hanya untuk melindungi kristal bodoh ini"


Sira, merapal mantra pada busur dan anak panahnya. Seketika sayup-sayup angin berdesir didekatnya, lalu bergerak menuju mata anak panah dan melingkarinya secara spiral. Dengan sigap Sira melepas anak panah itu, melesat begitu cepat, membelah pohon dan merobek tanah.


Rein berdiri dengan santainya tanpa mengkhwatirkan dirinya yang mungkin saja akan mati jika terkena serangan itu. "Vista" Ribuan pedang keluar dari dalam tanah, menjadi penyelamat dirinya dari serangan itu.


Rein mengangkat tangannya dan seketika itu juga, pedang-pedang yang awalnya menjadi tameng itu, berterbangan disekitar tubuhnya "Kuro" Ia menjentikkan jarinya dan segera ribuan pedang-pedang itu terbang melesat menuju ke arah Sira.


Perempuan itu dengan sigap menghindari setiap terjangan pedang itu dengan lincah. Sesekali dia menebakkan anak panah ke arah pedang itu hingga membuatnya hancur. Hampir satu menit Sira bergulat dengan pedang-pedang itu, akhirnya dia lolos dengan napas terengah-engah. Entah datang dari mana semangatnya, ia kembali merapal sebuah mantra pada anak panahnya.


Kali ini anak panah itu diselubungi oleh cahaya merah muda. "Arrow blast" Ia melepaskan tembakkan.


Rein kali ini sangat terlihat waspada, raut wajahnya menjadi sangat tegang berbeda dari sebelumnya yang sangat santai. Ia meloncat setinggi mungkin tapi, bukan berarti dia berhasil menghindari serangan itu, serangan itu belum berakhir. Anak panahnya memang meleset dari Rein, tapi ketika anak panah itu menghantam pohon disaat itu juga anak panah itu memecah menjadi ratusan yang bertaburan dilangit mengejarnya.


Rein dengan cepat membaluti dirinya dengan jubah yang ada pada pakaian zirah hitamnya. Namun, itu tidak cukup membantu hingga membuat Rein terlempar dan jatuh dengan hempasan yang kuat. "Sial, itu sakit" Dia terdengar seperti meledek dari pada kesakitan.


"Mungkin sudah saatnya kita akhiri pertarungan ini" Sira telah berdiri dibelakang Rein, dengan busur yang siap melepaskan anak panahnya kapan saja.


"Jangan melucu Sira, aku belum selesai" Hempasan kuat dari kaki Rein menciptakan jutaan pedang bermunculan dari tanah, membuat Sira tidak ada pilihan lain selain menghindarinya.


Sayang ini akhir bagi Sira, lehernya telah dicengkram kuat oleh seekor naga hitam. "Aku akan mengambil kristalmu"


"Hentikan" Sira berteriak tapi, sayang suaranya tenggelam didalam leher hingga hanya membuat terdengar seperti rengekan bayi. "Kristal itu kutukan" Ia terus mencoba melawan "Krital itu membawa kematian bagi seluruh umat ma..."


Sira tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. Rein telah menembus dadanya mengonyak isinya dan menarik jantungnya keluar "Itulah tujuanku mengambil kristal ini darimu" Sosok naga itu berubah menjadi sesosok manusia, Rein.


Jantung Sira adalah Kristal. "kristal yang indah"


***


7 tahun kemudian, umat manusia mulai menerima kematian.


Dunia mereka adalah dunia yang dipenuhi kristal, kekuatan dan sihir mereka kristal. Namun, ada dua orang yang tidak memiliki kekuatan atau sihir kristal. Mereka adalah Naga dan Putri jantung kristal.


Sang Putri adalah pemegang segela kehidupan didunia ini. Setelah dirinya ditakdirkan untuk menjadi wadah bagi kristal terkutuk. Akan tetapi, kristal itu adalah bentuk dari kekuatan naga. Saat sang naga menginginkan kelahiran kembali sebagai manusia yang mengatur kehidupan. Dia mulai menyerang, berupaya keras untuk mendapatkan kristal itu hingga pada 7 tahun yang lalu dia berhasil mendapatkannya.


Mengubah segala isi dunia, kristal yang menjadi tiang bagi dunia mulai roboh, kehidupan yang ada diatasnya menghadapi kematian tanpa sebab yang jelas. MUNGKIN INI adalah kiamat.


***


Dibawah teriknya matahari, terbaring seorang pemuda diatas rumput nan hijau menikmati setiap helaian angin yang menerpa tubuhnya. Sesuatu yang basah dan terasa dingin menyentuh keningnya, seorang gadis perparas cantik telah duduk disampingnya dengan memeluk kedua lututnya.


"Nice ini pesanan lu" Gadis itu memberikan sebotol air kepada lelaki yang dipanggilnya Nice.


Nice hanya berdiam diri, membiarkan botol air itu tetap berdiri tegak diatas keningnya.


"Hey Mika, Nice" Seorang lelaki yang sebelumnya sempat mendorong gerobak berhenti untuk menyapa mereka.


"Em, apa yang kalian lakukan disiang panas ini? ouh aku tau, lagi bermesraan" Ledek lelaki itu, membuat wajah Mika merona merah.


"Apa sih Rein, emang salah apa dua teman lagi berduaan"


"Mmm, berduaan?" Lelaki yang bernama Rein itu kembali berhasil membuat Mika salah tingkah dihadapan Nice.


Rein menghampiri Nice, duduk disampingnya dengan kepala mendongak merasakan hembusan angin "Jadi kau masih bisu seperti biasa, Nice"


***


Disisi lain semua petinggi Bangsa manusia dan Bangsa Elf, berkumpul dipusat kerjaan Geran't. Satu-satunya kerjaan terbesar yang ada didunia mereka.


Dalam perkumpulan itu mereka membahas bagaimana cara mengakhiri kematiaan ini.


"Sudah cukup bagi kami para manusia" Seorang dari bangsa Elf berdiri dari tempat duduknya sambil menghempaskan kedua telapak tangannya ke meja "Kalian semua hanya makhluk rendah jangan melawan kami"


"Kami juga menginginkan kehidupan. Kau punya mata, apa kau tidak melihatnya semua bangsa kami hampir punah" Balas seorang pria dari bangsa manusia. "Kalian yang memiliki keabadian tidak akan pernah tau apa arti kematian"


"Tanpa sihir kami akan mati, Membagikan sihir kami kepada kalian bukanlah sebuah penyelesain. Terlebih saat ini sihir kami melemah" Hardik seorang pemuda dengan rambut ekor kuda, pengeran Elf.


"Lalu apa? Perang" Kembali dari seorang bangsa manusia


Keadaan menjadi hening, kata 'perang' berhasil membuat mereka semua kembali berpikir. Ada lebih dari 10 petinggi dari kedua bangsa dan hanya satu Raja dari kedua bangsa tersebut.


"Ambil kembali kristal terkutuk itu" Seorang dari bangsa manusia yang membaluti dirinya dengan baju zirah tebal, berhasil membuat keadaan kembali ramai.


"Melawan naga adalah tindakkan bodoh." Tukas Seorang pria paruh baya dari bangsa Elf.


"Berarti kau memilih perang"


"Alzuhark, kau harus mengerti keadaan kita sekarang. Kau tau kekuatan sihir kami saat ini sedang melemah dan kalian para manusia hanyalah makhluk rendah yang tidak mempunyai kekuatan. Apa kau pikir bisa menang melawan naga?"


"Kau memilih perang" pria dari bangsa manusia bernama Alzuhark, kembali menekan kata-katanya.


Sekali lagi keadaan menjadi hening.


"Kita ambil kembali kristal itu" Kali ini Raja yang berbicara, membuat para petingginya terkejut.


"Apa maksud Raja?" Dua petinggi dari bangsa Elf dan manusia, ucap mereka secara serentak.


"Raja tau bukan, kekuatan kami saat ini melemah dan manusia hanyalah kumpulan orang-orang lemah. Apa raja berbikir kami bisa menang melawan na..."


"Jika itu hanya kalian maka, jawabanya tidak." Raja memotong


"Apa maksud raja?" Kembali pengerang Elf.


"Lawan naga itu dengan seluruh kehidupan yang masih tersisa. Bentuk sebuah Aliansi"


Kata-kata Raja berhasil membuat mereka terkaget. Raja mereka benar, membentuk sebuah Aliansi. Menyerang dengan skala besar, hal itu cukup bisa memastikan mereka menang melawan naga dan mengambil kristal itu.


"Tapi Raja" Elf tua itu kembali berbicara "Sekalipun kita membentuk Aliansi, itu tidak memungkinkan kita bisa menang melawan naga. Manusia lemah, seberapa banyak pun mereka. Kita tidak akan menang jika itu hanya manusia"


"Kalian manusia? Apa kalian mau dianggap sebagai manusia rendah" Raja bertanya kepada bangsa manusia.


"Tentu tidak. Kami memang tidak bisa menggunakan sihir. Tapi, jangan lupakan kalau kami juga salah satu dari dunia kristal ini. Kami memiliki potensi dalam menggunakan kristal juga bela diri." Jawab Alzuhark dengan lantang nan gagah.


"Baiklah, itu sudah cukup bukan Kuhran" Raja menatap ke arah pria tua itu.


Keadaan di kerajaan itu mulai bersahabat, mereka yang sempat beradu mulut berbagi senyum, dan semangat untuk hidup kembali bukan sebuah mimpi lagi.


Tapi di sela-disela kesenangan itu Pengeran Elf berkata yang kembali membuat mereka berunding. "Tapi, untuk menemukan seekor naga digunung itu harus ada juru kuncinya?


"Aku dengar ada seorang pemuda dari bangsa manusia yang bisa merasakan kehadiran naga" Ucap Bangsa Elf "Jika tidak salah dengar namanya Rein"


"Anak itu ya?" Kata Kuhran dengan seyuman, senyum yang sangat memuakan setidaknya untuk Alzuhark "Kurasa anak itu cocok untuk menjadi juri kunci naga"


Semua petinggi disana mengangguk setuju dengan Kuhran tapi, tidak untuk Alzuhark. Ia merasakan sesuatu perasaan yang ganjil dari senyum Kuhran, suatu yang belum bisa dia pastikan hingga hanya membuat Alzuhark sangat mencurigai kuhran.


"Baiklah sudah ditupuskan" Pengeran Elf mengambil pedangnya "Kumpul mereka yang masih hidup dan bentuk Aliansi."


"Yaaa" Sorak mereka semua bersamaan.


***


Dunia kami adalah dunia bagi manusia dan peri hidup bersama dalam naungan kristal. Sampai kristal itu berhasil direbut naga dan memecahkan kedua bangsa tersebut.


Dunia yang awal indah kini menjadi pertumpuhan darah. Kematian tanpa sebab, diakibatkan karena kehidupan yang berasal dari naungan kristal itu kini telah hilang, Sira sang putri telah tewas. Tidak ada lagi orang-orang bermoral disini, peraturan, ataupun hukum. Kebebasan adalah dunia kami.


Aku akan menyebut dunia ini 'Aneh'. Dunia yang hanya dipenuhi oleh mayat tanpa dikubur. Bukan tanpa sebab, semua tanah didunia kami sudah penuh dengan kuburan. Bahkan ketika seseorang menantangmu duel maka, pilihanmu hanyalah membunuhnya atau mati ditangannya. Pertempuran selalu terjadi dikotaku ini, tidak kenal waktu dan tempat. Tapi itu mungkin lebih bagus, dari pada mati tanpa sebab, bukan?


Saat ini mereka Nice, Mika, dan Rein berjalan dikota menyaksikan pertempuran antara manusia yang memawarisi krital tipe pengendali darah melawan peri sosok monster. Tapi mereka berada disana bukan untuk menyaksikan hal itu. Mereka menuju pusat kerjaan karena beberapa jam yang lalu mereka mendapatkan perintah untuk kesana.


Tapi sepertinya bukan hanya mereka, saat mereka bertiga sampai disana. Sudah ada banyak orang berkumpul. "Bagi yang berumur 18 tahun silahkan berbaris didepan" Sosok pria memakai baju zirah tebal berdiri begitu gagah, mengatur posisi berbaris.


"Selama tujuh tahun dunia kita menjadi neraka. Sudah saatnya kita bertindak dan merubahnya. Lupakan bertingkaian kita antara manusia dan peri. Mari berkerja sama, membunuh naga, dan mengambil kembali kristal. Kita akan hidup seperti dulu lagi" mereka melihatnya untuk pertama kalinya melihat wajah Raja, beliau begitu tua dengan ramput putih dipelipisnya namun, dia terlihat sangat gagah dan keren dari usianya yang mungkin sudah sampai satu abad.


Mereka semua menyetujui hal tersebut. Harapan untuk dapat terus hidup masih bukan mimpi. Sekarang Mereka akan berjuang bersama para elf untuk mengalahkan naga dan mengambil kristal dari tangannya.


"Kau Rein kan?" Petinggi itu menatap Rein


"Ya" Dia menjawab dengan lantang.


"Kau akan menjadi juru kunci naga, untuk membimbing kami kepada naga itu"


***


Mungkin ini adalah kiamat tapi sepertinya tidak, ini adalah kehidupan baru kami.


Ada sekitar 300 manusia yang masih hidup dan 500 peri yang masih dapat menggunakan sihir. Jumlah yang besar untuk mengalahkan satu ekor naga.


Gunung yang amat besar yang hampir terlihat seperti lembah dengan jalan berbatuan.


"Rein dimana naga itu berada?" Tanya Alhuzark yang sekarang menjadi tim aliansi mereka. Semua Aliansi dibagi menjadi delapan tim.


"Diatas naga itu sudah menunggu kita."


..........


Mereka hanya mengira jika musuh mereka hanyalah naga. Tapi mereka seharusnya sadar saat menaiki gunung ini. Musuh mereka bukan hanya naga itu sendiri tapi juga seribu monster. Bahkan yang lebih parah, naga itu adalah Rein. Juru kunci mereka sekaligus teman dari Mika dan Nice.


Dia telah merencananakan ini, membuat mereka semua sengaja masuk kedalam perangkapnya. Satu-satunya tempat yang paling bagus untuk menunjukan kekuasannya juga kuburan bagi mereka, diatas puncak gunang.


"Apa maksudnya ini Rein?" Tanya Mika dengan perasaan kecewa akan seorang teman yang sudah dianggapnya sebagai kakak.


"Sebenarnya aku benci melihatmu menangis Mika tapi, aku akan lebih membenci lagi, jika tetap membiarkan kalian semua hidup" Rein tersenyum beringas. "Aku akan menciptakan dunia baru. Dunia untuk para naga."


Seorang pria tua dengan baju zirah tebal terlihat sama seperti yang dikenakan Alzuhark berjalan diantara monster itu. Dia membawa benda ditangan kirinya.


"Maka untuk itu akan membunuh kalian semua" Rein tersenyum mengerikan. Bersama dengan itu juga, pria tua itu melemparkan benda ditangannya dan nampaklah benda apa itu. Kepala, itu bukan benda tapi kepala Raja mereka.


"Serang" Teriak Pria tua itu.


"Kuharan" Teriak Alzuhark menggelegar, dia mengambil sebutir kristal dari tas kecil bergantung diikat celananya. "Teknik Kristal gaya timbal besar, pedang bentuk satu, pedang cahaya!" Seketika kristal itu berubah menjadi pedang besar dengan cahaya putih menyilaukan.


"Tebasan berdarah, pola 11" Alzuhark membabi buta monster didepannya.


"Tombak krusha" Salah satu Elf melancarkan serangan cahaya kepada monster "Biar kami yang mengurus para monster"


"Baiklah aku akan mengurus Kuhran" Sekejap mata Alzuhark langsung berada dihadapan Kuhran. Perlawanan secara cepat dilakukan kuhran.


"Okay, sisanya bunuh naga(Rein)" Teriak pengeran Elf.


Serangan skala besar dilakukan manusia dan peri untuk menyerang Rein "Sampah" Ia menjentikkan jarinya, seketika ribuan pedang keluar dari tanah.


Separuh dari jumlah mereka tewas dengan sekali serangan itu.


"Aku lahir dari alam, pewaris matahari, memiliki kebadaian. Jadikanlah aku sebagai Templar sang pengagung cahaya kesembuhan dan sang halilintar pemusnah" Rapalan mantra dari Pengeran elf Berhasil membumi hanguskan setengah monster dan berhasil melukai Rein.


"Kau sudah aku anggap sebagai ayaku sendiri. Tapi aku tidak akan ragu untuk membunuh Ayah" Alzuhark menatap marah pada Kuhran.


"Lebih baik mati Alzuhark" Suara yang sangat putus asa.


"Selama masih ada tempat untuk hidup aku akan terus hidup"




"Nice kau baik" Mika mendekati Nice yang terluka akibat sayatan monster.


Pria itu hanya diam, tapi memang seperti itulah sifat dia. Ia tidak bisu, dia juga bisa mendengar. Hanya saja dia lebih suka bicara lewat sms dan memandang seseorang dari belakang. Dan itulah yang dia lakukan saat ini, mengeluarkan Hand phone untuk memberitahukan kalau dia baik saja.






"Sepertinya kau tidak akan bisa mewujudkan duniamu itu. Kau akan mati sekarang disini" Teriak pengeran Elf, sangat percaya diri.


Mendengar itu Rein lansung tertawa begitu keras, mengerikan. "Akulah yang seharusnya berkata seperti itu" Sosok Rein berubah menjadi sosok naga hitam besar dengan napas hitam pekat diudara.


Naga itu mengibaskan sayapnya, dan secara bersamaan jutaan pedang berjatuhan. Membunuh mereka yang dibawah, bahkan para monster pun ikut terbunuh.


Seditaknya hampir masih banyak dari mereka Elf dan manusia masih hidup. Tapi serangan itu telah menyebabkan mereka semua kehilangan kepercayaan diri. Serangan area yang amat besar itu, apa mungkin mereka bisa menang. "Nah manusia, elf. Sekarang diamlah" Naga itu mengaung begitu keras, dan kemudian menyeburkan nafas api hitam "Matilah"


Mika dengan cepat maju kegaris depan "Wahai kristal yang menaungi cahaya. Berikan kekuatanmu kepadaku, Ragnorak" Seketika dia berubah menjadi menjadi sosok manusia yang diselubungi cahaya, dan membuat sebuah tameng cahaya melindungi mereka semua.


Akan tetapi itu akhir bagi Mika, ia adalah seorang gadis keturunan setengah peri. Jenis kristal yang dia miliki berupa cahaya dan kristal cahaya hanya bisa digunakan oleh peri sempurna. Penukaran nyawa untuk penggunaan kirstal cahaya adalah syarat bagi setengah peri.


Nice berlari begitu cepat menghampiri tubuh Mika yang sudah sekarat. Dengan cepat Nice mengambil Hand Phone dan mengetik sebuah kata "Mika"


"Bodoh, kau masih tidak mau menggunakan mulutmu." Mika tersenyum hangat.


Nice mulai tidak dapat membendung air matanya.


"Nice, tetaplah hidup. Aku mencintaimu" Bisik Mika lembut, sebelum akhirnya dia benar-benar tidak bernapas lagi.


Nice langsung memeluk erat tubuh gadis itu, yang kemudian menatap penuh kebencian kepada sang naga.


"Dia..."


"Alzuhark kemana kau melihat" Kuhran mehempaskan pedangnya, tapi berhasil dihindari Alzhurak.


Sementara yang lainnya terkejut sambil bergetar " Apa? kita masih hidup" Entah apa expresi mereka saat itu, mungkin bercampur aduk antara senang dan takut.


"Kenapa? kau marah" Naga itu mendekatkan wajahnya pada Nice. "Oh ya, aku lupa kalau kau bisu. Apa kau berencana untuk mengetik sebuah kata marah dihand phonemu. Okay, aku akan membacanya sebelum membunuhmu" Naga itu tersenyum menunjukan deretan gigi-gigi besarnya


"M.A.T.I" Suara Nice pelan, hingga hanya naga itu yang mendengarnya.


Sebuah kemutlakkan kata. Seperti yang dikatakan Nice. Naga itu mati. Semua terkejut melihat itu, mata merah bak darah kental dengan tatapan agung. Siapapun yang melihatnya pasti mengenal siapa dia?


"Mungkinkah" Saat ini pedang Alzuhark dan Kuhran sedang bertaut. Tapi karena Alzuhark lengah, itu menjadi kesempatan untuk Kuhran.


Namun, dia salah Alzuhark sudah terlebih dahulu menembus perut Kuhran "Alzuhark kau..." Kuhran terjatuh dari atas gunung.


Dengan cepat Alzuhark mendekati Nice. "Apa kau seorang Crystal Languages?"


Nice mengangguk, kemudian jari-jarinya dengan cepat mengetik sebuah kata di Hand Phonenya "Menjauh dariku, dia belum mati"


Rein yang telah memiliki Kristal berarti memiliki keabadian. Hingga membuatnya kembali hidup. "Jadi kau seorang Crystal languages. Pantas saja kau tidak pernah bicara"


Nice kali ini memandang Alzuhark dengan tatapan mengerikan. Ia paham, Nice menyuruhnya segera menjauh.


Siapa saja mendengar suara dari sang Crystal Language harus mematuhi perintahnya sekalipun itu kematian.


Naga itu menggerakkan cakarnya, bermaksud untuk merobek perut Nice.


Namun, suara lebih cepat dari pada pergerakan. "Mati"


Kembali Naga itu mati dan hidup lagi


"Mati"


Naga itu hanya sempat berdiri lalu mati dan kembali hidup.


"Mati"


Nice terus melakukan hal yang sama membuat Naga itu terus merasakan kematian. Ia benar-benar sangat marah.


Tiga jam berlalu dan sudah lebih dari 1 juta kali Rein mati. Jika Alzuhark tidak menghentikan Nice, mungkin hal itu akan terus terjadi sampai Nice puas, melihat betapa marahnya dia saat ini.


Rein telah kembali kesosok manusianya, ia sangat terlihat lelah dan badannya sangat kurus hingga membuat tulangnya sangat nampak terlihat.


"Kami ambil kembali kristal terkutuk ini" Alzuhark merobek dada Rein dan mengambil kristal itu.


"Kita Hidup" Alzuhark berteriak, mengangkat kristal itu setinggi-tingginya.




Nice berjalan menghampiri tubuh Mika yang terbaring, ia mengenggam kuat kedua tangan gadis itu "Alzuhark tolong jaga dia"


Alzuhark begitu tercengang, "Mungkinkah kau....."


"Jaga kristal itu jangan sampai ada yang kembali mengambilnya. Pertarungan yang sebenarnya baru akan dimulai"


Nice memejamkan matanya mencium lembut tangan gadis yang dia genggam "Hiduplah"


Kumpulan serpihan cahaya menculak dari dalam tanah kemudian bertaburan kesegala penjuru dunia. Nice kembali menghidupkan mereka yang telah mati dengan menukar kehidupannya sendiri sebagai crystal langauges.


Terimakasih telah memberi kami kesempatan untuk hidup lagi. Kami semua akan berjuang untuk melindungi kristal ini. Demi diriku, demi dirimu, dan demi kehidupan ini. Aku akan berusaha sekuat aku bisa. Aku akan membunuh para naga itu habis ditanganku. Kami semua tidak akan mensia-siakan kehidupan yang telah kau beri. Suata saat nanti aku akan menyusulmu juga. Kita akan membentuk sebuah keluarga bahagia disana. Selamat tinggal Nice Lairend, aku mencintaimu


-Hikaru Mika-

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top