Misteri Hilangnya Becak Emas - Emas
Salah satu ikon Yogyakarta tak lain adalah Tugu yang menjadi titik nol kota. Tidak jauh dari situ adalah Jalan Malioboro, salah satu hal lain yang menjadi daya tarik Kota Yogyakarta. Ketika kita melewati Jalan Malioboro, dapat nampak berbagai macam karya unik. Sepeda ontel dengan bel berbentuk terompet yang amat besar, melebihi sepeda itu sendiri, misalnya.
Dari sekian banyak itu, hanya satu yang menjadi teristimewa bagi Virera, becak emas. Remaja laki-laki yang bernama seperti nama perempuan itu hanya tertarik dengan becak emas yang kemarin dilihatnya. Baginya, becak yang terletak berdekatan dengan jalan masuk Stasiun Tugu itu sangat indah. Warnanya yang emas tidak membuatnya sama dengan becak lain. Dan ketika ia melihatnya, ia benar-benar merasa sebagai orang terkaya, pemilik segalanya.
Katakanlah Virera ini memang sudah sinting. Faktanya, ia begitu potektif dengan becak emas. Kemarin adalah kali pertama ia melihat becak emas itu. Pada pandangan pertama ia sudah jatuh cinta. Ia mendekati becak itu, mengusir dua orang remaja wanita yang asik berfoto, lalu memeluk becak itu seolah becak itu benar-benar pacarnya. "Oh sayangku," katanya seraya memeluk-meluk badan becak. Beruntungnya ia pergi sendirian, jadi tidak ada korban yang menanggung malu karena menemaninya.
Tentunya becak itu tidak bisa begitu saja dipindahkan, apalagi Virera bawa pulang, maka tidak mudah ia meninggalkan becak emas itu sendirian pada malam harinya, namun wanita yang melahirkan Virera terus menerus menelepon dan menyuruh Virera pulang. "Pulang, Nak! Ibu masih belum sanggup kamu tinggalkan! Pulang!" rengek Ibu Virera dalam telepon. Virera benar-benar tidak rela becaknya sendiri, tapi yah, ia tidak mau dikutuk menjadi batu oleh Ibunya. Jadi ia menjawab pada Ibunya, "I-iya, Buk." Lalu pulanglah Virera.
Hari ini Virera datang kembali dan berniat melewatkan hari Minggunya bersama becak emas. Sayangnya begitu ia sampai ke tempat becak diletakkan ia harus menerima satu kenyataan pahit. Becaknya hilang. "Tidaaaak!!!" teriaknya yang sontak saja menarik orang yang tengah berada di sekitar stasiun. Ia menjatuhkan diri berlutut, bulir-bulir air matanya jatuh membasahi aspal.
Saat itu pikirannya benar tidak keruan. Orang-orang yang lewat kadang berkata,"Wong edan!" atau tak jarang ada yang berkata, "Topeng monyete ra payu!" Tidak, ucapan mereka tidak berarti. Omongan-omongan seperti itu hanya angin lalu bagi Virera. Apa yang lebih berarti sekarang? Aku tidak akan mendapatkan becakku hanya dengan menghiraukan ejekan mereka, kata Virera pada dirinya.
Virera mengepalkan tangannya erat, memukulkannya pada aspal. "Aku harus bertindak," ujarnya. Becak emas hanya hilang, tidak musnah, masih ada harapan. "Aku tidak akan menyerah," kata Virera bertekad. Virera bangkit, tubuhnya yang ramping dan tinggi terlihat gagah. Angin berembus menggerakkan rambut hitam ikalnya. Tangannya merogoh ke belakang tubuhnya dan mengeluarkan topi emas. Nora adalah yang tergambar untuk Virera. Tapi siapa yang peduli? Ia nyaman dengan gayanya.
Dimulainya ia melangkah, langkah pertama mengusut hilangnya becak emas. Cukup beberapa langkah untuk sampai ke karya unik lain, sepasang patung kaki besar berwarna emas. Ya, warnanya sama-sama emas. "Bukan, bukan, bukan ini yang kucari," gumamnya sembari menggeleng-gelengkan kepala lalu ia berlalu begitu saja melewati kaki besar itu.
Sepuluh langkah berikutnya ia berhenti lagi. Diangkanya dagu sampai matanya lurus melihat ke atas. Di bawah tiang lampu jalan ia berdiri. Aneh, itu kata yang terbesit dalam pikirannya begitu mendongakkan kepalanya dan melihat apa yang tergantung di tiang lampu jalan. Baginya, yang tergantung itu nampak seperti boneka anak kecil. Menyerupai tuyul, pikirnya lagi. Yang terpenting, warnanya bukan emas, tidak ada alasan untuk mengacuhkan patung yang olehnya tidak dimengerti artinya. "Bodo amat, becak emas!" Matanya memandang jalanan lagi, direntangkan tangannya seraya digetarkan karena geregetan tak kunjung menemukan becaknya.
Tak lama setelah mulai berjalan lagi, Virera memutuskan untuk menyeberang ke trotoar kiri jalan. Menyeberang pun Virera nekad. Ya, ramai kendaraan berlalu lalang, namun ia berjalan ke seberang dengan santainya. Syukur-syukur ia bisa sampai ke seberang dan nyawanya selamat, meski teriakan para pengendara yang nyaris-nyaris menabraknya tidak luput.
"Ya Tuhan, kumohon, kembalikan becak emasku!" teriak Virera tidak keruan. Ia nyaris putus asa, padahal baru beberapa menit ia bertekad untuk tidak menyerah. Tidak ada yang tahu otaknya kenapa, kenapa bepikir bahwa becak itu menjadi penting bagi Virera dan harus di cari. Bahkan si pemilik otak juga tidak tahu.
Virera memicingkan matanya. Ia melihat sesuatu! Setengah berlari Virera mendekati benda yang menariknya. Setelah sampai ia kecewa. Yang menariknya itu tidak sesuai dengan harapannya saat pertama melihat benda itu. "Apaan, nih?" tanyanya sembari mengamati patung di depannya. Aneh, mengerikan, hitam adalah kata-kata yang dimunculkan otaknya. Di bawah patung itu terdapat seperti keterangan di museum-museum. Dilihatnnya beberapa barisan keterangan yang tertera. "Ah, nggak ngerti." Lalu ia belalu.
Ketika ia sampai di depan sebuah apotek 24 jam, ia berhenti lagi. Dihampirinya kursi tunggu yang disediakan dan duduk. Ia membungkukkan badan lalu bertopang dagu dengan kedua tangannya. Dikembungkan pipinya. "Kudu kemana, nih? Nggak ada jejak."
Manik matanya menyapu pandang sekitar. Jalanan, kendaraan, tumbuhan, payung, bagian dari gedung gereja, apotek, goresan emas. "Eh," gumam Virera. Dikucek kedua matanya. "Itu...,"gumamnya lagi benar-benar tidak percaya akan apa yang ia lihat. "Goresan cat warna emas!" Meski perjuangan mendapatkan kembali becak itu belum selesai, bahkan baru dimulai, ia sudah terlampau girang.
Seorang pria paruh baya keluar dari apotek itu. Tak kresek yang dibawanya terlihat penuh oleh obat-obatan yang ia beli. Pria itu cukup terkejut melihat seorang remaja berteriak dan tertawa-tawa sendiri, tapi ia memberanikan diri untuk menegur remaja itu. "Mas, Mas, kenapa? Kok keliatannya girang begitu?" tanyanya.
Virera memalingkan wajahnya dan menatap pria paruh baya d depannya. "Anu, ini Pak." Virera salah tingkah. Ditunjuknnya goresan emas itu. "Akhirnya saya menemukan petunjuk mendapatkan becak emas, Pak!" Virera berteriak seraya bangkit berdiri. Diumbarnya senyum lebar sehingga gigi-giginya terlihat jelas.
"Oh, begitu." Pria itu membalas disertai senyum yang dipaksakan.
"Bapak nggak seneng?" tanya Virera.
"Harus seneng kenapa, coba?" Bapak itu balik bertanya.
"Ya ..., kan ini petunjuk menemukan becak emas, Pak."
Pria itu menepuk pundak Virera. "Baguslah, saya seneng liat semangatmu, Mas." Dengan tangan sebelah kirinya ia merogoh kantong plastik yang dibawanya, lalu dikeluarkannya botol plastik kecil berisi pil. "Ini, Mas," katanya, "Ini obat tidur, minum setelah makan ya, Mas." Si Pria memberikan botol itu pada Virera.
Telapak tangan Virera mengadah menerima pemberian si Pria. Matanya agak melebar. Ia bingung harus bagaimana. Ditatapnya botol plastik berisi pil sejenak, lalu ditatapnya si pemberi. "Ma-makasih, Pak." Pria yang dipanggil bapak oleh Virera itu tersenyum lalu pergi menjauh dari Virera.
Virera menarik napas panjang, lalu diembuskannya. "Bapak-bapak bajingan. Memangnya aku kurang tidur?!" gerutunya kesal. Ditariknya napas lagi, mengembuskannya, lalu melangkah mendekati goresan cat warna emas yang menjadi petunjuknya.
Goresan itu tidak teralu panjang, hanya sekitar 5 cm. Jika dilihat baik-baik, goresan itu tercipta karena gesekan suatu benda bercat emas yang catnya mudah lepas. Gesekan dari arah kanan ke kiri. Agak sulit bila dikatakan ini adalah gesekan dari becak emas yang dimaksud. Becak emas itu memang bercarkan warna emas, namun bannya masih berwarna hitam layaknya ban biasanya.
Analisis tersebut cukup membuat Virera mengelus dagunya. Ya, meski dia sinting, dia masih bisa untuk berpikir dan berlogika. "Mengejutkan," gumamnya. Kedua alisnya saling bertauan. Diputuskannya untuk duduk bersila sejenak di dekat gorean emas. Kemudian matanya terpejam.
Apa kemungkinan yang bisa terjadi? Bannya dicat emas? Bisa saja, tapi siapa yang mau memindahkan—mencuri, barang kali—becak emas dengan repot-repot meninggalkan jejak? Tidak, tidak, tidak yang akan bertindak sebodoh itu. Aku mulai ragu dengan jejak ini, pikir Virera.
"Eh, ada lagi?" ujar Virera cukup terkejut mendapati goresan yang mirip di lain tempat. Lebih panjang ya, batinnya. Virera menyapu pandang sekitar lagi, berharap ada petunjuk atau goresan lain. "Ah, ketemu!" Dilihatnya goresan lagi.
Virera membungkuk dan melihat lebih dekat goresan ketiga. Ditutupnya sebelah mata, mencoba memfokuskan. Virera menjentikkan jarinya seolah mendapatkan ide. "Ini goresan akibat benda yang sama! Benda yang bergerak searah dan arahnya ke...." Virera menolehkan kepalanya ke belakang. "Sarkem."
Pasar kembang, atau yang biasa disingkat sarkem adalah pasar yang menjual bunga. Deretan kios-kios penjual bunga nampak. Banyak dan berbagai macam jenis bunga tersedia. Penataannya tidak terlihat rapi, malah nyaris kumuh karena tak jarang bunga-bunga layu berserakan.
Virera berjalan pelan. Pandangannya berusaha merekam semua situasi. Kanan lalu kiri, kanan lalu kiri lagi, Virera memandang sekitarnya. Stop! Dia berhenti. "E-mas," katanya dengan menekankan nada. Tembok putih yang di sebelah kiri jalan bergoreskan warna emas lagi. "Ini mulai jelas!"
Virera mendekat ke tembok itu. Sama seperti goresan di jalan yang tadi ia temukan. Goresan di tembok ini tidak hanya satu. Goresan pertama adalah yang paling panjang, sedangkan yang kedua dan seterusnya memiliki panjang rata-rata sama.
Sesekali Virera bergumam, mengelus dagunya, dan memiringkan kepalanya ke kanan. "Kemungkinan ini goresan dari becak emas itu ada, tapi masalah selanjutnya ... sudah tidak ada jejak." Berkali-kali ia berjalan bolak-balik mengitari daerah yang sekiranya akan ada jejak lain, sayangnya ia tidak menemukannya, sampai akhirnya ia berhenti. Berdiri di dekat jejak terakhir yang ia temukan. "Duc In Altum!" Ia berteriak seraya mengepalkan tangan. Duc In Altum. Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam. Virera pun melanjutkan langkahnya untuk mencari si pujaan, becak emas.
Tidak jauh dari sarkem, ada semacam tempat untuk menampung sampah. Oh, tidak. Mungkin lebih baik bila disebut tempat para pemulung. Sampah-sampah berserakan, bau-bau tidak sedap pun bisa tercium begitu saja. Tapi di tempat itu terdapat hal yang mengejutkan, terutama untuk Virera.
"He?!" Mata Virera terbelalak melihat kenyataan pahit di depannya. "Nggak mungkin!" Becak emasnya sudah.... "Ini pasti mimpi. Ayo bangun, Vir!" Becak emasnya sudah hancur. "Tidaaak!!!" Virera histeris.
Kedua roda becak itu sudah lepas, catnya tak keruan, bagian atas dan penyangga-penyangganya sudah bengkok. Virera mendekati benda nyaris tidak berwujud itu. Tubuhnya bergetaran seraya meraba becak emas. Matanya memerah, perlahan air matanya menetes.
"Eh, ada orang?" Tiba-tiba suara seorang pria terdengar. Virera memalingkan wajahnya menatap pria itu. Bapak yang tadi. "Iki cah edan mau to? Eh, maksudnya kamu yang tadi itu, kan?" kata Pria itu.
"Lah, Bapak!" ucap Virera sama terkejutnya sembari menacungkan jari telunjuknya mengarah ke Pria itu. "Bapak kok di sini?" tanya Virera, mengesampingkan perasaan sedihnyasaat itu.
Pria yang ditunjuk Virera itu gelagapan menanggapi pertanyaan Virera. "A-anu, saya kebetulan lewat saja.
"Nggak mungkin."
"Beneran. Kok nggak percaya?"
"Nggak mungkin Bapak kebetulan lewat sini. Tempat ini nggak biasa di lewati."
"Ehm, ya—" Belum sempat Pria itu berdalih lagi, seorang anak bertubuh gempal, namun badannya dipenuhi luka muncul dari belakang Pria itu. "Pak, gimana becaknya?" ujar si Anak polos. Setelah anak itu berujar, yang tentu ditunjukan untuk Pria itu sebagai bapaknya, Pria itu memejamkan mata seolah membantin, sial.
Virera menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. "Tch, binggo!"
"Bukan. Ini tidak seperti yang kau bayangkan!" kata si Pria.
"Sudahlah, tinggal Bapak berkata yang sebenarnya, lalu selesai!" Virera mulai kesal.
"Eh, wonten menopo nggih, Pak." Si Anak bertanya di sela ketegangan.
"Wes, mingkem sek wae, Le," balas si Pria pada anaknya, dan si Anak cepat-cepat mematung. Ia lalu menatap serius Virera. "Jadi, ya, ini becak yang kamu cari, kan? Ambil saja," ucap si Pria dengan mudahnya.
"Hhh...." Virera menghela napas jengkel. "Katakan padaku kronologinya, sampai becak emas ini jadi seperti ini, Bapak!"
"Iya, iya, tenanglah!" Pria itu menyuruh Virera tenang. "Kaulihat anakku ini? Dia sekarang banyak luka dan baru saja selesai aku obati. Kautahu kenapa dia terluka? Ya gara-gara becak emas kampret itu!"
"Jadi Bapak menyiksa becak emas yang rupawan ini sampai wujudnya nggak jelas begini?!"
"Guoblok." Pria itu menepuk jidatnya. "Aku nggak setolol itu!"
"Terus kenapa? Tinggal bilang kok susah!"
Pria itu menghela napas. "Kejadiannya dimulai kemarin malam. Waktu itu Jalan Malioboro masih ramai-ramainya. Aku dan anakku jalan, sampai ke depan stasiun, lalu kami melihat becak emas itu. Becaknya bagus. Terus kami pingin punya aja. Jadi dengan nekadnya kami bawa lari aja. Bodo amat sama semua yang menghalangi!" Pria itu bercerita menggebu-gebu.
"Aku menyimak, Pak." Virera menyadarkan Pria itu agar melanjutkan ceritanya.
"Ya udah, anakku aku naikkan ke becak itu dan aku sendiri yang menggerakan becak itu. Kudorong becak itu sekencang mungkin. Sampai di apotek itu aku mulai capek, nggak konsen, akhirnya meninggalkan banyak goresan seperti yang kamu temukan. Saking capeknya becaknya terjungkal luar biasa. Itu juga alasan anakku terluka sampai mukanya tambah jelek gini. Tentang caraku bisa menggerakkan benda itu sebagai PRmu nanti di rumah!" Pria itu selesai bercerita kemudian menarik anaknya pergi bersamanya. Entah ke mana. Virera tidak menghentikkan mereka. Otaknya masih harus mencerna perkataan Pria itu. Dasar bodoh.
"Udahlah, becaknya nggak rupawan lagi. Mending pulangngerjain PR, terus jangan lupa buat minum obat tidur." Virera bermonolog serayameninggalkan tempat ditemukannya becak emas.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top