Invalidite | 5

There are some things you can only learn in a storm.

-Pelita Senja-

Sudah lebih dari dua jam ruangan luas bernuansa putih hitam itu terlihat ramai dengan kesibukan. Lampu-lampu menyala, mengarah pada satu spot dengan seorang model yang tengah berpose.

Dewa menurunkan kamera, mengendikkan bahu pada Rendi, memberikan instruksi untuk mengganti model selanjutnya. Cewek yang tadi ia potret mendekat lalu mengusap bahunya sambil lalu. Tak lupa kedipan menyertai berupa undangan secara terbuka untuk Dewa.

Baginya, bermain dengan cewek sekelas model sudah jadi hal biasa. Dewa tidak meminta, merekalah yang mendatanginya.

Kadang, jika sedang ingin, ia akan meladeni. Jika tidak, Dewa hanya akan mengganggapnya angin lalu.

Model selanjutnya sudah memasuki spot berlatar putih. Dewa kembali membidik, memutar lensa beberapa kali dan mengambil potret dengan percaya diri. Beberapa model yang tampak duduk di sisi ruang terdengar berbisik-bisik. Tidak perlu diterka siapa yang tengah jadi pusat pembicaraan.

"Demi PS-nya Gerka, gue berani bertaruh, kalau setengah dari cewek-cewek di ruangan ini ngebet banget sama lo," Bisik Rendi di sebelahnya.

"Ya jelas lah."

Rendi yang mendapat respon pongah seperti itu mendorong bahu Dewa. Membuat bidikannya meleset. Dewa mendelik serta menyikut Rendi karenanya.

Gerka sudah selesai membereskan tripod di ujung ruang mendekat. "Si Siska minta nomer lo, Wa."

"Lo kasih?" Sahut Dewa dari balik kameranya.

"Enggak lah. Gue masih inget aturan hidup lo. Jangan kasih nomor ke cewek manapun," Gerka berdecak. "Heran aja gitu mereka masih keras kepala."

Rendi terkekeh. "Jadi lo mutusin malem ini mau ama siapa? Liat tuh, mereka pada muter-muter ekor kayak kucing mau kawin. Tinggal tunjuk aja."

Gerka teringat sesuatu. "Lo gak ke gedung seni?"

Rendi ikut menoleh, ikut mendengarkan. Alih-alih menjawab, ia justru menurunkan kamera dan menganggukkan kepala tanda pemotretan hari itu sudah selesai.

Dewa hanya memiliki dua tim utama dalam pekerjaan ini. Rendi dan Gerka. Sisanya hanya ada beberapa orang yang membantu kegiatan sampingan. Jika orang lain melihat mereka melakukan hal tidak berguna, sebenarnya ini sudah boleh dibilang masuk tahap profesional.

Mereka dibayar untuk melakukan potret beberapa iklan. Baik indoor atau outdoor. Biasanya klien yang meminta sudah pernah memakai jasa Dewa sebelumnya. Lalu berjalan dari mulut ke mulut akan kemampuan jenius cowok itu menggunakan kamera.

Jika ada yang bertanya, apa yang dilakukan Dewa selama ini dengan meninggalkan kelasnya. Bisa jadi ia akan menjawab dengan menunjukkan sebuah studio besar dan jejeran klien yang menunggunya itu.

"Mana mungkin Dewa nyamperin cewek itu," sela Rendi. Mereka tengah membereskan peralatan di meja besar. "Bandingin aja sama model-model kita disini."

"Terus kenapa lo minta dia kesana, Wa?" Tanya Gerka.

"Yakali itu cewek ngikutin omongan gue."

Gerka mengangkat bahu. "Bisa aja kan. Yang gue liat sih anaknya polos bener,"

"Ya juga sih," Rendi mengambil tempat duduk di tepi meja. "Tapi sepolos-polosnya- siapa namanya? Pelita?"

Dewa mengangguk samar, masih fokus mengusap lensanya perlahan.

"Si pelita ini polos tapi ya dia gak mempan sama tampang Dewa. Mana ada cewek yang seberani dia mukul Dewa pake tongkat."

"Gue setuju," Gerka terkekeh. "Kapan lagi Dewa di-cengin sama cewek."

"Lo perhatiin muka gue baik-baik," Dewa menunjuk wajahnya. "Bagian mana dari ini yang mampu di tolak cewek?"

"Si tai kuda," ujar Rendi menoyor kepala Dewa. Dilanjutkan Gerka yang mengumpat sama. Kepercayaan diri temannya itu sudah tidak terlihat saking tingginya.

"Biasanya, dari yang udah-udah, sama kayak cerita roman picisan, seseorang yang gak kita perhitungkan sama sekali, bisa jadi orang yang ditunggu selama ini."

Dewa menatap Gerka bingung. "Lo ngomong?"

Gerka membalas tatapan Dewa datar. "Nggak. Gue ngaji."

Rendi tertawa. "Maksud si Gerka, hati-hati benci sama orang. Ntar puter balik jadi suka. Kan modar kelelakian lo."

Dewa mendengus. "Gue gak main drama. Kalian liat sendiri kan gimana ceweknya. Gak ada sedikit pun hal menarik dari dia."

Rendi dan Gerka sama-sama mengangguk. Sebagian menyetujui karena melihat sendiri bagaimana Pelita.

"Tapi anaknya lucu juga," ucap Gerka. "Tinggal permak dikit sih kalo kata gue. Kinclong dah,"

"Lagian kayaknya si Pelita ini emang beneran kebal sama Dewa," Rendi menepuk bahu Dewa. "Kayaknya pelet lo memudar, Wa. Sama cewek macem dia aja udah gak manjur."

"Langsung aja deh, Ren." Dewa sedari tadi sudah mengerti benar maksud dari pembicaraan ini. Ia menutup lensa dan membugkusnya dengan kain. "Berapa?"

Rendi sumringah sambil menggosok-gosokan tangannya. "Gak pake duit. Tapi mobil,"

"Ren, tunggu deh." Sela Gerka.

"Deal." Ujar Dewa.

Gerka beralih menatap Dewa. "Wa, gue rasa ini bukan ide yang bagus."

"Kenapa?" Rendi turun dari meja dan merangkul bahu Dewa. " Ini bakal jadi seru dari yang udah-udah. Dewa cuma perlu bikin Pelita jatuh cinta buat menangin taruhan ini, kan?"

***

Pelita mengumpulkan kuas dan cat air ke dalam kotak khusus. Menyimpan di dalam lemari lalu menguncinya.

Untuk sekian kalinya, ia mengecek ponsel dan tidak juga terlihat masuk panggilan yang ia tunggu.

Jam dinding ruang lukis di gedung seni ini sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam. Tapi Dewa belum juga datang.

Sebenarnya, Pelita juga sangsi jika Dewa benar-benar serius dengan ucapannya. Apalagi kemungkinan Dewa cuma mengerjainya hampir 99%.

Tapi masih ada 1% bukan?

Pelita hidup dengan mengandalkan sekecil apapun keberuntungan dalam hidupnya. Seperti dirinya yang selamat dari kecelakaan lima tahun lalu. Yang melumpuhkan fungsi kakinya. Tapi Pelita tidak pernah berhenti bersyukur karena ia masih hidup dan masih bisa menjaga ayahnya.

Pelita yakin, semua yang terjadi ada alasan. Ia sering menjadikan kelumpuhannya sebagai candaannya bersama Tuhan. Jika kekurangannya ini diberikan, agar Pelita bisa bermanja-manja dalam doa. Bisa terus mengingat- Nya, dan terus bergantung pada-Nya.

Jadi, ia meyakini 1% nya dan beralih membuka buku pelajaran. Setidaknya ia akan menghabiskan waktu belajar setengah jam lagi.

Sunyi yang mendengung masih tampak nyaman ketika tiba-tiba saja ada suara terdengar dari luar. Membuat Pelita menghentikan penanya bergerak.

"Dewa?" Panggilnya ragu. Kenapa baru terpikirkan oleh Pelita jika bisa saja Dewa tidak tahu dia disini. Ia lalu meraih tongkat dan berjalan menuju pintu.

Namun tidak ada seorang pun di lorong.

Pelita menutup pintu dan kembali duduk. Seharusnya ia tidak perlu memberikan nomornya, tapi justru meminta nomor telpon Dewa.

Pelita menghela napas lalu membuka halaman buku ketika dalam sekejap ruangan yang di tempatinya gelap.

Ia tidak mampu menahan rasa tercekat. Pelita menutup mulutnya. Mungkin menghalau teriakan. Tapi keadaan lampu padam di ruangan ini sekarang membuatnya kalang kabut.

Pelita meraba ke samping, mencari tongkat yang tadi ia tinggalkan. Karena gerakan yang terlalu tiba-tiba, hal itu justru membuat tongkatnya jatuh ke lantai.

Kepanikan menjalar di seluruh permukaan kulit Pelita. Ia benci kegelapan. Ia merasa sesak. Dadanya sakit. Ia tidak bisa bernapas. Apalagi, kegelapan ini seolah menarik dirinya untuk semakin keratakutan.

Pelita mendengar suara lagi. Dari arah luar dan kali ini semakin jelas terdengar berupa langkah kaki.

Ia tidak bisa memutuskan apa yang harus ditakutinya lebih dulu. Orang di luar sana atau kegelapan ini.

Pintu lalu terbuka, dibarengi dengan sorot lampu dari sebuah ponsel yang mengarah ke dalam ruangan. Sampai sorotnya mengenai tempat Pelita duduk.

Pelita tidak bisa melihat siapa orang itu. Bayangannya hitam dan ia menyipitkan matanya yang berair karena silau lampu.

Lalu sebuah suara memberi jalan napas baginya.

"Pelita?"

Ia mengenali suara itu. Langsung saja Pelita mencoba turun dari kursi untuk meraih sosok yang baru datang. Melupakan ketidakmampuannya berjalan.

Dengan cepat sosok di depannya meleset maju dan meraihnya. Hingga Pelita jatuh ke dalam pelukan hangat, bukannya lantai keras yang dingin.

Bisa ia rasakan usapan di belakang kepalanya. Seolah menenangkan jika tidak apa-apa gelap jika bersamanya. Dan Pelita menurut dengan mengeratkan pelukan.

"Dewa..." Isak Pelita, memeluk cowok itu kencang.

***
TBC

Ajigile apdet lagi. 😂

Ini sih sebenernya aku galau mau ngelanjutin Invalidite.

Aku berencana ngubah genre IVLDT jadi Romance. Soalnya dari plot kayaknya cocok di sana. Gimana menurut kalian?

Part ini khusus didedikasikan untuk degems Nanda Aulia yang ulang tahun. Yeay.
Kemaren sih ulang tahunnya. Hehe
Ayo, yang lain ucapin juga. Sesama degems harus saling menyayangi.

By the way, happy sunday degems. 😚

Faradita
Penulis amatir yang hari ini bukber. Yeay!

Buat info aja, yang disini baca cerita Sin, novelnya udah tersedia di gramedia dan toko buku online ya 😗😗😗

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top