32


"Sejak awal aku selalu berpikir kalau kamu menyembunyikan sesuatu dariku."

"Perjodohan kita yang diatur Kak Syafira, itu juga semata-mata untuk menutupi rahasianya? Sikap yang kamu tunjukkan selama ini untuk menarik perhatianku juga sebenarnya hanya untuk mengalihkan perhatianku dari Kak Syafira?"

Kaisar mengatakannya saat Kaira baru saja jujur tentang apa yang ia sembunyikan tentang Syafira selama ini. Dari sana Kaira juga mengaku, kalau perjodohan mereka ia ketahui sejak awal. Dengan ringan, Kaira menganggukkan kepala merespon kesimpulan yang Kaisar buat sendiri itu. Karena memang, semua itu benar adanya. Walau, sedikit keliru. Sedikit, saja.

Tetapi, ya sudah. Kaira rasa, menjelaskan juga tidak ada gunanya. Mungkin, memang ini cara terbaik untuk mengakhiri hubungan yang padahal belum mereka mulai.

Kaira masih setia duduk di atas tempat tidur, sambil bertopang dagu di atas lutut yang ia peluk. Suara ketukan di pintu kamarnya sama sekali tak menarik perhatian. Bahkan sampai Nadia muncul dari balik pintu dan menghampirinya. Kaira masih betah melamun.

"Lho? Masih belum siap-siap?" tanya Nadia sambil bertolak pinggang, berdiri di depan sang adik. "Udah jam berapa nih, ayo cepetan!" desaknya.

Kaira menatap Nadia dengan kening berkerut. Ia memaksakan diri untuk mengingat, tentang hal yang mungkin ia lupakan.

"Buruan bisa nggak? Biru sama Jingga nanti keburu perform!" Nadia mengomel.

Ah, Kaira ingat. Sabtu pagi ini ia harus datang ke sekolah keponakannya dan menonton pertunjukkan mereka di pentas seni yang sedang diadakan. Dan, ia jadi mengingat bagaimana beberapa waktu lalu ia bersemangat untuk datang.

Saat itu ia sedang gencar-gencarnya mendatangi setiap kajian yang disponsori Mafaza Wear. Ia begitu antusias dengan penampilan barunya, memadu-madankan outfit dengan hijab yang mulai membuatnya nyaman. Ia belum mengubah penampilan dengan sempurna, hanya pada momen dan waktu tertentu saja.

Lalu, Kaira turun dari tempat tidur, membuka lemari dan mengambil gamis yang beberapa waktu lalu telah ia siapkan. Nadia memang menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah yang mewajibkan pengunjungnya memakai pakaian tertutup. Dan, Kaira tentu saja sangat berminat untuk datang.

"Muka lo jangan ditekuk gitu lah, Kai! Nanti kalau anak-anak lihat, lo dikira nggak ikhlas lho!" komentar Nadia yang sedang mengemudi. Kaira sendiri memang melanjutkan aksi melamunnya di kamar tadi.

"Keponakan kesayangan gue ngga mungkin suudzon kayak gitu," balas Kaira.

"Lo stres karena mikirin ibu sama ayah yang nggak izinin lo sama pacar ... eh ... calon suami lo itu ya? Duh, ribet amat, lo belum kasih tau gue namanya, sih!" keluh Nadia.

"Percuma juga kalau lo tau namanya. Toh, dia batal jadi adik ipar lo."

"Lo nyerah, ceritanya? Ampun deh, Kai! Bisa nggak dibawa enjoy aja, nggak usah  stres gitu. Anggap aja ini ujian buat kalian sebelum menikah. Suruh calon laki lo itu effort dikit, raih hati ibu sama ayah. Gue yakin kok, ibu sama ayah nggak sekeras itu. Pasti mereka mikirin kebahagiaan lo juga."

Kaira mendengkus pelan. Nadia tidak tahu saja, kalau masalah bukan hanya dari sisi ayah dan ibu. Tapi juga, dari Kaisar sendiri. Kaira tentu ragu, Kaisar akan melanjutkan hubungan mereka, setelah semua yang terjadi.

"Lo sendiri masih belum tau alasan sebenarnya ibu, bahkan ayah juga nggak mau menerima menantu yang udah jadi duda?"

Nadia menggeleng. "Kita bisa cari tahu pelan-pelan, Kai. Plis lo jangan berkecil hati dulu. Gue akan berusaha bantu elo."

***

"Kaira!"

Ia baru menginjakkan kaki di kamarnya saat suara sang ibu terdengar. Ia menyahut samar, sambil meneruskan langkah memasuki kamar.

"Makan siang dulu. Sudah ditunggu di bawah," ucap Hesti di ambang pintu.

Kaira menggeleng. Tas di tangannya ia lempar pelan ke atas tempat tidur. "Aku belum lapar. Duluan aja."

"Ayah, Atta, Kakak dan Abang iparmu, Jingga dan Biru sudah di meja makan semua."

"Iya, aku tahu," sahut Kaira berpura-pura sibuk melepas jarum pentul di beberapa titik hijab yang ia pakai.

"Lalu? Kamu tetap nggak mau makan bersama kami?"

"Ya," jawab Kaira lagi. Ia pulang bersama keluarga Nadia tadi. Tentu saja ia tahu kalau semua berkumpul dan sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuk mereka.

"Kaira, tadinya ibu cukup senang melihat kamu tidak meninggalkan semua perubahan baik kamu, meski ibu telah melarang kamu melanjutkan hubungan kamu dengan laki-laki itu. Tapi, ibu tidak menyangka kamu memilih merusak hubungan kamu dengan keluarga hanya karena seorang laki-laki."

Kaira mengukir senyum di wajahnya. "Maaf karena aku nggak sesuai harapan ibu."

"Kaira!" Hesti menaikkan nada suaranya. "Ibu hanya ingin yang terbaik buat kamu."

"Terbaik menurut ibu itu apa? Laki-laki seperti apa yang menurut ibu baik untuk anak ibu yang bahkan jauh dari kata baik ini?" balas Kaira.

"Kamu tidak perlu merendah seperti itu, membandingkan diri kamu dengan laki-laki itu."

"Tapi ibu justru merendahkan orang lain. Mengatakan Kaisar tidak cukup baik, dan melarang hubungan kami dengan alasan tidak jelas!" Kaira mengungkapkan isi kepalanya.

"Kamu tidak tahu Kaira, resiko yang kamu hadapi jika bersama dengan laki-laki yang pernah menikah sebelumnya."

"Tapi Kaisar bukan gagal dalam pernikahan sebelumnya. Istrinya meninggal dunia, Bu. Bukan salah Kaisar dia menjadi duda."

"Karena itu Kaira! Karena itu dia tentu saja masih belum melupakan istrinya. Dia menikahi kamu hanya untuk mendampinginya, mengurus hidupnya, dan memberinya segala kebutuhan duniawinya. Tetapi tidak dengan hatinya, cintanya. Dia akan menyimpan istrinya di dalam hatinya seumur hidupnya, bahkan meski kamu sudah mengabdikan hidup kamu untuk dia."

Kaira terduduk di tempat tidur. Ia tertawa miris, tidak menyangka ibunya akan bersikap sok tahu begini. "Bu, aku tahu ibu nggak suka nonton sinetron. Lalu, ibu dapat pemikiran se-drama ini dari mana?"

"Yang ibu katakan tadi bukan cerita sinetron Kaira. Ini nyata. Ibu mengalaminya. Dalam pernikahan ibu dan ayah kamu. Ayahmu tidak pernah mencintai ibu. Bahkan mungkin hingga hari ini, setelah tiga puluh tahun lebih lamanya ibu hidup bersamanya."

Kaira jelas tercengang mendengar penuturan sang ibu. Air mukanya tak beriak, tidak cukup paham dengan semua yang ibunya katakan.

"Ayahmu tetap mencintai mendiang ibunya Nadia. Meski ibu sudah memberikan hidup ibu, merawat dan membesarkan Nadia. Ayahmu mengaku tidak akan bisa melupakan mendiang istrinya selamanya, Kaira. Selama ini ibu mendampingi laki-laki yang tidak bisa mencintai ibu. Dan, ibu tidak ingin kamu juga merasakan hal yang sama karena menikah dengan laki-laki itu!"

Suara sang ibu bergetar saat mengatakannya. Tidak luput juga dari perhatian Kaira, bagaimana tangan ibunya terkepal di kedua sisi tubuhnya, dengan kilatan kecewa yang terlihat jelas di sepasang matanya. Namun, Kaira pun tidak jauh berbeda kacaunya. Semua yang dikatakan ibunya, terlalu mengerikan untuk didengar.

Detik berikutnya, derit pintu yang terbuka dari luar, menyadarkan Kaira kalau ada orang lain selain mereka di sana. Yang tentu saja turut mendengar apa yang ibunya ucapkan tadi. Dia, Nadia yang tampak menyeret langkahnya untuk mendekat. Tatapnya tertuju pada ibu yang tampak menyesal kini.

"Jadi, itulah alasan kenapa ibu ataupun ayah selalu bungkam setiap kali aku mau membahas permasalahan Kaira ini?" tanya Nadia dengan suara parau.

Ibu hanya terisak. Sementara Kaira masih mencoba menguasai diri. Ingin ia hampiri ibu yang tampak tidak baik-baik saja, tapi ia pun terduduk lemas di tempatnya. Ia pun butuh pegangan. Ia pun butuh penopang. Ia pun hancur. Ia pun tidak baik-baik saja.

Hehehe, pendek ya?
Gapapa ya ...

Desember, D nya apa?
Dar der dor di hubungan Kaisar dan Kaira 🤭

Terima kasih banyak buat voters setia 😙

Sabtu, 6 Desember 2025

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top