Invalidite | 6

Everybody has a nightmare, even when eyes open.

-Pelita Senja-

Sedikit sekali kesadaran yang didapatkan Pelita saat ini. Ia hanya berharap lampu segera menyala sehingga pengap dari gelap di sekelilingnya tidak lagi terasa.

Lengan baju kaus dari cowok di depannya yang ia renggut tiba-tiba menyentak menjauh. Kemudian kedua pipi Pelita dirangkum oleh telapak tangan yang besar. Menyebarkan hangat seketika.

"Bernapas... " tuntun suara itu rendah. Dengan tubuh yang keseluruhannya menggigil, Pelita menarik napas dan menghembuskannya bergetar.

Perlahan, napasnya mulai teratur meski cengkraman Pelita di lengan Dewa masih erat. Ponsel yang terjatuh terbalik membuat sorot lampu menyinari langit-langit. Tidak banyak mengenai mereka.

Keduanya berdiam diri dalam gelap. Tanpa bergerak dan hanya diiringi tarikan napas berat Pelita.

Tiba-tiba retina matanya dihantam sinar terang ketika lampu kembali menyala. Pelita gelagapan menatap sekitar, seolah memastikan tempatnya berada masihlah sama.

"Lo mau ngerobek baju gue?"

Pertanyaan itu membuat Pelita menatap ke depan. Dalam jarak yang begitu dekat, ia duduk di pangkuan Dewa mencengkram kuat baju kaus cowok itu. Berhadapan langsung dengan dua mata tajam yang menjurus tepat ke arahnya.

"Dewa!" Panggil Pelita melepaskan cengkraman. Masih tersisa syok akibat kegelapan. "Tadi disini mati lampu. Gelap banget,"

Dewa memutar bola matanya. "Lo pikir gue buta?"

Rupanya, Pelita masih ingin bercerita. "Tadi aku denger ada suara di luar. Tapi pas di cek gak ada orangnya. Abis itu langsung gelap total sampe gak keliatan apa-apa. Aku sampai jatohin tongkat sangking kagetnya. Aku gak suka gelap. Gak bisa napas,"

Dewa mendorong Pelita turun dari pangkuannya. "Ngapain lo masih disini?" Ia lalu berjalan menggeser  tongkat Pelita dengan kakinya.

"Kata kamu mau belajar disini," setelah meraih tongkat dan berdiri sempurna, Pelita menatap Dewa dengan senyum geli. "Nakutin banget tadi,"

"Lo takut tapi senyum-senyum."

"Kan sekarang udah gak takut lagi," Sahut Pelita riang. "Kamu yakin mau belajar sekarang?,"

"Gila aja belajar malem-malem gini."

"Aku pikir kamu udah biasa, makanya ngajakinnya malem. Karena kata Pak Brata kamu susah banget buat belajar, denger janji kamu tadi siang bikin aku semangat dan yakin." Pelita tersenyum. "Lain kali mau lagi ya? Tapi gausah sekarang. Nanti lampunya mati lagi."

Dewa mendengus. Tidak mengerti sama sekali dengan jalan pikiran Pelita. Tanpa menjawab ia kemudian berlalu menuju pintu setelah memungut ponselnya. Tentu saja Pelita langsung mengejarnya.

Sesampainya di parkiran, Dewa tidak lagi mendengar ketukan tongkat di belakangnya. Membuatnya berbalik dan menemukan Pelita berdiri kebingungan.

Mendapat tatapan berkerut dari Dewa, Pelita segera tersenyum sumringah dan melambaikan tangannya. "Dadah Dewa, hati-hati dijalan."

Malam semakin larut dan sudah jarang sekali ada angkutan umum yang lewat. Pelita hanya berharap masih ada satu saja yang tersisa untuknya pulang.

Bukannya kembali melangkah menuju mobil, Dewa malah menghampirinya. Dengan satu tangan masih tenggelam di saku, Dewa menarik Pelita hingga cewek itu tergopoh mengikuti.

Dewa membuka pintu penumpang yang seketika membuat Pelita menatap cowok itu sumringah. "Bisa baik juga ya. Hebat!!" Ucapnya mengacungkan dua jempol.

Pelita tidak bisa diam dalam duduknya. Ia berpaling ke segala arah. Entah mengamati interior mobil Dewa atau melihat keluar jendela. Dewa tidak ingin memperhatikan karena tugasnya malam ini hanya cukup sampai mengantar Pelita pulang. Itu saja.

Beruntung sekali kejadian listrik padam tadi membuatnya tidak harus berlama-lama.

"Dewa," panggilan itu membuatnya menoleh ketika mobil berhenti di lampu merah. "Boleh mampir ke warung di depan sana gak? Aku mau beli soto."

"Lo pikir gue supir. Main minta berenti seenaknya. Udah untung dianterin." Ujar Dewa hanya di dalam kepalanya.

Setelah lampu merah berubah hijau, Dewa menginjak gas dan menepi di sebuah warung bertenda hijau.

Perlu beberapa menit bagi Dewa menunggu, sampai Pelita kembali dengan dua kantong kresek berwarna putih. Tanpa berlama-lama ia langsung menjalankan mobilnya lagi.

"Ayahku suka banget soto di warung itu. Bisa gak berenti makan sampe kekenyangan. Malah sering kurang kalo cuma satu porsi." ucap Pelita tertawa yang tidak begitu dipedulikan Dewa.

Mereka sampai di sebuah rumah kayu sederhana berpagar putih. Pelita kemudian melepas sabuk pengaman, mengambil satu plastik soto dan menyerahkannya untuk Dewa.

"Buat kamu. Cobain deh. Pasti langsung ketagihan. Ini tuh resepnya melegenda jadi jangan diraguin. Kamu bakal terbayang-bayang enaknya,"

Dewa menjauhkan tangan Pelita. "Nggak."

"Tapi aku beliin buat kamu." Pelita menyodorkan lagi.

"Gak," tolak Dewa. "Lo pikir gue bisa dibayar pake soto karena nganterin lo. Keluar."

Pelita berdecak. "Kamu tuh ya. Jangan suudzon dong. Harus bisa belajar nerima kebaikan orang lain yang tulus. Aku cuma ngasih sebagai ucapan terima kasih."

"Lo mau ceramah sampe pagi?"

"Iya-iya," Pelita mengangkat bahu dan meraih tongkatnya di belakang. Saat ingin turun, suara dewa menahannya.

"Selasa, Rabu, Kamis. Gedung seni. Ruang lukis. Jam 2 siang."

Mendengar itu, membuat kerut di dahi Pelita bertahan beberapa saat. Berupaya menerjemahkan kalimat padat itu sebelum senyuman menggantikan kebingungannya.

"Oke!" Pelita mengangguk bersemangat. Ia kembali mengulang jadwal yang tadi disebutkan Dewa dan menghapalkannya dengan jari.

Saat turun, Pelita kembali menunduk, membuat pergerakan Dewa terhenti saat ingin menarik perseneling.

"Makasih ya, Dewa udah mau datang." Ucap Pelita tersenyum. Melambaikan kelima jari kurusnya lalu berlalu masuk hingga hilang di balik pintu rumah berwarna putih.

Di dalam mobilnya, Dewa masih menatap pintu rumah itu dalam diam. Dengusan keluar dari tarikan sudut bibirnya ketika menyadari sesuatu.

Jika Pelita adalah sebuah paket lengkap.

Untuk memenangkan taruhan dan menyakiti sepupu tirinya.

***

Ruang lukis termasuk tempat yang jarang sekali digunakan. Karena biasanya, Dosen yang mengajar lebih suka mengambil tempat outdoor untuk kelas melukisnya.

Jadi di siang seperti ini, tidak ada yang mengganggu Pelita untuk mulai memberikan bimbingannya.

"Kalo gitu kamu mulai jawab soal yang ini,"

Dewa yang sedari tadi hanya duduk bersandar, tanpa benar-benar memperhatikan penjelasan Pelita, memutar-mutar pulpen memandang tidak tertarik pada kertas di hadapannya.

"Dewa jangan diliatin aja, dikerjain."

"Apa yang bisa gue dapetin kalo ngerjain soal ini?"

"Loh, kok pake nanya. Tentu aja jadi pinter. Nilai kamu pasti bagus." Sahut Pelita menjentikan jari.

"Gue gak minat dapetin nilai," Dewa melemparkan pulpen ke tengah Meja.

"Kalo kamu tetap kayak gini, itu sama aja kamu lagi ngancurin diri pelan-pelan. Emang nggak kerasa sekarang, tapi penyesalannya pasti akan dateng."

"Sorry to say, gue gak pernah menyesal. Jadi teori berbelit lo itu gak berlaku di gue."

"Kamu nggak pernah menyesal, karena rasa egois kamu lebih tinggi dari kepedulian," Pelita meletakkan pulpen di atas kertas soal. "Boleh jadi kamu mungkin nggak peduli sama masa depan, tapi jangan bikin diri kamu nggak berkualitas."

Dewa mendengus seraya mencondongkan tubuhnya ke depan. Menatap Pelita yang membalas tatapannya tanpa ragu, dan selalu dengan senyuman. Seolah tatapan yang sering Dewa gunakan untuk melumpuhkan wanita itu tidak mempan padanya.

Benarkah yang dikatakan Rendi tempo hari? Jika Pelita tidak mempan akan pesonanya? Atau karena cewek itu terlalu polos untuk bisa mengerti?

Lagi-lagi Dewa semakin tertarik akan permainan ini. Ia menunduk, memperhatikan soal di atas kertas. "Ada lima soal," ia kemudian menatap Pelita lagi. "Setiap soal yang bisa gue jawab dengan benar, lo harus nurutin permintaan gue."

Pelita cemberut. "Kamu suka banget ya apa-apa dijadiin mainan gini. Tinggal jawab aja, Wa."

"Terserah lo, sih. Nggak gue kerjain juga gak masalah."

Pelita menghela napas. "Yaudah, jawab dulu tapi."

Dewa menunduk dan mulai mengerjakan soalnya dalam diam. Hening yang terjadi beberapa saat membuat Pelita mencoba menilik lembar kertas Dewa penasaran.

Sampai dimana pintu ruang seni terbuka oleh sosok cewek berbaju pink. Melangkah genit dan langsung menghampiri Dewa, bergelayut di leher cowok itu.

"Gue nyariin lo dari tadi, beib."

Dewa yang merasa terganggu melepaskan belitan dan mendorong cewek itu menjauh. "Siska, lo bikin tulisan gue kecoret, tai."

"Abisnya gue bingung gimana nyariin lo. Gue sampe harus maksa-maksa Gerka sama Rendi dulu tadi. Makanya kasih gue nomor lo dong, Wa."

"Nggak. Pergi lo. Gak liat gue lagi ngapain?"

Siska yang mendapat kemarahan Dewa tampak tidak menyerah. "Malam ini gue ada party. Lo dateng ya, Wa."

Siska masih berusaha menggelayuti Dewa ketika sebuah kertas melayang jatuh ke sisi wajahnya. Berasal tepat dari arah Pelita duduk.

"Mbak ini gak tau malu banget ya. Dewa kan udah bilang nggak mau, kenapa dipaksa juga?."

Mendengar itu, Siska membulatkan matanya marah. "Siapa lo? Gak usah ikut campur deh."

"Mbak udah nyela waktu bimbingan aku. Mending mbak tunggu di luar kalo masih mau ngomong sama Dewa."

Dewa yang sudah selesai mengerjakan soal meletakkan pulpen dan menonton.

"Lo! Cewek kuno jelek gak usah sok penting ya. Gue bisa ngomong kapan aja sama Dewa. Pake ngatur segala. Urusin muka jelek lo aja!"

"Iya tau," Pelita mengangguk. "Tapi jangan sekarang. Dewa lagi bimbingan. Mbak tau bimbingan itu apa gak?"

Siska, yang tidak terlalu pintar berdebat memutuskan melawan dengan gerakan. Belum sampai tangan Siska menjangkau Pelita, Dewa sudah menghalaunya lebih dulu.

"Keluar deh lo."

"Tapi, Wa..."

"Sis, gue males ya. Jangan paksa gue buat makin kasar."

Siska tentu saja kehilangan wajahnya saat itu juga. Ditolak Dewa, di depan Pelita.

"Tuh mbak dengerin,"

Siska mengeram marah, lalu berbalik dengan terlebih dulu mendorong meja sampai bergeser menyentak Pelita.

"Ck, pacar kamu kok gak waras gitu. Kasian."

Dewa mengambil ransel dan berdiri dari kursinya. "Lima soal, lima permintaan." Dewa menyodorkan kertas ke arah Pelita. Lalu berlalu keluar meninggalkan ruang lukis.

"Pede banget," gumam Pelita. Ia lalu meneliti kertas di tangannya untuk kemudian tersentak.

Mendapati kelima soal terjawab dengan benar.

***
TBC

Hai hai haiii...

Fara hadir malam ini membawa INVLDT 😌

Anyway, part ini khusus buat ngeresmiin kalo aku mau ganti cast Dewa. Hehe

Sedikit plinplan tapi yakin deh yang ini bikin greget.


- Muka bad boy ( √ )
- Tatapan tajam ( √ )
- Rambut berantakan ( √ )
- Gak pernah senyum ( √ )
- Tamvan dan memvesona ( √ )

HAHAHAAHAHAHAHHAAHHAA

Kalo yang ini suka banget senyum. 😌

Faradita
Penulis amatir yang lagi pilek.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top