War

ipen wiken - 13 april 2019

tema: perang
kata kunci: miang tebu, bambu gila, tikus goblok, belut pingsan, bulir semen

Chlorium



Angkasa sangatlah gelap. Awan hitam berkerumun, menutupi indahnya langit biru yang membentang di atas sana. Membuat keadaan kota mati di bawahnya dua kali lipat menjadi lebih mencekam.

Kota itu tiada penghuni. Hanya ada bekas bangunan perumahan pengap yang telah lapuk dimakan usia di seluruh kota.

Keadaan kota mati itu sangatlah menguntungkan bagi mereka yang sedang berperang, atas dasar ingin merebut kota itu agar menjadi milik salah satu pihak.

Di antara kesunyian kota mati, sepasang kaki berderap sangat cepat. Mata terus menatap awas. Tangan menggenggam erat senapan. Insting menjadi setir yang mengendalikan arah kaki melangkah.

"Cih! Di mana mereka bersembunyi?" Gigi bergemertak, merepresentasikan kekesalan yang sedang menguasai kepala. Sedari tadi dirinya sudah berusaha menekan emosi, tetapi sepertinya ini sudah melebihi batasnya.

"Naruto, hati-hati! Jangan berlagak, atau malah kau yang akan jatuh di tangan lawan."

"Berisik!" Naruto merutuk dengan suara yang naik beberapa oktaf. "Lebih baik aku mati di tangan lawan setelah menemukan dan melawan mereka semua, daripada tetap hidup karena terus bersembunyi seperti seorang pengecut."

"Lalu, apa gunanya kau berperang untuk merebut kota ini, jika pada akhirnya kau akan mati?"

"Yah, seperti itulah kata-kata yang akan keluar dari mulut seorang pengecut tak berpengharapan. Seperti yang kuduga."

Yang mendapat rutukan melalui earpiece hanya mendengkus. Dia tahu, partnernya itu sedang menyindirnya yang sedari tadi berdiam diri di balik sebuah drum yang tersembunyi di antara tumpukan balok kayu lapuk. Akan tetapi, dia tidak bersembunyi di balik drum itu karena takut. Tidak, tidak sama sekali. Sebaliknya, dia menunggu kesempatan yang lebih tepat untuk menyerang dan menjatuhkan lawan. --Ya, caranya berperang memang seperti itu, bukan seperti Naruto yang suka bergerak sesuka hatinya tanpa perhitungan sama sekali.

"Mau sampai kapan kau bersembunyi, Sasuke? Ayo, bantu aku menemukan mereka!"

Sekali lagi mendengkus, Sasuke menjawab datar, "tidak, aku akan menunggu di sini hingga mendapat kesempatan untuk menyerang lawan, kemudian berpesta setelah menyaksikan kematianmu akibat kecerobohan yang kau lakukan."

Naruto menyeringai dengan sangat menyilaukan. "Begitu? Jangan sampai malah aku yang berjoget riang di atas tumpukan mayat musuh dengan mayatmu yang berada di puncak tumpukannya, Uchiha."

Percakapan mereka berakhir di situ. Yang berdiam diri di balik drum tetap sunyi di tempatnya, sementara yang sedang berlari memelankan langkahnya ketika dirinya sudah dekat sebuah tanah lapang yang berada di antara tiga buah rumah tua.

Mata Naruto memincing, menatap ke segala arah. Kosong. Akan tetapi, ada yang aneh. Dia memutuskan untuk bersembunyi di balik sebuah boks kayu besar, tepat di samping salah satu rumah kosong. Lalu, dia ikut menunggu dalam diam, sama seperti yang Sasuke lakukan. Bedanya, dia berada di tempat yang lebih terbuka dari tempat Sasuke bersembunyi.

Setelah bermenit-menit menunggu, menanti sesuatu atau seseorang muncul di tanah lapang tersebut, ternyata penantian Naruto tak ada gunanya. Tiada sesuatu atau seseorang yang muncul, tak seperti firasat yang dirasakannya.

Memaki firasatnya sendiri, kaki Naruto bergerak melangkah ke arah tanah lapang. Sasuke hanya memperhatikannya dengan tatapan datar, hingga tiba-tiba matanya membulat ketika dia mendapati sosok bermasker di balik jendela salah satu rumah yang menyodorkan moncong senapan ke luar, ke arah Naruto yang berjalan.

"Naruto, awas!!!"

Terlambat. Senapan itu telah memuntahkan sebuah timah panas yang melesat kilat ke arah Naruto. Akan tetapi, sepertinya dewi keberuntungan sedang beraliansi dengan Naruto. Anak itu tiba-tiba saja merunduk, menghindari peluru yang hampir menembus dadanya.

Sasuke di kejauhan mengembuskan napasnya, lega karena Naruto berhasil luput dari serangan musuh.

Akan tetapi, Sasuke terlalu cepat berlega hati. Sedetik kemudian, peluru meluncur dari dua arah berbeda bagai hujan. Naruto yang menyadari serbuan peluru itu langsung saja panik. Dia berguling-guling di tanah, berusaha menghindar sebisanya, sambil dia mempersiapkan senapannya sendiri untuk menembak dengan membabi buta seperti orang terkena efek bambu gila.

Terus berguling hingga ke dekat sebuah tumpukan kayu, serangan masih belum berhenti. Naruto segera saja mengomel dalam kepanikannya, "Sialan! Yang mereka tembakkan ini peluru atau miang tebu?! Tidak terhitung sama sekali!"

"Cih! Dasar bodoh!"

Sasuke mengumpat, kemudian berlari ke arah rumah tempat salah seorang musuhnya bersembunyi. Mendobrak pintu belakang, sesuai perhitungan, Sasuke langsung menembak musuhnya dari belakang.

Dor!

"Satu," gumam Sasuke.

"Oe, siapa yang kau bilang bodoh tadi, hah?!"

Naruto--yang rupanya sudah berhasil menyembunyikan diri di balik tumpukan balok--meneriaki telinga Sasuke dengan keras. Sasuke tak mengindahkan, dia lalu berderap melalui pintu belakang ke arah rumah lainnya tempat salah satu pionir hujan peluru berasal.

"Sudah kubilang, hati-hati! Lihat, apa yang kau dapatkan? Kau sama saja dengan tikus goblok yang dengan sukarela masuk ke perangkap."

"Tetap saja, tikus goblok ini yang membuatmu mengetahui keberadaan musuh, bukan?! Berterimakasihlah padaku, Berengsek."

"Oh, tadinya mengaku akan menjadi pahlawan yang mengalahkan semua musuh sendirian, sekarang malah berbangga karena telah menjadi umpan setelah terdesak. Pengecut."

"Sialan ...!"

Dor!

"Dua."

Hujan peluru telah berhenti. Naruto mengelus dada, kemudian mempersiapkan senjatanya di balik tumpukan balok kayu.

"Nah, kau sudah menjatuhkan dua lawan. Sekarang, tersisa satu. Serahkan dia untukku, Sasuke!"

"Apa barusan kau berharap aku menyerahkan targetku kepada seekor tikus?"

"Berengsek! Berani-beraninya kau!"

Sasuke menyeringai. Dia menenteng senjatanya, kemudian beranjak dari tempat tersebut. "Siapa cepat, dia dapat."

Dor!

Bukan, itu bukan suara tembakan dari senapan Sasuke yang berhasil menjatuhkan satu-satunya lawan yang tersisa.

Naruto mematung. Baru saja dirinya hendak merayap keluar, sayangnya dia terlambat. Naruto kalah cepat dari musuh.

Lehernya telah ditembus peluru.

Seketika mata Naruto membelalak saat mendapati salah satu musuh berada tak jauh darinya. Mulutnya terbuka lebar, tetapi tiada sepatah kata pun yang berhasil keluar dari mulutnya.

"Naruto idiot ... sudah kubilang kau harus tetap berhati-hati!"

Sasuke panik. Dia berderap cepat, menuju ke arah musuh yang telah berhasil ditemukan. Tak membuang waktu sedetik pun, Sasuke langsung melancarkan serangan ke satu-satunya musuh yang tersisa, menumbangkan si tersangka yang berhasil menjatuhkan Naruto.

"Cih, percuma saja."

Ya, percuma saja Sasuke membuang tenaga untuk menumbangkan musuh mereka, kalau pada akhirnya Naruto harus tewas.

Perang pun berakhir, dengan Sasuke yang mendapat pujian 'YOU WON' di layar ponsel dan Naruto yang mendapatkan penghinaan bertuliskan 'YOU LOSE' yang memenuhi layar tabletnya.

"AAARRRGGGHHH!!! AKU GAGAL!!!"

Naruto berteriak sambil berguling-guling bodoh, seiring dengan suara pintu yang didobrak serta kemunculan seorang setan habanero berpenampilan super acak-acakan di depan pintu kamar berstiker naruto.

"Kalian berdua ...."

"H ... HIIIY!!!"

•••

Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina sedang bergumul dengan panasnya di atas ranjang. Keringat membanjiri seluruh tubuh, napas terengah-engah, mata sambil menatap dengan sayu, tubuh saling beradu.

Gerakan mereka semakin cepat ketika dirasanya mereka hampir mencapai dunia putih. Minato terus bergerak kencang, begitu pun Kushina yang mengimbangi tusukan sang suami dengan menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan Minato.

Hampir. Sedikit lagi.

"AAARRRGGGHHH!!! AKU GAGAL!!!"

Sayang, klimaks hebat yang mereka dambakan tak dapat mereka rasakan malam ini. Ketika hampir mencapai puncak, mereka dikejutkan dengan suara teriakan dari arah kamar anak tunggal mereka. Dan akibat keterkejutan yang melanda, gairah yang tadinya meletup-letup langsung menghilang layaknya tsunami raksasa meratakan perumahan.

Minato dan Kushina langsung saja mengumpat. Mereka ini sudah tua, jarang bisa bercinta dengan hebatnya seperti malam ini. Dan, percintaan yang hebat itu malah dihancurkan oleh satu-satunya putra yang mereka punya.

Meraih pakaian dan memakainya dengan asal-asalan, Kushina segera melangkah ke arah kamar Naruto. Kakinya lalu menendang pintu kamar sang anak hingga engselnya patah. Dan di sana, dia mendapati sang anak sedang berguling-guling di kasur, bersama dengan anak bungsu Mikoto yang duduk di samping Naruto dengan ponsel pintar di tangan.

"Kalian berdua ...." Kushina mendesis, sementara anaknya langsung mendudukkan diri dengan bahu yang menegang--sama seperti Sasuke.

"H ... HIIIY!!!"

"Gara-gara kalian ...." Kushina mendekat dengan langkah panjang-panjang. "Gara-gara kalian ...." Dia mengulang dengan murka.

Sudah dekat, Kushina langsung mengangkat kakinya.

Duak!!!

"Gara-gara kalian ... aku gagal merasakan bulir semen milik Minato, dasar bocah-bocah tidak berguna!"

Dengan amarah yang masih meletup, Kushina pun beranjak pergi, meninggalkan Naruto dan Sasuke yang terjengkang dengan bodohnya di lantai, persis seperti dua ekor belut pingsan.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top