part 7

Norvin kini berada di sebuah taman bersama Suyo. Singa besar itu tampak manja kepadanya. Difa dan Nura terlihat sedang minum teh di pinggir taman. Akito lalu menghampiri anaknya itu.

"Kau ingin dia menjagamu?" ucap Akito dari belakang Norvin.

"Singa ini lucu apa bisa dia menjagaku?"

"Aku bahkan lebih hebat darimu pangeran." ucap Suyo sambil menikmati belaian lembut Norvin.

"Ayah, kenapa ayah tidak membubarkan badan militer?  Mereka cukup berbahaya untuk kota. Ayah memilik hak yang bisa ayah gunakan untuk membubarkan mereka."

"Ayah memang dapat membubarkan mereka Norvin, tapi ayah sama sekali tidak memiliki bukti jika mereka berbuat kesalahan. Seakan semua bukti telah mereka hapus."

"Tapi ayah berhak."

"Ayah tau, tapi mereka juga merasa benar seperti ayah. Mereka tidak akan segampang itu menyerah. Ayah akan membereskan mereka jika sudah tepat waktunya."

Norvin tidak bisa melawan perkataan ayahnya bukan karena ia seseorang yang terhormat, tapi dia menghargai Akito sebagai ayahnya.

BUMMMM

Tiba-tiba suara tembakan terdengar cukup kencang. Norvin melihat Kao berwarna ungu yang cukup jauh darinya. Tapi suara ledakan yang di hasilnya cukup kencang. Tampaknya Kao yang dikeluarkan juga sangat kuat.

"Ada apa ini? Itu kao Kirei?" ucap Norvin dalam hati.

"Ada apa? Bukankah itu dari perbatasan desa Ume dan Bara?" tanya Difa yang menghampiri mereka bersama Nura.

"Aku harus pergi." ucap Norvin.

"Kau akan diantar Suyo sepertinya ada hal yang kau khawatirkan." ucap Akito.

"Terima kasih ayah."

Tawaran ayahnya tidak ditolak Norvin. Ia harus cepat kesana. Laki-laki itu menaiki punggung Suyo dan pergi dengannya.

"Apa dia sedang jatuh cinta?" tanya Nura.

"Apa yang kau katakan? Dia sedang menjalankan tugas." Bantah Difa yang kemudian pergi.

"Apa dia tidak berencana menikah?" bisik Akito.

"Entahlah! Mungkin dia ingin menyendiri seumur hidup." ucap Nura berbisik.

"Apa kalian mau terbakar?! Aku bisa mendengar kalian!"

Akito dan Nura pura-pura melakukan kegiatan lain. Sedangkan Difa masih bergumam sambil bersiap menyerang Akito dan Nura jika mereka membahas pernikahannya.

-

-

Su mengarahkan tangannya ke dada Kirei. Kao berwarna biru keluar dari tangannya. Tidak hanya Di, tapi Naomi juga ikut mengobati Kirei. Dia memasangkan alat pernapasan.

"Bagaimana ini Naomi-san detak jantungnya belum stabil."

Memang kondisi Kirei cukup parah. Saat ditemukan Ichiro dia terkapar dipinggir sungai. Dengan luka cambuk di sekujur badanya dan anehnya Kao Kirei terkuras sangat banyak.

"Kau perbaiki selnya dan suntikan kao cadangan untuk dia. Aku akan mengurus jantungnya."

Su mengganguk dan bertukar tempat dengan Naomi. Naomi langsung menggunakan sarung tangan dan mengalirkan Kao ke tangannya. Kao berwarna merah itu berbetuk seperti pisau. Dia menusukkan ke dada Kirei dan langsung memegang jantungnya. Ia memompa dengan tangan serta ada Kao yang terus mengalir dari tangannya.

Norvin berlari menuju ruang pengobatan dia melihat dari luar Kirei sedang dirawat. Saat itu juga Ichiro menghampirinya.

"Ada apa sebenarnya?!" tanya Norvin sedikit berteriak.

"Aku menemukannya di pinggir sungai, tapi tidak ada siapa pun di sana hanya adaa tanda pertarungan."

"Apa sama sekali tidak ada petunjuk?"

Ichiro memberikan selembar kain kepada Norvin. Kain itu sobek dan berwarna hitam. Norvin menerima kain itu dan melihat apa ada yang aneh.

"Aku akan mencari tahu tentang ini."

"Maaf aku kurang menjaga Kirei-sama."

"Tidak apa-apa ini bukan salahmu."

Saat itu Naomi dan Su terlihat keluar ruangan. Mereka tampak lelah dan berjalan kearah Norvin.

"Bagaimana keadaanya?" tanya Norvin.

"Dia sudah cukup stabil, tapi Norvin-kun kenapa kau kembali secepat ini?" tanya Naomi.

"Aku melihat kao Kirei tadi di langit cahaya cukup terang dan membuatku segera kemari. Apa aku boleh melihatnya?" tanya Norvin.

"Silahkan."

Norvin langsung memasuki ruang perawatan. Dia melihat wajah Kirei yang tampak pucat. Dia mendekat dan berbisik ke telinga gadis itu.

"Maafkan aku, aku terlambat datang untukmu." ucap Norvin.

Tangannya menggapai tangan Kirei. Kulit halusnya tampak lecet. Jari Kirei tampak bergerak pelan membuat Norvin langsung menolehkan kepala kearahnya. Mata Kirei perlahan terbuka dan menampilkan sosok yang selalu ada dipikirannya.

"Ada apa sebenarnya?" tanya Norvin.

"Apa kau bodoh! Ke pinggir sungai sendirian! Kau tidak bisa bertarung!!" bentak Norvin.

Kirei hanya tersenyum dia melepas alat bantu pernapasannya.

"Aku baik-baik saja."

"Apanya yang baik-ba"

Saat ingin melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba luka gores yang ia lihat di kulit Kirei perlahan menghilang. Lebih tepatnya sembuh.

"Aku penyihir medis jadi jangan terkejut jika aku bisa menyembuhkan diriku sendiri."

Norvin memeluk Kirei erat sangat erat. Dia seakan tidak ingin melepaskan pelukannya.

"Aku akan mati jika kau memelukku seperti ini."

Norvin dengan cepat melepaskan pelukannya. Dia tidak sadar memeluk Kirei sangat erat. Tubuh Kirei mulai pulih. Mungkin ini memang salah satu sihir Kirei. Dia dibantu duduk oleh Norvin dan menceritakan semuanya.

"Aku melihat sebuah logo di bajunya."

"Apa ini bajunya?" tanya Norvin sambil memberikan kain sobek itu.

"Iya ini, logonya seperti rumput dan pedang."

"Rumput dan pedang?"

Norvin mengepalkan erat tangannya. Dia sangat tau siapa pelakunya.

"Kau tahu?"

"..."

"Apa kau ingin menyembunyikannya lagi?"

Norvin memegang tangan Kirei dan menatap sendu kearahnya.

"Ini ulah badan militer, logo yang kau liat itu milik badan militer."

"Tapi bukannya kita sedang genjatan senjata?"

"Mereka yang mulai perang dan aku akan melanjutkannya."

Kirei memegang tangan Norvin. Dia tahu maksud dari perkataannya. Badan keamanan tentu tidak akan tinggal diam atas masalah ini. Norvin juga tidak ingin korban terus berjatuhan. Apalagi sampai melukai Kirei.

"Aku senang kau sudah lebih baik, aku akan segera menemui jika masalah sudah berakhir."

"Tunggu!"

Melihat Norvin yang hendak berdiri, Kirei menghentikan pangeran itu. Dia sejenak menatap wajah tampannya.

"Kau ingin berperang?"

"Aku punya cara lain Kirei."

Laki-laki itu kemudian pergi. Di depan ruang perawatan Ichiro sedang duduk. Dia yang melihat Norvin keluar kemudian berdiri.

"Ichiro-kun aku meminta tolong padamu jaga Kirei. Lindungi dia dengan nyawamu ini perintah pangeran. Bukan seorang kapten."

Ichiro terdiam mendengar ucapan laki-laki di depannya.

"Baik pangeran."

Norvin menggangukan dan meninggalkan lorong itu. Dia memakai komunikasi yang di sumpalkan ketelinga agar dapat berkomunikasi dan mengadakan rapat di markas.

Ruangannya cukup kecil apalagi untuk beberapa orang penting di markas. Norvin duduk di tengah sedangkan penyihir lainnya ada yang duduk dan berdiri.

"Aku akan menyelesaikann misi ini dengan caraku. Sekarang apa ada yang bisa menghubungi Sendai?" tanya Norvin.

Salah satu penyihir mengangkat tangannya. Dia penyihir perempuan dengan kacamata bundar. Ia maju ke depan Norvin.

"Aku bisa Kapten, badan militer dan badan keamaan sepakat untuk melakukan telepati." ucap perempuan itu halus.

Norvin sedikit ragu karena melihat perempuan itu yang masih mudah. Mungkin seumuran dengan adiknya. Tapi keraguan itu menghilang ketika tahu bahwa tidak mungkin istana mengirimkan penyihir jika tidak ada alasanya.

"Sambungkan aku."

"Baik kapten."

Gadis itu memegang dahi Norvin  kemudian keluar kao hijau. Seketika Norvin merasa seakan berada di ruang kosong yang terdengar hanya suara saja.
Norvin lalu memejamkan matanya.

"Sendai? Kau dengar aku?"

"Ada apa?"

"Apa kau yang menyuruh anak buahmu menyerang gadis di perbatasan?"

"Iya memang aku? Kenapa? Kau keberatan?"

"Dia tidak ada sangkut-pautnya dengan perbatasan. Dia hanya penyihir medis yang membantu badan keamanan."

"Jika dia membantu badan keamanan, dia akan menjadi musuh badan militer.

"Aku ingin menyelesaikan ini dengan berduel."

"Apa maksudmu?"

"Kau takut?"

"Jangan bercanda, aku tidak takut pada penyihir cupu seperti mu."

"Kita selesaikan ini secepatnya tanpa harus melibatkan korban."

"Baik aku setuju. Kapan?"

"3 jam sebelum fajar."

"Aku akan tunggu pertarungan hidup mati kita."

Norvin membuka matanya dan melihat gadis itu yang menggelengkan kepala mengisyaratkan bahwa tindakan Norvin itu berbahaya.

"Kalian dengarkan aku! Aku akan menjamin keselamatan kalian."

"Kapten Norvin akan berduel dengan Sendai-kun." ucap perempuan itu.

"Apa?! Tidak seperti itu!!" ujar salah satu prajurit.

"Kau bisa dalam bahaya, dia sangat kuat kapten."

Norvin berdiri sambil tersenyum. Senyuman bahkan bisa membuat luluh para wanita. Sungguh manis.

"Tenang saja, jangan dianggap serius begitu. Tolong siapkan kuda untukku ya. Oh iya kalian boleh menonton, tapi ingat hanya menonton."

Laki-laki itu keluar ruangan tersebut. Sedangkan para penyihir berbisik. Sendai memang rival sejak lama Norvin. Dulu Sendai merupakan teman masa kecil Norvin. Dia juga dulu salah satu penyihir badan keamanan, tapi sejak 2 tahun yang lalu dia keluar dan masuk ke dalam badan militer. Sampai sekarang Norvin tidak tau apa alasanya.

-

-

-

Next part ya guys....

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top