Sleeping Like a Baby

"Apa kau masih tidur?"

Jamie menerobos masuk ke dalam kamar Jared dan menegur si pemilik ruangan itu seperti yang sudah-sudah. Setiap pagi Jamie selalu melontarkan pertanyaan yang sama dan hari ini adalah hari ke-tiga semenjak peristiwa penembakan itu terjadi. Namun, pertanyaan itu tak pernah berbalas. Jared masih belum membuka kedua matanya hingga detik ini.

Jamie mematung di dekat tempat tidur dan menatap iba ke arah seraut wajah tampan milik Jared. Ia masih sepucat hari itu. Namun, berita bagusnya luka tembak di dada Jared telah tertutup total. Deru napasnya teratur meski lemah. Kondisinya telah pulih dan semestinya Jared terbangun dari tidur lelapnya. Minimal seharusnya Jared telah membuka mata, tapi entahlah. Jared belum juga membuka mata sampai hari ini meskipun kondisinya berangsur membaik.

"Apa aku harus memberitahu ayah tentang keadaanmu?" Jamie beralih ke tepi tempat tidur. Ia sengaja memancing reaksi Jared dengan menyebut nama ayah mereka. Hubungan antara Jared dan William memang kurang harmonis 30 tahun terakhir. Dan Jamie hanya berharap begitu Jared mendengar bahwa ia akan memberitahu ayah mereka, Jared akan bereaksi. Mungkin ia bisa menggerakkan jari jemarinya barang sedikit.

"Aku yakin ayah akan memutuskan untuk segera kembali kalau aku menceritakan kondisimu padanya. Apa kau ingin itu benar-benar terjadi, hah?"

Jamie menaikkan volume suaranya. Siapa tahu begitu mendengar suaranya Jared akan marah dan membuka kedua matanya. Jamie siap mental untuk mendebat adiknya. Tapi apa yang terjadi tidak seperti harapannya. Jared masih bergeming. Tidurnya terlalu pulas untuk bisa terusik oleh suara Jamie. Ia seperti bayi yang tertidur setelah perutnya kekenyangan. Tak ada tanda pergerakan apapun.

"Ayolah, Jared. Sampai kapan kau akan tidur seperti itu, hah? Bangunlah. Aku janji tidak akan memberitahu ayah semua yang telah terjadi. Tapi kau harus bangun."

Suara Jamie melemah. Begitu pula harapannya mulai memudar. Ia merasa yakin jika kalimat-kalimatnya tak akan cukup mampu untuk membuat Jared terbangun.

"Aku harus mencari gadis bernama Megan itu, kau tahu? Aku akan melenyapkannya untuk membalaskan dendammu." Kedua tangan Jamie mengepal di atas masing-masing lututnya. Ia berusaha menahan diri untuk tidak berubah wujud hanya demi Jared.

"Apa kau ingin aku mencarinya sendiri?"

Jamie meneruskan berkata-kata walaupun tahu Jared tidak akan merespon.

Padahal dengan bantuan Jared, semuanya akan terasa jauh lebih mudah. Jared bisa menunjukkan wajah Megan pada Jamie beserta ciri-ciri laki-laki yang sudah menembak dirinya. Bertanya pada penghuni kampus tentu akan sangat berisiko.

Ah, iya.

Jamie mengangkat tubuh dari tepian tempat tidur milik Jared dengan tiba-tiba. Ia mendadak ingat akan sesuatu. Jamie tahu ke mana ia harus bertanya dan berkonsultasi tentang kondisi Jared sekarang. Vampir tampan itu bergegas keluar ruangan dengan langkah tergesa.

**

"Kau bilang lukanya sudah sembuh, tapi dia belum membuka mata juga?"

Tuan Joel mengerutkan keningnya dan menambah dalam lipatan di area atas wajahnya. Ia menatap Jamie lekat-lekat.

Jamie hanya menjawab dengan anggukan. Ia sudah menceritakan semua hal tentang Jared pada vampir tua itu. Tanpa ada satu pun yang terlewatkan.

"Jika hari ini adalah hari ke-tiga, seharusnya dia sudah bangun." Tuan Joel bergumam lirih. Vampir yang terluka akan pulih dalam kurun waktu tiga hari dan jika ia tidak membuka mata di hari ke-tiga, maka ia akan mati. Biasanya seperti itu. "Mungkin dia masih perlu waktu untuk memulihkan tubuhnya," ucap Tuan Joel kemudian.

"Memangnya dia butuh berapa lama lagi, Tuan?" Mendengar ucapan Tuan Joel sama sekali tak menenangkan hati Jamie. Justru ia terlihat tak sabar menunggu kesembuhan Jared yang Tuan Joel sendiri tidak tahu menahu kapan itu akan terjadi.

Tuan Joel menarik napas pelan.

"Bersabarlah, Anak Muda. Jika dia manusia, aku yakin adikmu tidak akan selamat."

"Peluru itu tidak menyentuh jantungnya, Tuan. Jika dia manusia, saya yakin dia masih berpeluang untuk selamat."

"Kalau begitu tunggu saja ... "

"Tidak bisakah Anda ikut saya untuk memeriksa keadaan Jared?"

"Memangnya apa yang bisa kulakukan di sana? Aku tidak ada bedanya dengan dirimu, Anak Muda. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu adikmu. Hanya kekuatan alam yang bisa menyembuhkannya. Kau sendiri juga tahu itu, bukan?"

"Tapi setidaknya lihatlah kondisinya, Tuan."

Tuan Joel tampak enggan untuk menerima permintaan Jamie. Tapi, demi melihat raut cemas yang tergambar di wajah Jamie, timbul iba dalam hati Tuan Joel.

"Anda bisa membaca garis wajahnya ... " Tiba-tiba Jamie teringat tentang kemampuan yang dimiliki laki-laki tua itu. Meskipun Tuan Joel mengatakan kemampuan yang dimilikinya itu bukan sebuah kelebihan untuk melihat masa depan, tapi ia bisa membaca apa yang sedang dialami Jared. Tuan Joel pasti bisa membantu. "Kumohon, Tuan," ratap Jamie mencoba untuk membujuk laki-laki tua di hadapannya. Ia harus berbuat sesuatu demi memenuhi tanggung jawabnya pada Jared. Sebelum William kembali, Jared harus sudah membuka matanya. Apa yang akan Jamie katakan nanti seandainya ayahnya kembali dan melihat kondisi Jared seperti itu?

"Jika lukanya sudah sembuh total, aku yakin sebentar lagi dia akan membuka matanya," ucap Tuan Joel melontarkan sebuah penolakan halus.

"Bagaimana jika dia tidak membuka matanya?"

"Kau sangat tidak sabar, Anak Muda."

Terang saja Jamie merasa gusar setengah mati sekarang. Ia memiliki alasan kuat untuk apa yang ia rasakan saat ini.

"Kumohon, Tuan." Sekali lagi Jamie memohon. Ia sudah berencana akan menyeret laki-laki tua itu seandainya ia menolak permintaan Jamie.

Tuan Joel bergeming. Ia tak mengiyakan atau menolak permohonan vampir muda di hadapannya.

***

03 Oktober 2021

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top