Are You Okay?
"Bawa barang kita masuk..."
Usai menyuruh Jared untuk membawa barang belanjaan mereka masuk ke dalam rumah, Jamie buru-buru melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya lalu melompat keluar dari mobil.
"Ada apa dengannya?" Jared bergumam sendirian sembari menyaksikan saudara laki-lakinya dengan setengah berlari masuk ke dalam rumah. Bahkan sebelum itu ia memberi tugas pada Jared agar membawa masuk barang mereka.
Jared keluar dari mobil dan melaksanakan perintah Jamie. Pasalnya 'barang' yang baru mereka dapatkan dari tempat pemotongan hewan harus segera dimasukkan ke dalam lemari pendingin.
Namun, ketika langkah Jared mencapai dapur (tempat itu sebenarnya nyaris tak pernah digunakan), ia tak melihat penampakan Jamie di manapun. Seluruh ruangan tampak sepi.
Jared mulai memasukkan kantung-kantung berisi cairan berwarna merah ke dalam lemari pendingin tanpa menunggu Jamie muncul. Ia jarang melakukan hal semacam ini jika tak terdesak situasi. Biasanya Jamie yang mengurusi soal stok 'makanan' dan Jared hanya sesekali melakukannya.
"Oh?"
Jared menoleh ketika menyadari Jamie telah berdiri di belakang tubuhnya lalu mengambil salah satu kantung darah babi dan mulai menyesap isinya dengan menggunakan sedotan.
"Ternyata minuman itu tidak lebih dari racun," tandas Jamie setelah berhasil mengosongkan isi kantung darah babi di tangannya.
"Hm?" Jared menoleh sekilas. Keningnya berkerut pertanda ia gagal mencerna maksud ucapan Jamie.
"Aku baru saja muntah," ungkap Jamie dengan menahan malu sekaligus kesal. Hanya karena seteguk kopi ia harus mengalami hal yang menjijikkan itu.
Demi mendengar pengakuan kakaknya, tawa geli meledak di bibir Jared.
"Jadi, kau buru-buru pergi karena ingin muntah?"
"Jangan tertawa," hardik Jamie dengan wajah cemberut. "Padahal aku sudah membayar mahal untuk minuman itu tadi."
"Laki-laki itu pasti merasa sangat senang karena kau memberinya banyak uang," ledek Jared sambil menutup pintu lemari pendingin. Tugasnya memindahkan kantung-kantung darah babi itu telah selesai.
"Ya, kau benar."
Tapi, ada hal yang sedikit berbeda dari Jared hari ini. Ia lebih banyak bicara ketimbang biasanya. Jared juga tertawa dan melontarkan kata-kata sindiran pada Jamie. Apakah ini sebuah pertanda yang bagus?
Diam-diam Jamie mengamati setiap perilaku adiknya. Mungkinkah kekonyolannya tentang kopi itu secara tidak sengaja menuntun Jared kembali ke jalur yang benar? Tanpa disadari Jared, sikapnya mulai berubah. Ia seperti Jared yang Jamie kenal dulu. Jika ini pertanda baik, maka Jamie siap untuk melakukan kekonyolan atau kebodohan lain agar Jared bisa melupakan kesedihannya. Bukankah Jamie akan melakukan apa saja demi mengembalikan pribadi Jared? Juga demi kelangsungan hidup adik kesayangannya.
"Kau beruntung karena tidak meminumnya," ujar Jamie bermaksud untuk menyamarkan gelagatnya sendiri. Jared tidak boleh tahu jika ia sedang diamati oleh kakaknya sendiri.
"Aku tidak segila dirimu, Jamie."
Jika itu bisa membuatmu kembali seperti dulu, menjadi setengah gila pun aku bersedia.
Jamie menarik napas panjang.
"Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita tidak akan pernah tahu sampai kita mencobanya. Bukankah pepatah itu benar?"
"Yup." Kepala Jared mengangguk samar. "Lakukan apapun yang ingin kau coba dan tanggung sendiri risikonya."
"Hei!"
Jared tak menggubris teriakan Jamie dan berlalu begitu saja dari depan cowok itu.
"Kau mau ke mana?"
"Aku lelah." Jared membalas tanpa menoleh.
"Lelah?" ulang Jamie dengan dahi berlipat. "Kau bukan baru pulang dari medan perang, Jared! Bagaimana bisa kau bilang lelah, hah?!"
Jared hanya mengangkat tangan kanannya ke atas sebelum masuk ke dalam kamar.
"Dasar bocah tengik," desis Jamie usai Jared menghilang di balik pintu kamar.
Tapi tak apa, batin cowok itu sesaat kemudian. Sikap Jared terlihat menunjukkan perkembangan berarti hari ini. Meski mungkin hanya sementara, itu jauh lebih baik ketimbang melihat Jared yang hanya bersikap pasif. Raut wajah dingin dan minim kata jauh lebih menyebalkan ketimbang mendapat olok-olok darinya.
Apa memang Jared selelah itu? Atau ia hanya beralasan saja demi menghindar dari percakapan yang lebih panjang dengan Jamie?
Semestinya seorang vampir memiliki sistem imun yang lebih tinggi dari manusia. Kegiatan kuliah seharusnya tak semudah itu membuat tubuh Jared lelah. Itu bahkan tak ada bandingannya ketimbang pertarungan 30 tahun lalu yang hampir merenggut nyawa Jared. Apa jangan-jangan kekhawatiran ayahnya tentang Jared benar-benar akan terwujud? Bahwa Jared akan meninggal dalam waktu 10 atau 20 tahun mendatang? Perlahan namun pasti, sesuatu dalam dirinya akan menggerogoti tubuh Jared dan membuatnya meregang nyawa secara perlahan. Mungkinkah seperti itu?
Kepala Jamie menggeleng. Ia mengusir pertanyaan demi pertanyaan yang berkelebat di dalam kepalanya tentang Jared.
Tidak, batin Jamie. Ia tidak akan pernah membiarkan Jared menjemput ajal dengan cara mengenaskan seperti itu. Jamie bertekad akan melakukan semua hal demi kelangsungan hidup Jared.
***
21 Agustus 2021
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top