#11 - Where the Genres goes Wrong
"DOKJA-SSI!"
"🖕"
.
.
.
.
.
Chapter aneh, tapi baca aja deh, anggap aja mereka lagi ngakting Titanic versi Remake mueheheheh ಥ_ಥ)
Juga, saya tergila-gila sama COVER baru (lebih jelas, lihat di Prolog), kebayang-bayang bunga dipegang Dokja di kasih ke Cale, trus gue tulis gimana adegannya ueueueueueu 😭🤧❤️💐
Dah lah, gas baca ae, sebelum ikut mleyot ngebayanginnya kek saya இ௰இ)
Jangan lupa FOLLOW, VOTE, dan KOMEN ya readers-nim tercintaa 👁👄👁🌹
[Jung Heewon's POV]
Dari seringai kejam Kim Dokja, Jung Heewon tahu bahwa sesuatu yang mengerikan sedang direncanakan oleh pria berwajah polos itu.
Mendekat lebih kesisi Cale yang baik hati, menggemaskan, dan adikable, Heewon memperhatikan setajam silet pada Dokja yang mulai memanggil Jihye. Mendapat pandangan aneh dari sekitar.
Walau ini hanyalah film yang menjadi nyata oleh kekuatan Master Teater, tetap saja menakjubkan. Ia seperti berada di masa lalu, memakai pakaian bangsawan dan menaiki kapal pesiar yang sangat terkenal di zamannya itu.
Tanpa sadar, senyuman terukir di wajah Heewon.
Dunia sekarang memanglah berbeda dari sebelumnya. Tetapi, jika bagian menyenangkan dan menarik seperti ini bisa Heewon masukkan sebagai kenangan baik, apakah ia salah?
"Disini sangat damai, ya, Heewon-noonim." Memalingkan wajah pada Cale, yang menatap lautan dengan ekspresi menerawang. Kembali tenggelam dalam ingatannya karena sekarang Heewon melihat senyuman kecil teduh disana.
Tidak heran jika Kim Dokja begitu terpikat dengan pria muda ini, pikir Heewon penuh sayang.
Hanya dalam waktu yang begitu singkat, wanita berusia 27 tahun itu tahu bahwa Cale adalah orang yang pantas untuk dilindungi. Pria muda itu memiliki hati yang baik, bahkan untuk yang jahat. Membuat ia bertanya-tanya bagaimana bisa Cale dengan hati sebaik itu berakhir di dunia yang keji ini.
"Heewon-noonim?" Kemudian Cale menoleh ke arahnya, angin laut yang berhembus membuat rambut merah terangnya terlihat sangat indah. Membingkai wajah rupawan dengan mata berbinar bagai permata.
Salah satu poin lain dari Cale yang Heewon sukai.
"Ya, Cale-ya. Disini sangat damai dan indah." Pria muda itu tersenyum kecil, seperti senyuman lugu anak kecil yang membuat Heewon menopang dagu untuk menikmati pemandangan itu.
Kim Dokja sangat beruntung jika mendapatkan Cale Henituse.
Jung Heewon mendukung pria itu sepenuhnya.
"Penyusunan rencana, ni nu ni nu ni nu~" Dokja datang tanpa apa ke tengah-tengah mereka. Membuat jengkel Heewon dan Cale yang mengedipkan mata.
"Heewon-eonnie!" Rasa kesal teralihkan saat ia melihat gadis remaja lain memanggilnya. Wanita itu menoleh dan menyeringai lebar melihat penampilan tomboi Jihye.
"Aku sangat suka pakaian ini! Keren sekali!" Jihye menyeringai sama lebarnya sambil memegang topi di kepalanya.
"Cale-Oppa juga terlihat manis di pakaian Jack! Seandainya aku membawa kamera untuk memfoto kita-ugh!"
[Konstelasi 'Demon-like Judge of Fire' mengatakan jangan khawatir! Ia sudah meng-screenshot-nya sebagai kenangan indah!]
Mata Jihye melebar dan segera tersenyum penuh terima kasih.
"Benarkah?! Kau sangat baik! Saat aku punya ponsel, jangan lupa kirim padaku, Konstelasi-nim! Jebal?!" Konstelasi yang bersangkutan membalas setuju sama cerianya.
"Sudah, sudah, semuanya. Dengarkan aku." Heewon dan Jihye mendekat, saat Dokja membawa Cale lebih dekat ke sisinya. Membuat Heewon diam-diam tersenyum geli.
"Jadi, kita akan melakukan sesuai dengan peran tokoh masing-masing. Mari kita buat Master Teater merasa bosan sebentar, sehingga perhatiannya teralihkan pada Jonghyuk atau siapapun yang sedang berada dalam film." Alis Heewon terangkat sebelah.
"Boleh kutanya alasannya?" Tanya wanita yang lebih tua balik.
"Yah, ingat, bahwa sekitar kita menjadi nyata karena kekuatan Master Teater, siapa tahu monster itu tiba-tiba akan mendatangkan monster yang tidak menyusahkan?" Iya juga. Semuanya mengangguk setuju pada perkataan Dokja.
Pria itu kemudian tersenyum manis. Membuat intuisi wanita Heewon mengirimkan sinyal berbahaya ke hatinya.
"Saat aku bergerak berbeda, dari situ rencana menjadi berantakan." Mata Cale menyipit bingung sesaat.
"Maksud hyungnim, kita tidak mengikuti karakter kita lagi?" Dokja mengangguk dan menepuk si rambut merah dengan wajah bangga.
"Kita akan mengacaukan Titanic sesuai dengan keinginan kita." Kini giliran Heewon yang menyipitkan matanya yang dipenuhi rasa curiga.
"Apa tidak apa-apa mengacaukan satu film? Bukankah harus mencapai endingnya?" tanya wanita itu lagi. Sedangkan si empu yang ditanya hanya mengangkat bahu, membuat Heewon dongkol.
"Siapa tahu Master Teater malah menginginkan Ending yang berbeda?"
Dokja, yang merasakan tatapan Heewon tersenyum kecil padanya. Tetapi, sorot mata yang dimilikinya...
"Dokja-ssi... hentikan tatapan menyeramkanmu itu. Atau akan kuadukan pada Cale-ya."
Pria yang di maksud hanya terkekeh, masih dengan senyuman menyebalkannya.
"Oh ya? Kenapa pula aku menatapmu seperti itu, Heewon-ssi? :D"
Centang imajiner muncul di kepala Heewon. Rencana jelek apapun yang dipikirkan Dokja, pasti akan melibatkannya.
[Bersiap-Siap untuk Stage 1]
Semua mengangkat kepala melihat layar biru di langit-langit, disertai nama di atas kepala mereka yang bersinar lebih terang.
"Semuanya pergi ke posisi masing-masing." Mengangguk, Dokja dan Heewon serta Jihye dan Cale mulai berpencar. Masing-masing mengikuti peran mereka sendiri.
.
.
.
.
.
[Third Person's POV]
Stage 1 berjalan lancar, meski Heewon dan Jihye mencoba untuk menahan tawa. Stage itu adalah dimana Jack terpesona oleh Rose yang terlihat seperti akan menangis di balkon kapal. Adegan yang sangat ikonik di film, menyebabkan banyak yang jatuh cinta pada tatapan Jack.
Dan saat Stage berakhir, Heewon segera di lempari sarung tangan oleh Dokja. Membuat wanita dan pria itu saling memberi jari tengah.
Dan Stage-Stage selanjutnya, berlalu dengan sangat baik, walau di akhiri dengan pertengkaran Heewon dan Dokja, kemudian Jihye yang tertawa terbahak-bahak, sedang Cale menonton sambil menyantap pai apelnya.
Setelah itu, tokoh Dokja berubah.
Jihye menahan speechless disisi lain, mencoba menghapus bayangan asli dari Caledon Hocklay yang malah tertarik kepada Jake Dawson.
Filmnya seketika berubah genre!
Karena saat ini pria berambut hitam itu hanya memerdulikan Cale. Dimulai saat di malam acara pesta dansa, alih-alih marah karena Rose dibawa kabur berdansa ke barak orang-orang biasa, Dokja malah membawa Cale ke halaman belakang kapal.
Meninggalkan Heewon yang menahan diri untuk tidak mengatai Dokja, karena terjebak bersama ibu Rose serta kroco-kroco bangsawan lain. Jihye disisi lain bersenang-senang di barak orang-orang biasa, bercengkrama sana sini dengan mudahnya.
"Bisakah aku meminta tanganmu untuk berdansa?" Cale, yang sudah tahu niat awal Dokja terkekeh. Disatu sisi ikut memikirkan bahwa penyimpangan alur Titanic ini lumayan menarik dan menghibur.
Lagi pula, sekitar mereka sekarang ada banyak koin yang diberikan. Si rambut merah tersenyum senang
Akhirnya ikut bercanda seperti Dokja, Cale mengulurkan tangan untuk menerima. Dibawah langit malam yang dihiasi beribu bintang, kedua sosok insan itu saling menari dengan cerianya, saling melepas beban dengan tindakan konyol mereka. Sesudah itu, sang Hanibaram memberi saran untuk berdansa secara formal, yang mendapatkan tatapan bingung si Pembaca.
"Tanganmu harus di sini, kemudian disini..." Cale, yang memang sudah mengetahui etiket berdansa ala bangsawan mengajari Dokja cara berdansa pendamping pria, mengingat pria berambut hitam itu lebih tinggi.
Sang Pembaca, disisi lain menahan degupan jantung yang sangat kencang dan mengangguk.
Tangan kirinya dengan gemetar kecil hinggap di pinggang Cale, sedang yang lainnya menggenggam tangan partner dansanya. Sentuhan si rambut merah di bahunya terasa hangat, serta aura alam yang dipancarkan olehnya membuat Dokja tanpa sadar tersenyum kecil, tenang seketika.
"Ikuti langkahku. Satu, dua, tiga..." Menatap penuh kasih pada Cale yang masih sibuk mencoba mengajarinya, Dokja mengikuti instruksi dengan baik.
"Kemudian kita berputar-heol? Kenapa kau berputar saja, hyungnim?" Pembaca menertawakan situasi mereka. Dimana dengan konyolnya pria yang lebih tinggi menggenggam tangan Cale dan berputar, membuat pemandangan sekitar kabur.
Menyisakan fokus pada Cale yang tertawa kecil di depannya dengan helai kemerahan berhembus bermanja ria bersama angin, membingkai wajah indah itu.
Cale disisi lain merasa seolah-olah beban pikirannya terlepas sejenak.
Keanehan yang mereka alami sangat tidak masuk akal, tetapi mampu membawa senyuman ke wajahnya.
Ia merasa santai sekarang, tidak ada beban kenangan atau pikiran berat yang menghantui benaknya. Sekarang hanyalah ada momen Cale dengan penyelamatnya di dunia ini. Hanya ada langit malam bertaburan bintang. Hanya ada angin sejuk yang ikut menari di sekitar mereka, serta tawa lepas masing-masing dari mereka.
Saat tangan Dokja terangkat ke atas, Cale masih berputar ringan, sebelum terhenti dan berakhir dengan Dokja yang menahan pinggangnya agar tidak terjatuh.
Euforia menyenangkan masih memenuhi mereka, sampai ia melihat wajah Dokja yang masih sama gembira dengan senyuman lepasnya. Tidak menyadari jantung yang mulai berdegup kencang, Cale bergerak untuk mengangkat jemarinya dan membawa helai poni yang menutupi mata Dokja, menyingkir ke samping.
"Nah, lebih bagus sekarang." Mau penampilan atau senyuman yang kau berikan, terlihat lebih tulus.
[Master Teater mengamati situasi yang berubah dengan tatapan tertarik.]
*****
"Heewon-eonnie! Bertahanlah! Pasti mengerikan sekali harus bercengkrama dengan orang-orang seperti itu!"
"Sialan! Aku tidak peduli lagi, aku akan menjadi gadis bangsawan nakal sekarang! Fuck you, Ruth! Dan kau juga, gadis muda! Apa kau mabuk semalam?!"
"Aku sudah dewasa! Usiaku genap 18 tahun sebentar lagi!"
"Bodo amat! Kau masih muda! Jangan minum lagi sampai usiamu 20 tahun lebih!"
Tak jauh dari dua wanita berbeda umur yang bertengkar, Dokja dan Cale berbincang ringan di halaman kapal. Bahkan dengan kerumunan orang-orang yang ramai, tidak mengganggu mereka karena bahasa yang di dengar berbeda.
"Umfff-!" Reaksi kecil Cale saat angin langit berhembus kencang tiba-tiba. Membuat rambut kemerahannya yang semula terikat, terlepas dan berterbangan liar sehingga topi yang dipakainya juga ikut terbang. Cale tanpa sadar segera menggunakan kekuatan anginnya untuk mengambil kembali.
"Cale-!"
"Aku baik-baik saja, hyungnim. Jangan khawatir," tenang Cale, yang iseng memakaikan topi Jack ke atas kepala Dokja.
"Kau ini..." menghela napas, Dokja kemudian tanpa aba-aba menyentuh kedua pinggang Cale, mengangkat pria lain ke atas kursi dekat pinggiran pagar besi kapal.
"Tanganmu." Cale dengan polosnya memberikan tangan kanannya pada pria yang lain, dan merasakan mana hangat mulai mengelilinginya. Tersenyum kecil pada perhatian pria berambut hitam, mata coklat kemerahan berbinar penuh terima kasih.
[Konstelasi 'Demon-like Judge of Fire' merasa ingin pingsan dan menangis oleh keindahan kedua Inkarnasi!]
[500 Koin di sponsori!]
Diam melanda mereka. Tetapi kini dengan bahasa tubuh yang menguarkan kenyamanan.
Cale berjalan menyusuri kursi, dengan satu tangan menggenggam tangan yang lainnya. Dimana Dokja mengawasi di bawah, ikut berjalan jika si rambut merah berjalan.
"Terima kasih, Dokja-hyungnim. Bebanku terasa lepas sesaat," ucap Cale tiba-tiba dengan senyuman kecil pada pembaca. Mambuat Dokja merasakan panas di pipinya sesaat, sebelum mengangguk.
"Senang mendengarnya, Cale-ya."
Panggil aku setiap kau butuh bantuan, Hanibaram. Bisik hati Dokja sambil mendongak untuk mengukir kenangan Cale di dalam memorinya.
Mengukir bagaimana angin liar membuat rambut merah itu berterbangan, kemudian sinar matahari yang menyilaukan dan menciptakan visual angelic sebagai latar belakang Cale, disertai dengan senyuman kecil dan mata berbinar permata memandang lautan luas.
Sedang Cale, disisi lain menatap Kim Dokja yang tersenyum menatapnya. Senyumannya berbeda, seolah-olah ia sedang mengenang sesuatu bersamaan melihat dirinya. Mata coklat kemerahan menelusuri bagaimana rambut hitam lembut diterpa angin, mata berbinar bintang yang cerah oleh sinar, kulitnya yang berpadu dengan wajah tampan khas Korea-nya.
Lama mereka bertatapan, sebelum menyadari satu sama lain dan tersenyum.
[Beberapa Rasi Bintang yang menyukai Kisah Cinta menggigit kuku mereka!]
"Dan terjadi lagi, kita bagaikan dinding tak terlihat di belakang mereka, Jihye-na." Gadis yang lebih muda terkikik geli. Matanya menatap dua pria di depan yang berjalan-jalan santai dengan tangan saling berpegangan.
Mereka terlihat serasi satu sama lain.
[Konstelasi 'Demon-like Judge of Fire' tersenyum manis sambil menopang dagu.]
[Konstelasi 'Demon-like Judge of Fire' merasa sangat bahagia sekarang!]
[Konstelasi 'Queen of the Darkest Spring' memberikan investasi besar pada film yang dihasilkan Inkarnasi 'Kim Dokja'.]
[1.000 Koin di sponsori.]
[Konstelasi 'Prisoner of the Golden Headband' mengeluhkan banyaknya Rasi Bintang wanita yang menjerit di saluran ini.]
[Beberapa Rasi Bintang memberikan tatapan mematikan pada Konstelasi 'Prisoner of the Golden Headband.]
"Bagaimana ini? Master akan kalah jika begini terus." Heewon terkekeh remeh dan mengangkat bahu tidak peduli.
[Konstelasi 'Secretive Plotter' terdiam mengamati situasi.]
[Konstelasi 'Abyssal Black Flame Dragon' terkekeh pada wajah tidak senang Konstelasi 'Secretive Plotter'.]
"Yah, karena Master-mu tidak bergerak? Lihat Dokja-ssi, langsung sat set sat set, apa Master-mu? Datang tak di undang, pergi tanpa sampai jumpa," sarkas Heewon yang mendapatkan protes tak terima Jihye sejenak.
"Itu karena Master sibuk!"
"Sesibuk apa sih sampai keindahan seperti Cale tidak diliriknya-?"
"Rose! Kemana kau pergi?!" Kedua perempuan itu tersentak, terlebih lagi pada Heewon yang mulai berwajah masam.
"Ah, sial, aku harus kabur," gumam wanita berambut hitam itu tidak senang. Mendapatkan tatapan simpati Jihye.
Dan saat ia melihat Dokja dan Cale, pria berambut hitam itu hanya tersenyum padanya dengan memberikan jari tengah. Wah, lihat si bajingan sialan ini-?!
"Rose!"
"Sial! Aku pergi dulu, Jihye-na!"
*****
[Stage Terakhir]
Melihat dan merasakan secara langsung bagaimana kapal itu terbelah sedikit mengguncang benak keempat penghuni dunia lain.
Kekacauan, kepanikan, dorongan sana-sini, teriakan, cemas, semua perasaan negatif berpadu menjadi satu dalam Stage ini.
Kemudian, memudar saat Cale dengan polosnya mengangkat mereka ke udara dengan kekuatannya saat kapal tenggelam sepenuhnya.
"Kenapa kau memakai kekuatanmu, Cale-ya? Hentikan." Mata coklat kemerahan terlihat tidak setuju sesaat.
"Airnya sangat dingin," gumam Cale menatap enggan pada lautan yang gelap dan orang-orang yang berteriak kesana-kemari.
"Kalau begitu, lempar saja Heewon-ssi dan Jihye ke bawah." Kedua perempuan dalam kelompok melotot pada saran polos bin jahannam Dokja.
"Yak!"
"Master Teater membenci Rose DeWitt Bukater," sambung pria itu lagi, menghiraukan protes Heewon dan Jihye. Perlu di ingat, bahwa monster dari Skenario Tersembunyi ini adalah seorang psikopat ekstrim.
"Lalu kenapa aku harus dilempar juga?!" Mata Dokja menatap Jihye sejenak sebelum memberikan seringai kecil.
"Karena kau menjengkelkan."
"Ahjussi! Kau jahat sekali!"
"Oh, karena itu kau mem-bully-ku selama Stage berlangsung?!"amuk Heewon yang coba di tenangkan oleh Cale. Mereka bisa merasakan dengungan senang dari Master Teater, membuktikan bahwa perkataan Dokja benar.
[Master Teater memberikan Quest kepada Inkarnasi 'Kim Dokja']
[Lakukan Scene 0-1245 yang sudah ia rancang!]
Untuk kali ini saja, Dokja akan mengikuti permintaan monster itu, seiring mengirimkan senyuman iblis pada Heewon. Tampak sangat dendam karena sebelumnya wanita itu sudah menggoda dirinya habis-habisan.
"Akan ku turuti keinginanmu~!" Mata semuanya kemudian bersinar, tanda bahwa scene yang diminta merasuki mereka.
Kekuatan Cale segera hilang, membuat mereka semua terjatuh ke bawah. Namun, berbedanya hanya Dokja dan Heewon yang berada di kapal, sedangkan Cale dan Jihye di laut dingin, mengapung di atas perabotan rumah yang hancur.
Dokja mencoba untuk menoleh ke arah Cale, namun, karena ia tengah dipaksa menjadi Caledon Hocklay, pria itu hanya bisa menahan kekesalannya dalam hati. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas perbuatan Master Teater berkali-kali lipat karena sudah berani melempar Cale ke laut dingin begitu saja.
[Stage Terakhir (Revisi) di mulai.]
"Jika kau tidak bisa kumiliki, maka, tidak ada yang boleh memilikimu, Rose." Suara Caledon-Dokja terdengar sangat dingin, ada raut kekecewaan, tersiksa, dan senyuman gemetar disana.
"He-hentikan ini, Hocklay-kau-!" Tangan ditepis, bersamaan raut wajah wanita itu dipenuhi oleh rasa takut.
"Jangan menyentuhku. Kau bukan milik siapa-siapa lagi, Rose DeWitt Bukater." Adegan di perlambat, saat Caledon-Dokja dengan dramatisnya mendorong Rose-Heewon dari kapalnya. Tangan Rose-Heewon terulur, mencoba mencari pegangan dengan wajah terkejut. Dan tanpa ampun wanita itu terjatuh ke lautan dingin nan beku.
"ROSE!" Jack-Cale memanggil panik, dengan raut wajah penuh kekhawatiran dan amarah. Pria itu berenang, mencoba menyelamatkan Rose-Heewon, namun di hentikan oleh Caledon-Dokja yang dengan kejam meraih Jack-Cale, lebih tepatnya di kerahnya.
Membuat pria ia di paksa naik ke kapal kargo.
"Jack!"
-BANG.
Tanpa ampun, Fabrizio-Jihye disingkirkan dan ditembak oleh pria lain. Jack-Cale menatap terkejut pada tindakan itu, dan hatinya terasa berhenti berdegup karena melihat wajah Caledon-Dokja yang sangat menyeramkan sekarang.
"Aku sudah menahan semuanya. Menahan keinginan orang tuaku, menahan senyuman cercaan mereka, menerima tatapan penuh kebencian, yang bahkan datang dari Rose." Caledon-Dokja berbicara penuh kebencian. Ada seringai maniak di wajahnya saat memaksa Jack-Cale melihat wanita yang dicintainya itu mencoba untuk tetap hidup.
"Sekarang giliranku untuk melihat tatapan itu," bisik si villain dengan senyuman dan mata berbinar sakit.
"Matilah dengan tenang, Rose-ku." Caledon-Dokja kemudian melihat Jack-Cale dengan senyuman mata bersorot mati.
"Dan hiduplah, Jack Dawson. Untuk menderita seperti ku."
"Agar Rose tidak tenang, seperti yang dia lakukan pada hatiku."
[Stage telah berakhir!]
[Master Teater bertepuk tangan pada Ending yang sangat luar biasa!]
[Master Teater sangat menyukai ending 'Rose DeWitt Bukater' yang mati!]
[Kompensasi dan Hadiah sedang di perhitungkan!]
Saat pengaruh dari Scene Master Teater menghilang, Dokja segera melepaskan tangannya untuk menge-check Cale yang sudah mengigil parah. Ia membuka investories dan membeli sebuah selimut-handuk tebal dengan segera menyelimuti pria yang lebih muda.
Harusnya Dokja mempertimbangkan apa yang terjadi jika menerimanya! Ia tidak tahu bahwa Cale akan dengan kejam di lempar ke lautan dingin, membuat pria berambut merah itu terlihat lebih pucat. Segera ia menyalurkan mana-nya kepada pria berambut merah itu, mengangkat tangan untuk memperbaiki rambut kemerahannya, dengan lembut menyeka setiap permukaan kulit yang basah, berakhir dengan menyentuh pipinya.
"Cale-ya? Bagaimana sekarang? Lebih hangat? Bagian mana lagi yang sakit-?"
"DOKJA-SSI!"
"🖕"
Hanya itu balasan Dokja saat Heewon memanggilnya penuh amarah dari air. Jihye, yang tadi mati suri sejenak kembali hidup. Gadis itu juga memberikan tatapan silet pada Dokja, sebelum mencoba membantu Heewon agar mendapat pegangan, keluar dari air yang dingin. Setelah itu, barulah keduanya naik ke kapal.
Cale, melihat Jihye dan Heewon yang menggigil, membuka selimut di bahunya untuk diberikan kepada kedua wanita itu.
"Pa-pakailah.. nanti kalian kedinginan...," gumam Cale dengan tangan gemetar. Sontak tindakannya membuat kedua wanita itu terharu.
"Terima kasih, Cale sayang! Betapa baiknya uri donsaeng! Tidak seperti iblis berkedok manusia ini!" Sinis Heewon dengan mata tajam pada si pembaca yang membeli selimut lain. Tidak memerdulikannya.
Puas sekali sepertinya Kim Dokja membalas dendam padanya.
[ Hadiah yang diperoleh :
▶ Artifact 'The Heart of the Ocean'
▶ Meningkatkan semua level sebanyak 7 kali.
▶ Skill yang di pakai akan di buff 10%
▶ Bracelet '...
▶ ...... ]
[Sekarang, kamu bisa pindah ke lantai selanjutnya.]
Itu berarti Yoo Jonghyuk juga sudah selesai dengan film-nya sendiri?
Kemudian Stage berubah menjadi lobi teater yang tidak asing, bersamaan dengan kompensasi masing-masing 5.000 Koin, Artifact, Bracelet dan lain-lain. Dokja menggangguk puas, bahwa menyelesaikan film Titanic ini memiliki harga yang sepadan, padahal kompesasi yang diberikan biasanya tidak banyak, ingat Dokja dari novelnya. Terlebih lagi ia juga bersenang-senang di dalamnya.
"Kalian-?!" Semua mendongak kompak, pada sosok tinggi yang memakai mantel hitam. Rambut hitam bergelombang, alis tebal dengan eskpresi terkejut melihat keempat penghuni lain.
"Master?!" Benar seperti yang dikatakan Dokja, siapa tahu mereka akan berjumpa bersamaan setelah menyelesaikan film.
"Apa yang kau lakukan disini-? Tidak. Dari mana kau tahu tempat ini?" Mata hitam gelap tanpa binar menatap tajam mereka, khususnya pada si 'Prophet' tertentu yang sudah mengganggu pikirannya.
Mengjengkelkannya lagi, Dokja malah menyeringai padanya sambil melambaikan tangan.
Protagonis itu menatap satu persatu wajah pendatang, melihat kebingungan pada pakaian yang basah, tubuh yang menggigil, sebelum mendarat pada si rambut merah yang tenggelam di dalam selimutnya. Wajahnya pucat, bibir agak membiru, bayang-bayang kucing basah akan air dengan mata coklat kemerahan melirik tenang pada Jonghyuk.
Merasa marah, pria itu bergantian menatap Dokja.
"Kenapa kau membawa Cale? Dia lemah." Dan bisa saja mati, juga Jonghyuk yanh tidak ada disana untuk melihat serta mengawasinya.
"Ah, halo, Jonghyuk-hyungnim. Aku memang lemah, tapi baik-baik saja, kok. Jangan salahkan Dokja-hyungnim. Dia sudah berusaha melindungiku," sahut Cale membela Dokja, membuat pria itu memberikan tatapan penuh haru.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Kim Dokja. Kenapa kau ada disini?" Mood di hancurkan dengan cepat. Sang pembaca memberikan tatapan malas pada yang lain.
"Untuk menyelamatkanmu, Master!" Timpal Jihye menjawab penuh semangat. Membuat Jonghyuk mengerutkan keningnya tidak senang.
"Aku tidak perlu diselamatkan-"
"Yah, tidak perlu, tapi kau akan mati," sahut Dokja dengan suara polos, membuat semua mata melihat ke arahnya.
"Dari mana kau tahu dia akan mati, Dokja-ssi?" Tanya Heewon dengan mata menyipit curiga. Dokja tidak menjawab, hanya memberikan senyuman manis kepada wanita yang sudah sangat jengkel itu.
Sedang si protagonis yang dimaksud 'akan mati' melebarkan matanya, melihat ke arah 'Prophet' yang membuang muka. Tindakan yang lain tentu mencurigakan. Tetapi jika sampai mengetahui tempat tersembunyi ini untuk menyelamatkannya...
"Jangan ikuti aku." Dokja menganga kecil pada balasan Jonghyuk. Wah, uri protagonis sangat keras kepala sekali. Mungkin karena naluriah, Dokja, Jihye, bahkan Heewon menatap Cale. Tahu bahwa Cale mungkin bisa membuat pria jangkung itu luluh.
"Tapi, kami kemari untuk menyelamatkanmu, Jonghyuk-hyungnim." Mengambil tanggapan, Cale mencoba berdiri dari duduknya untuk berjalan mendekati pria berambut hitam bergelombang. Saat selimut di satu sisi sorot kebawah, Jonghyuk bergerak tanpa sadar untuk memperbaikinya.
Ketiga lainnya menyaksikan pria itu melembut pada Cale.
"... lalu kenapa kau ikut jika kau sangat lemah seperti ini? Kau bisa mati," gumam pria itu hanya dibalas senyuman Cale.
"Tentu saja karena khawatir?" Pria berambut merah itu kemudian mengangkat tangan untuk menyentuh ujung lengan mantel hitam Jonghyuk. Kepala dimiringkan, membuat rambut merah jatuh membingkai wajah hati itu dan berhiaskan senyuman kecil menenangkan.
"Lagian, Jonghyuk-hyungnim sudah menyelamatkanku dulu. Jadi, tidak ada salahnya aku menyelamatkanmu juga, 'kan?"
[Konstelasi 'Demon-like Judge of Fire' mengalami dilema!]
[Konstelasi 'Demon-like Judge of Fire' merasa kapal yang baru ini sangat menarik untuk di amati.]
[Beberapa Rasi Bintang ikut dilema!]
Heewon dan Jihye tersenyum penuh haru pada kebaikan hati Cale. Hati yang sangat murni dan harus di lindungi demi kewarasan manusia!
Dokja disisi lain hanya tersenyum bisnis. Mencoba menganggap adegan di depannya hanyalah suatu kesepatakan formal 'mari-membujuk-protagonis' dan mencoba tidak memasukkannya ke hati. Bisa-bisa, hatinya penuh dengan bara api nanti.
Merasa sudah cukup, pria berambut hitam lain mengambil tindakan berjalan ke belakang Cale, memperbaiki posisi selimut di bahunya dengan wajah datar ke arah protagonis.
"Cale sudah bersusah payah kemari untuk melihatmu, dan kau menolak kebaikannya?" Skill 'Incite Lv.1' dari bookmark aktif dengan sendirinya.
"Iya nih, Master. Tega sekali kau pada Cale-Oppa!" sahut Jihye dengan wajah sedih.
"Benar. Kau sendiri bilang Cale lemah, bukan? Tapi lihatlah, dia memaksa diri datang untuk menyelamatkanmu!"
Cale, yang sedari tadi berpikiran berbeda, kini merana. Ia tidak sampai memaksa diri seperti itu ya, Heewon-noonim. Sangat baik sekali budinya jika seperti itu, bukan Cale namanya kalau semalaikat itu.
Ia memang datang menyelamatkan Jonghyuk, untuk membalas budi juga. Kemudian, habislah dia jika pria kuat seperti Jonghyuk mokad. Setidaknya Dokja tidak akan terbebani dan bisa di bantu oleh pria itu.
Harapan Cale baik kok, ehe :)
Jonghyuk, yang diserang oleh trio dibelakang Cale merasa sedikit kewalahan. Apalagi si rambut merah yang masih memegang ujung lengannya, dengan mata memohon. Sekilas deja vu saat ia ditahan untuk makan bersama.
"... huft, baiklah." Cale tersenyum lega dan mengangguk. Akhirnya, bertambah lagi kekuatan kelompok mereka. Mengingat tidak ada yang tahu bagaimana keadaan kedepannya. Melepaskan pegangan dari lengan pakaian Jonghyuk, tangan pria itu mendadak menggenggam miliknya.
Jihye menahan histeris sambil menutup mulutnya. Heewon bersiul ringan melirik Dokja yang mematung.
[Konstelasi 'Demon-like Judge of Fire' bimbang sekali! Adegan menggemaskan ini menggoyahkan imannya!]
[Konstelasi 'Queen of the Darkest Spring' menatap Inkarnasi 'Kim Dokja' dengan senyuman menyemangati.]
"Kau harus berada di dekatku, jangan jauh-jauh," titah Jonghyuk, samar-samar bisa dilihat telinganya memerah. Membuat Dokja menganga tidak etis secara mental.
[Konstelasi 'Secretive Plotter' menyilangkan kedua tangannya setuju.]
"Begitu juga denganku. Jangan gunakan kekuatanmu saat berada di dekatku, Cale-ya." Terpanggil dan tidak mau kalah, Dokja ikut menggenggam tangan yang lain. Membuat dua penonton semakin heboh. Apalagi rasi bintang yang sudah histeris di saluran Bihyung.
Cale, menatap bolak-balik di dua tangan yang menahannya. Kemudian melirik ekspresi Jonghyuk juga ekspresi Dokja. Keduanya tampak tidak senang saat tatapan mereka saling bertubrukan.
"Aku kuat. Cale aman bersamaku." Jonghyuk memperkuat cengkramannya dan menarik Cale lebih mendekat.
"Kau memang kuat, tapi kau bajingan. Cale bisa terluka jika bersamamu," timpal Dokja lagi, bertindak sama seperti Jonghyuk. Membuat Cale yang malang terseret di antara dua pria berambut hitam itu.
Bisa mati aku kalau kedua tanganku putus. Batin Cale kembali merana.
Ia harus mengambil tindakan.
"Sudah, sudah, hyungnimdeul. Begini saja deh." Pria terpendek itu menarik keduanya mendekat. Jonghyuk di sisi kanan dan Dokja di kirinya. Ia melepaskan kedua tangan pria itu, kemudian mengaitkan kembali dengan tangan mereka.
Sekali lagi menarik mereka mendekat sehingga bahu Dokja dan Jonghyuk, menyentuh masing-masing miliknya.
"Mari kita saling melindungi satu sama lain." Cale melirik kedua pria itu bergantian, kini tersenyum kecil seiring aroma alam tercium menenangkan.
"Bukankah dengan begitu bertahan hidup lebih mudah?"
[Konstelasi 'Demon-like Judge of Fire' sangat menyukai dinamika ketiga Inkarnasi!]
[Konstelasi 'Demon-like Judge of Fire' menangis bercucuran air mata!]
[600 Koin di sponsori!]
[Konstelasi 'Secretive Plotter' mengangguk setuju pada kedamaian di antara ketiga Inkarnasi.]
[Konstelasi 'Prisoner of the Golden Headband' mengatakan trio Inkarnasi bersama-sama menjadi yang terkuat!]
Ya, benar sekali. Kalian berdua sangat kuat. Kombo yang bagus untuk membantai musuh. Adalah hal yang tidak terucap oleh Cale untuk keduanya. Tetapi, tampaknya pesan tersirat Cale tersampaikan dengan baik. Menilai dari senyuman lebar Dokja dan kecil dari Jonghyuk sendiri.
"Benar apa kata Cale-ya."
"Baiklah."
Keduanya memberi tanggapan berbeda. Dokja yang setuju dengan ramah, sedangkan Jonghyuk dengan tatapan melembut.
Cale-ya memang pemersatu bangsa. Batin Heewon merasa sangat bangga selayaknya seorang ibu.
Cale-Oppa sangat keren bisa membuat keduanya patuh. Batin Jihye kagum dengan rasa hormat yang meningkat berkali-kali lipat pada si rambut merah.
.
.
.
.
.
[Cale Henituse's POV]
Mereka kemudian menyelesaikan film selanjutnya bersama-sama.
Film yang disajikan pun beragam. Setelah poster ketiga dan keempat, genre menjadi sci-fi, luar angkasa dengan teknologi yang hebat. Musuh adalah para robot AI yang berevolusi dan mengancam kehidupan manusia.
"Aku mengalahkan lebih banyak!" Penyelamat pertamanya, Kim Dokja, mengeluarkan pedangnya. Menyalurkan kekuatan yang membuat bilah pedang menjadi putih, dan menebak para robot dalam sekali tebas.
"Hmph. Lemah." Penyelamat keempatnya, Yoo Jonghyuk, disisi lain mengambil tindakan sama, tebasannya menjangkau lebih jauh dengan langkah kaki cepat.
"Dasar monster," gumam Heewon speechless saat mengalahkan robot di dekatnya.
"Ahjussi sangat kuat rupanya," bisik Jihye tidak percaya.
Cale mengangguk setuju. Monster memang, padahal mereka juga memakai suit para penjaga bumi yang berat. Mengingat pertempuran terjadi di bulan.
Kemudian, ibarat last boss dungeon, muncul villain utamanya. Seorang manusia, ilmuwan jenius yang terlupakan dan dikhianati oleh bangsanya sendiri. Belum pun pria itu berbicara dialognya sampai selesai, sudah duluan di tebal oleh Dokja, sedang Jonghyuk sendiri menghancurkan robotnya.
Dua pria itu berdiri membelakangi mereka saat layar biru muncul dengan kepuasan Master Teater pada Ending-nya.
"Cale-ya!"
"Cale."
Yang dipanggil mundur sejenak. Merasa takut tiba-tiba karena dua pria itu kuat sekali. Takut-takut berbuat salah, ia akan ditebas juga seperti para robot itu tanpa ampun. Rasanya seperti berhadapan dengan Choi Han dan Ron sekaligus.
Aku mau pulang...
*****
Kombo terbaik memang.
Semua film berjalan dengan Ending yang memuaskan walau berakhir semua musuh ditebas kejam.
Meski Cale berulang kali hampir terkena serangan jantung akibat tindakan Jonghyuk dan Dokja, syukurlah masih ada Heewon dan Jihye yang membuatnya waras. Bahwa masih normal sepertinya-
"Buahahahah! Mati! Tebas!" Jihye menyerang banyak serangga semi monster dengan senyuman maniak. Mereka saat ini berada di dunia dimana bom nuklir menyebabkan para serangga bermutasi menjadi monster. Pria berambut merah hampir kehilangan jiwanya melihat semua monster itu, terlebih pada lendir yang sempat membasahi tangannya.
"Berani kau menyerang Cale-ya?! Mati!" Heewon, yang melihat itu, tidak ambil pusing, langsung menghabisi monster yang bersangkutan.
... sepertinya hanya dia yang normal?
Layar biru memenuhi langit-langit. Tidak seindah dengan wajah pucat Cale dan si protagonis film yang bersembunyi dibalik batu saat melihat mereka.
Entah kenapa Cale merasa harus membungkuk meminta maaf karena sudah mengganggu tekad si protagonis film untuk berjelajah.
Semoga kau tidak trauma. Lihat, ada aku yang sampai sekarang masih selamat sentosa. Aman-amanlah, sobat.
Cale menyatukan kedua tangannya untuk pria yang bersembunyi itu. Aamiin.
Tindakan Cale yang mendoakan protagonis film tak ayal menarak perhatian yang lain. Ditambah dengan cahaya matahari, aura agung, serta bau alam kuat darinya, seolah-olah seorang Saint tengah mendoakan mereka.
Aah... Cale sedang mendo'akan agar mereka baik-baik saja. Meningkatkan semangat keempat penyerang lain seketika untuk menyelesaikan film.
*****
Mereka kemudian tiba di poster terakhir.
Cale bisa melihat pria berambut hitam lurus menyeringai gugup entah kenapa. Mata coklat kemerahan juga melihat ke poster, pada gambaran dinosaurus beberapa orang dengan tulisan emas menonjol di tengah-tengah.
Samar-samar, ia ingat film apa ini, yang seri pertama keluar sebelum kiamat melanda dunia Kim Rok Soo.
"Jurrasic Park? Oh well, itu akan susah." Jihye akan selalu menjadi yang pertama berpendapat, mengingat gadis itu masih remaja dan memiliki banyak waktu luang untuk menonton film.
"Dinosaurus ya?" Heewon mulai tersenyum sendiri.
"Tetap dekat denganku." Jonghyuk mengangkat suara dengan tatapan tertuju pada Cale.
"Jangan menggunakan kekuatanmu, Cale-ya," timpal Dokja lagi, ditambah dengan usapan di kepalanya.
[Konstelasi 'Demon-like Judge of Fire' meleleh pada interaksi ketiga Inkarnasi!]
[Konstelasi 'Queen of the Darkest Spring' tersenyum penuh makna.]
".... arasso. Aku akan tetap di belakang kalian, seperti biasa." Senyum Cale manis dan mengangguk. Ia yang lemah, akan mundur alon-alon.
Jawaban Cale membuat semua puas.
[Kamu telah terkena Cahaya Proyektor!]
Sekeliling mereka berubah menjadi hutan lebat. Semua mendekatkan diri satu sama lain, Cale juga di seret untuk berada dibelakang Dokja.
Samar-samar, suara raungan terdengar, dengan dengungan helikopter di langit-langit.
"Semuanya, waspada," peringah Jonghyuk sambil mengeluarkan pedangnya. Mata menatap was-was sekitar.
Dan benar saja, tidak berselang dari 5 menit mereka tidak, ada banyak dinosaurus berlari. Mereka siap siaga, tetapi kebingungan sedetik kemudian saat malah berdiri diam di belakang kelompok.
Cale menatap satu persatu jenis dinosaurus, mengidentifikasi bahwa semuanya berjenis herbivora. Pasti berlari dari predator, yang tak lama lagi muncul
[Tyrannosaurus Rex, Kelas 7 menghadap kamu!]
Dari hutan, keluar dinosaurus yang dimaksud. Semua mendongak kompak, melihat sepasang mata kuning bercelah yang memindai mereka. Ditambah lagi dengan kerumunan herbivora yang mencari perlindungan dari mereka.
[Tyrannosaurus Rex merasa waspada kepadamu!] Layar muncul di depan Cale. Membuat semua otomatis melihat ke si rambut merah yang membeku.
Eh? Takut kepadanya?
[Stigma 'Domination Aura Lv. ???' teraktifkan dengan sendirinya.]
Bersamaan dengan aura Naga yang keluar, bau alam yang kuat juga ikut tercium. Yang mendominasi adalah bau api yang kuat, meletus bagai lava gunung berapi dan meteor berbalut panas yang menyerang bumi. Sepertinya, predator itu merasakan ketakutan nenek moyangnya?
[Tyrannosaurus Rex tunduk pada keinginanmu.]
Layar kembali muncul didepan Cale, membuat pria berambut merah menatap kosong pada hologram biru itu.
"Oh wow, Oppa! Kau putri para dinosaurus!" Kikik Jihye sambil berdecak kagum.
Bahkan sampai predator primitif ikut terpengaruh dengan aura Cale? Padahal pria yang dimaksud hanya berdiri anteng, tetapi sudah berefek sebesar itu! Dokja kembali takjub dengan kekuatan Hanibaram itu.
Jonghyuk di satu sisi keheranan, menatap bolak-balik pada Cale dan kumpulan dinosaurus di sekitar mereka. Tidak perlu kekuatan, hanya dengan tatapan dan semua tunduk pada si rambut merah yang lemah.
Heewon speechless. Padahal ia sudah berulang kali mencoba membiasakan diri dengan keanehan dunia ini, tetapi tetap saja terkejut.
"Kau..." semua memalingkan mata, melihat Cale mulai maju kedepan. Bahkan kedua pria lain tidak menghentikannya.
"... mundur kebelakang. Serang saja para monster yang... jahat?" Mata kuning bercelah berkedip, menatap lamat pada Cale, sebelum mundur dan berjalan menjauh masuk hutan.
"Kau keren sekali, Cale-Oppa!" Bak fans tengah menyemangati idol, gadis itu berteriak heboh.
Semua sontak menyarungkan kembali masing-masing senjata. Keempat lainnya menyaksikan saat dinosaurus jenis kecil, sedang, bahkan yang besar mulai mengerayangi Cale. Membuat si rambut merah kewalahan bukan main.
[Stigma 'The Guardian of the Creatures' aktif dengan sendirinya.]
Stigma mengirimkan rasa aman, disertai bau alam yang memikat, semua merasa makhluk berambut merah itu adalah 'rumah' dan 'keamanan'.
"Princess Cale dan para tentara dinosaurusnya." Mata coklat kemerahan permata melirik malu juga kesal pada Heewon yang tersenyum geli.
"Apa mereka bisa kusentuh, Cale-ya?" Dokja tanpa takut mulai berjalan mendekat, mendapatkan anggukan dari Cale.
"Sepertinya yang itu jinak-ugh-!" Pertama Cale yang merasakannya, seolah seseorang mencoba menerobos pikirannya. Kemudian dari ujung mata, ia melihat Dokja, Heewon, Jihye dan Jonghyuk, merasakan sakit yang sama.
"Semuanya! Li-lindungi pi-pikiran ka-kalia-ugh!" Dokja mencoba berbicara sambil menahan sakit. Sebelum dinetralisir oleh skill 'Fourth Wall', mendapatkan dengungan terkejut si penyerang. Mata Dokja mulai menajam saat layar biru dengan glitch muncul di langit-langit mereka.
"Yoo Jonghyuk?" Cale, yang pulih dari sakit kepalanya, berkat perlindungan dari skill-nya, melirik pria lainnya yang menunduk. Poni hitam membayangi sepasang manik gelap yang bersinar kini menakutkan. Ada pendar gelap juga di sekitar tubuhnya dan pedang yang sudah dikeluarkan mengeluarkan aura menakutkan.
Seolah-olah pria itu tiba-tiba di rasuki.
[Master Teater menyeringai maniak.]
Dalam sekali gerakan, Yoo Jonghyuk menghilang dari hadapan mereka begitu saja.
Bonus Pict :
Neri dapet gift dari salah satu temen kita @khusnabcdefgh
Gift-nya fanart Dokja x Cale dari salah satu scene terakhir di Chapter #8 - Thank You
Iiiiihh makasih banget, Neri suka banget ma fanart-nyaa 〒▽〒)💖
Gilaaa, tatapan-nya Cale-nim lembut banget ke uri Dokjaaaaaa aaahhhhh (;'༎ຶД༎ຶ') 🤍
Dan tatapan Dokja-ya juga dalem banget natep pujaan hatinya ueueueu ಥ_ಥ) 🤍❤
DON'T TOUCH ME IM SO SOFT RN 😭
Makasih banyak untuk Gift-nya, dearest friend !
~ BERSAMBUNG ~
Akhirnya siap ni chapter :"v
Semoga kalian semua suka ya chingudeulll (ノ◕ヮ◕)ノ*:・゚✧
Untuk filmnya enggak dijabarkan lagi, ehehehe
Film-nya yg AI itu karangan sedangkan yang kedua judulnya Love and Monster wkwkwk
Juga chapter depan, Jonghyuk bakal kerasukan awokowkowk
Dan akan lebih fokus lagi ke alur ORV‐nya
Dan kalau ada yang kurang dari keseluruhan ceritanya, bisa kalian utarakan pendapat kalian yaa ~(>_<。)
Keep stay tune untuk chapter kedepan q(≧▽≦q)
Makasih banyak buat semuanya yang masih baca FF ini! Kalian yang terbaik pokoknya
Love love buat semuanya ('▽'ʃ♡ƪ)
Jangan lupa berkunjung ke book sebelah bagi yang belum bacaa, stay tune karena malam minggu maybe akan di update ff Altalune ~🤍
Thank youuu~
Dan tau ngga? Neri tiba² keinget satu ff MDZS, dimana Male!OC masuk ke novel itu. Menariknya, Weiying sama Lanzhan rebutan Male!OC itu 😭🤌
Seketika Weiying jadi seme di mata gue 😭😂
Langsung keingat sama ff ini, karena hampir sama juga dinamikanya wkwkwk
Dan sekian~
Salam Hangat,
Neri 💜
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top