part 3


Jangan terlalu mencintai jika pada akhirnya kau akan membenci.

Jangan membenci terlalu dalam jika kau tak ingin jatuh cinta.

Karena pada dasarnya cinta dan benci itu beda tipis.

Happy reading 😘😘😘

Rasa bersalah menghantuinya sejak pagi, mengingat dirinyalah Kim Bum absen, apa pria itu sakit karena semalam? Ya, saat dirinya terbangun melihat sebuah jaket tebal menyelimuti tubuh mungilnya, So Eun mulai berpikir jika Kim Bum pulang tanpa jaket dan membuat pria itu kedinginan.

Dan kemungkinan pria itu sakit karena cuaca yang tidak baik akhir-akhir ini. Dan di sinilah So Eun sekarang, berdiri anteng di depan pintu sebuah apartemen mewah masih dengan seragam lengkap.

Beberapa kali dilihatnya kertas yang ia genggam dengan nomor pintu apartment di depannya. 'Sama' hanya kata itu yang digumamnya.

"Apa benar ia tinggal disini? Tapi ini apartemen mewah mana mungkin dia bisa membelinya? Apa dia memalsukan alamatnya?"

So eun masih asik dengan pemikirannya sendiri, ia bahkan ragu hanya sekedar menekan intercom di depannya.

"Apa aku coba saja, ya?" Dengan perlahan So Eun menekan tombol di depanya.

Sekali

Dua kali

Tiga kali

Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana. So eun memandangi jaket yang di genggamnya sedari tadi.

"Apa mungkin dia sakit?"

So Eun mengelengkan kepalanya menepis  pikiran buruk itu . Merasa bersalah, tentu saja karena dirinya Kim Bum harus kedinginan saat pulang. Apalagi sekarang sudah memasuki musim dingin dan cuaca sedang tak bersahabat.

So Eun duduk di depan pintu apartemen. Menunggu beberapa menit tidak akan merugikan, siapa tau Kim Bum sedang pergi keluar sebentar. Mengingat hari ini pria itu absen di sekolah membuat So Eun merasa bersalah.

30 menit berlalu tak seorang pun yang ia lihat berlalu lalang. Ia bahkan baru menyadari hanya ada satu pintu kamar di lorong ini. So Eun berdiri, memandangi pintu coklat di hadapannya.

"Apa aku letakkan saja jaketnya di sini? Tapi bagaimana jika ini bukan apartementnya, jaketnya bisa hilang."

So eun kembali duduk di depan pintu dengan lutut yang tertekuk. Rasa bosan dan bersalah terus menghantui dirinya.

Tanpa So Eun sadari Kim Bum mengawasi setiap gerak geriknya dari balik tembok yang ada di ujung lorong. 30 menit yang lalu Kim Bum sudah berada di tempat persembunyiannya yang tak jauh dari keberadaan gadis itu.

"Untuk apa gadis itu datang kemari? Merepotkan saja," gumam Kim Bum

Bukannya pria tamoan itu takut bertemu dengan So Eum, tapi saat ini keadaan tidak memungkinkan untuk mereka bertemu apalagi di tempat ini. Dan yang lebih penting Kim Bum tidak mengenakan penyamarannya.

Kacamata besar yang biasanya membingkai wajahnya digantikan dengan kacamata hitam, rambut yang biasanya tersisir rapi sekarang lebih bergelombang, dan tubuh gempalnya yang menggunakan baju berlapis berubah menjadi tegap dan gagah.
Jangan sampai So Eun mengetahuinya, jika gadis itu tau bisa-bisa harinya seperti di neraka.

Kim Bum mengenakan topi hoodie agar So Eun tidak mengenali identitasnya.

Tidak ada cara lagi selain menghadapi So Eun dengan penyamaran seadanya. Kim Bum melihat gadis mungil itu sudah beranjak dari duduknya, sepertinya sudah mulai bosan menunggu. Ini kesempatan bagus untuk Kim Bum, setiap langkah yang ditapakinya pria itu hanya menunduk.

Semoga Tuhan memberkatinya, bertemu dengan so eun adalah kesialan bagi Kim Bum. Gadis itu sangat cerdik dalam segala hal ibaratkan kancil yang mengelabuhi musuhnya dengan segala siasat.

Kim Bum semakin menundukkan kepalanya saat mereka berpapasan, kim Bum menghembuskan nafas leganya saat berhasil melalui So Eun.

Tapi itu tidak lama karena jantungnya kembali berdebar saat So Eun mengintrupsinya.

"Tunggu Tuan, apa kau tinggal di apartemen 501 itu?"

Kim Bum tidak langsung menjawab pertanyaan itu, ia yakin sekarang pasti So Eun sedang menatapnya.

Kim Bum hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

"Sudah aku duga pria tengik itu tidak tinggal disini", gumam So Eun yang masih di dengar oleh Kim Bum.

Jika saja Kim Bum tidak sedang menyamar ia akan memberi perhitungan pada gadis itu.

"Terimakasih Tuan, sampai jumpa." So Eun melangkahkan kaki mungilnya menjauh membuat Kim Bum bernafas lega.

Dia tidak mau berurusan dengan So Eun lagi, kejadian semalam sudah membuat dirinya trauma. Kim Bum memasuki apartemenny, merebahkan tubuhnya di ranjang, pikirannya kembali pada kejadian kemarin malam.

Flashback

"Siapa kau?"
Kim Bum menolehkan kepalanya ke sumber  suara. Seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu dengan pandangan tajam.

Gleekk

Susah payah pria itu menelan liurnya, ini seperti di dalam drama dimana sepasang kekasih ketahuan berduaan. Oh ... bahkan ini lebih buruk dari situasi itu, jantung Kim Bum seperti roler coster yang terjun dari ketinggian, semua rasa bercampur aduk.

"Selamat malam ahjushi, nama saya Kim Bum. Saya teman putri Anda."

Kim Bum berusaha tersenyum meski kikuk, dan pria yang dipanggil 'ahjusi' itu tak memberi respon. Pria itu menatap kim bum dari atas sampai bawah.

"Ikut saya!"

Kata itu terdengar sangat dingin membuat Kim Bum membeku, dilihatnya pria itu keluar menuju sebuah ruangan. Sebelum kim bum beranjak pergi ia melihat So Eun yang tertidur pulas.

Kenapa setiap bersama gadis ini hidupku tak pernah tenang? batinnya. Kim Bum menghela nafas panjang, ditinggalkannya So Eun sendiri di ruang itu.

***
Kim Bum tidak pernah menyangka berada di situasi konyol. Jika tadi  ia merasa takut dan gemetar, tidak dengan sekarang ia merasa dongkol saat pria paruh baya di depannya mulai menangis tersedu.

"Ahjusi apa Anda baik-baik saja?"

Tae So menatap Kim Bum yang duduk di depannya. Diusapnya air mata fan ingusnya dengan selembar tissu.

"Aku tidak menyangka jika putriku sudah beranjak dewasa, aku selalu menganggapnya sebagai putri kecilku. Segala kebutuhannya aku penuhi agar ia tidak kesepian sejak ibunya pergi. Dialah yang selalu ada untukku, aku takut dia akan terluka. Nak jika kau benar-benar mencintai puteiku, jangan kau sakiti dia. Jaga dia dengan baik, dia sangat berharga bagiku." Tae So mengatur nafasnya perlahan. So Eun sudah besar, dan dia berhak memilih jalannya sendiri.

Meski harus menikahkan So Eun dengan pria nerd seperti Kim Bum ia tidak masalah asalkan So Eun bahagia dengan pilihannya.

Kim Bum semakin bingung dengan situasi ini, apa ayah So Eun menganggap dirinya adalah kekasih putrinya? Ya Tuhan ini kesalahan yang harus Kim Bum luruskan.

"Maaf ahjusi sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Saya dan So Eun tidak berpacaran, kami hanya berteman," ujar Kim Bum pelan.

Mendengar perkataan kim Bum  membuat Tae So geram.

"Kau mau mempermainkan putriku? Aku bahkan melihatnya sendiri jika kau ingin menciumnya. Apa kau ingin memanfaatkan kelemahan So Eun?" geram Tae So.

"Bukan begitu maksud saya ahjusi, kami hanya berteman jadi sebagai teman yang baik aku menemaninya dan aku tidak menciumnya, sungguh!"

Tae so tidak percaya dengan perkataan Kim Bum, menurutnya pria itu sama saja seperti lelaki jaman sekarang. Yang ingin bersenang-senang tanpa ikatan.

"Pergi dari sini, dan jangan dekati putriku lagi!!" marah Tae So dengan mata menatap tajam pria di depannya. Ia benci penghianatan dia benci seseorang yang tidak menghargai wanita.

"Maaf kan saya ahjusi, tapi sekali lagi saya memang bukan kekasih putri Anda."

Tanpa sepatah kata Tae So berjalan ke arah pintu, dibukanya dengan lebar pintu mewah itu. Kim bum yang tau artinya hanya menundukkan kepala dan berjalan keluar rumah.

Saat di luar kim bum mengingat jika jaketnya tertinggal. Maksud hati ingin mengambilnya tapi sayang Kim Bum kalah cepat.

Blaamm

Pintu tertutup dengan kasar, membuat pria itu kaget.

"Hampir saja hidungku patah," umpat Kim Bum memijat hidung mancungnya yang hampir menjadi korban.

Cuaca malam ini sangat dingin, jaket yang ia bawa tertinggal di kamar So Eun, dan Tae So~Ayah So Eun~ sedang marah dengannya. Hari yang komplit dengan masalah dan semua masalah itu menyangkut seorang Kim So Eun.

Flasback end

Hari mulai petang jarum jam menunjukkan pukul 17.15 dan di luar sana sedang mendung. Mungkin sebentar lagi akan hujan pikir Kim Bum.

Dibukanya jendela itu perlahan, langit gelap karena mendung menjadi background sore yang dingin. Diedarkannya pandangan kesegala penjuru arah. Tanpa sengaja dilihatnya seorang gadis duduk di depan teras lobi.

'Tunggu sepertinya aku kenal' kim bum memicingkan matanya. Astaga gadis itu ternyata masih disini, apa dia tidak lelah menunggu?

Kim Bum berjalan cepat kearah telepon, di tekannya angka 1 yang terhubung langsung dengan keamanan.

"Cepat usir gadis itu, suruh dia pulang aku tidak ingin ia masih berada di sekitar apartemen!"

Tuuutt tuutt

Kim bum memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.

Ia beranjak menuju balkon kamar dilihatnya gadis itu berjalan pelan keluar dari kawasan apartemen dengan mengenakan jaket miliknya.

Rasa lega dan khawatir menyelimuti hatinya. Entah apa yang membuatnya semakin kesal sekarang, ia bahkan tidak bisa berpikir dengan benar.

"Sudahlah tidak perlu dipikirkan," gumamnya

Rintik hujan turun mewarnai sore yang gelap, Kim Bum menengadahkan tangannya merasakan setiap tetes air yang jatuh.  Hujan semakin deras membuat Kim Bum beranjak meninggalkan balkon.

Entah kenapa pikirannya hanya tertuju pada So Eun, mengingat gadis itu tidak membawa payung bisa saja ia kehujanan.

Kim Bum berusaha menepis semua pikiran itu, untuk apa ia perduli pada gadis itu. Dia bukan anak kecil lagi yang harus disuruh berteduh ketika hujan, 'kan?

Kim Bum memutuskan untuk membersihkan dirinya, sementara di luar hujan semakin lebat dan suara gemuruh yang saling bersahutan membuat suasana sore itu seperti malam mencengkam.

Kim Bum segera mengenakan pakaiannya diambil jaket dan kunci mobilnya. Perasaannya sedari tadi gelisah meski pikirannya terus menepisnya  tapi hati tidak bisa dibohongi jika ia mengkhawatirkan kim So Eun.

Dengan cepat Kim Bum mengendari mobilnya, setiap jalan ia susuri perlahan. Tapi tak menemukan orang yang ia cari. Rasa lega perlahan menghampirinya.

"Dia pasti sudah sampai di rumah."

Kim Bum ingin memutar mobilnya, tapi diurunginya saat melihat seorang dengan jaket merah yang kebesaran berjongkok di tengah trotoar dengan menutupi telinganya.

Jaket itu Kim Bum mengenalnya. Segera ia berlari kearah orang itu setelah menepikan mobilnya. Meluhat rambut panjang gadis itu terurai basah dan badan kecilnya mulai menggigil. Sejak kapan So Eun berada di sini? Apa gadis ini gila? Bahkan burung sekali pun akan berteduh jika hujan. Kenapa gadis ini hanya berdiam diri?

Kim Bum meraih tangan So Eun berharap gadis itu berdiri, ia bahkan tidak perduli jika penyamarannya terbongkar saat ini.

Kim Bum menarik tangan So Eun perlahan dan seketika tubuh kecil itu jatuh kedalam pelukannya. Pingsan.

"Yakk sadarlah Kim So Eun, buka matamu!"

Kim Bum menggendong So Eun bridal. Suhu tubuh gadis itu sangat dingin, jangan sampai ia membeku. Dengan cepat Kim Bum melajukan mobilnya ke arah apartemen. Seorang satpam membantunya untuk membuka pintu, dengan segera Kim Bum membaringkan So Eun dengan nyaman di ranjang.

Kim bum segera mengambilkan pakaian kemejanya, dan mengganti pakaian basah So Eun.

"Maafkan aku jika melihatnya, nyawamu lebih penting saat ini," ujar Kim Bum.

Dengan perlahan Kim Bum mengganti pakaian gadis itu. Suhu tubuhnya masih sama dinginnya, suara desisan keluar sari bibir mungil itu. Kim Bum semakin kalang kabut, diambilnya air hangat untuk mengompres dahi So Eun.

Tidak ada perubahan yang signifikan, pemanas ruangam di nyalakan pada temperatur high tapi ini membutuhkan waktu yang lama.

Pikirannya kacau, wajah So Eun terlihat pucat membuatnya semakin panik.

Diraihnya ponsel yang berada di atas meja, ditekannya beberapa digit angka. Sambungan terhubung tapi tak diangkat oleh orang di seberang sana.

"Dasar bocah cepat angkat panggilannya," desis kim bum.

"Hal ...."

"Yakk kenapa lama sekali menjawabnya?" teriak Kim Bum.

"Sabar bro, ada apa? Kenapa kau panik?"

"Aku membutuhkan bantuanmu sekarang!"

"Sepertinya kau sudah tidak waras bung. Hujan badai di luar sana dan kau ingin aku ke tempatmu? Kau memang berniat membuatku mati muda?"

"Yakk Caesung kau ini bicara apa? Baiklah jika kau tidak bisa kemari. Jelaskan saja apa yang harus aku lakukan. Maksudku bagaimana cara menghangatkan seorang gadis? Bukan  seperti itu maksudku, bagaimana ca ...."

"Ciih Kim Sang Bum jangan panik seperti itu, kau membuatku bingung."

"Pokoknya katakan saja apa yang harus aku lakukan?"

"Aku bahkan tidak tau apa masalahmu, intinya seperti ini. Jika ada seseorang yang kedinginan dan hampir membeku kau bisa menyalakan penghangat ruangan, pakaian kaos kaki agar hangat kau juga bisa mengompres dahinya dengan air hangat jika diperlukan."

"Aku sudah melakukannya tapi tetap saja tubuhnya masih dingin."

Terdengar helaan nafas dari seberang sana.

"Jika cara itu tidak berhasil, kau pakai cara terakhir"

"Apa?"

"Making love"

"APAAAAA? Kau sudah gila?"

"Hihihi apa yang kau tolong itu seorang lelaki? Tenang Bum ini cara yang paling ampuh dan cepat." Suara tawa terdengar dari seberang sana.

"Lagi pula itu tidak buruk," ujarnya lagi.

Kim Bum merasa kesal dengan temannya, sama sekali tak bisa diandalkan.

"Aku bukan dirimu yang menyukai semua jenis!" Dengan kesal Kim Bum memutuskan panggilannya.

Dilihatnya wajah So Eun yang belum ada perubahan, tubuh kecil itu menggigil kedinginan. Dirabanya dahi gadis itu, suhunya sudah mulai menghangat tapi gadis itu semakin kedinginan.

Hujan di luar tak berhenti sedetik pun, suasana masih sama seperti beberapa menit yang lalu. Udara dingin kian menusuk meski penghangat ruangan dinyalakan. Musim salju akan segera tiba cuaca ekstrem seperti ini akan terjadi sewaktu-waktu.

Rasa panik dan khawatir semakin membuatnya kalut. Kim Bum perlahan menaiki ranjangnya, kedua tanganya menyentuh sisi wajah So Eun berharap bisa mengalirkan kehangatan.

"Maaf aku harus melakukannya. Ini demi dirimu!"

TBC

Direvisi tanggal 4 Juni 2019
Terimakasih sudah membaca.

madiani_shawol.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top