Drama

Tanpa terasa seminggu terlewati begitu cepat. Anak-anak kelas 1A sudah mempersiapkan pementasan dengan sebaik-baiknya, mereka sangat tidak sabar menunggu hari esok dimana hari Festival Ulang Tahun Sekolah Dinding Titan diadakan. Pada hari itu, siswa yang membolos pun tidak akan ketahuan dan tidak menjadi masalah. Tapi dengan hari seramai dan seseru itu, pasti banyak yang tidak mau melewatkan serunya kegiatan tahunan ini.

Panggung drama Snow White yang dipentaskan oleh kelas 1A tidak terlalu banyak mengundang penonton, walau pementasannya sudah dilakukan di tempat terbuka. Tapi yang datang menonton kesulitan untuk meninggalkan tempat duduk mereka karena Snow White yang mereka lihat kali ini benar-benar berbeda dari yang biasa. Snow White itu lari dikejar-kejar pemburu sambil makan donat. Kemudian dia makan satai saat bertemu tujuh kurcaci. Setelah itu dia membersihkan rumah tujuh kurcaci sambil makan ramen. 

Tok! Tok! Tok! Penyihir jahat datang membawa sekeranjang apel.

"Apakah kamu mau apel, gadis cantik?" Ratu yang menyamar itu menyodorkan sebuah apel.

Sasha merebut keranjangnya dan melahap semua apel di sana dengan cepatnya.

Di balik panggung, Thomas menangis tersedu-sedu. "Ini drama pertamaku, langkah pertama menuju cita-citaku sebagai aktor romantis dunia. Kenapa lawan mainku ancur begitu?"

"Tapi penonton menyukai Sasha, Thomas. Lihat, semakin banyak orang yang berkerumun untuk menonton," kata Armin, mengintip dari balik panggung dengan bangga.

"Armin! Ayolah! Masih ada adegan terakhir, mana ada Snow White mati sambil makan sesuatu? Aku harus mencium bibir perempuan yang penuh dengan macam-macam makanan sejak tadi? Masih belum terlambat untuk merebut peran itu!" Thomas memohon sampai berlutut, tapi Armin meninggalkan dia. 

"Maaf, Thomas ... Anu ... aku ingat, kita belum beli makan siang untuk teman-teman. Permisi..." Armin kabur dari belakang panggung.

"Thomas ambisius sekali. Tapi aku tidak percaya kalau dia berpikir lebih baik mencium cowok daripada cewek yang mulutnya penuh makanan. Thomas kan bukan gay, nanti dia menyesal, lagi. Sekalipun dia gay, aku juga tidak mau dicium dia!" Kata Armin. 

Dia menyapa booth-booth lain yang menjual makanan dan membeli beberapa bungkus makanan untuk teman-temannya yang terlibat dalam pementasan. Total ada dua puluh bungkus, dan Armin baru sadar kalau dia tidak bisa membawa semua bungkusan itu seorang diri.

"Butuh bantuan?" Sapa seseorang, persis di daun telinganya. Armin tahu itu suara Jean, dia langsung meloncat dan hampir menginjak makanan yang dibelinya.

"Aku bantu, ya," Kata Jean sambil memungut empat bungkusan yang dibawa dengan kedua tangannya, sementara Armin hanya membawa satu bungkusan plastik yang berisi empat nasi bungkus. 

"Sepertinya kau sibuk sekali seminggu ini, Armin?" tanya Jean. Orang yang tidak kenal dengan Jean pasti takkan mengira kalau kata-kata itu mengandung kemarahan.

"Kamu sendiri tidak sibuk?"

"Kelasku membuat booth burger, dan kurasa aku tidak dibutuhkan di sana." 

"Ngomong-ngomong, ... Sepertinya semakin banyak yang menggosipkan kita, ya, lihat deh," Armin tahu di seberang sana ada segerombolan cewek yang sedang membicarakan Armin dan Jean. Sebenarnya seisi sekolah sedang membicarakan mereka. Jean yang selama ini penyendiri dan anti-sosial mendadak dekat sekali dengan Armin. 

"Tadi aku sempat menonton kelasmu mementaskan Snow White. Rupanya kalian semua suka drama ya? Kita bisa memerankan itu di sini sekarang juga, kau Snow White, dan aku Pemburu yang dikirim Ratu untuk mengambil jantungmu."

Armin benar-benar tidak nyaman sekarang, itu jelas-jelas ancaman. Dia segera berhenti berjalan, "oh ya, Jean! Aku baru teringat sesuatu, tolong pegangi ini."

Armin menyerahkan satu bungkus plastik berisi empat nasi bungkus yang sejak tadi dibawanya itu kepada Jean, sekarang dia membawa dua puluh nasi bungkus. Sementara Jean kerepotan menstabilkan semuanya agar tidak jatuh, Armin langsung kabur dari sana, kembali ke panggung pementasan drama. 

"Woiii!! Jangan kabur kau!!" Jean menjatuhkan semua bungkusan makanan itu begitu saja dan mengejar Armin. 

Armin sudah sampai di balik panggung, menemui Thomas yang sudah kehilangan jiwanya, kemudian berkata, "Snow White! Snow White!! Apa aku masih boleh jadi Snow White?!?!?!?!"

Thomas kembali segar seperti sedia kala, nyawa-nyawanya telah kembali!

"Tentu saja. Sasha, lepas kostum itu, pakaikan pada Armin!"

Tepat setelah Armin selesai berpakaian, Jean muncul di pintu tenda di belakang panggung. "Hei!! Sini kau!!"

Armin langsung masuk ke dalam panggung, dimana sedang ada adegan Ratu tertawa penuh kemenangan atas kematian Snow White. Tentu saja melihat kemunculan Snow White di panggung, dia harus berimprovisasi.

"Snow White! Bukannya kamu harusnya sudah mati?!" Seru pemeran Ratu.

Armin yang cukup kreatif segera berpikir cepat agar situasi drama jadi tidak aneh, "aku bukan Snow White. Aku adalah roh dari Snow White."

Semua penonton terkejut melihat adegan improvisasi itu. 

Armin segera memberikan kode, untuk mendukung temannya yang memerankan Ratu agar ikut berimprovisasi juga.

"Roh? Oh, ternyata kau benar-benar sudah mati. Dan kau penasaran, kan? Kau harus terima bahwa sekarang akulah yang paling cantik sedunia ini!"

Armin membalas, "ya, aku sudah mati. Aku mati karena rakus. Tapi camkan ini baik-baik, Ratu, kebahagiaanmu tidak akan lama!"

"Enyah dari sini kau roh penasaran yang tidak bisa move on!" Ratu tertawa dan Armin menghilang ke balik panggung. 

Di balik panggung, Jean sedang ditahan oleh Connie dan tiga cowok lainnya yang mencoba mengusirnya.

Jean hanya bisa mengancamnya, "bagus sekali, Armin! Licik sekali caramu bersembunyi dariku!"

"Nanti kita bicara, tapi aku tidak mau bicara denganmu kalau kau masih marah-marah seperti itu!" balas Armin.

"Kemana saja kau seminggu ini?! Aku baru melihatmu hari ini dan saat ini, kau mau meninggalkanku, hah?!"

"Siapa yang mau meninggalkanmu? Aku sibuk, bukan orang pemalas tak berguna seperti kamu!" balas Armin.

"Apa?! Siapa itu pemalas tak berguna?! Coba bilang lagi! Kau pikir gara-gara siapa Annie dan Reiner tidak berani membullymu lagi?!"

"Iya aku mengerti! Mereka tidak membullyku lagi karena sudah ada bully yang lebih parah! Bully manja yang gak bisa masak makan siangnya sendiri, yang ke mana-mana minta ditemenin, yang PR-nya minta dikerjain, mau kusebut lagi dosa-dosamu yang lain, hah?!" 

"Apa kau bilang?! Aku tidak akan mengejarmu kalau kau tidak mulai duluan, ingat itu!"

"Iya aku tahu! Aku tahu! Terserah! Kamu benar! Kamu paling benar! Puas, Yang Mulia?!"

Thomas menjitak kepala Armin, "hei! Kalian bertengkar seperti pasutri saja! Armin ayo cepat berbaring di panggung! Adegan pemakaman Snow White!"

"Ya, pergi saja, pengecut!" Jean mulai lagi.

"Berhentilah bertingkah seperti anak-anak! Nanti kita bicara, dinginkan dulu kepalamu!" Kata Armin sambil menenteng roknya agar dia bisa berjalan dengan leluasa. kemudian dia berbaring di panggung. Nanti Thomas akan datang dan menciumnya. Armin berharap sampai pementasan berakhir nanti, Jean sudah mereda kemarahannya. Kalau dia masih marah juga, Armin akan kabur ke tempat Mikasa untuk mencari perlindungan. Ya, itu strategi yang ampuh.

Tirai panggung terbuka, Mikasa membacakan narasi dengan mikrophone, Armin berbaring santai sambil berpura-pura mati. Para kurcaci mengelilinginya sambil berakting menangis.

"Demikianlah Snow White dibaringkan di dalam peti kaca yang indah bertabur bunga-bungaan. Tidak hanya tujuh kurcaci yang meratapinya, tapi juga hewan-hewan di hutan yang mengetahui kebaikan hati Snow White," kata Mikasa, membaca sesuai narasi yang telah ditentukan oleh tim penulis.

"Huhuhu ... kenapa gadis sebaik dia harus mati?" ratap seorang pemeran kurcaci.

"Apa salah Snow White?"

Ada suara tapak kuda disetel oleh petugas panggung, dimana harusnya itu adalah tugas Armin.

"Kemudian datanglah pangeran dari negeri yang jauh, dia melihat seorang gadis cantik berbaring di peti mati dan datang mendekat..."

Armin mendadak merasakan perasaannya tidak enak. Dia membuka sedikit matanya dan terkejut melihat bukan Thomas yang datang, tapi Jean.

"Buajinga...!!" pekik Armin yang terkejut. Dia tidak mampu menyelesaikan kata tersebut karena bibirnya tertahan oleh jari Jean.

"Sttt..." Jean menyeringai sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Snow White, penonton yang melihatnya memahami gerakan itu seakan si Pangeran sedang mengagumi wajah Snow White.

"Hei," desis Armin. "Ini dialogmu!"

"Aku tidak pernah baca skripnya," bisik Jean.

"Lalu kenapa naik ke panggung?!"

"Oh, gadis malang," kata Jean dengan lantang, mengarang kata-katanya sendiri. "Apakah dia baru saja mati?"

Sebenarnya bukan itu dialognya, tapi sudah kepalang tanggung, salah seorang kurcaci menjawab, "benar, Pangeran. Namanya Snow White. Dia mati karena ..."

Sementara kurcaci itu melafalkan dialognya, Jean berdesis mengancam. "Kutunggu kau di toilet."

Tentu saja Armin jadi ketakutan mendengar ancaman tersebut. Toilet adalah tempat favorit Jean untuk membully seseorang. Dia akan menggunakan washtafel untuk membenamkan kepala korbannya sampai kehabisan nafas. Tenaga Jean lebih besar darinya, itu sudah pasti. Setiap pagi dia berlari minimal lima kali keliling lapangan sekolah yang luasnya bisa mencapai satu kilometer. Ditambah lagi dia terbiasa bertengkar dengan orang yang lebih dewasa darinya, sudah pasti Armin akan mampus bila dihajar.

Jean kembali melafalkan dialog Pangeran, "oh, malangnya. Dunia ini memang tidak adil. Andai dia masih hidup, aku akan membawanya pulang ke negeriku dimana kita bisa hidup bahagia berdua sampai selamanya."

Ini adalah adegan dimana pemeran Pangeran mendekatkan wajahnya ke wajah pemeran Snow White, seakan mereka berciuman. Jean tahu itu. Bahkan salah seorang kurcaci sudah menyikut-nyikut dia. Tapi Jean bergeming, bahkan dia terlihat sedikit gemetar.

"Jean!" desis Armin. "Condongkan kepalamu saja, tidak perlu sampai menempel. Ayo cepat!"

Jean masih bergeming. Dia sedang kontra batin. Saat dia merebut kostum pangeran dari Thomas, sama sekali tidak teringat olehnya bahwa Pangeran akan mencium Snow White. Sekarang ini dia harus melakukannya, dan dia kontra batin. Jean tidak mau mencium cowok. Dia tidak suka cowok.

Salah seorang kurcaci yang mulai bosan, lalu bersin; "hat-CIUM!!"

Penonton mulai gerah. "Mana nih, gak dicium-cium Snow Whitenya?"

Jean makin keringat dingin.

"Condongkan kepalamu saja!" desis Armin.

Akhirnya penonton yang gemas mengeluarkan yell dengan spontan namun kompak, "cium! Cium! Cium! Cium!"

"Cium dia, Pangeran bodoh!!" salah seorang pemeran kurcaci menendang Jean sampai dia jatuh ke atas Armin dan bibirnya bersentuhan dengan bibir Armin.

"Ah ..." Jean tidak menyangka kalau bibir Armin selembut bibir perempuan. Seketika, badannya jadi panas dan dadanya berdebar-debar. Dia begitu shock sampai tidak bergerak sama sekali, padahal dia sedang memeluk Armin yang masih berbaring pasrah seperti orang mati. Di belakang sana penonton bersorak-sorak dan semakin banyak siswa yang mengerumuni panggung.

Armin menganggap adegan itu sudah kelar dan dia pura-pura bangun. "Ah, kenapa ini? Apa yang terjadi?"

Para kurcaci terharu dan menjelaskan apa yang terjadi pada Snow White.

Armin melaksanakan perannya, dia berlutut di hadapan Jean yang masih shock dan memegang tangannya dengan lembut. Jean semakin merasa panas, dia juga tidak menyangka kalau telapak tangan Armin sangat halus seperti tangan perempuan. Walau ukurannya memang lebih besar dari tangan perempuan.

"Jadi kau Pangeran yang membawaku kembali kepada kehidupan? Terima kasih banyak," kata Armin, berakting. Walau hanya akting, tapi Jean semakin deg-degan melihat wajahnya yang terlihat cantik dengan pakaian Snow White yang serba putih seperti gaun pengantin.

"Dan mereka hidup bahagia bersama-sama selamanya!" para kurcaci menari-nari, panggung ditutup setelah semua pemeran berkumpul di panggung dan membungkuk hormat pada para penonton yang puas karena Snow Whitenya benar-benar dicium. Mereka tidak sadar kalau Armin seorang cowok.

Setelah tirai panggung ditutup, Armin berkata padanya, "hei, apa kamu mau makan bareng? Aku traktir."

Tatapan Jean terus tertuju pada bibir Armin, walau tak lama kemudian dia meninggalkan panggung sambil melepas kostumnya dan mengembalikannya pada Thomas Wagner yang sedang ketakutan di balik panggung. Kelihatannya Jean mengancam Thomas untuk menyerahkan kostumnya barusan.

"Jean!" Panggil Armin. Armin ingin melepas kostum Snow Whitenya dulu, tapi Jean sudah meninggalkan tenda panitia drama. Armin memanggilnya sekali lagi tapi orang itu sudah pergi tanpa bicara apapun.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top