16 | Ini
Agi
Jumat, 30 Maret 2018
Adalah sebuah kepercayaan mendarah daging, bahwa saat sedang berjaga IGD--Instalasi Gawat Darurat, jangan mengomentari suasana kelengangan IGD.
Pokoknya jangan.
Berjam-jam yang lalu saat aku dan Dewa--rekanku, memulai shift jaga malam sepuluh jam di IGD, suasana IGD sepi, kosong melompong, adem ayem, tidak ada kasus yang berarti bahkan bisa dibilang nyaris tidak ada kasus sama sekali. IGD begitu sunyi.
Dewa tak lain dan tak bukan adalah teman karibku sejak SMA. Kami menempuh pendidikan kedokteran bersama, dan kini ia adalah dokter residen--dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis, tepatnya spesialis obstetri dan ginekologi alias spesialis kandungan.
Dewa tidak pernah lepas dari imej nyentriknya. Lihat saja lanyard motif kura-kura ninja serta gantungan boneka kura-kura di atas name tag itu. Sedari tadi, kerongkongannya heboh meneguk bergelas-gelas kopi instan. Mulutnya berisik mengunyah berbungkus-bungkus keripik kentang. Jemarinya lincah membolak-balikkan kertas jurnal, meninggalkan bekas bumbu keripik di ujung halaman.
Aku berusaha tak acuh terhadap kejorokannya itu, sibuk fokus pada layar ponselku. Namun kemudian lambungku berbunyi nyaring. Kuputuskan untuk menyimpan ponselku di laci meja. Lantas, telapak tanganku meraih satu cup mi instan, merobek plastiknya. Bergegas aku menuju dispenser, mengucurkan air panas untuk memasak mi instan yang akan menjadi pengganjal perut malam ini.
"Sepi ya, IGD malam ini," racau Dewa tak jelas, disela kunyahan keripiknya.
Mataku membulat. Terlanjur terucap sebuah kalimat keramat. Aku yakin, kutukan akan datang secara cepat!
Secara agresif, kuaduk mi instan yang masih mengeluarkan asap tebal. Benar saja, belum genap dua suapan, terdengar suara brankar didorong cepat ke dalam ruang IGD. Aku otomatis meloncat dari posisi duduk, sementara Dewa tertawa-tawa jahat, menyadari efek ucapannya barusan. Aku menatap Dewa penuh dendam.
***
Lima jam sesudahnya, pasien datang tiada henti. Mataku sampai juling melakukan triase--prosedur standar di Instalasi Gawat Darurat. Prosedur ini melibatkan seorang dokter jaga untuk menilai skala kegawat daruratan pasien.
Dokter akan mengecek tanda vital pasien--tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, dan pernapasan, juga menggolongkan level cedera yang dialami pasien. Setelah itu, dokter akan menggolongkan pasien berdasarkan warna.
Warna hijau untuk kategori paling ringan--pasien dengan kesadaran baik dan tingkat keparahan penyakitnya masuk dalam level prioritas tiga, warna kuning untuk kategori sedang--pasien mengalami kondisi parah namun penanganan masih memungkinkan untuk ditunda, warna merah untuk kategori paling berat--pasien mengalami kondisi kritis mengancam nyawa, dan harus segera dilakukan tindakan.
Jadi, jangan protes kalau suatu saat kamu merasa sudah sampai IGD duluan, tapi tidak didahulukan. Di sini, yang dikedepankan adalah kegawat daruratan, bukan siapa yang sampai awal, siapa yang sampai belakangan.
***
Suasana IGD yang lengang jadi ricuh seketika.
Aku rasa semua dokter sepakat, bahwa jaga malam di IGD dan kebanjiran pasien cito--pasien darurat, adalah mimpi buruk. Mengapa? Karena di luar jam kerja, availability para dokter spesialis tidak bisa dipastikan. Sementara pasien cito semua berpacu dengan golden hours--alias jangka waktu emas untuk menjamin keselamatan, mencegah kecacatan, dan menghindari kematian.
Ambiens ruangan berubah kalang kabut dalam waktu sekejap.
Ada sekelompok pemuda yang terluka karena tawuran. Sebenarnya yang terluka hanya sebagian, tapi yang mengantar itu segerombolan. Ada pula anak kecil yang lalai dari pengawasan, tersiram air panas sampai luka melepuh di sebagian badan. Jerit tangisnya memenuhi ruangan. Jangan lupakan ibu hamil yang terlanjur pecah ketuban. Kasus-kasus lainnya mendadak berdatangan seperti air yang baru dibebaskan dari mulut keran.
Meskipun tidak ada bukti ilmiah bahwa bilang IGD sepi adalah kutukan pemanggil kegaduhan, aku tetap sarankan jangan. Jangan sesekali sebut kata-kata keramat itu!
***
Kucengkeram ujung snelli--jas dokter warna putih--dengan cemas. Perutku mulai mulas, badanku mulai lemas. Aku nyaris belum mengisi perutku dengan makanan apapun kecuali secuil mi instan yang tadi. Kurasakan keringat dingin mulai terbit di kening dan pelipis. Rasanya malam panjang sekali. Namun shift-ku masih tersisa beberapa jam sampai shift berakhir pada pukul tujuh pagi.
Kutarik napas penuh-penuh saat satu-satunya bed pasien yang tersisa malam itu, baru saja kedatangan pasien baru.
Aku selalu ingat pesan konsulen--dosen pembimbing--semasa aku koas dulu; kamu harus anggap pasien yang berobat sebagai keluargamu sendiri dan pastikan mereka pun menganggapmu sebagai keluarga.
Maksudnya, saat seorang dokter menganggap pasien sebagai keluarga, ia akan berjuang maksimal dengan ikhlas. Kemudian saat pasien menganggap dokter sebagai keluarga, itu artinya pasien nyaman dan percaya--dengan ini, diharapkan dapat terjalin kerja sama penyembuhan yang optimal.
Aku membuka tirai biru yang menyekat-nyekat bangsal di IGD, menemui pasienku yang terbaring, seorang ibu hamil--dari besar perutnya, kutebak sudah memasuki setidaknya pertengahan trimester ketiga--tangannya digenggam kuat tangan suaminya.
"Selamat malam, saya Dokter Agi. Ada keluhan apa dengan istrinya, Pak?" Aku tersenyum simpul.
Ingat pesan konsulen; dokter yang tersenyum akan merangsang situasi menenangkan.
"Istri saya jatuh di kamar mandi, Dok," jawab sang suami dengan panik.
Aku mengangguk mafhum. Ibu hamil memang mengalami banyak perubahan baik fisiologis maupun anatomis. Misalnya saja, karena terjadinya pembesaran uterus atau pembesaran rahim, ibu hamil terutama yang sudah memasuki trimester akhir rentan mengalami hiperlordosis lumbalis--keadaan saat tulang punggung bagian bawah melengkung ke dalam secara berlebih. Kondisi ini meningkatkan risiko mudah terjatuh pada ibu hamil.
Aku sedikit menaikkan bagian atas bed, guna mengurangi tekanan uterus terhadap rongga dada, supaya pasien dapat bernapas lebih lega.
Tanganku cekatan mendeteksi denyut nadi dari arteri radialis, pada pergelangan tangan sisi ibu jari. Selesai melakukannya, aku mengobservasi level kesadaran pasien menggunakan panduan Glasgow Coma Scale.
Glasgow Coma Scale menilai derajat kesadaran pasien dengan Eye (gerakan mata), Verbal (respon lisan), juga Motor (gerakan tubuh). Nantinya, dokter akan menilai respon pasien dengan angka satu sampai enam, sesuai kriteria standar yang telah ditetapkan.
Pasien di hadapanku ini cenderung menutup matanya, bahkan tidak membuka mata meski aku memerintahkan. Aku harus menekan kuku kakinya dengan agak kencang terlebih dahulu sampai akhirnya ia membuka mata. Eye, skor dua.
Kemudian, ibu ini merespon dengan rintih lemah. Sedikit-sedikit dapat berkomunikasi walau tidak berbentuk kalimat utuh. Maka skor verbal, ialah tiga.
Terakhir, aku sedikit mencubit lengan atasnya, dan ibu ini memberi gestur menjauhi rangsangan sakit atau yang lumrah disebut withdraw. Kusimpulkan skor motor adalah empat.
Dua eye, tiga verbal, empat motor. Total skor sembilan, somnolen. Kategori somnolen atau letargi berarti terjadi perlambatan pada respon psikomotorik, kesadaran tergantung pada rangsangan, tetapi pasien masih bisa memberi respon yang diharapkan.
Suara tirai bangsal yang dikerek mengalihkan fokus kami. Sesosok tinggi, rambutnya dipotong dengan poni miring--konon untuk menyembunyikan jidat jenong, mengenakan masker medis--menutupi mulutnya yang aku yakin sedang menyeringai. Tangannya ditepukkan pada bahuku dua kali.
"Pasien ini, biar gue aja," bisiknya.
Aku mengangguk menyetujui. Pasien kebidanan ini memang ranahnya Dewa, bukan?
"Selamat makan, Dokter Agi." Sempat-sempatnya ia memberi gestur hormat sebelum beraksi. Aku menggeleng sebelum dengan sopan pamit permisi.
***
Mie lo yang kemaren udah gue buang karena udah benyek mengenaskan. Gue gantiin sama ayam goreng ya. Rejeki dokter ganteng.
Sincerely,
Dokter (yang jauh lebih) Ganteng
Bibirku memulas senyum cerah memandang kotak makanan dan serobek kertas berhias tulis tangan Dewa yang disembunyikan di pojok meja. Aku membuka kemasan makanan cepat saji kesayanganku itu. Aroma ayam goreng ini menggelitik indera penciumanku sekalipun sudah mendingin--kulit keritingnya sudah melempem oleh uap air.
Aku mengendap-endap menuju kamar jaga, memilih untuk menyantap makananku di sana.
***
Astaga, aku ketiduran.
Saking mengantuknya, aku tidak sadar aku telah terbuai lelap entah berapa lama, ponsel yang bergetar konstan di dalam saku snelli memaksaku terjaga. Dengan mata berat, kusaksikan ponselku ramai notifikasi dari Ody.
Gi, lagi di mana? Sibuk ga?
Angkat telepon Gi, aku mau ngomong. Penting.
Woyyy angkat kek. Udah telepon 5x gak diangkat juga.
Angkat giiiii astaga
Di apart apa di rumah sakit?
Ok kalau kamu gak jawab, kemungkinan besar lagi di RS.
Masak pagi-pagi udah di RS?
Oh iya hari jumat kamu jaga malam, ding. Sori gangguuuu
Gi, bukannya shift selesai jam 7? Ini udah jam 7 lewat....
Ok gi kamu gak jawab-jawab, aku otw rumah sakit
Gi lima menit lg aku sampe
Giiii woy angkat telp
Gi aku di parkiran. Jangan bilang kamu udah pulang!
Gi tuh kan bener masih ada mobilmu di parkiran dokter. Lagi ngapain sih kamu? Udah mau jam sembilan lho ini.
Bodo amat aku kempesin ban mobilmu.
Gi astaga, udah jam sembilan lewat. Bangun woy bujang malas
Giiiii bangun km dasar kerbau!
Gi kamu di mana sih? Beneran tidur ya? Ga lucu kan kalau aku tiba-tiba nanya ke suster di mana kamar jaga -_-
Gi bodo amat lah angkat woy
Gi aku di cafe
Gi aku nunggu di cafe RS, cepet ke sini
Gi aku di pojokan pake kacamata item segede gajah. buruan.
Gi aku masih nungguin loh ya
Hah? Sudah pukul berapa ini?
Aku mengucek mata.
Apa? Yang benar saja! Sudah nyaris pukul sepuluh pagi! Demi Tuhan, mengapa tidak ada yang membangunkanku?
Ponselku bergetar lagi. Kali ini getarannya lebih panjang, tanda panggilan masuk.
"AGIIIIIIIIIIII!!!!!!!!!!!!"
Aku kontan menjauhkan ponselku dari telinga. Rhapsody mengamuk di seberang sana.
***
Tergesa-gesa, aku menuju kafe yang dimaksud.
Kafe yang dimaksud terletak di lobi. Aku harus keluar dari IGD, bertemu bagian informasi, kemudian berjalan melewati lift, lalu terus menyusuri kursi-kursi tunggu sampai aku tiba di bagian belakang rumah sakit yang menjadi tempat singgah pasien dan pendamping pasien.
Kafe, minimarket, dan ATM. Bagian belakang rumah sakit ini bak dunia yang terpisah dari rumah sakit sesungguhnya. Alih-alih menguarkan aroma obat-obatan khas rumah sakit, bagian ini justru memiliki percampuran aroma roti yang baru matang dipanggang, aroma uap panas dari kuah soto, serta berbagai masakan yang hangat-hangat disajikan di atas piring.
Di antara lalu lalang pengunjung kafe, Rhapsody secara instan menarik atensiku. Tepat di sudut, seorang perempuan dengan baju motif leopard yang selalu kupikir norak--tetapi kali ini malah terlihat luar biasa. Siapa lagi yang cocok memakai baju model apa saja selain Rhapsody? Sesuai deskripsinya, ia juga mengenakan kacamata hitam lensa raksasa. Sekalipun ia bersembunyi di sudut, ia tidak bisa menghindari tatapan mata manusia yang tertarik dengan gaya fesyen yang totalitas itu.
Aku tebak Rhapsody akan memesan tiga mangkuk soto seperti biasa, tetapi ternyata tidak. Eh, atau dia sudah pesan soto, tapi sudah habis sedari tadi--berhubung ia sudah menunggu berjam-jam di sini. Di hadapannya, hanya ada sepotong brioche kesukaanku yang selalu Ody belikan setiap ia mengunjungiku. Roti berwarna sedikit kekuningan karena kandungan lemak hewani yang tinggi ini dibeli Ody dari kafe rumah sakit yang aku tempati. Makanan ekstra kalori kesayanganku yang sebetulnya bisa aku beli sendiri, tapi entahlah ada kenikmatan sendiri saat Ody yang membelikannya. Tanpa basa-basi, aku mencomotnya. Namun Ody menabok tanganku dengan cepat.
"Jangan geer ya, itu bukan buat kamu," ketusnya. Ia bersedekap angkuh, tangan kiri menopang tangan kanan.
Aku kecewa. Aku lupa Ody bukan kekasihku lagi. Tak apalah, aku bisa membeli brioche sendiri setelah ini.
Tanpa aku bertanya maksud kehadirannya, Ody langsung membidikku dengan pertanyaan, "Kamu belum bilang ke mamamu kalau kita sudah putus?"
---
Halo, terima kasih sudah baca In Between In Between! Jangan lupa tinggalkan vote dan komen, plus rekomendasikan cerita ini ke temen-temenmu, karena Agi, Hugo, dan Ody akan sangat senang jika bertemu lebih banyak pembaca!
Oh iya berhubung chapter ini cukup memuat unsur medis dan background-ku bukan dari tenaga medis, dengan segala kerendahan hati--jika ada teman-teman yang memiliki knowledge mengenai medis dan merasa di bagian ini ada yang kurang akurat--silakan ketuk DM-ku untuk mengoreksi.
Terima kasih! :)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top