Orange Citrus Murder - Orange
Valora termenung sambil menatap ke luar jendela kafe yang sedang ia kunjungi sampai cahaya hangat matahari menerpa wajahnya. Ia mengedipkan mata sekali dan merubah posisi duduknya supaya sinar matahari tak lagi dapat menjangkaunya.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe itu. Interior kafe yang penuh hiasan bunga dan warna-warna cerah, membuatnya ingin menutup mata. Ia tidak suka. Ia memperhatikan para pelayan yang sedang sibuk mencatat pesanan dan mengantarkan makanan ke pembelinya. Berkali-kali pintu depan terbuka dan sekelompok orang masuk sambil tertawa dan bercakap-cakap, seakan tak peduli dengan pelayan yang tersenyum membukakan pintu. Para pelanggan yang sedang duduk tak jarang tertawa lepas dan berbicara keras-keras tanpa memedulikan kenyamanan pelanggan lain.
Valora menghela napas sambil mengangkat cangkir di depannya. Teh Dejaarling yang tadi ia pesan sudah berkurang setengah dari wadahnya. Ia meminum teh itu sambil memejamkan mata. Kalau orang itu tidak datang lima menit lagi, aku akan pulang, batinnya.
Ia membuka mata dan terkesiap. Di depannya telah duduk seorang lelaki berambut cokelat gelap yang sedang nyengir lebar. Bola matanya, yang berwarna serupa, memancarkan semangat yang meluap-luap.
"Maaf, aku terlambat. Kau tidak marah, kan?"
Valora mendengus kesal sambil meletakkan cangkirnya. "Fidel, kau harus memiliki alasan yang kuat karena telah membuatku menunggu selama tiga puluh menit di kafe memuakkan ini."
"Aku kira kau suka dengan kafe seperti ini." Fidel tertawa terbahak. "Penampilanmu rupanya tidak berubah sejak sepuluh tahun yang lalu di high school. Rambut hitam panjang diikat ke belakang dan juga bentuk poni miringmu."
Valora memutar bola mata hitam miliknya dengan jengah. "Sekali lagi kau bersikap basa-basi, aku akan pulang."
"Woah, tenang, tenang. Aku yakin kau tidak akan menyesal karena sudah menungguku," kata Fidel sambil tersenyum. "Kau sudah membaca koran pagi ini? Menurutmu berita apa yang paling menarik?"
Valora mengerutkan kening. Ia mengambil koran dari dalam tas. "Berita tentang para pemimpin yang seenaknya sendiri, sudah biasa. Berita tentang para buruh unjuk rasa, tidak menarik. Laporan kecelakaan dan orang hilang, tidak ada yang spesial," katanya sambil membolak-balik kertas koran yang dipegangnya, "kecuali berita yang ada di kolom kecil ini, tentang tewasnya seorang Bangsawan Cordwell."
Fidel tersenyum cerah. "Kau masih tetap jeli, sama seperti dulu. Aku datang untuk meminta bantuanmu tentang berita itu."
"Kau menyuruhku membuat berita?"
"Tentu saja bukan. Aku butuh bantuanmu untuk mengungkap kasus itu."
Valora tersenyum sinis. "Kau kan polisi. Satuanmu pasti sudah bekerja untuk mengungkap kasus itu. Lagipula, apakah ini pembunuhan?"
Fidel mengangguk. "Kami mengira ini adalah pembunuhan. Tetapi, kasus ini akan ditutup dalam waktu 24 jam. Sedangkan kami masih belum menemukan bukti yang meyakinkan untuk menemukan pelakunya."
"Cepat sekali kasus ini akan ditutup."
"Kau tahu kan, Bangsawan Cordwell adalah pemilik sebagian besar saham perusahaan besar di kota ini. Mereka adalah penyumbang terbesar program kerja pemerintah di seluruh kota. Nama mereka tidak boleh sampai tercemar ke publik. Ada surat perintah resmi dari atasan kami untuk segera menyelesaikan laporan kasus ini dan menutupnya apapun yang kami temukan."
"Baiklah, ini rumit," ujar Valora. "Ceritakan padaku detail dari kasus ini. Koran sama sekali tidak membantu."
"Semalam," kata Fidel, "Tuan Cordwell ditemukan tewas di kamarnya. Pelayannya menemukan ia tak bernapas di lantai dekat kasurnya pada jam setengah dua belas. Dokter segera dipanggil namun nyawanya sudah tidak dapat ditolong. Dokter memperkirakan waktu kematian korban sekitar jam sebelas. Polisi bergegas datang karena laporan dari sekretarisnya."
"Penyebab kematiannya?"
"Menurut dokter, Tuan Cordwell meninggal karena racun sianida. Perlu dilakukan otopsi untuk menentukan sebab kematian pasti, tapi istrinya, Nyonya Cordwell, tidak ingin suaminya diotopsi. Nyonya Cordwell beralasan bahwa arwah suaminya tidak akan tenang bila tubuhnya dirusak. Berita tentang keracunan ini tidak dilaporkan di koran karena berbahaya bagi nama baik Cordwell. Sejujurnya aku tidak begitu peduli dengan nama baik mereka, namun atasan dari pimpinanku sudah memperingatkan untuk tidak berbuat macam-macam terhadap mereka."
Valora menatap serius lelaki di depannya. Ia mengatupkan kedua tangannya sambil berkata, "aku ingin melihat tempat kejadian perkara ini."
Fidel mengangguk. "Tentu saja. Aku akan memerkenalkanmu sebagai staff magang dibawah kepemimpinanku. Tidak akan ada yang curiga padamu."
"Baiklah, kita berangkat sekarang," kata Valora sambil membungkuk untuk mengambil tongkat yang ada di bawah meja. Ia menegakkan tongkat itu dan menyelipkannya di bawah lengan kirinya. Ia baru sadar bahwa Fidel memperhatikan dirinya .
"Ada apa?" tanya Valora, "Ayo, berangkat."
"Kaki kirimu?" tanya Fidel dengan nada penasaran. Ia tidak melepaskan pandangan dari kaki kiri Valora yang seharusnya ada di tempatnya.
"Menghilang," jawab Valora singkat, "tidak usah dipikirkan."
Fidel mengangguk walaupun wajahnya masih tampak penasaran. Valora berjalan di depan Fidel dengan lancar seakan tidak terganggu dengan ketiadaan kaki kirinya. Tongkat jalan yang ia pegang menjadi alat pembantu yang sangat ia butuhkan ketika bagian lutut kirinya harus diamputasi. Valora tidak mengindahkan pandangan dari pengunjung-pengunjung lain yang kentara sekali melihat dirinya sambil berbisik-bisik.
Setelah membayar pesanan di kasir, mereka berdua langsung keluar dari kafe. Fidel berjalan disampingnya sambil tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Valora ketus. Ia memandang Fidel untuk menuntut jawaban.
"Tidak apa-apa." Fidel buru-buru menyembunyikan senyumannya.
Mereka berdua pergi ke kediaman Bangsawan Cordwell dengan menggunakan mobil milik Fidel. Dalam waktu empat puluh menit, mereka sudah sampai di tempat kasus itu terjadi. Fidel mengemudikan mobilnya masuk melewati gerbang besi tinggi yang telah terbuka dengan otomatis. Ia berhenti di samping pintu garasi yang tertutup.
Valora turun dari mobil sambil mengernyit. Wangi buah jeruk menerpa penciumannya. Ia memandang ke sekeliling rumah itu. Rumah besar khas abad pertengahan menjadi arsitektur dominan yang terlihat. Sepetak kebun penuh dengan pohon jeruk berada di kanan dan kiri rumah. Di halaman depan, tampak sebuah taman yang penuh dengan bunga-bunga oranye.
Fidel sudah berada di pintu depan yang terbuka dan menampakkan seorang gadis pelayan di baliknya. Valora berjalan ke arah mereka.
"Selamat datang," kata gadis pelayan, "Nyonya Cordwell ada di dalam." Gadis itu tidak tersenyum. Valora menganggap pelayan itu masih berusia belasan tahun.
"Terimakasih, Lionna," kata Fidel tersenyum ramah. Ia masuk diikuti oleh Valora.
Valora merasa aneh ketika masuk rumah. Ruangan itu dipenuhi dengan berbagai ornamen dan perabotan berwarna oranye, bahkan dinding dan langit-langitnya pun memiliki warna yang serupa. Aroma jeruk kembali menguar ke hidungnya.
Belum sempat Valora menanyakan sesuatu kepada Fidel, seorang wanita paruh baya muncul dari ruangan dalam. Ia tersenyum kepada mereka berdua. Penampilannya sangat rapi dengan rambut hitam digulung di atas kepala. Pakaiannya sederhana. Ia memiliki wajah yang cantik dan sorot mata keibuan.
"Selamat siang, Nyonya Cordwell," kata Fidel ramah, "maaf saya mengganggu waktu istirahat anda. Perkenalkan, ini Valora. Ia adalah seorang staff magang yang akan membantu saya membuat laporan untuk kasus yang terjadi semalam."
Valora mengulurkan tangan pada Nyonya Cordwell, yang disambut dengan baik. Ia sempat melihat mata nyonya itu mengerling ke kaki kirinya sejenak.
"Silakan buat laporan anda untuk kepentingan kepolisian, tapi jangan sampai publik mengetahui hal ini. Besok, famili dan relasi kerja kami akan datang berkabung, saya harap polisi sudah dapat menyelesaikan semuanya malam ini," kata Nyonya Cordwell.
"Kami akan berusaha," kata Valora, "tapi jika anda mengizinkan, apakah saya boleh menanyakan hal-hal yang terkait kasus ini kepada anda?"
Nyonya Cordwell mengangguk dan mempersilakan mereka berdua duduk di kursi oranye berpunggung tinggi, sedangkan ia sendiri duduk di sofa oranye. "Apa yang ingin kalian tanyakan padaku, Nak?"
"Bisa tolong ceritakan apa yang anda lakukan semalam?" tanya Valora.
"Seperti biasa, aku menonton televisi di ruang tamu sampai jam sembilan. Lalu, aku menuju ke dapur untuk membagikan gaji para pelayan," jawab Nyonya Cordwell, "kalian bisa mengeceknya dari kesaksian para pelayan. Sekitar jam sebelas kurang, suamiku pulang dari kantor bersama sekretarisnya. Aku menghampirinya sebentar untuk mengingatkan keharusannya meminum obat. Ia memiliki penyakit jantung kronis yang membuatnya harus bergantung pada obat setiap hari. Setelah aku menggantungkan mantelnya di kamar, aku keluar meninggalkan ia sendirian yang akan berganti pakaian."
"Lalu, aku pergi ke dapur untuk kembali melanjutkan pembagian gaji para pelayan. Salah satu pelayanku, Lionna, aku minta untuk mengantarkan air minum ke kamar suamiku. Aku ingat itu adalah pukul sebelas lebih dua puluh lima menit karena ada jam besar di dapur agar para pelayan tidak terlambat menyajikan makanan. Tak berapa lama, kami mendengar suara teriakan Lionna. Aku bergegas menuju kamar diikuti oleh para pelayan. Di sana, aku melihat tubuh suamiku telungkup tak bergerak di dekat kasur. Aku segera menghampiri suamiku dan berusaha membangunkannya. Namun, nihil. Aku menelpon dokter agar bergegas ke rumah. Tapi tetap saja, nyawa suamiku ternyata sudah tak ada," lanjutnya sambil menahan tangisan. Ia mengambil tisu dari kantong bajunya dan mengusap kedua matanya perlahan. "Aku masih tidak menyangka suamiku sudah meninggal."
"Aku tahu ini berat untuk anda," kata Fidel mencoba menenangkan, "karena itu kami akan berusaha untuk segera menemukan pelakunya. Kira-kira, apakah suami anda memiliki musuh?"
Nyonya Cordwell terdiam sebentar. "Suamiku memang bukan pribadi yang menyenangkan, tapi aku yakin tidak ada yang membenci sampai ingin membunuhnya. Oh, atau mungkin ... tapi tidak mungkin," gumamnya.
"Ada apa nyonya?" tanya Valora.
"Will, sekretaris kami. Ia baru bekerja satu tahun di sini. Ia pernah menggelapkan dana sumbangan. Saat suamiku tahu, ia marah besar sampai hampir memecatnya. Berkat Will yang berulang kali meminta maaf dan memohon, suamiku tetap memekerjakannya. Tapi sikap suamiku berubah menjadi kasar pada Will."
"Apakah kami bisa bertemu dengan Will?" tanya Fidel.
"Tentu saja, akan aku panggilkan ia ke sini. Tunggulah sebentar.
Saat Nyonya Cordwell sudah berjalan masuk ke ruangan sebelah, Valora menyikut Fidel. "Hei, apakah polisi belum menginterogasi mereka semua?"
"Ini tugasku, aku memang sengaja belum menginterogasi mereka. Sekalian saja aku mengajakmu ke sini supaya aku tidak bekerja dua kali," jawabnya nyengir.
"Dasar," sahut Valora, "warna oranye dan bau jeruk di sini cukup menyebalkan.
Fidel menahan tawanya. "Tuan Cordwell sangat menyukai warna oranye dan aroma jeruk. Tidak ada yang berani menentangnya, meskipun paduan seleranya cukup aneh untuk rumah ini."
"Tuan memang agak aneh," sahut Lionna. Valora dan Fidel terkejut karena Lionna tiba-tiba sudah meletakkan dua cangkir teh di meja.
"Ah, Lionna, kau membuat kami kaget," kata Fidel, "ah, ya, Lionna, aku ingin bertanya beberapa hal padamu. Apakah Nyonya Cordwell memang ada di dapur semalam?"
Lionna mengangguk. "Iya benar. Kemudian saya diminta untuk mengantarkan air putih ke kamar tuan. Saya mengetuk kamar tuan dan memanggilnya, tapi tidak ada jawaban. Lalu, saya membuka pintu dan berjalan masuk. Betapa terkejutnya saya melihat tuan telungkup di dekat tempat tidur. Saya berteriak. Tak lama, nyonya datang dan berusaha membangunkan tuan."
"Menurutmu, biasanya, bagaimana sikap nyonya pada tuan?" tanya Valora.
"Seperti suami istri pada umumnya. Sering bertengkar, namun tak lama kemudian mereka sudah berdamai," katanya, "oh, dua minggu yang lalu, mereka terlibat pertengkaran yang cukup parah."
Valora dan Fidel saling berpandangan. "Karena hal apa?" tanya Valora.
"Dua minggu yang lalu, nyonya pergi ke kota sebelah dari jam tiga sore sampai sembilan malam untuk menemui Nyonya Huntington, tapi nyonya tidak meminta izin pada tuan. Mungkin karena itu mereka bertengkar."
Fidel mengangguk. "Apakah ada hal lain yang tidak biasa yang bisa kau ceritakan pada kami? Apa saja boleh, bahkan ketika kau pikir itu tidak penting."
Lionna memejamkan matanya seakan sedang berusaha mengingat sesuatu. "Botol obat tuan. Biasanya ada di ruang kerja supaya mudah mencarinya, tapi kemarin pagi, saya melihatnya ada di meja makan. Saya tidak berani menyentuhnya karena takut dituduh memindahkannya."
"Selain itu?" tanya Valora.
Lionna menggigit bibir bawahnya. "Sebenarnya, pada pagi hari kemarin sebelum kematian tuan, saya sempat mendengar Will berkata sesuatu yang mencurigakan di telepon. Entah dengan siapa ia berbicara, namun saya mendengar ia berkata seperti ini, 'orang tua itu sebentar lagi akan mati'. Saya cukup yakin dengan yang dimaksud 'orang tua itu' adalah tuan. Lalu, malamnya, tuan benar-benar mati. Saya belum menceritakan hal ini kepada siapapun karena khawatir dengan konsekuensi yang harus saya hadapi."
Fidel menatap Lionna yang sedang meremas jari-jarinya. "Kami tidak akan memberitahukan hal ini pada siapapun. Kau telah melakukan hal yang benar dengan menceritakannya kepada kami."
Lionna sedikit tersenyum kemudian pamit untuk kembali ke dapur. Di ujung pintu, ia berpapasan dengan seorang laki-laki tinggi kurus, bersetelan jas yang terlihat sangat rapi dan berwibawa. Lionna menundukkan kepalanya tanpa memandang lelaki itu sedikit pun.
Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai Will, sekretaris pribadi Tuan Cordwell yang bertugas mengurus segala surat-surat resmi dan kebutuhannya.
"Bisa diceritakan kegiatan anda pada hari tuan meninggal?" tanya Fidel.
"Tentu saja. Seperti biasa, dari pagi sampai malam, saya menemani tuan menangani tugas di kantor. Sibuk sekali hari itu, tidak seperti biasanya, surat-surat menumpuk dari berbagai perusahaan. Bodoh sekali sekretaris perusahaannya, tidak sesuai format, tidak dapat diterima," ujar Will, "oh, maafkan saya terbawa suasana, saya masih agak kesal dengan urusan perusahaan. Baiklah, setelah kami menyelesaikan segala urusan di kantor, kami pulang dan sampai di rumah pada jam sepuluh lebih empat puluh menit. Saya selalu mengecek waktu pulang pergi tuan untuk dicatat di agenda pribadinya."
"Tuan disambut oleh nyonya lalu masuk ke kamar mereka. Sedangkan saya, membersihkan diri di kamar saya yang ada di lantai dua. Saya merebahkan diri dan sepertinya tertidur sampai saya mendengar suara jeritan dari bawah. Saya buru-buru mendatangi arah suara dan mendapati para pelayan sedang terdiam di depan kamar tuan. Saya masuk lalu melihat tuan telungkup di karpet. Nyonya sedang berteriak-teriak di telepon, sepertinya memanggil dokter, karena tak lama, dokter pribadi mereka datang," lanjutnya.
"Apakah menurutmu tuan memiliki musuh?" tanya Fidel.
"Sangat banyak," jawab Will sambil tertawa, "diantara relasi kerja kami, Tuan Cordwell lah yang paling banyak menimbulkan sensasi, sayangnya sensasinya selalu berhasil membuatnya tetap di atas. Hal ini membuat lawan bisnisnya makin meradang. Tapi, bila untuk membunuh, saya tidak yakin. Kecuali ... "
"Kecuali?" tanya Valora dan Fidel bersamaan.
"Saya pernah mendengar, dengan tidak sengaja, suatu pembicaraan rahasia," kata Will sembari berbisik, "saya sedang melewati ruang depan saat akan berangkat kerja. Lionna sedang membicarakan sesuatu bersama nyonya. Dari pembicaraan mereka, saya menyimpulkan bahwa Tuan Cordwell adalah ayah Lionna, namun dari istri yang berbeda. Ibu Lionna sudah meninggal karena sakit dan tidak bisa berobat. Lionna sangat marah pada tuan. Mungkin hal itu yang membawa Lionna pergi ke sini dan mencari penghidupan yang layak. Untung nyonya sangat baik, ia mau menampung Lionna di sini dengan menjadikannya pelayan agar tuan tidak tahu. Saya tidak ingin membayangkan reaksi tuan kalau sampai tahu Lionna adalah anaknya."
Valora memandang Fidel dengan tatapan penuh arti.
"Nyonya Cordwell sepertinya sangat baik dari ceritamu. Bahkan ia mau mengingatkan suaminya untuk terus meminum obat," kata Fidel.
"Oh, bukan," kata Will, "selama dua tahun ini, saya lah yang selalu mengingatkan tuan untuk jadwal minum obatnya. Baru sejak dua bulan terakhir, nyonya yang mengingatkan tuan. Mungkin nyonya memiliki firasat suaminya akan meninggal jadi nyonya berusaha menemani tuan. Saya hanya bertugas untuk membelikan obatnya yang baru jika habis. Sepertinya obatnya masih ada di kantong saya. Saya baru membelinya semalam." Will merogoh saku celana kanannya dan mengeluarkan sebuah botol tabung kecil berwarna oranye gelap dengan tutup putih. "Ah, ini dia. Apakah anda ingin melihatnya?"
Fidel menjulurkan tangan untuk mengambil obat itu. Ia memberikannya pada Valora yang terlihat tertarik dengan botol tersebut. Botol tabung itu berisi tablet yang penuh, namun tidak nampak terlalu jelas dari luar karena warnanya yang oranye gelap.
"Terimakasih," kata Valora sambil mengembalikan obat itu kepada Will.
Will berpamitan untuk kembali melaksanakan tugasnya yang tertunda. Setelah saling mengucapkan salam, Valora dan Fidel menuju ke kamar tempat kejadian. Valora melihat kamar itu juga berwarna oranye cerah. Beberapa polisi forensik sedang melakukan pekerjaannya. Dua orang sedang membubuhkan bubuk di berbagai sudut ruangan, satu orang sedang mengambil foto, dua yang lain sedang membicarakan sesuatu di dekat tempat tidur.
Fidel menyapa mereka semua dengan ramah, termasuk memperkenalkan Valora. Mereka semua membalas sapaan Fidel, namun pandangan aneh tetap menuju ke arah Valora, terutama kakinya. Seperti biasa, Valora mengabaikan semuanya. Ia berjalan mengitari kamar itu sambil mengamati sudut ruangan dan karpet, termasuk tempat mayat sebelumnya berada. Kasur korban masih terlihat rapi, begitu juga dengan semua perabotan di kamar itu. Tidak ada tanda-tanda perlawanan dari korban.
"Tidak ada bekas racun dimanapun," kata Fidel yang sudah berdiri di sampingnya, "di kamar ini, maupun di tubuh korban. Nihil."
"Botol obat?"
"Ini aku bawakan. Tidak ada bekas racun juga di sini. Botolnya sama seperti yang diperlihatkan Will kepada kita." Fidel menyerahkan bungkusan plastik bening yang berisi botol obat. Valora mengamatinya. Ia mendekatkan matanya ke botol itu dan mengguncangkan isinya. Ia melihat dua tablet berada di dalamnya.
"Sayang kita tidak bisa melakukan otopsi pada korban. Kita seharusnya bisa tahu darimana asal racunnya."
Valora mengembalikan bungkusan itu pada Fidel. Matanya berkilat. Ia tersenyum sambil berkata, "kita temui Nyonya Huntington."
Mereka berdua mencari Nyonya Cordwell dan menemukannya berada di ruang makan sedang duduk sendirian. Mereka menanyakan letak rumah Nyonya Huntington yang dijawab dengan sebuah kertas kecil berisikan alamat. Fidel berpamitan dengan sopan kepada Nyonya Cordwell yang terlihat murung.
"Ya ya, terimakasih kembali, Nak. Maaf aku tidak bisa menjamu kalian dengan baik. Aku hanya tidak menyangka tiga tablet obat milik suamiku menjadi akhir dari kehidupannya, padahal seharusnya itu menjadi penunjang hidupnya."
"Maaf nyonya, saya ingin bertanya lagi," kata Valora, "apakah nyonya tahu apa pekerjaan Will sebelum menjadi sekretaris di sini?"
"Tentu saja. Will adalah apoteker yang handal."
"Kalau ibu dari Lionna?" tanya Valora. Ia dapat melihat wajah Nyonya Cordwell sedikit menegang.
"Aku sedikit lupa, kalau tidak salah sebagai buruh di pabrik obat," jawab Nyonya Cordwell sambil tersenyum.
"Baik nyonya, terimakasih atas kerjasama anda," kata Valora sambil membalas senyum. Ia dan Fidel bergegas keluar dari rumah itu dan menuju kota sebelah untuk menemui Nyonya Huntington.
Butuh waktu tiga puluh menit berkendara untuk sampai di rumah Nyonya Huntington. Langit mulai berubah warna menjadi kebiruan. Burung-burung mulai ramai terbang dan berkicau menghiasi langit. Rumah Nyonya Huntington berada di perumahan elit bergaya Victoria kuno.
Fidel mengetuk pintu. Tak berapa lama, pintu dibuka, seorang wanita cantik menyambut mereka dengan senyuman ramah. Nyonya Huntington memiliki kecantikan alami meskipun sudah berumur. Tampilannya yang terkesan mewah dan glamor membuat Valora sedikit tidak nyaman berdiri di dekatnya.
Fidel memperkenalkan dirinya dan Valora kemudian berkata, "boleh saya tahu apakah dua minggu yang lalu Nyonya Cordwell berkunjung ke tempat anda?"
"Dua minggu yang lalu? Sebentar, saya sedikit lupa, terlalu banyak janji pesta akhir-akhir ini," katanya sambil terkikik, "oh ya, saya ingat. Nyonya Cordwell tidak ke rumah ini. Kami bertemu di pusat perbelanjaan kota. Kami sudah membuat agenda untuk shopping bersama." Nyonya Huntington menjawab sambil mengedipkan matanya pada Fidel.
Valora berjuang keras menahan tawanya sampai ia tidak bisa mengeluarkan suara untuk bertanya. Fidel menatapnya dengan pandangan-tolong-aku. Valora menelan rasa gelinya kemudian bertanya, "apakah anda ingat jam berapa kalian bertemu?"
"Oh tentu saja. Kami bertemu dari jam setengah empat sampai setengah sembilan."
"Apakah kalian selalu bersama selama itu?" tanya Valora. Ia melihat Nyonya Huntington sama sekali tidak memandang ke arahnya. Hanya Fidel yang menjadi fokus nyonya rumah itu.
"Kami sempat berpisah selama tiga puluh menit. Aku berhenti di sebuah toko permata yang menjual perhiasan cantik. Aku melihat-lihat permata di sana. Benar-benar indah. Mungkin kita bisa pergi berdua kapan-kapan," kata Nyonya Huntington sambil terus menatap Fidel.
"Aku tidak membawa handphone, aku tidak suka diganggu ketika berbelanja. Jadi, aku coba keluar dari toko itu dan berjalan tak tahu arah, berharap bisa bertemu dengan Nyonya Cordwell. Keberuntungan berpihak padaku, ia berdiri tepat di depan apotek. Aku bergegas mendekatinya. Tapi, kedatanganku sepertinya mengagetkannya. Ia pasti bingung mencariku dan mengira aku adalah keajaiban yang datang. Seperti kau yang datang padaku hari ini," lanjutnya sambil menyentuh lengan Fidel.
Fidel bergidik ketika lengannya di sentuh oleh Nyonya Huntington. "Terimakasih atas jawaban anda. Kami mohon pamit dulu. Selamat malam."
Ia segera masuk ke mobil diikuti oleh Valora yang masih terkikik sambil memegangi perutnya. Ia baru tertawa lepas ketika di dalam mobil.
"Nah, ini baru interogasi yang menarik," kata Valora.
Fidel hanya terdiam karena kesal.
"Tapi, semuanya menjadi jelas sekarang. Tinggal beberapa langkah lagi." Valora membisikkan sesuatu ke Fidel. Teman lelakinya mengangguk senang.
Suasana pagi itu sedikit berbeda dari biasanya. Orang-orang yang biasanya tidak suka membaca koran, tiba-tiba saja berebut untuk membeli koran pagi. Mereka membacanya dengan penuh ketertarikan. Valora memandang mereka semua dengan tatapan jenuh dari balik jendela kafe.
"Hai, maaf membuatmu harus menunggu lagi."
"Sekali lagi kau melakukan ini, aku benar-benar aku mengabaikanmu," kata Valora kesal. Ia memandang Fidel dengan tatapan penuh ancaman, sedangkan yang ditatap hanya tergelak menyebalkan. "Kasusmu sudah selesai. Tidak ada ucapan terimakasih?"
"Tenang, kau pasti mendapatkannya," jawab Fidel sambil nyengir, "Semalam benar-benar menggemparkan. Will sudah akan mengusirku saat aku mengungkapkan pelakunya. Lionna hanya diam. Sedangkan pelakunya, tetap tersenyum tenang."
"Nyonya Cordwell tidak bisa mengelak. Aku membeberkan bukti kesaksian apoteker toko obat di kota sebelah bahwa Nyonya Cordwell pernah datang untuk membeli sianida. Apoteker itu tidak terlalu pintar, menjual barang ilegal tanpa mematikan kamera pengawas di tokonya. Semua kegiatan mereka terekam di sana, termasuk Nyonya Cordwell yang meminta sianida dicampur dalam tablet yang mirip dengan obat jantung suaminya. Ia ikut ke kantor polisi dengan sukarela," lanjutnya, "kau tahu alasan wanita itu membunuh suaminya?"
"Nyonya itu tidak suka dengan warna oranye dan buah jeruk," kata Valora kalem.
"Darimana kau tahu?" tanya Fidel terkejut, "tapi itu benar. Selain itu, ia sudah memendam rasa kecewa pada suaminya saat tahu Lionna adalah anak tirinya. Ia merasa dikhianati. Belum lagi dengan tingkah laku arogan suaminya."
Valora menggeser koran yang ada di sebelahnya agar bisa terbaca oleh Fidel. "Orange citrus murder? Judul berita yang konyol. Aku curiga kau yang mengatakan hal ini pada wartawan."
"Itu nama yang bagus," sanggah Fidel, "menurutku kasus seorang bangsawan harus memiliki judul yang menarik di koran."
"Haha, lalu bagaimana pimpinanmu?"
"Aku mengira akan dipecat," kata Fidel sambil mengangkat bahu, "tapi sebaliknya, aku justru diberi selamat atas terungkapnya kasus ini. Ia membisikkan sesuatu padaku, bahwa ia juga tidak peduli dengan nama baik bangsawan. Kebenaran tetap harus diungkapkan."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top