📃 Unknown Message
Genre:
MYSTERY
***
Halimun pagi pembawa petaka
Elegi mengiringi sang jenderal tua
Lembaran usang tak bermakna
Pria miskin malang tanpa asa
Aku yang tak bisa ke mana-mana
Barusan adalah kertas kesepuluh yang kuterima bulan ini. Isinya selalu sama dan ditulis acak-acakan dengan tinta merah yang selalu sukses membuat perasaanku tidak enak. Seakan itu belum cukup menyeramkan, aku menemukannya di mana-mana. Di loker, di lemari, di tas, bahkan di tempat paling tak terduga seperti toilet mall. Kali ini aku menemukannya dalam buku baru yang kubeli sebelum berangkat karyawisata.
Bagaimana bisa?
"Surat itu lagi?" Gadis di sampingku bersuara.
"Begitulah." Kupandangi lagi kertas itu lekat-lekat sebelum meremukkannya jadi bulatan kecil dan melemparnya ke tempat sampah. "Stalker menyebalkan."
Nurul--gadis itu--tersenyum prihatin dan kembali memperhatikan pemandu yang sedang menjelaskan sebuah lukisan. "Tetap waspada ya, Mel."
Aku mengangguk dan mencoba ikut fokus pada lukisan di depan kami.
Sekolahku memilih museum sebagai lokasi tujuan karyawisata. Seharusnya bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan, kalau saja museum yang kami kunjungi bukan gedung beraura suram seperti ini. Aku sudah menyadarinya sejak berkunjung bulan lalu sebagai anggota tim survei utusan sekolah.
"Lukisan ini menggambarkan pertempuran di sebuah desa pinggiran." Pemandu museum menunjuk lukisan besar yang menggambarkan adegan baku hantam antara dua kubu. "Terjadi di waktu fajar yang berembun. Tentara Belanda memanfaatkan jarak pandang yang terbatas untuk menyerbu tiba-tiba."
Setelah sederet lukisan pertempuran lainnya, kami beralih ke ruangan sebelah. Ruangan ini ternyata tidak kalah suram.
"Dan ini adalah potret jenderal yang tewas mengenaskan setelah berhasil membunuh ratusan tentara musuh."
Aku refleks meringis. Jenderal yang dimaksud tampak tergeletak dalam genangan darah dengan belasan luka tembak di dada dan kepala. Siapa seniman gila yang melukis pemandangan mengerikan itu?
Sekarang aku mulai menyesal tidak menyarankan galeri seni sebagai ganti tempat penyimpanan sejarah penuh darah ini.
Ketika berpindah ke ruangan selanjutnya, aku bersyukur tidak lagi dihadapkan dengan lukisan-lukisan yang bikin frustrasi. Bagian ini dipenuhi buku-buku tua dan saat itulah aku mendadak teringat baris ketiga dalam surat si stalker.
"Pak," Aku mengangkat tangan untuk bertanya. "apa di sini ada lembaran yang tidak berguna?"
"Melisha," tegur guruku. "Kita sudah belajar kalau semua bukti sejarah itu penting buat pembelajaran."
Pemandu yang kutanyai malah tertawa. "Sepertinya ada." Dia beringsut beberapa langkah dan menunjuk sebuah kertas kusam yang tersimpan di balik kotak kaca. "Ini daftar belanjaan."
Teman-temanku serentak tertawa.
"Tapi tidak sepenuhnya enggak berguna." Bapak itu melanjutkan sambil tersenyum. "Berkat ini kita bisa tahu makanan yang dikonsumsi masyarakat saat itu."
Sementara si pemandu menyebutkan isi daftar belanjaan bersejarah tersebut, aku sibuk dengan asumsi sendiri. Setelah diingat-ingat, aku mulai mendapat surat aneh sejak kembali dari survei lapangan. Penasaran, buru-buru kubuka buku catatan dan menuliskan kelima baris isi surat yang sudah kuhapal di luar kepala.
"Rul, halimun itu apa?" Baru baris pertama dan aku langsung merutuki keterbatasan perbendaharaan kosa kataku.
Nurul menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari pak pemandu. "Kabut, kalau nggak salah."
Ingatanku melayang ke lukisan penyerangan ketika fajar. Bukankah tadi pemandu bilang saat itu ada embun yang menghalangi pandangan? Embun rada mirip kabut, bukan?
"Elegi itu semacam nyanyian dukacita?"
"Iya." Nurul akhirnya menoleh. "Kamu ngapai--tunggu! Aku baru sadar! Perhatikan huruf awalnya. H-E-L-P. Help."
Aku tertegun. "Tolong? Siapa?"
Nurul mengetuk-ngetukkan jarinya pada baris terakhir.
"'Aku'?" tanyaku tidak percaya. Jadi, ini semacam pesan SOS?
"Mungkin?" Nurul juga terdengar tidak yakin. "Pas survei lokasi kemarin kamu ketemu orang mencurigakan?"
Aku menggeleng dan pikiranku kembali berkelana. Berarti baris kedua merujuk pada lukisan jenderal yang ada di ruangan sebelumnya dan baris ketiga mengenai resep masakan di ruangan ini. Ketiga ruangan tersebut posisinya berjejer. Apa "si pria miskin malang" ada di ruangan berikutnya?
Kami berpindah ke ruangan selanjutnya dan jantungku berdebar cepat saat menemukan patung pekerja rodi dengan plakat nama bertuliskan "Perjuangan Tanpa Harapan". Buru-buru aku menuju pintu keluar dan berlari ke ruangan kelima, ruangan terakhir yang ada di museum tersebut. Bisa gawat kalau memang ada yang disekap di sana dan tengah menanti pertolongan.
Ruangan itu tidak hanya suram, tetapi juga sesak. Lebih menyerupai gudang dengan beraneka koleksi yang tidak tertata rapi. Tidak ada seorang pun di sana dan aku mulai berkeliling untuk mencari sesuatu yang "tidak bisa ke mana-mana".
Ketika aku berniat mencari pintu rahasia atau semacamnya, seseorang berbicara tepat di sebelahku.
"Kau datang. Ternyata aku tidak salah pilih."
Aku menoleh dan berhadapan dengan sebuah patung batu. Di mataku, patung ini entah kenapa terlihat lebih menyedihkan dibanding patung pekerja rodi di ruangan sebelah. Wajahnya terlihat ketakutan, dengan mata membelalak dan mulut menganga seolah sedang berteriak meminta pertolongan. Tangan kanan terulur ke depan, seperti berusaha menjangkau sesuatu tak kasat mata yang bisa memberinya bantuan. Namun, yang membuatnya terlihat lebih miris adalah bagian pinggang ke bawahnya masih berupa batu utuh.
Plakat di depannya bertuliskan:
[Pemuda yang sedang melarikan diri dari penjajah. Patung ini tidak pernah selesai karena pemahatnya ditembak mati]
Penjelasan itu membuatku merinding. Mendadak aku ingin segera kabur dari sana.
"Cuma kau yang bisa menolongku."
Suara tersebut berasal dari si patung setengah jadi dan kenapa matanya terlihat seolah sedang tertuju padaku?
"Tenang, Melisha." Aku mensugesti diri sendiri. "Hanya ilusi optik."
Meski menyerupai manusia, patung tetaplah benda mati. Benda mati tidak akan bisa melakukan apa pun untuk menyakiti makhluk hidup. Tidak ada yang perlu diselamatkan di sini. Sepertinya itu pesan iseng dan aku hanya sedang sial karena menerimanya.
"Aku yang tak bisa ke mana-mana."
Kepalaku kembali tertoleh tanpa bisa dikendalikan. Patung itu masih bergeming di tempatnya, tapi perasaan seolah ada yang memperhatikanku terasa semakin kuat.
"Manusia memiliki hati yang lemah. Kaum kami bisa mempengaruhi dan memerintah kalian dengan mudah. Buktinya adalah surat-surat yang bisa sampai ke tanganmu."
"Kamu ...." Aku bicara terbata. "... yang mengirimiku surat?"
Hanya kekehan yang terdengar.
Tidak salah lagi, suara barusan memang berasal dari si patung pemuda. Perasaanku saja, atau benda itu memang baru saja mengedipkan matanya? Aku kembali merinding hebat. Ingin kabur, tapi kakiku seolah terpaku ke lantai.
"Ya, begitu." Dia tertawa. "Bagaimana rasanya tidak bisa pergi dari tempatmu?"
Matanya seperti memandangiku tajam.
"Aku ingin kaki."
Suaranya terdengar lebih dekat dan semakin dekat tiap detiknya. Kalimat selanjutnya seolah diucapkan tepat ke telingaku.
"Beri aku kaki."
Aku berteriak sejadi-jadinya, tapi setelah itu semuanya gelap dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
***
***
***
#behindthescene
Salah satu cerpen yang kuikutsertakan dalam antologi cerpen "Ex Animo"-nya RAWS Community.
Selesai ditulis: 7 Februari 2021
Republish di Wattpad: 28 Maret 2024
©mutiateja
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top