Milik Sendiri | Hilal

Hilal tahu bahwasanya sedari awal cinta itu hanya milik dirinya seorang. Cinta yang ia suguhkan melalui uraian prosa faktanya tiada pernah mampu menyentuh bagian terdalam hati gadisnya, Aisya Muthi.

Benar, Hilal tahu sejak awal Aisya tak pernah menyimpan secuil pun rasa untuk dirinya. Sejuta perhatian yang gadis itu curahkan, tak sungguh sebab sama-sama menyimpan rasa.  Apa pun itu alasan Aisya, Hilal sadar bahwa dengan tetap memaksa gadis itu bertahan di sisinya, hanya lantaran keegoisan hatinya.

Karenanya Hilal berdiri di sini, di hadapan Aisya. Selagi menatap sendu bola mata cokelat si gadis, Hilal raih tangan itu dengan lembut. "Untuk terakhir kalinya, boleh gue minta lo peluk gue?"

Kerut dalam bermunculan di kening Aisya. Kata terakhir kali yang Hilal cetuskan membuat perasaan Aisya mendadak dilanda ketidaknyamanan. Namun, tak ingin berpikir banyak, gadis bertubuh mungil itu akhirnya mengangguk, selagi merapatkan diri dengan laki-laki di hadapannya. Lantas melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih.

"Terima kasih untuk pelukan lo yang selalu bisa bikin gue nyaman dan hangat.  Gue harap, pelukan ini bisa gue abadikan bahkan ketika gue benar-benar merindukan lo sendirian. Pelukan ini gue harap bisa gue rasain dan yakinin gue kalau lo pernah benar-benar jadi bagian dalam lembaran kisah gue."

"Hilal ada ap—"

"Kita akhiri saja hubungan ini." Dengan cepat Hilal memutus kalimat Aisya.

"Ta-tapi kenapa? Lo bilang, lo sayang sama gue." Aisya melepas pelukannya, menatap Hilal dengan mata membola tak percaya.

"Iya, hanya gue. Sekarang, gue lepasin lo buat merjuangin siapa pun dia yang ingin lo perjuangin." Hilal daratkan kecup singkat di kening Aisya. "Tapi, kalau lo enggak berhasil dan lo terluka, meski cuma buat pelampiasan, lo cari gue. Gue selalu ada buat lo."

.fin
Republish,
Bandung, 1 Pebruari 2023

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top