9 - Ini Ujian?
Dita yang rupanya sedang memasak mi instan, beralih sejenak. Dia masih menatap Gandi yang malah diam melongo.
"Mm ...." Gandi heran, kenapa juga harus kikuk di rumah sendiri? "Kamu ngapain malam-malam di sini?"
"Oh, saya lagi masak mi, Pak. Entahlah, tapi kadang suka tiba-tiba lapar kalau terjaga jam segini."
"Sama." Gandi kelepasan.
"Maksudnya, Bapak ke sini karena lapar juga?"
"Eh?" Gandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bapak mau sekalian saya masakin?"
Gandi tampak berpikir. "Nggak ngerepotin, kan?"
"Nggak, dong, Pak. Kan, sekalian." Dita terkekeh ringan. "Atau Bapak mau saya siapin nasi aja atau apa gitu?"
Gandi menggeleng sambil menarik kursi meja makan untuk duduk. "Mi aja."
"Bapak mau rasa apa?" tanya Dita sambil membuka lemari penyimpanan.
"Apa aja."
Selanjutnya Dita terlihat cekatan menyiapkan seporsi mi instan lagi. Diam-diam Gandi mengamatinya. Andai ART-nya masih Bibi, dia bakal minta ditambahin sayur-sayuran, sosis, atau semacamnya. Namun, karena ini Dita, entah kenapa dia tidak enakan. Lebih tepatnya Gandi masih setengah yakin bahwa perempuan ini benar-benar sudah memosisikan diri sebagai ART di rumah ini.
Ketika menggeser sedikit pandangan ke atas meja, Gandi malah salfok sama mug keramik bergambar Ana dan Pedro, pasangan ikonik Amigos, telenovela asal Meksiko yang tayang pada tahun 2000-an.
"Ini punya kamu?" tanya Gandi sambil menunjuk mug itu.
Dita menoleh. "Iya, Pak. Kenapa?"
"Amigos?" Sebelah alis Gandi terangkat.
Dita terkekeh ringan. "Itu telenovela favorit saya, Pak. Kayaknya nggak akan lekang oleh waktu, deh. Karena, banyak sekali kenangan masa kecil saya yang terselip di sana." Dita berpaling sejenak untuk mengecilkan api kompor. "Ngomong-ngomong, kok, Bapak tahu? Dulu suka nonton juga, ya?"
Gandi mengangguk. "Tapi, aku nggak begitu peduli, sih, sama jalan ceritanya. Aku hanya suka banget suasananya pas nonton rame-rame. Itu salah satu masa-masa emas generasi 90-an."
"Betul, Pak. Jadi kangen, nih, masa-masa itu."
Mereka terkekeh bareng.
"Jadi, sampai sekarang kamu masih suka nonton telenovela?"
Dita yang sedang menuang mi instan yang sudah matang ke dua mangkuk kaca menggeleng singkat. "Nggak, sih, Pak. Saya bukan pencinta telenovela secara umum, entah kenapa cuma suka Amigos. Lebih tepatnya, sekarang ini saya suka hal-hal berbau jadul, antik, kuno, pokoknya hal-hal yang bisa membangkitkan kenangan. Dan menurut saya Amigos termasuk di dalamnya."
Netra Gandi melebar. "Serius kamu suka hal-hal jadul?"
Dita mengangguk. "Saya punya beberapa koleksi di rumah. Lebih ke mainan, sih, Pak. Misal, papan monopoli, ular tangga, gimbot tetris, sama ... apa lagi, ya? Sebagian lupa namanya."
Punggung Gandi menegak, pertanda atensinya meningkat. "Jarang-jarang, nih, aku ketemu sama orang yang sefrekuensi."
"Maksudnya, Bapak juga suka hal-hal jadul?" Dita sambil membawa dua porsi mi instan yang sudah siap saji.
"Banget. Seperti yang kamu bilang tadi, mereka bisa membangkitkan kenangan, sesuatu yang pernah ada dan tidak bisa kita miliki dua kali."
"Tapi, kok, saya nggak melihat barang-barang antik di rumah ini?"
"Dulu ada, tapi kemudian nggak dibolehin sama Nindi." Suara Gandi mendadak sayu, semacam ada ketidakrelaan yang tertatih di dalamnya. "Katanya, ngapain harus sama barang-barang kuno kalau udah ada yang lebih bagus, lebih canggih?"
"Padahal ini bukan soal canggih atau sekadar bagusnya." Dita tampak ikut menyayangkan.
Gandi mengangguk lemah. "Sayangnya Nindi tidak sepemikiran dengan kita. Baginya, barang-barang kuno itu tak lebih dari sekadar sampah, yang cuma ngambil-ngambil tempat dan bikin tampilan ruangan jadi kusam."
"Selera orang nggak bisa dipaksakan juga, sih."
"Begitulah."
"Tapi, Bapak jadi ikhlas gitu aja?"
"Mau gimana lagi." Gandi mengedik lemah. "Selama ini aku selalu melakukan apa pun demi Nindi, juga menuruti kemauannya."
"Kalau lawannya cinta, apa pun akan kalah, ya, Pak." Dita terkekeh ringan sambil meletakkan salah satu mangkuk mi di depan Gandi. "Silakan, Pak." Kemudian dia tampak ingin beranjak.
"Loh, mau ke mana?"
"Saya makan di kamar aja, Pak."
"Kenapa nggak di sini?"
Dita tampak sungkan. "Emang nggak apa-apa saya makan semeja dengan Bapak?"
"Ya nggak apa-apa. Santai aja kali, Dit. Nggak usah terlalu gimana-gimana."
Dita masih diam.
"Ayo duduk. Beneran, nggak apa-apa," kata Gandi lagi setelah menyeruput kuah minya.
Dita pun akhirnya menarik kursi dan duduk berhadapan dengan majikannya itu.
Awalnya memang terasa sangat canggung, tapi ketika Gandi kembali ke topik barang-barang jadul, obrolan seketika mengalir begitu saja di antara mereka. Gandi hanya belum sadar, bahwa baru kali ini dia tiba-tiba bisa senyambung ini sama orang baru. Tadi, secara tidak langsung dia bahkan mengeluhkan beberapa hal soal Nindi, sesuatu yang nyaris tidak pernah dia lakukan ke orang lain.
***
"Woi, kenapa?" Saman menegur Gandi yang seolah abai pada makanannya. Saat ini mereka sedang makan siang di kantin kantor. Kalau tidak ada keperluan di luar, mereka memang lebih sering makan di sini.
"Hm?"
"Kok, malah bengong?"
Alih-alih makan, Gandi malah meletakkan sendoknya. "Dea udah punya pengasuh baru."
"Bagus, dong."
"Tapi cantik."
"Terus, apa masalahnya?"
"Aneh aja."
"Kamu yang aneh. Sejak kapan pengasuh nggak boleh cantik?"
"Tapi yang ini potongannya kayak nggak cocok banget jadi pengasuh."
"Masa? Secantik itu?"
"Tipe kamu banget pokoknya. Kamu juga pasti bakal merasa aneh kalau udah lihat langsung."
Saman meneguk air minumnya beberapa kali sebelum lanjut bicara. "Jadi penasaran. Cantikan mana sama Nindi?" tanyanya sambil menaikturunkan alis dengan ekspresi jail.
"Jelas cantikan Nindi lah. Buat aku, Nindi itu nggak ada duanya. Dia terlalu istimewa untuk dibanding-bandingkan dengan perempuan lain."
"Oke, oke. Si paling setia, si paling bucin." Saman terbahak.
"Awas karma. Kamu juga pasti bakal kayak aku kalau udah nemu perempuan yang tepat."
"Jangan, deh. Ngeri."
Gandi berdecak sambil geleng-geleng. Entah kapan sahabatnya ini bisa sedikit lebih serius perihal pendamping hidup.
"Btw, kamu enak, dong, bisa serumah sama perempuan cantik di saat istri lagi nggak ada." Saman masih dengan ekspresi jailnya.
"Aku tahu yang lagi kamu pikirin. Sayangnya aku bukan laki-laki yang seperti itu."
"Masa?" Saman menahan tawa.
"Terserah." Gandi beralih menyendok nasinya, seolah ingin menyudahi topik itu.
"Hati-hati. Barangkali Nindi sedang nguji kamu. Dia pasti punya alasan tersendiri memilih pengasuh itu."
Kunyahan Gandi memelan. "Emang selama ini aku seperti suami bermasalah, ya, sampai harus diuji segala?"
"Itu asumsiku aja, sih. Nggak usah terlalu dipikirin. Udah, buruan makan. Jam istirahat tinggal dikit." Sekilas Saman melirik jam tangannya.
Gandi melanjutkan makannya, meski dengan pikiran yang telanjur ke mana-mana. Jika benar kata Saman, bagaimana sebenarnya Nindi menilainya selama ini? Dari mana keragu-raguannya muncul? Karena, menempatkan suami dengan perempuan cantik dalam satu atap tidak mungkin sekadar iseng, kan? Dan jika Dita memang ujian, apakah Gandi benar-benar bisa lulus?
***
[Bersambung]
Menurut kalian, Gandi bisa lulus nggak, nih?
Dan apa alasan Nindi memilih Dita?
Aku punya kejutan besar, jadi pastikan ikutin sampai tamat, ya. 😊🙏
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top