I(A)MPERFECT | 8. SEKOTAK JELLY BINTANG

Shilla berdiri di depan gedung les seraya memainkan kerikil dengan kaki kanannya sementara kedua tangannya memegang tali tasnya yang berwarna cream. Mungkin terhitung setiap satu menit kepalanya akan menoleh ke arah pintu masuk dan keluar untuk memastikan orang yang dia tunggu keluar dari gedung itu. Ini sudah kelima kalinya Shilla menolehkan kepala ke arah sana tetapi sosok yang dinantikan belum juga menunjukkan batang hidungnya.

Akhirnya ketika Shilla menoleh untuk yang keenam kalinya, gadis itu tersenyum cerah. Sosok yang dia tunggu sedang berjalan keluar gedung. Shilla langsung berlari kecil dan menghampirinya.

Saat bertemu Galaksi di depan ruang Miss Vira, seketika Shilla teringat dengan perkataan June semalam. Setidaknya kalau benar penyebab Galaksi meninggal itu karena dia sakit dan Shilla tidak bisa melakukan apa-apa, selama sisa hidupnya, Shilla mungkin bisa bersikap lebih baik padanya. Jadi, itulah yang membuatnya menunggu Galaksi dan muncul di hadapannya.

“Halo, Galaksi!” sapa Shilla. Galaksi hanya menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi. Merasa Galaksi tidak akan menjawab sapaannya, Shilla bicara lagi.

“Gue nggak nyangka, lho, kita ketemu di sini. Ternyata selama ini lo les di Ace Academy, ya? Gue juga sebenarnya pernah les di sini waktu SMP cuma sempet pindah, tapi akhirnya balik lagi deh. Hehe.” Shilla memalingkan wajahnya sejenak dan meringis.

“Sumpah, kok gue jadi oversharing gini dah,” gumamnya.

“Oh, iya. Waktu pulang sekolah kemarin, gue belum sempat bilang makasih sama lo. Makasih, ya. Kayaknya kalau nggak ada lo, gue udah ketabrak,” ujar Shilla seraya berjalan cepat di samping Galaksi yang langkahnya begitu lebar.

Galaksi sudah sampai di parkiran dengan Shilla yang terus mengikutinya dari tadi. Maka, karena dirasa mereka akan berpisah di sini, Galaksi pun bertanya, “Ada lagi yang mau lo sampein?”

Shilla yang dari tadi sibuk mengoceh baru sadar dia sudah mengikuti Galaksi sampai ke tempat motornya terparkir. Harusnya sudah cukup, Shilla juga harus segera pulang. Namun, entah mengapa ucapan June tiba-tiba terputar kembali dalam otaknya seperti kaset yang rusak.

“Bae bae aja lo sama Galaksi, Shil. Jangan lo judesin dia mulu. Paling enggak mulai sekarang kita bersikap lebih baik aja sama dia.”

“Ehm … itu.” Shilla menggigit bibir bawahnya. Kebiasaannya saat bingung ataupun gugup. Sampai akhirnya dia merasa ada bohlam yang keluar dari kepalanya, dia menemukan ide yang cemerlang!

Ya, kalaupun Shilla sulit menyelamatkan Galaksi dari penyakit, maka Shilla akan mulai bersikap baik padanya. Jadi, Shilla pun berkata, “Kalau lo ada waktu, gue mau traktir lo sebagai tanda terima kasih gue. Gimana?”

Galaksi menatap Shilla sejenak kemudian memilih beranjak dari tempat dia berdiri untuk menuju motornya. “Gue sibuk.”

“Nggak mau ya?” tanya Shilla. “Padahal kita udah belajar di sekolah selama enam jam, dilanjut les tiga jam, belum nanti pulangnya harus belajar mandiri ‘kan? Lo nggak laper apa? Meskipun sibuk kita tuh nggak boleh telat makan nanti–”

Shilla berhenti mengoceh ketika suara perut yang keroncongan minta diberi makan berbunyi dengan nyaring. Dia syok bukan main. Galaksi yang hendak memakai helm juga menghentikan gerakan tangannya dan menatap Shilla yang wajahnya sudah memerah.

“Itu bukan suara perut gue. Sumpah, bukan,” ujarnya dengan cepat, mengelak padahal sudah jelas dia yang menjadi sumber bunyi perut keroncongan itu.

Tidak kuasa lagi menahan malu, Shilla pun memilih menghilang saja dari hadapan Galaksi. “Kalau lo mau pulang, ya udah gue juga pulang aja. Dadah!” ujarnya sambil melambaikan tangan dengan kaku kemudian berbalik, berjalan dengan cepat meninggalkan Galaksi.

Namun, tidak lama kemudian terdengar suara motor yang mendekat ke arahnya. Motor itu kemudian berhenti di sampingnya. Sang pemilik motor itu membuka kaca helmnya dan menatap Shilla. “Jadi nggak?”

“H-hah? A-apa?” tanya Shilla terbata-bata.

“Traktir gue.”

Kening Shilla berkerut. Dia menatap Galaksi dengan tatapan heran. “Bukannya lo nggak mau, ya? Mau pulang, kan?”

“Gue nggak bilang ‘nggak’ tuh.” Galaksi pun memberikan helm pada Shilla. “Tunjukin tempatnya.”

Shilla pun tidak menolak. Gadis itu segera menerima helm dari Galaksi dan naik ke jok belakang motornya. Meskipun sambil mentraktir Galaksi, tidak apa-apa. Shilla beruntung bisa cepat-cepat mengisi perutnya yang sudah kelaparan.

Shilla menunjukkan Galaksi jalan ke tempat yang ingin dia tuju. Di jalan, ketika Galaksi memberhentikan laju kendaraannya karena lampu lalu lintas menunjukkan tanda lampu merah, Shilla bertanya pada Galaksi.

“Lo lebih suka makan di cafe atau di pedagang kaki lima?”

Galaksi justru kembali bertanya. “Kenapa?”

“Gue tanya aja biar nyesuain sama lo enaknya di mana,” ujar Shilla berterus terang.

Begitu lampu mulai berubah menjadi hijau, Galaksi menjawab sebelum melajukan kembali motornya. “Di mana aja, terserah lo.”

Hanya itu yang Galaksi katakan. Jadi, karena Shilla sudah lama ingin membeli nasi goreng di pedagang kaki lima yang lokasinya dekat dengan rumahnya, gadis itu mengarahkannya ke sana.

“Pak, nasi gorengnya dua, ya. Makan di sini. Satu pedes, satunya lagi…” Shilla menengadahkan wajahnya demi menatap Galaksi, hendak bertanya. Namun, cowok itu menyahut begitu saja.

“Nggak pedes,” ujarnya singkat.

“Siap. Ditunggu ya aa teteh,” ujar bapak penjual nasi goreng tersebut. Shilla dan Galaksi pun duduk berhadapan di kursi yang telah disediakan.

Selama menunggu pesanan mereka siap, Shilla merasa canggung dengan Galaksi. Cowok itu hanya diam seraya memainkan ponselnya, sedangkan Shilla sesekali menghitung kendaraan yang lewat dan menatap Galaksi sebentar dengan tatapan iba, tidak menyangka ternyata waktu Galaksi tidak lama lagi. Ketika cowok itu sadar sedang ditatap, Shilla langsung memalingkan wajahnya dan kembali menghitung kendaraan yang lewat.

Btw, dari sini udah deket sih sama rumah gue. Nanti gue bisa pulang sendiri,” ujar Shilla, memecah keheningan di antara mereka meskipun suasana di sana ramai oleh bising kendaraan bermotor.

“Rumah gue satu kompleks sama rumah lo,” ucap Galaksi setelah jeda yang cukup lama. Shilla yang mengetahui itu terkejut.

“Serius?” tanyanya. “Kok, gue nggak pernah lihat lo, ya?”

Galaksi tak sempat menjawab pertanyaan Shilla karena fokus mereka teralihkan dengan suara kucing yang mengeong dekat mereka. Shilla dan Galaksi menatap kucing oranye yang sedang menggaruk bagian belakang kepalanya menggunakan salah satu kakinya. Shilla pun membuka resleting tasnya, mengeluarkan sebuah botol plastik bekas dan beranjak dari duduknya.

“Meng, sini!” serunya seraya menggoyang-goyangkan isi botol plastik itu. Kucing oranye itu langsung mengikuti Shilla ke pojok tenda pedagang kaki lima itu. Shilla berjongkok di sana dan memberi makan kucing oranye itu. Shilla tersenyum melihat kucing oranye makan dengan lahap.

Setelah memberi makan kucing itu, Shilla kembali duduk di hadapan Galaksi. Dia menyimpan kembali botol plastik berisi makanan kucing itu ke dalam tas kemudian mengeluarkan hand sanitizer dan menyemprotkannya ke kedua telapak tangannya. Di hadapannya, Galaksi memperhatikan gerak-gerik Shilla.

“Lucu ‘kan kucingnya?” tanya Shilla pada Galaksi seraya menatap kucing yang sedang makan.

Galaksi melihat kucing oranye itu kemudian menatap Shilla. “Iya, lucu.”

Shilla pun tersenyum puas. Tak lama, nasi goreng pun disajikan. Mereka makan dalam ramainya suara kendaraan bermotor, sesekali terdengar klakson, obrolan pelanggan lain yang tampak seru, dan suara ramah bapak penjual nasi goreng yang sedang melayani pelanggan baru. Tidak ada obrolan apapun lagi di antara Galaksi dan Shilla sampai mereka selesai makan dan hendak pulang.

Shilla bingung ingin memulai percakapan apa dengan Galaksi sedangkan Galaksi memang sudah karakternya tidak banyak bicara.

Meskipun Shilla mengatakan dia bisa pulang sendiri, Galaksi tetap mengantarnya. Toh, mereka juga searah dan ternyata satu kompleks. Begitu sampai di depan rumah Shilla, Shilla pun mengucapkan terima kasih. Kali ini dia tidak lupa mengembalikan helm Galaksi.

“Makasih, ya. Oh, iya. Gue punya sesuatu buat lo karena hari ini lo udah nganterin gue pulang,” ujar Shilla seraya mengaduk isi tasnya, mencari sesuatu yang ingin dia berikan pada Galaksi.

“Nah, ketemu!” seru Shilla antusias. Dia mengeluarkan sebuah toples berbentuk kotak yang di dalamya terdapat delapan buah jelly berbentuk bintang.

“Ini jelly bintang buat lo.” Shilla mengulurkan sekotak jelly bintang itu pada Galaksi. “Ini jelly favorit gue, enak. Cocok dimakan kalau lagi mumet ngerjain soal fisika. Gue sebenernya nggak suka bagi-bagi jelly bintang kesukaan gue, apalagi si June tuh tukang habisin stock jelly bintang gue di kelas. Ugh, ngeselin. Tapi, ini khusus buat lo karena lo udah nganterin gue dua kali. Nih.”

Galaksi pun menerima sekotak jelly bintang itu. “Thanks.”

My pleasure!” sahut Shilla. “Dimakan, ya. Walaupun lo sibuk, tetap jaga kesehatan. Kewarasan juga. Gue duluan. Hati-hati di jalan. Dadah!” serunya sambil melambaikan tangan.

Galaksi memperhatikan Shilla sampai gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Cowok itu kemudian tersenyum tipis seraya menyimpan sekotak jelly bintang itu ke dalam tasnya dan pergi dari sana.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top