Misteri Tentang Pembunuh - Merah
"Kau yakin?" Rin menatap adiknya, tidak percaya.
"Tentu saja. Ini sudah yang keberapa kalinya kita masuk ke dunia yang berbeda? Ayo." Len menarik tangan Rin.
"Tapi,"
"Sudahlah."
Rin dan Len. Kembaran yang sudah melintasi berbagai dunia. Berbeda-beda setiap saatnya. Dan ini adalah dunia terakhir. Karena...
Mereka berjalan di daerah sekitar yang dipenuhi bunga-bunga. Beragam aneka bunga ada di sana. Baik yang harum, maupun yang busuk.
Mereka berjalan terus menurus sampai di kanan kiri mereka tidak ada bunga. Satu buah saja tidak ada.
Rin semakin merapat ke Len, sedangkan Len hanya santai-santai saja seolah-olah itu dunia dia sendiri.
"Kita minum teh dulu." Tukas Rin yang ditanggapi Len hanya dengan anggukan. Mereka duduk di atas tanah dan Rin mulai membuat teh.
"Pahit!" Sahut Len.
"Ada apa?"
"Ah tidak. Tidak ada apa-apa." Len mengibaskan tangannya.
"Aku pergi sebentar ya." Rin beranjak dari tempat duduknya dan pergi.
Len menemukan sebuah bunga yang kering. Dia langsung menyiram bunga itu dengan teh Rin.
"Ayo. Kita jalan lagi."
Rin dan Len kembali berjalan. Sekarang, mereka berjalan di jalanan merah.
"Ne, Len-kun."
"Ada apa?"
"Kau tahu rumor jalan ini?"
"Tidak. Memangnya rumornya apa?"
"Ini bekas jalan seorang pembunuh. Kenapa merah? Kau tahu?"
"Tidak. Jangan-jangan."
"Iya. Ini darah para korban yang melewati jalan ini."
Keheningan menyelimuti mereka berdua setelah Rin mengucapkan hal itu. Hawa dingin mulai datang. Membuat Rin dan Len sedikit kedinginan.
Mereka memasuki hutan yang tidak diketahui namanya. Semakin masuk ke dalam, jalan merah sudah tidak ada. Hanya ditemukan bercak-bercak dari darah tadi.
"Kya!!!" Rin menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Rin-chan, ada apa?" Len segera memegang bahu Rin.
"I, itu." Dengan gemetar, Rin menunjuk sesuatu dengan tangan kanannya dan membiarkan tangan kirinya menutup matanya.
Len mengikuti arah yang ditunjuk Rin dan terpaku dengan apa yang dilihatnya.
Sebuah tengkorak.
Itu bukanlah tengkorak lama. Tapi itu masih baru. Len mendekati tengkorak tersebut.
"Ini masih baru. Masih kuat. Dan dingin. Lalu...,"
"Lalu apa?"
"Ke sini."
Rin menggerutu tidak jelas dan pelan-pelan menuju tempat Len.
"Lihat. Tidak ada darah. Yang berwarna merah hanya bajunya." Tukas Len mengangkat baju tersebut.
"Menurutmu, dia yang dikenal sebagai Pembunuh Orang yang di Depannya bisa mati?" Tanya Len ke Rin.
"Aku tidak tahu mengapa dia bisa meninggal."
"Kurasa ini karena racun."
"Racun?"
"Iya. Sebelum kita menyebrang dunia. Kita harus mempelajarin dunia selanjutnya, kan? Dan adakah dirimu mempelajari tentang Pembunuh tersebut?"
"Tidak."
"Begini. Pembunuh itu bernama Meiko. Dan Meiko itu terobsesi dengan merah. Lihat baju yang dipakainya? Ada merah, kan? Aku tidak tahu kenapa dia membunuh. Yang jelas dia psikopat." Jelas Len panjang lebar.
"Begitu. Lalu?"
"Menurut rumor, di pedangnya selalu ada racun. Ingin mencobanya?" Tawar Len.
"Tidak! Aku tidak mau."
"Merah. Aku mengerti kenapa dia terobsesi dengan darah. Darah itu merah. Dan merah itu keberanian. Dibutuhkan keberanian dam tidak kepedulian terhada apapun." Len bergumam da menorehkan pedang ke telunjuknya.
"A, apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya ingin kau yang memecahkan misteri tentang dia."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top