The Silver-haired Killer - Perak

Kepulan asap rokoknya menyelimuti ruangan sebesar tiga meter persegi itu. Berkas dan kertas-kertas yang ada di mejanya berserakan, memenuhi meja kayunya yang sepanjang satu meter.

Ruangan itu tampak tidak terurus, hingga terlihat sarang laba-laba di sudut-sudut atas ruangannya.

Dia--si pemilik ruangan--menduduki kursi yang ada di belakang meja sambil mengacak rambut hitamnya dengan kasar lalu memijat pangkal hidungnya. Pikirannya sedang dipenuhi oleh kasus pembunuhan yang sedang marak belakangan ini. Sampai ia lupa menyalakan saklar lampu ruangannya, padahal hari sudah gelap.

Kriing! Kriing!

Telepon rumahnya berdering sangat nyaring, hingga dapat memekakan telinga. Dengan cepat, ia mengangkat telepon itu. Belum sempat menyapa, si penelepon sudah bicara duluan, "Cepatlah datang ke Bar XX! Ada orang mati di sana!"

Klek.

Sambungan terputus.

Dia mengerang frustasi seakan kewarasan meninggalkan dirinya. Tanpa diberitahu pun dia sudah tahu pemilik suara tersebut. Dengan cepat, dia mengambil jas dan menyiapkan mobilnya untuk pergi ke tempat kejadian.

***

"Korban bernama Veil Dalton, pria berusia tigapuluh lima tahun. Setidaknya itulah yang kita ketahui berdasarkan kartu identitasnya," kata Mike--polisi yang memeriksa jenazahnya, sekaligus peneleponnya tadi.

Butuh waktu limabelas menit bagi Forth untuk sampai di tempat kejadian. "Di sini juga ada Detektif Fyren, ia baru datang beberapa menit yang lalu. Mungkin kita bisa meminta bantuannya. Bagaimana menurutmu, Detektif Forth?" lanjut Mike.

Mike dan Forth sudah bersahabat selama beberapa tahun, tapi baru sekarang saja mereka bekerja sama. Forth adalah detektif swasta, dan Mike adalah polisi penyelidik bagian pembunuhan.

Forth memperhatikan posisi mayat tersebut sambil mengenakan sarung tangan karetnya. Mayat itu duduk di atas toilet, menyender ke belakang dengan kepala menunduk. Bajunya terbuka setengah, beberapa kancing nyaris lepas dari tempatnya.

Forth meneliti tangan korban.

Tangannya tampak seperti sedang memegang minuman kaleng--yang kini tergeletak dan berceceran di lantai. Mulut kaleng tersebut terlihat sedikit berkarat, sedangkan sedotannya tidak berubah.

Keracunan sodium hidroksida, pikirnya. "Apa penyebab kematiannya, Mike?" Ia menyentuh wajah korban, melihatnya lebih dekat.

Mike membuka catatannya dengan tangan gempalnya. "Kata Detektif Fyren, sih, keracunan. Mungkin dia bunuh diri?" tebaknya. "Petugas forensik akan datang beberapa menit lagi."

Korban tersebut memiliki rambut hitam, jenggot dan kumis. Sama dengan kasus yang sebelum-sebelumnya. "Menurutmu ini perbuatan 'dia'?" tanya Detektif Forth.

"Si pria berambut perak? Sepertinya begitu, jika dilihat dari ciri-cirinya...." Mike mengerutkan keningnya. "Tapi sangat sulit mencari tersangka di tempat ramai begini."

Forth memperhatikan pengunjung bar yang hilir mudik dengan saksama. Dia menyadari ada yang aneh, baju mereka terlihat bekas basah walau ada yang sudah nyaris kering.

"Mike, kenapa baju mereka basah begitu?" Forth menunjuk kerumunan itu.

Mike menjentikkan jarinya. "Ah, tadi ada pesta basah-basahan untuk merayakan sesuatu. Jadi semua pengunjung di sini tadi disiram air menggunakan pistol air. Dan pada saat yang sama, dia..."--Mike menunjuk korban--"meninggal."

Para pengunjung bar tidak dipersilakan pulang sampai tersangka ditemukan atau kasus selesai. Itu berarti pelakunya masih ada di sekitar sini, pikir Forth. Dan berarti tersangkanya adalah seseorang yang bajunya kering.

"Mike, cari orang berbaju kering yang ada di bar ini," perintah Forth, dan Mike langsung pergi tanpa bertanya.

Forth mengelilingi bar, berharap ia menemukan petunjuk. Jika polisi datang secepat ini, berarti pria berambut perak itu belum pergi, ini adalah kesempatannya untuk menangkap penjahat itu. Sayangnya, sedari tadi ia tidak menemukan pengunjung berambut perak--sesuai dugaannya.

Ia juga sudah menanyai beberapa saksi mata yang melihat orang mencurigakan keluar dari toilet. Mereka bilang bahwa pelaku berambut perak pendek, tubuhnya tinggi, memakai masker, dan mantel hitam panjang yang nyaris menutupi seluruh tubuh.

"Orang aneh itu keluar dari toilet yang bertuliskan 'rusak' di pintunya. Begitu saya masuk, saya kaget ada orang mati di sana, lalu buru-buru lapor polisi yang kebetulan berpatroli di dekat sini," katanya. "Lagipula bajunya terlalu mencolok untuk berpesta."

Setelah mendapat sedikit informasi, Forth lanjut berkeliling hingga ia tak sadar menabrak seorang wanita. "Oh, maaf, Nona." Seketika dia kaget dengan wanita yang dilihatnya. Detektif Fyren.

"Tak apa, bukan masalah besar." Fyren tersenyum. Lipstick merah dan tatapan mata cokelatnya terlihat begitu menawan bagi Forth. Rambut blondenya diurai, panjangnya sebahu. Hanya saja, lipstick Fyren tampak sedikit berantakan, walau itu tidak terlalu terlihat.

Diperkirakan dari fisiknya--yang sangat ideal di mata Forth--Fyren berumur duapuluh limaan. Sama dengan Forth. Hanya saja ia lebih tua sedikit.

Sebelumnya, Forth belum pernah bertemu Detektif Fyren. Ia hanya sering dengar-dengar gosip bahwa Fyren adalah detektif yang terkenal dan cerdas. Dia tak pernah menyangka bahwa Fyren terlihat sepuluh kali lebih cantik daripada di foto.

Kemudian terdengar teriakan yang membuyarkan lamunan Forth. "Forth! Detektif Fyren sudah menemukan orang dengan baju yang tidak basah lebih awal darimu--oh, hai Fyren," kata Mike dengan napas tersendat akibat lari.

Pandangan Forth langsung beralih ke Mike, kemudian ia berdeham. "Kalau begitu, sudah kau tanyakan alibi mereka?"

"Sudah."

Mike menjelaskan bahwa ada dua orang yang berbaju tidak basah. Satu laki-laki, satu perempuan. Alasan si perempuan, ia mesti ke tempat sepi sejenak dari keramaian karena menerima telepon dari bosnya.

Sedangkan alasan si laki-laki, ia ingin bercengkrama dengan teman-temannya di smoking room yang kedap suara. Kalau di luar smoking room terlalu berisik.

"Alasan mereka mencurigakan," kata Forth, matanya melirik Detektif Fyren.

"Ya, memang mencurigakan, tapi saya sudah konfirmasi dengan bos si wanita dan itu benar," kata Fyren, memandang Mike dan Forth. "Jadi dia tak bersalah."

"Ah!" Mike menjentikkan jarinya, sudah menjadi kebiasaan ia seperti itu. "Petugas forensik sudah datang, mayatnya juga sudah dibawa. Aku lupa bilang."

"Syukurlah kalau begitu." Fyren berjalan menuju bartender, entah untuk memesan minuman atau apa, Forth mengikutinya di belakang.

Fyren berjalan sedikit timpang. Forth pikir itu karena sepatunya yang tidak nyaman atau memang kakinya sedang sakit, ia tak mempermasalahkan itu. Mereka pun duduk di kursi yang telah di sediakan.

Fyren memesan soda--karena tak boleh mabuk jika sedang bertugas. Forth pun juga. Bartender meletakan minuman itu di sebelah kiri Forth, terlalu jauh untuk dicapai Fyren. Ia membantu Fyren mengambil minuman itu. Sesaat, Fyren terlihat ingin mengangkat tangan kanannya, lalu diganti dengan tangan kiri, kemudian ia tersenyum. "Terima kasih."

Forth dan Fyren bercengkrama sebentar, bertukar cerita tentang masa kecil berlanjut tentang kasus-kasus pembunuhan yang pernah diselesaikan oleh mereka. Andaikan pembunuhan ini tidak terjadi, Forth pasti masih akan berlanjut ngobrol dengan Fyren, sampai akhirnya Mike memanggil mereka.

Forth mendapat kabar dari petugas forensik bahwa bagian belakang kepala mayat ditemukan luka tusuk benda runcing. Itu juga bisa menjadi penyebab kematian mayat.

Manusia akan mati tanpa berteriak karena tidak dapat bernapas akibat neuron pernapasan dari pusat pernapasan pada otak bagian belakangnya terhambat, pikir Forth.

"Trik yang lumayan cerdik," gumamnya. "Kemungkinan sebelum ditusuk, korban dibuat pingsan dengan semacam obat... hm."

Forth berkeliling lagi, mencari tempat-tempat yang kemungkinan digunakan pembunuh untuk membuang senjata. Dan hasilnya nihil. Berarti senjatanya masih dibawa oleh pelaku, pikir Forth. Akhirnya ia kembali ke toilet, tempat kejadian perkara.

"Ada kabar terbaru?"

"Ditemukan sidik jari seseorang selain korban di kaleng minuman tersebut." Salah satu petugas forensik itu menjawab tanpa memandang Forth.

Diantara dua tersangka yang terisisa, tidak ada yang memenuhi kriteria pria berambut perak. Forth mulai curiga bahwa si pria rambut perak sudah pergi sejak awal dan ini menjadi sia-sia.

Ia memijat pangkal hidungnya sambil mengerutkan kening, stres. Merasa pundaknya ditepuk seseorang, ia pun menoleh.

"Kebingungan, Detektif Forth?" Fyren tersenyum.

Forth segera membalas senyum kikuk. "Ehm, yah begitulah."

"Ditemukan sidik jari, bukan? Berarti masih ada harapan pelaku terangkap, kok," kata Fyren.

***

Forth mondar-mandir dengan gelisah.

Beberapa menit yang lalu, dikabarkan terdapat sebuah bekas pil di dalam kaleng minuman korban. Kemungkinan racun ditaruh di dalam sana hingga meleleh.

Diperkirakan waktu untuk membuat kapsul tersebut meleleh karena terendam air adalah limabelas menit.

"Jadi kau yang menaruh racun, ya?" Forth bertanya kepada si empunya sidik jari. Polisi sudah menemukan pemilik sidik jari dengan cepat.

Pria itu langsung menjawab tegas. "Tidak! Aku tidak menaruh apa-apa ke dalam minumannya! Aku cuma memberi saja! Percayalah padaku!"

Pria ini bernama Andrew Cross, ia berumur tigapuluh lima tahun--sama seperti korban. Bertubuh gempal, dan memiliki rambut pirang. Hubungannya dengan korban adalah teman sepermainan.

Kini tersangka ada tiga. Dua laki-laki dan satu perempuan. Tapi, si perempuan memiliki alibi yang sempurna, telepon dengan bosnya sudah dikonfirmasikan dengan benar, maka untuk sementara dia dibebaskan dari tuduhan tersangka--walau masih belum diperbolehkan pulang.

Sisa dua laki-laki. Setidaknya 'si pria berambut perak' diketahui berjenis kelamin lelaki. Apakah ada di antara mereka?

***

Hari semakin malam, Forth ingin mengecek jam, tapi dia lupa membawa jam tangannya. Dengan terpaksa, ia bertanya pada Detektif Fyren.

"Maaf, jika saya mengganggu Anda, Detektif Fyren, tapi saya ingin bertanya jam berapa sekarang?"

Fyren tersenyum dengan menawan seperti biasa. Ia mengulurkan tangan kanan, kemudian dengan cepat diganti tangan kiri. "Jam sebelas kurang limabelas."

"Terima kasih," kata Forth. Kemudian Fyren berlalu sambil menenteng tas hitamnya, masih terlihat ia sedikit berjalan timpang. Forth ingin sekali bertanya keadaannya, tapi ia mengurungkan niat itu.

Kembali, Forth tenggelam dalam pikirannya.

Jika pesta basah-basahan dilakukan jam sembilan, berarti korban tewas pukul sembilan juga. Limabelas menit sebelum itu, racun dimasukan ke dalam minumannya. Tapi Andrew mengaku bertemu korban pukul 08.30 dibuktikan oleh bartender yang sedang berada di situ.

Sedangkan tersangka yang satu lagi, ia bernama Thomas, tidak memiliki hubungan dengan korban--entah kenapa Forth sangat mencurigai dia, semakin tidak memilki hubungan, semakin mencurigakan.

Apalagi Thomas berpostur tinggi besar, tapi rambutnya berwarna hitam. Bukan perak. Forth mengerang frustasi.

Forth kembali ke tempat kejadian, kali ini menggunakan kaca pembesar dan senter, ia meneliti TKP. Tak lama kemudian, ia menemukan sehelai rambut berwarna pirang di dekat dudukan toilet. Teksturnya seperti dilapisi lilin atau semacam plastik, itu adalah rambut palsu.

"Hmm." Forth mengerutkan keningnya, berpikir keras. Tersangka yang memiliki rambut pirang hanya Andrew. Semakin kuat dugaannya kepada Andrew.

Ia memberikan rambut itu pada tim forensik.

"Semua tersangka harap memasuki ruang ini untuk digeledah," kata inspektur kepolisian, Will. Ia baru datang karena terjebak macet. "Ah, Detektif Fyren dan Forth, tolong tunggu di sini saja. Mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk melalui penggeledahan." Will menunjuk tempat yang disebut.

Will mengacak kasar rambut keritingnya, lalu masuk ke dalam ruang penggeledahan dengan langkah tegap. Will harus sedikit menunduk saat memasuki ruangan, karena tubuhnya yang terlalu tinggi.

Forth mengangguk, begitupula Fyren. Ia kini duduk disamping Forth, di depan ruangan penggeledahan.

"Um, Detektif Fyren, apa kau sudah memiliki dugaan siapa pelakunya?" Forth memulai pembicaraan. Sebenarnya ia malu jika harus dikalahkan oleh wanita, tapi apa boleh buat untuk saat ini, ia harus mengesampingkan gengsinya.

Fyren tersenyum. "Sudah. Kau bisa memanggilku Fyren saja."

Mike tiba-tiba datang sambil tergesa-gesa membawa dua kaleng kopi. "Ini untuk kalian." Ia memberikan kaleng kopi itu pada Forth dan Fyren. Fyren menerimanya dengan tangan kiri.

Forth membuka kopi tersebut lalu menenggaknya. "Maaf, um, Fyren, bolehkah kau--"

"Menurutku yang mencurigakan adalah Andrew." Perkataan Forth dipotong oleh Fyren. "Ia bertemu korban pukul 08.30, lalu pesta air dimulai pukul 09.00. Dia membuktikan dengan bajunya yang basah bahwa dia tidak membunuh bisa korban. Tapi tadi saat aku ke sini duluan daripada polisi ada bekas basah di salah satu toilet laki-laki." Ia membuka kopinya. "Berarti siapa lagi kalau bukan Andrew? Sebenarnya pembunuhan ini sangat simpel."

Forth kembali tenggelam dalam pikirannya. Ia memikirkan matang-matang penjelasan Fyren... hingga sampai pada satu kesimpulan.

***

Setengah jam berlalu. Ditemukan Andrew membawa alat jahit. Seluruh bukti sudah menunjuk bahwa pelakunya adalah Andrew.

"Andrew, kau harus kami bawa ke kantor kepolisian untuk dimintai keterangan lebih lanjut," kata Will. Ia bersama Mike menggiring Andrew menuju luar bar.

"Hei lepaskan aku! Bukan aku pelakunya!" Andrew memberontak.

Forth yang sedari tadi diam, tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya lalu berkata, "Tunggu, Will. Pelakunya bukan dia."

Langkah will terhenti. Begitupula Mike. "Maksudmu? Semua bukti sudah mengarah padanya. Dan tersangka kita hanya dua," kata Will. "Terimalah kenyataan bahwa si pria berambut perak tidak ada di balik semua ini. Ini hanya kebetulan korbannya sama supaya kita berpikiran ke sana."

"Benar, Forth. Pelakunya memang dia. Kau mau apa lagi?" Fyren kini ikut berdiri.

"Fyren, kukira kau detektif ternama yang cerdas. Ternyata tidak secerdas yang kubayangkan," kata Forth. "Dengar analisisku baik-baik."

"Baiklah. Jelaskan cepat, Forth." Will berjalan mendekat Forth, masih sambil menggiring Andrew.

"Pesta basah-basahan dimulai pukul 09.00, itu juga jadi waktu kematian korban. Diduga korban mati karena racun atau tusukan di belakang kepala. Itu juga masih belum jelas. Senjata yang diperkirakan semacam jarum atau pemecah es.

"Para saksi mata mendeskripsikan pelaku berambut perak pendek, tubuhnya tinggi, dan memakai mantel hitam. Persis seperti yang dipakai Detektif Fyren saat ini." Matanya mengarah ke arah Detektif Fyren.

"Tunggu! Jadi kau menyalahkan aku?!" Fyren membentak, tak terima dirinya dituduh pelaku.

Forth tak mengacuhkan bentakan Fyren dan terus melanjutkan analisisnya. "Menurut analisis saya, korban tewas karena luka tusuk di belakang kepalanya. Kenapa? Karena jika ia mati oleh sodium hidroksida, maka akan ditemukan darah di mulutnya, tapi tadi tidak ada darah sama sekali di mulutnya.

"Dan Karena Andrew membawa jarum jahit, perhatian kita jadi terpusat di sana. Padahal, panjang jarum jahit hanya sekitar 2-3 cm, benar Andrew?" Kini Forth menatap Andrew. "Apalagi ditemukan rambut berwarna pirang seperti rambut Andrew."

Andrew menganggukan kepala. "Itu bukan rambutku pastinya!"

"Sedangkan untuk menyumbat pernapasan lewat belakang kepala, dibutuhkan jarum sepanjang 5-6 cm. Lalu siapa pembunuhnya?" Forth mengangkat bahunya.

Will mulai tidak sabar. "Cepatlah sebutkan siapa pelaku sebenarnya."

Forth kini memandang Detektif Fyren. "Fyren, kenapa kau selalu mengganti tangan kananmu menjadi tangan kiri?"

Napas Fyren tercekat. "A-apa maksudmu?!"

"Kau tidak bisa menjawabnya, kan? Karena kau menyimpan benda semacam jarum di ketiakmu untuk berjaga-jaga apabila tas hitammu digeledah atau di bongkar oleh orang lain. Dan kenapa kau juga berjalan timpang?" Suara Forth terdengar seperti menyudutkan Fyren, yang memang benar seperti itu.

Fyren tidak dapat berkata-kata lagi. Ia tahu bahwa semua perkataan dan pembelaannya akan percuma.

"Itu karena kau tidak terbiasa memakai sepatu berhak tinggi. Kau menggunakan hak yang tebal itu untuk memukul jarum agar dapat menusuk lebih dalam--walau saya tidak mengerti bagaimana caramu mencabutnya."

Will seketika shock. "Detektif Fyren... katakan ini bohong! Kau bukan pria berambut perak, kan?" Will melepaskan pegangannya dari Andrew, dan berjalan ke arah Fyren. "Kau wanita! Rambutmu juga blonde!" Ia mengguncang-guncangkan bahu Fyren.

Fyren tertawa. Tak mengacuhkan Will. "Apalagi dugaan yang kau punya, Forth?"

"Kaulah si pria berambut perak." Ia menunjuk Fyren "Rambut yang ada di kepalamu sekarang adalah rambut palsu. Warna rambut aslimu adalah perak."

Bukan ekspresi takut yang Fyren tunjukan, kini ia tertawa terbahak-bahak. "Benar." Ia mencopot wig berwarna blonde itu. "Akulah pria berambut perak. Tampaknya aku salah menilaimu, Forth. Kau detektif hebat."

"Kau menggunakan mantel hitam itu untuk menyamarkan ukuran tubuhmu. Begitupula tinggimu, dengan sepatu hak tinggi. Pria berambut perak hanyalah sebuah sebutan karena kita tidak pernah benar-benar tahu jenis kelaminnya. Apalagi cara membunuhnya cukup ekstrim, terkesan seperti laki-laki yang melakukannya.

"Dan kau menggunakan kesempatan itu supaya penyamaranmu tidak terbongkar." Nada bicara Forth kini berubah menjadi nada kecewa. "Saya yang salah menilaimu, Fyren."

"Tunggu," potong Mike. "Lalu cara dia menggiring korban ke toilet bagaimana?"

Forth memaksakan senyum. "Kemungkinan Fyren menggoda korban, dan menyuruhnya ke toilet saat jam sembilan kurang sambil membawa minumannya, itu adalah saat toilet sepi karena semua ingin ikut pesta.

"Tentu saja korban mengikuti perintahnya, saat korban sudah membuka setengah bajunya, dia dikagetkan oleh Fyren yang telah berubah wujud jadi rambut perak. Fyren mengambil kesempatan langsung membuat korban pingsan dengan semacam obat.

"Sementara korban pingsan, ia menuliskan tulisan 'rusak' di depan pintu toilet. Agar tidak ada yang masuk mengganggu aksinya."

Will mendengarkan sambil menggeleng-geleng tidak percaya. Mike juga. Dan Andrew merasa lega.

"Selanjutnya, Fyren tidak sempat pergi meninggalkan bar karena polisi datang dengan cepat. Akhirnya ia menyamar sebagai pengunjung bar selama beberapa menit, lalu baru mendatangi TKP berperan menjadi detektif.

"Dia yakin dirinya tidak akan dicurigai karena detektif, sehingga tidak memerlukan alibi. Berbeda dengan saya. Saat terjadi kasus di suatu tempat, saya tidak akan pandang bulu dengan semua orang yang ada. Semua bisa berpotensi menjadi pelaku."

"Hmph, tak kusangka aku tertangkap oleh seorang detektif amatir." Fyren menyeringai.

"Saat pertama kali bertemu denganmu, Fyren, lipstickmu sedikit berantakan. Ibuku pernah berkata bahwa lipstick wanita hanya akan berantakan saat sehabis makan atau berciuman. Di bibir korban terdapat sedikit noda merah, itu juga membuatku curiga, walau sedikit."

Fyren tidak berkomentar.

Mike ikut melepaskan Andrew, dan menepuk-nepuk bahu Will. Will segera menyingkirkan tangan Mike dari bahunya. "Kenapa kau melakukan ini, Fyren?" tanya Will. "Kau sudah membunuh lima orang tak berdosa!" Ia menonjok tembok didekatnya.

"Huh, alasanku simpel." Ia berkecak pinggang "Aku dicampakan mantan pacarku karena ia tergoda oleh wanita murahan. Kebetulan mantan pacarku itu memiliki kumis dan jenggot. Aku jadi membenci semua laki-laki yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Apalagi si korban yang malang ini mau saja digoda olehku."

Tak dapat disembunyikan lagi, raut wajah Forth terlihat benar-benar kecewa.

"Dan perak adalah warna yang indah, menurutku. Maka aku memakainya," lanjut Fyren. Ia memegangi rambutnya.

Mike dan Will menyiapkan borgol untuk Fyren. Ketika Fyren digiring menuju luar, ia menyadari raut wajah Forth. "Akuilah, Forth, kau akan mencintaiku jika aku bukan pembunuh, kan?"

Mike menoleh pada Forth, menunggu jawabannya.

Forth merasakan wajahnya memanas. "Aku hanya kecewa karena kau membunuh untuk alasan sesimpel itu, Fyren."

Fyren tersenyum, lalu memaksakan tawa, hingga terdengar seperti isakan. "Tidak sesimpel itu sebenarnya. Masih ada jutaan alasan bagiku untuk membunuh. Tapi khusus hari ini, aku meninggalkan banyak petunjuk hanya untukmu," katanya.

Forth tidak mengerti maksudnya. Alhasil ia berdeham lalu berkata, "Lupakan mantan pacarmu Fyren, relakan dia. Masih banyak pria yang mau mendampingimu."

Fyren digiring memasuki mobil polisi. Jendelanya dibuka hingga menampakan dirinya berada diantara dua polisi di kiri kanannya. Ia menoleh ke arah Forth, begitupula dengan Forth.

Mata biru Forth berkilat akibat sinar bulan, memancarkan kesedihannya.

"Aku akan menunggumu." Forth mengucapkan itu dengan suara kecil. Dibalas anggukan kecil oleh Fyren.



Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top