Myself - Biru dan Merah

Setiap kali aku membuka mataku, cahaya yang menyilaukan dan bau obat-obatan menyambutku. Cahaya yang terang itu juga tak kalah silaunya dari ruangan bercat putih tempatku berada. Aku berada di rumah sakit. Aku selalu berdiam diri selama beberapa jam dari subuh sampai pukul enam dan setelah pukul enam lewat aku merasa tubuhku dikendalikan.

Aku tidak tahu apa yang terjadi di saat aku merasa tubuhku dikendalikan. Penglihatanku kabur tapi tidak pernah menabrak benda. Aku merasakan tubuhku bergerak lincah bahkan saat menyayat dan memasukkan daging lezat ke dalam mulutku. Aku makan empat kali sehari dan saat makan aku selalu mencium aroma karat yang harum, aku dapat merasakan tubuhku basah dan lengket, dan daging-daging kenyal yang lezat membuatku kenyang. Setelah kegiatan menyenangkan itu, aku kembali ke rumah sakit dan terisolasi sampai ke jam makanku selanjutnya.

***

"Aku pulang!"

Aku dan ayahku sedang menonton televisi di ruang keluarga saat mendengar seruan itu. Ayah menoleh ke arahku dengan tatapan yang mencoba mengatakan buka-pintunya. Aku menghela nafas sebelum beranjak dari tempat dudukku. Selalu saja seperti ini, selalu membuka pintu disaat-saat seru bersantai. Setelah aku membuka pintu, Albert tiba-tiba menjulurkan kepalanya ke dalam rumah.

Cowok yang memiliki rupa yang sangat mirip denganku itu bernama Albert Rodman. Hanya wajah kami yang mirip, kalau soal kepribadian, akulah Si Anti Sosial. Dia adalah kakak kembarku. Ya, kembar. Kami bukanlah saudara yang akrab. Kami hanya berbicara pada saat penting atau sekedar bertanya mengenai pelajaran.

"Ayah, aku pulang!" Dia berseru setelah kedua matanya berhasil menemukan ayah yang duduk di atas sofa.

Ayah menjawabnya dengan gumaman dan Albert melenggang begitu saja ke dalam rumah dan tak menghiraukan tatapan bosan dariku. Setiap harinya selalu seperti ini, Albert akan pergi ke sekolah dan pulang pukul sepuluh malam.

Pada hari Sabtu dan Minggu ia akan pergi pada pukul yang sama saat pergi ke sekolah dan pulang pada pukul sepuluh malam. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan dan tampaknya Ayah dan Ibu juga tidak terlalu mempedulikan kegiatannya. Atau mungkin mereka sudah mengetahui kegiatan Albert selama ini dan tidak ingin memberitahukannya kepadaku? Entahlah, aku juga tidak peduli.

"Pemirsa, polisi telah menemukan beberapa barang milik korban di lokasi pembunuhan yang ditemukan tadi pagi. Barang tersebut diduga milik tersangka kasus pembunuhan—"

"Yang benar saja!" Aku memberengut sebal karena sudah mendengar hal yang serupa berulang-ulang selama dua tahun. Tidak ada seorang tersangka yang ingin keberadaannya diketahui walau hanya bayangan, apalagi sampai meninggalkan barang miliknya. Lagipula, dari sekian banyak kasus di dunia, mengapa hanya kasus ini yang memberitakan kepada semua orang bahwa Sang Tersangka meninggalkan 'beberapa petunjuk'. Ya, 'beberapa' mengingat barang yang ditemukan adalah setangkai bunga mawar merah―mawar hidup, bukan dari plastik dan juga tanah atau lantai lokasi itu terdapat sebuah tanda 'AR' yang terlukis rapi memakai cat tembok berwarna biru muda yang berukuran satu telapak tangan anak bayi.

Lagipula, kupikir ini bukan pembunuhan. Orang-orang di kota ini hanya menghilang tanpa jejak, tidak ada laporan yang menunjukkan kalau mereka berpotensi sebagai orang yang akan masuk ke dalam kasus pembunuhan. Beberapa lokasi yang disebut-sebut sebagai lokasi pembunuhan tidak ada mayat atau tanda-tanda apapun yang menjelaskan bahwa lokasi tersebut adalah lokasi pembunuhan. Nyatanya, hanya ada hasil cat itu dan bunga mawar. Dan yang lebih anehnya lagi, katanya, warna merah dari bunga mawar itu adalah dari darah manusia karena warnanya tidak rata di setiap sisi. Bunga mawar itu juga berbau karat―bau khas darah. Aku heran, apa bisa darah dipakai sebagai pewarna?

Aneh sekali.

"Hm... Kasus aneh itu, ya? Menarik." Tiba-tiba saja Albert sudah duduk di sampingku.

Ia kembali setelah mengganti seragamnya dengan kaos dan celana katun pendek. Ia juga membawa semangkuk sup ayam yang dimasak Ibu untuk makan malam. Ia melirikku sebentar lalu mendengus geli. Aku melemparkan tatapan datar padanya, terkadang aku tidak mengerti jalan pikirannya.

"Kalian harus berhati-hati karena pembunuhan yang marak terjadi. Kalian tahu, kan kasus ini memakan korban empat orang setiap harinya. Itu tidak menyangkal kemungkinan kalau kalian akan terkena juga, walau sebenarnya Ayah tidak mau hal itu terjadi," ujar Ayahku.

"Yah, aku tahu, Ayah..." Dan Albert cekikikan seperti orang gila.

"Pembunuhnya akan membunuh orang yang menyebalkan dan tampak menyebalkan terlebih dahulu, setelah itu pembunuhnya akan membunuh orang yang paling menyebalkan di keluarga kandungnya, dan akhirnya pembunuhnya akan membunuh semua anggota keluarga kandungnya," jelas Albert.

Aku membelalakkan kedua mataku ketika mendengar hal itu. Jawabannya membuatku merasa aneh. Seperti...seperti... Seperti dialah pembunuhnya. Ayah yang mendengar hal itu juga ikut terbelalak. Setelah Albert mengatakan hal itu, suasana rumah menjadi agak horor.

"A―Apa kau tahu pembunuhnya?!" seru Ayah.

Albert tertawa, jenis tertawa puas saat korbannya dalam kondisi yang mengenaskan, seperti tubuh yang penuh dengan luka sayatan, bagian tubuh yang terburai. Cukup. Entah darimana datangnya pikiran buruk seperti itu.

"Aku hanya berpikir, Ayah. Ayah, tahu kan, kalau aku ini jenius?" tanyanya dengan nada yang jahil. Dan lagi-lagi ia tertawa.

"Ah, tapi kau seperti mengatakan bahwa kaulah pembunuhnya. Ayah jadi takut kalau—"

"Bagaimana kalau akulah pembunuhnya?" tanya Albert dengan seringainya.

Aku dan ayah bergeming menatapnya. Albert memutar kedua bola matanya dan menatap kami dengan tatapan meremehkan. "Ayolah, aku hanya bercanda. Ah, kalian sangat tidak asik,"cibirnya.

Ah... Perasaanku tidak enak saat bersama Albert. Mungkin aku harus meminta Ibu menemaniku.

"Emm, Ayah, Albert, aku ingin tidur," pamitku.

"Hm... Ya, selamat malam," jawab Ayah.

"Selamat tidur, Rob, semoga kau tidak ditarget oleh pembunuhnya~!" Ucapan selamat malam dari Albert yang mengerikan dan membuatku merasa akulah target Si Pembunuh selanjutnya.

Oke. Aku tahu ini konyol, tapi tidak masalah, kan kalau aku mengikuti saudaramu sendiri demi memastikan dirimu aman dari segala marabahaya?

Aku dan Albert berada di kelas yang berbeda. Hanya untuk informasi, Albert berada di kelas X-1 dan aku berada di kelas X-2, dia adalah pemuda yang sempurna. Aku sudah menunggunya saat kelasku terlebih dahulu selesai.

Aku tidak tahu Albert ingin pergi kemana, tapi aku rasa posisiku yang berada lima meter dan sembunyi-sembunyi di belakang benda apa saja yang dapat menyembunyikan tubuhku cukup aman. Sejauh aku mengikutinya Albert terlihat tidak menyadari keberadaanku dan aku bersyukur.

Albert berhenti di sebuah gang kecil di belakang sebuah supermarket. Aku tidak tahu aku berada di daerah apa, yang jelas aku belum pernah ke tempat ini. Apakah Albert berencana menemui temannya? Aku tidak tahu apakah ada anak dari sekolahku bertempat tinggal di sekitar gang ini, tapi firasatku mengatakan kalau mengikutinya adalah hal yang buruk.

Gang ini seperti pada umumnya, terdapat rumah-rumah normal yang tersusun normal, tapi suasana di dalam gang ini terasa semakin mencekam, seperti saat kau masuk ke dalam rumah berhantu. Semakin dalam aku mengikuti Albert masuk ke dalam gang semakin gelap. Aku memicingkan kedua mataku agar Albert tidak hilang dari pengawasanku. Udara dingin juga menusuk-nusuk kulitku membuatku harus menggosok-gosokkan lenganku agar tercipta kehangatan.

Aku segera bersembunyi di balik sebuah semak saat melihat Albert berhenti dan menatap sebuah rumah. Rumah itu tampak seperti rumah biasa dengan sebuah mobil dan motor terparkir di halamannya. Dinding luar rumah itu berwarna biru muda dan membuatku teringat akan tanda 'AR' yang ditemukan di beberapa lokasi yang diduga sebagai lokasi pembunuhan.

Aku berpikir, apakah selama ini yang diincar oleh pembunuhya adalah orang-orang yang tinggal di rumah yang berwarna biru muda? Rumah biru bukanlah lokasi pembunuhan, tapi bagaimana dengan rumah korban? Apakah berwarna biru muda sama seperti tanda itu? Aku mengerang kesal akan berita-berita yang memaparkan kasus ini. Sangat aneh.

Hm... Apakah aku harus turun tangan dalam menghadapi rumah-rumah para korban? Lagipula, aku menguntit Albert hanya karena penasaran akan kegiatan dan perkataan anehnya semalam. Ya, perkataannya mengenai kemungkinan target pembunuhnya dan kemungkinan kalau Albert yang menjadi pembunuhnya. Diriku ini merasa yakin kalau Albert-lah pembunuhnya namun, diriku yang lain berkata kalau pembunuhnya adalah orang lain yang terkenal dalam bidang pembunuh, sejenis pembunuh bayaran. Tapi, bagaimana kalau pembunuh bayaran itu adalah Albert? Arrghh, aku pusing!

Albert memasuki rumah itu tanpa mengetuk ataupun memanggil pemilik dari rumah itu. Dia bahkan tidak kesusahan dalam membuka pintu, entah pintu itu terkunci atau tidak. Dia seperti Si Pemilik rumah. Perasaanku tidak enak kalau aku harus masuk ke dalam rumah itu, apalagi rumah itu milik orang lain dan pemilik rumah itu tidak terlihat dimanapun. Rasanya sangat tidak sopan.

Jadi di semak-semak ini aku hanya menunggu Albert keluar dan mengikutinya lagi. Aku akan mengikutinya sampai aku mendapat jawaban, baik itu jawaban bahwa dialah Sang Pembunuh atau jawaban mengenai kegiatan anehnya yang membuat ia melewatkan makan malam setiap hari.

Aku mulai merasa bosan. Angin yang sejuk memaksaku untuk masuk ke dalam dunia mimpi. Aku tidak tahu apa yang terjadi karena setelah itu aku merasa kegelapan menyelimutiku.

Aku membuka mata perlahan dan mengerjapkan mata saat aku melihat cahaya yang terang. Saat mataku sudah terbiasa dengan cahaya lampu, aku menatap sekeliling. Sebuah ruangan yang dindingnya berwarna biru muda yang terdapat sebuah tempat tidur dengan seprai biru cerah yang polos, sebuah meja belajar, sebuah lemari buku, sebuah lemari yang besar, dan keranjang biru berisi pakaian. Ada dua jendela dan sudah ditutup dengan jendela putih bersih.

Aku segera bangkit saat tahu ini adalah kamarku sendiri. Ternyata aku masih bernyawa mengingat aku menguntit Albert. Tunggu, dimana Albert? Apakah dia pembunuh sebenarnya? Argh, aku menyesal akibat diriku yang cepat mengantuk!

Kriet.

Aku mendengar suara pintu terbuka dan terkejut saat mendapati Albert berdiri di sana sambil membawa sebuah nampan yang berisi sepiring nasi goreng dan segelas teh. Dia memasang senyum seramnya.

"Kau sudah bangun setelah bosan mengikutiku, huh? Apa kau curiga padaku, Robby?" ujarnya dengan nada yang dingin.

Aku terkejut mendengar pertanyaannya, namun dengan mudah aku memasang wajah datar."Tch. Siapa yang mengikutimu, hah? Lagipula, namaku Robert, bukan Robby!" cetusku kesal.

Albert meletakkan nampan itu di atas meja belajarku kemudian berjalan mendekatiku. Masih dengan senyumnya, ia menatapku lekat. Aku mendapat firasat yang buruk mengenai ini.

"Ruanganmu serba biru, Robby. Aku sangat menyukainya," katanya.

Kata 'sangat menyukainya' kedengaran seperti 'aku sangat ingin membunuhmu'. Aku menatapnya waspada.

"Mengapa kau ingin ikut campur dalam kasus ini, Robby? Aku tahu kau anti-sosial dan cukup mengherankan kalau kau penasaran seperti ini. Apa kau mencurigaiku, Brother?" Pertanyaannya sangat tepat.

"Oh. Itu bagus kalau kau tahu. Kita bisa mengungkapnya bersama," jawabku ketus.

"Oh, kalau kau ingin dibunuh oleh Si Pembunuh. Kau, tahu kau hampir dibunuh kalau aku tidak menahannya," katanya tak kalah ketus.

Tunggu, aku hampir dibunuh? Yang benar saja! Aku menatapnya yang sedang menatap sudut-sudut di kamarku. "Apakah kau dalang dibalik kasus pembunuhan itu, Al?" tanyaku tajam.

Albert tidak menjawab dan tetap memandangi kamarku. Kesal karena diabaikan, aku mencengkram kerah kaos putihnya dan mendorongnya hingga punggungnya membentur keras lemari pakaianku.

"Apa yang kau inginkan, Rob? Tersangka tidak mungkin memberitahu rahasianya, kan?" tanya Albert pelan.

Aku menahan nafas. Jadi... dialah pembunuhnya?

"Warna kamarmu serba biru, Rob. Aku khawatir pembunuhnya tidak tahan untuk tidak membunuhmu," kata Albert.

Kalimatnya membuat nafasku tercekat. Aku semakin yakin kalau dialah pembunuhnya.

"Kau tidak akan pernah tahu siapa pembunuhnya, Rob..."

Perlahan aku membuka kedua mataku lalu mencoba bangun dari posisi yang sangat tidak mengenakkan ini. Tapi rasanya berat sekali seperti ada tumpukan salju yang menimpaku. Rasanya aku ingin kejang-kejang saat melihat pemandangan rumah-rumah yang berjejer dan semak-semak yang sekarang kutiduri. Ingatan tentang Albert memasuki rumah berwarna biru itu serasa menghantam otakku.

Tubuhku langsung menegang dan dengan hati-hati aku mengintip rumah itu melalui celah semak-semak ini. Aku melihat Albert sudah keluar dari rumah itu. Tidak ada yang berubah dari penampilannya seolah dia tak melakukan apa-apa. Kemudian Ia berjalan ke arahku. Ke arahku?! Oke, aku tidak tahu aku terlalu paranoid sampai berpikir seperti itu atau ia benar-benar akan menghampiriku.

Aku menahan nafas dan berusaha berlindung di balik semak-semak seraya tidak menimbulkan suara saat Albert melewati persembunyianku. Setelah dia berada di jarak yang cukup jauh dariku ia membalikkan badannya. Tatapan kami bertemu dan aku merasa seluruh tubuhku membeku. Tolong, jangan bunuh aku.

Aku melihat mulutnya bergerak ingin mengatakan sesuatu dan aku memperhatikannya.

"Jaga dirimu, Rob."

"Ap―Apa?!"

"Nak, apa kau baik-baik saja?"

Aku mendongak dan mendapati seorang wanita paruh baya sedang menatapku cemas. Aku hanya menatapnya sejenak lalu menatap posisi Albert berhenti tadi. Dia tidak ada seperti hilang ditelan angin.

"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya ramah.

"Ya, aku baik-baik saja. Nyonya, apa kau melihat seorang pemuda keluar dari rumah berwarna biru itu?" tanyku sambil menunjuk rumah yang dimasuki Albert.

"Ah, rumah itu, ya? Sayang sekali, nak. Semenjak kasus pembunuhan dua tahun lalu, tidak ada yang berani mengecek itu kecuali beberapa detektif yang diutus. Kau juga pasti menyadari kalau gang ini sepi. Semua orang yang tinggal disini sudah pindah dan hanya aku yang kebetulan lewat. Tidak ada seorang pemuda yang masuk ke tempat ini, Nak," jelasnya.

Aku terdiam. Aku melihat Albert masuk dan keluar dari rumah itu. Aku memang sedikit rabun, tapi penglihatanku tidak pernah salah.

"Apa kau tersesat? Ayo, aku antar kau pulang kerumahmu, Nak," ajaknya tulus.

Aku mengangguk dan menerima tawarannya.

Malamnya aku melakukan penjelajahan di internet di kamarku. Pintu kamar aku biarkan terbuka lebar agar udara dingin dari rumah yang sepi masuk ke kamarku. Ayahku pergi entah kemana dan Ibuku berada di kamarnya. Ibuku bukan orang yang pendiam, tetapi aku rasa ia sedang memikirkan sesuatu dan butuh suasana hening. Data-data korban sampai data-data keluarga korban juga tersedia di internet. Jadi, aku hanya menuliskan 'data-data korban pembunuhan' dan tekan tombol 'enter' dan hasilnya muncul secepat mata berkedip.

Rupanya kasus ini memakan korban sekitar dua ribu lebih jiwa dalam kurun waktu dua tahun. Ya, dua tahun mengingat sekarang adalah bulan Desember. Aku mulai berpikir, apakah kasus ini tetap berlanjut pada hari natal yang bahagia. Aku merasa sedih saat membayangkan hari natal yang bahagia berubah menjadi lautan darah karena Si Pembunuh mengubah kota menjadi lautan darah. Hiii... Menyeramkan. Aku cepat-cepat berdoa supaya hal semacam itu tidak terjadi.

Rupanya, korban-korban pembunuhan itu tinggal di rumah berwarna biru muda dan mereka semua adalah orang-orang yang menyukai warna biru muda. Dari semua data yang kubaca, yang menarik perhatianku dan membuatku terkejut adalah data mengenai warna ini. Kalau faktanya seperti ini berarti keluargaku juga adalah targetnya. Rumahku berwarna biru muda dan aku menyukai warna biru muda. Albert tidak menyukai warna biru muda, begitu pula dengan ayah dan ibuku. Albert juga berkata kalau pembunuhnya akan membunuh orang yang menyebalkan terlebih dahulu dan dalam hal ini mungkin saja yang tampak menyebalkan adalah orang yang menyukai warna biru muda.

Tapi, hei, tunggu dulu! Masih ada bunga mawar misterius itu! Aku tidak tahu bunga mawar memiliki arti dalam pembunuhan. Setahuku, bunga mawar merah melambangkan cinta sejati, atau mungkin dalam kasus ini hal itu berbanding terbalik. Tapi kurasa maknanya berbeda kalau warna merahnya dari darah. Kalau aslinya bunga itu berwarna putih, berarti mungkin artinya cinta yang suci. Cinta yang suci..., berkaitan dengan pengorbanan, kan? Albert juga menyukai warna merah, jadi mungkin dia ingin memberitahu ke semua orang kalau ia menyukai warna merah lewat bunga itu.

Lalu, cat yang bertuliskan 'AR' itu! AR, AR, AR, ah! Bagaimana kalau 'AR' adalah untuk 'Albert Rodman'? Ya, ya, ya.

Kalau seperti itu, maka kesimpulan yang memungkinkan adalah, Albert yang tidak menyukai warna biru muda melakukan 'pengorbanan' agar dirinya tidak tersiksa oleh warna yang tidak disukainya. Lalu bunga mawar putih yang sengaja ia bawa ia biarkan menyerap darah korbannya dan ia meninggalkan bunga itu di lokasi pembunuhan. Bunga mawar itu berarti...kalau ia akan tetap melanjutkan kasus ini sampai semua orang yang menyukai warna biru muda lenyap. Tapi, mengapa Albert bersusah-susah bunga mawar yang cantik ke dalam kasus pembunuhan? Mengapa juga Albert membawa cat tembok dan melukiskan inisial namanya sendiri di lokasi pembunuhan? Apa itu semacam ia memberi petunjuk bahwa ialah Si Pembunuh? Apa ia ingin menyerahkan diri kepada polisi? Tapi untuk apa?

"Robert, Ibu minta agar kau tidak mengungkit-ungkit kasus pembunuhan itu!"

Aku membalikkan badan dan melihat Ibuku berdiri di daun pintu kamarku. Ibuku sedang berkacak pinggang dan mendelik padaku. Oh, apa aku melakukan sesuatu yang salah? Aku beranjak dari kursiku dan menghampiri Ibu.

"Ibu, dengar, aku hampir bisa menyelesaikan kasus pembunuhan yang terjadi selama dua tahun ini, Bu! Ayo, lihat laptopku, Bu! Aku bisa membuat kesimpulan dari data-data yang kudapat!" Aku berusaha menarik Ibu agar mau melihat laptopku yang kuletakkan di atas meja belajarku.

"Tentusaja, harusnya, kamu tahu itu, Rob," kata Ibu.

Aku mematung di tempat. Apa...? "Apa maksud Ibu dengan harusnya aku tahu?" tanyaku.

"Mengapa ingatanmu tiba-tiba hilang, Rob? Ayah sudah menunggumu di rumah sakit," jawab Ibu.

"Ap―Apa?! Maksud Ibu, akulah Si Pembunuh?! Bu―Bukannya Albert pembunuhnya? Al―Albert melakukan hal aneh, Bu!"

Ibuku menatapku sedih lalu mengusap-usap belakang kepalaku. "Tidakkah kau mengingatnya, Nak?"

Pertanyaan Ibu membuat sekelebat memori melintas di pikiranku. Memori saat Albert dan aku berulang tahun pada umur kami yang keempatbelas. Saat itu aku berkata aku ingin hadiahku adalah Albert dan pada tengah malam aku menghampiri Albert. Aku pikir ingatanku akan menunjukkan kalau aku akan memeluk Albert tapi aku malah memakannya. Ya, aku menikmati darahnya, dagingnya, lemaknya, serta semua organnya! Ibuku yang membereskan tulang-tulang Albert dan kekacauan yang aku buat. Aku...membunuh Albert pada dua tahun yang lalu.

"GAH...!"

Aku berteriak kencang dan Ibu segera memelukku. Aku masih bingung. Lalu, Albert yang kulihat selama ini..., apakah itu benar-benar Albert?

Aku adalah bagian dari dirimu, Rob, jadi aku yang menciptakan ilusi diriku dan mengendalikanmu saat kau di luar ruang isolasi...

Teng! Teng!

Jam rumah sakit berbunyi menunjukkan pukul tengah malam. Ah, waktunya makan keempat kalinya~!

Aku berjalan pelan keluar dari ruanganku. Lorong rumah sakit ini sepi, Ayah dan Ibuku sudah pulang kerumah dan akan kembali kerumah sakit besok pagi untuk memastikan apakah aku sudah makan... Hihihi...

Kedua kakiku membawaku menuju rumah yang bercat berwarna biru muda. Aku benci orang yang suka warna biru muda, dan kakakku adalah salah orang yang menyukai warna biru muda. Ah, apa aku pernah mengatakan kalau kakakku tidak suka warna biru muda? Hihi, waktu itu kakakku sedang mengendalikan diriku.

Aku bisa seperti hantu, membobol pintu rumah tanpa suara dan tanpa harus memakai anggota tubuhku. Aku tidak mau sidik jariku tertempel di barang-barang orang lain... Setelah itu yang kurasakan hanyalah tubuhku basah dan lengket, cairan, daging, dan benda kenyal lainnya meluncur begitu saja ke dalam kerongkonganku. Aku juga menemukan dua buah permen putih yang terdapat lingkaran hitam ditengahnya. Hm..., begitu kenyal dan manis.

Satu makanan sudah memuaskanku kali ini. Anggota keluarga yang lain akan kumakan pada jam makanku besok. Aku hanya perlu berjalan normal menuju rumah sakit.

Jangan khawatir... Albert akan membereskan semuanya dan menaruh tanda kalau dialah pelakunya dan bukan aku. Albert juga yang akan membereskan pakaianku agar tidak merepotkan dokter dan perawat khusus menjagaku.

Apakah aku sudah menceritakan semua tentang diriku kepadamu? Kalau belum, biarlah hal itu menjadi rahasia...

Aku tidak suka kalau ada orang lain yang menyukai warna biru sepertiku, jadi jangan coba-coba untuk menyukainya, oke? Kalau kau masih menyukai warna biru akan kupastikan kau akan tenggelam dalam indahnya warna merah yang begitu menghangatkan hatiku. Hihihi~



Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top