Efek Positif Persahabatan

Mikasa, Mikasa yang cantik berdiri di hadapan Jean. Rambut panjangnya yang hitam, yang membuat Jean terpikat padanya sejak awal. Tatapan matanya yang sayu, dan bibirnya yang mungil dan kemerahan. Ini nyata. Sungguh nyata. Dia ada di hadapan Jean dan berkata, "aku sudah dengar tentangmu dari Armin ... Ternyata ... Kamu tidak seburuk yang kukira. Jean, ... Maafkan aku. Apakah aku masih punya tempat di hatimu?"

Jean jadi gemetar karena terlalu bersemangat. Dia mengangkat kedua tangannya dan memegang bahu Mikasa, tidak sekecil bahu perempuan lainnya, ada otot keras di sana, tapi tidak masalah! Jean mencintai Mikasa apa adanya, sekalipun gadis itu Beast Titan yang punya banyak rambut di badannya!

"Tentu saja, Mikasa," kata Jean. "Cintaku padamu ... Tak lekang waktu."

Jean segera mengambil kesempatan untuk mencium bibir Mikasa. Kena! Saking senangnya, Jean memejamkan mata dan menikmati manisnya bibir Mikasa yang kecil dan basah. Dia akan mengecup bibir itu dengan lembut seperti permen kapas, seperti busa kue tart.

"Kamu tidak bisa begini terus, Jean!" mendadak bibir yang dikecup Jean itu berbicara demikian, dengan suara Armin.

Karena kaget sekali, Jean segera menarik kepalanya menjauh dan jantungnya serasa berhenti berdetak seketika saat dia melihat Mikasa sudah berubah menjadi Armin. Berarti yang dia cium tadi ... Laki-laki, dong?!

"Bangun!!" 

Jean jatuh dari ranjangnya dan tidak pernah merasa selega ini. Walau sedih juga bahwa dia bermimpi mencium laki-laki, sekalipun shota.

"Armin ... Kok kamu bisa ada di kamarku?" tanya Jean, dia merasa ingin merayap ke tiang gantungan dan memanfaatkannya sesuai fungsi.

"Kan kamu sudah berjanji saat pulang dari balapan," kata Armin.

Janji? Oh, pasti saat mereka di bus dalam perjalanan pulang itu, dimana moge sudah dikembalikan Jean pada yang punya; Bos Preman. Jean saat itu mengatakan bahwa dia ingin sekolah sebaik-baiknya agar punya masa depan cerah, Armin bersedia membantunya.

"Tapi, ini masih jam 6 pagi!" kata Jean.

"Jarak dari rumahmu ke sekolah itu 45 menit berjalan kaki, 15 menit dengan sepeda. Sampai di sekolah, kita sarapan dan mempersiapkan diri untuk pelajaran yang akan segera dimulai. Maka dari itu setengah tujuh pagi harus sudah berangkat!" kata Armin.

"Malas," Jean memeluk bantalnya dan tidur lagi.

Dengan aroma omelet yang harum, Armin berhasil membujuk Jean turun dari kasurnya. Dia dapat bocoran dari kakeknya Jean bahwa Jean paling suka omelet. Ternyata dia masih menyukainya sekarang. Tapi, dia hanya duduk saja di kursi sambil memandangi omelet itu dengan tatapan penuh kenangan lama.

"Kamu yang masak?" tanya Jean.

"Iya, siapa lagi?"

Jean tidak mengatakannya pada Armin, tapi aromanya sangat mirip dengan omelet buatan ibu tercinta. Mengingatkan Jean pada masa kecilnya dimana ibu masih mencintai ayah dan mereka duduk bersama di meja makan untuk sarapan sebelum berangkat sekolah. Sejak ayah kena stroke dan ibu selingkuh dengan dokternya, Jean sarapan roti panggang yang dibuat oleh mesin toaster. Mungkin sejak itu Jean tidak lagi mau bangun pagi. Karena sinar matahari pada pukul setengah tujuh pagi itu adalah saat mereka berkumpul sambil makan pagi. Selalu pukul setengah tujuh pagi.

"Ayo, dimakan. Mau kusuapi?" ledek Armin.

"Menggelikan! Tidak!" Jean tersadar dari lamunannya dan memotong omeletnya lalu makan. Hangat terasa saat makanan itu turun ke lambung.

Pagi itu, guru piket terbengong-bengong melihat Jean sudah datang sebelum lonceng sekolah berbunyi. Satu minggu kemudian, Jean yang biasanya dapat nilai D saat kuis, sekarang sudah lumayan, dapat nilai B, sekalipun B-. Tapi prestasi ini membuat para guru jadi terkesan dan membicarakan dia.

"Oh, ini pasti gara-gara Armin. Sejak mereka dekat, Jean jadi lebih serius dengan hidupnya."

"Kurasa anak bandel kalau berteman dengan anak baik, pasti ketularan baiknya," kata guru lain dengan gembira.

"Sedang membicarakan apa sih?" tanya guru olahraga.

"Itu, Jean dan Armin, sejak mereka berdua dekat, Jean tidak pernah lagi selenge'an. Datang sekolah tepat waktu, pakai baju bersih,"

Guru lain menambahkan, "dan Jean jadi lebih sering tersenyum sekarang."

"Oh ya, benar. Nilai-nilainya juga meningkat dibanding sebelumnya."

"Memangnya sejak kapan mereka dekat?" tanya si guru olahraga.

"Sejak hari Festival Ulang Tahun sekolahan ini, sepertinya," kata guru lain.

"Oh ya? Hmm ... aku tidak tahu juga sih, tapi sejak festival, memang aku cukup kaget bahwa Armin jadi lebih kuat berolahraga. Biasanya dia masuk UKS karena kelelahan, sekarang dia jadi lebih tangguh. Maksudku, fisiknya masih lemah, tapi ada yang berbeda darinya," guru olahraga melanjutkan, "Armin jadi lebih memiliki semangat juang. Dia lebih percaya diri dibandingkan sebelumnya."

"Pasti gara-gara Jean," kata guru lain.

"Homo!" mendadak wakil kepala sekolah berkata dengan ketus. Ucapannya itu segera membungkam para guru yang sedang mengobrol di ruangan itu.

"Mereka berdua homo," kata wakil kepala sekolah dengan wajah yang tidak suka.

"Loh, kenapa anda bilang begitu, pak?" tanya guru sains.

"Kalian tidak lihat apa? Mereka kemana-mana berdua, jalannya deket-deket, kalau istirahat siang mereka mojok di atap sekolahan. Aku jijik pada mereka makanya atap sekolahan kukunci sekalian," kata si wakil kepala sekolah. "apa kalian tidak terganggu kalau ada siswa homo di sekolah ini?"

Mendadak ruangan itu menjadi sunyi. Kemudian guru kesenian berdiri dari kursinya dan berkata, "gay atau bukan, kalau mereka saling membawa pengaruh positif, kenapa kita harus jijik? Masalah orang mau mencintai siapa, itu hak masing-masing orang. Bukankah setiap orang terlahir bebas?"

"Masalahnya bukan itu! Salah ya salah! Kalian hanya melihat kulitnya saja, tapi dalamnya mereka busuk segera setelah memutuskan untuk menjadi pasangan."

"Kenapa cowok mencintai cowok lantas jadi busuk? Lagipula kita tidak pernah melihat mereka saling cium atau berperilaku seperti pasangan di sekolah. Menurutku mereka cuma sahabat dekat, kok," kali ini guru ilmu sosial yang bicara.

"Kalau kalian tidak apa-apa, terserah kalian." Wakil kepala sekolah sadar bahwa tidak ada guru yang berpihak padanya. Karena itulah dia berjalan meninggalkan ruangan untuk berjalan-jalan. Kemudian dari beranda, dia melihat Jean sedang mengajari Armin bermain basket. Armin sangat payah, lay up saja tidak bisa, tapi Jean terlihat mengajarinya dengan sabar.

"Aku harus melakukan sesuatu," gumam wakil kepala sekolah dengan geram.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top