part 4

Bunga sakura terlihat indah pagi ini. Angin juga bertiup perlahan. Rumah sakit menerima banyak pasien untuk berapa minggu ini. Penyihir dengan luka tembakan yang sama terus bertambah. Kirei sedang makan siang bersama dengan teman-temannya.

"Bagaimana pasien VIP sekarang? Bukankah bertambah banyak?" ucap Penyihir medis yang bernama Su.

"Iya memang bertambah banyak, tapi masih bisa aku atasi."

"Kau tidak ingin naik pangkat Kirei-san?" tanya Kyoko penyihir medis wanita berambut pendek.

"Aku masih nyaman dengan pekerjaanku sekarang."

Kirei memakan roti sandwich nya. Sudah 6 minggu sejak kepergian Norvin. Entah laki-laki itu berada di mana. Dia terus menelpon Norvin tapi selalu di luar jangkauan. Dia juga sering menunggu Norvin untuk menelponnya tapi harapan itu tidak pernah terjadi. Jujur Kirei mulai tertarik dengan laki-laki misterius itu.

Kemudian suara pesan di hp terdengar bersamaan dengan suara hp mereka. Kirei membuka pesan itu dan melihat bahwa headhelt memanggil mereka.

Tak banyak bicara mereka kemudian berlari menuju ruangan headhelt. Di ruangan itu terlihat seorang headhelt dan seorang kepala sekolah Majiku Academy.

"Ada apa Suki-sama." tanya Su sambil tetap melihat Yuki.

"Aku ada tugas untuk kalian. Perkenalkan dia Yuki-sama kepala sekolah Majiku Academy."

Mereka menggangukan kepala tanda memberi hormat.

"Aku meminta tolong kepada kalian, Kirei-san, Su-kun, dan Kyoko-san."

"Meminta tolong apa?" tanya Kirei.

"Di sebelah utara Hana City sedang terjadi perang antar desa. Desa  ume dan desa bara sedang memperebutkan wilayah."

"Maksud Suki-sama sedang memperebutkan apa?" tanya Kyoko bingung.

Suki langsung membalikan layar laptopnya kepada mereka, agar gambar peta terlihat.

"Perbatasan desa ume dan desa bara adalah sebuah sungai yang banyak menghasilkan sumber emas. Dulu sungai itu milik tetua desa ume, namun tetua tersebut baru saja wafat dan desa bara ingin mengambilnya." ucap Suki sambil menunjukkan letak desa Ume dan bara.

"Lalu kau mengirim kami ke Medan perang?" tanya Kirei.

"Kau betul sekali, kami sedang bekerja sama dengan sekolah Majiku Academy. Beberapa siswa di sana sedang menjalankan misi. Aku kirim kalian ke sana karena permintaan Yuki-sama."

Mereka langsung menoleh kearah Yuki yang terlihat tersenyum.

"Karena kalian penyihir medis, aku akan memberi beberapa murid andalanku untuk menjaga kalian. Walaupun aku tau bahwa Su-kun dan Kyoto-kun juga penyihir bertarung yang hebat. Tapi, kami mengirim kalian kesana bukan untuk berperang, melainkan membantu menyembuhkan badan keamanan  yang terluka." jelas Yuki.

Dua orang siswa kemudian memasuki ruangan itu. Terlihat seorang remaja perempuan berambut kuning tersenyum kearah mereka dan seorang laki-laki berambut cokelat tampan juga tinggi.

"Mereka anak-anakku aku percaya bahwa mereka bisa melindungi kalian."

"Wah senang bertemu kalian!" ucap Kyoto yang melihat Ichiro yang tampan.

Kirei mengganguk dan dijawab anggukan oleh mereka berdua.

"Aku Miki kakak Ichiro kami anak dari Yuki-sama kepala sekolah Majiku Academy dan bersiap untuk menjaga kalian."

"Hmm Yuki-sama apa tidak apa-apa mengorbankan anak-anak mu?" tanya Kirei sopan.

Yuki tertawa. Mereka semua bingung kecuali Miki dan Ichiro yang menghembuskan nafas kasar.

"Mereka aku hukum, karena telah melanggar peraturan sekolah." ucap Yuki sambil tertawa.

"Hukum?" tanya Su penasaran.

"Sudah-sudah besok kalian akan menaiki kuda." ucap Suki.

"Aku sudah siapkan 5 kuda untuk kalian. Dan aku harap Kirei-san menjadi ketua tim."

Kirei menelan nafasnya susah payah. Tapi mau tidak mau dia harus mengganguk.

"Baiklah siapkan diri kalian untuk besok dan berkumpul di perbatasan kota."

-

Kirei berjalan di tengah malam melewati gang yang dulu dia lalui bersama Norvin. Akhir-akhir ini dia sering memikirkan pria itu. Di tangannya sudah ada beberapa belanja obat untuk misi besok. Sudah sangat lama sejak dia keluar kota.

"Kau belum menjawab pesanku?" ucap Kirei sambil mengecek hp nya.

Tiba-tiba seorang berbaju hitam memaki masker dan hanya terlihat matanya berada di depan Kirei. Membuat dia terkejut.

"Ka...kau si..siapa?" ucap Kirei sambil memundurkan badan.

"Jauhi pangeran!" ucap orang itu.

"Pangeran siapa?!"

"Aku hanya memperingati sekali!" ucap orang itu lalu menghilang.

Kirei hanya terdiam. Bingung apa yang di bicarakan orang itu. Dia juga tidak mengetahui orang itu laki-laki atau perempuan.

-

-

Cuaca cukup mendukung hari ini untuk melakukan perjalanan jauh. Mereka menaiki kuda karena melewati hutan. 5 kuda dengan 4 warna cokelat dan 1 warna putih sudah berada di perbatasan kota. Kirei diberi kuda berwarna putih menandakan bahwa dia ketua tim.

"Kau kuda yang baik." ucap Kirei sambil mengelus kudanya.

"Kirei-san kita berangkat sekarang sebelum matahari terbenam kita sudah harus sampai." ucap Miki.

"Iya baiklah Miki-chan."

"Baiklah dengarkan aku kita akan melakukan misi penyelamatan. Prioritas utama kita adalah menyembuhkan orang yang terluka walaupun dengan nyawa kita. Kalian mengerti!" ucap Kirei.

"Kami mengerti!"

Mereka menaiki kudanya dan melaju cepat. Ichiro berada di depan, penyihir medis berada di tengah, dan Miki berada di belakang. Formasi ini akan melindungi penyihir medis jika terjadi sesuatu.

Kirei melajukan kudanya sudah lama dia tidak berkuda. Dan dia hanya berharap akan cepat menyelesaikan misi ini. Jalan yang dilalui memang cukup sulit. Mereka bahkan melewati jalan yang hanya bisa dilewati satu kuda dengan kanan dan kiri jurang.

Hari memang semakin sore matahari juga akan tenggelam, untung saja perjalan mereka lebih cepat karena memang Kirei memutuskan tidak melakukan istirahat.

Saat ingin sampai memasuki desa ume, Ichiro menghentikan kudanya yang diikuti oleh penyihir lainnya.

"Di depan sudah pintu masuk perbatasan ume, kita akan di sambut oleh pasukan khusu badan keamanan."

Yang lainnya hanya mengangguk kemudian melanjutkan perjalanan. Do pintu masuk desa mereka sudah melihat 5 orang berdiri di sana. Dan mata Kirei mengetahui salah satunya. Kuda mereka berjalan pelan dengan kuda putih Kirei berada di depan.

Norvin sempat terkejut, namun dia mencoba tetap tegas dan bersikap datar. Kuda putih Kirei berhadapan pas di depan Norvin. Laki-laki itu mendongakkan kepala dan memberi hormat.

"Kami pasukan khusus yang akan melindungi kalian." Sambil tangan Norvin turun kebawah.

Kirei hanya diam menatap laki-laki itu. Perasaanya campur aduk antara senang melihat dia dan marah kepadanya.

"Kami yang akan pegang kendali kuda kalian, karena akan ada beberapa serangan menuju markas kami." ucap Norvin yang diikuti gerakan anak buahnya untuk memegang kendali kuda mereka.

Norvin kemudian menaiki kuda Kirei dan mengambil kendali. Nafas Norvin bahkan terdengar di telinga Kirei. Kirei hanya terdiam dan menikmati nafas Norvin itu.

"Hiak!!"

Kuda putih itu berlari kencang menuju markas mereka. Memang masih ada hutan yang harus mereka lalui. Hutan itu lah yang banyak menewaskan korban karena dekat dengan desa bara.

"Aku merindukanmu." ucap Norvin di telinga Kirei.

"..."

"Kau marah padaku?"

Kirei tetap diam dia mencoba menahan tangisnya. Menahan rasa sesak di dada.

"Maafkan aku."

"Kau tidak pernah memberiku kabar." ucap Kirei bergetar.

"Misiku harus dirahasiakan Kirei."

"Kau memang gila hingga membuatku menunggu."

"Kau tidak menungguku, tapi menemuiku."

Kirei menolehkan kepalanya. Jarak mereka sangat dekat apalagi melihat rambut Norvin yang tertiup angin. Sungguh tampan.

"Kau pandai berkuda Kirei."

"Dulu aku juga penyihir medis biasa dan harus menjalankan tugas."

Norvin memeluk Kirei dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan masih menjalankan kuda.

"Jangan marah padaku, aku mohon."

"Aku sekarang percaya kau kapten pasukan khusus Norvin-kun." ucap Kirei sambil memegang tangan Norvin.

Tiba-tiba terdengar suara dari balik semak-semak seperti seseorang yang berlari. Norvin lalu melepaskan pelukannya kemudian memberi aba-aba dengan tangan. Anak buah Norvin bersiap mengambil senjata mereka. Norvin megambil kain penutup mata dan ia berikan kepada Kirei.

"Pakai ini dan tutup matamu."

"Ada apa ini Norvin-kun?"

"Cepat pakai! aku tidak mau kau melihat adegan yang tidak kau suka."

Kirei menutup matanya menggunakan kain yang digunakan Norvin. Entah mengapa dia suruh memakai ini. Dan beberapa saat kemudian dia mengetahui alasanya. Terdengar suara tarikan pedang dan kuda yang semakin kencang.

"Hiyaaa!!"

Craft...crattt....crattt

Kirei yang mengetahui itu suara pedang yang menebas seseorang hanya diam. Dan memegang kuda erat.

Norvin menebas penyihir yang menghalanginya. Salah satu penyihir itu ingin mengeluarkan sihir namun sihir itu tiba-tiba menghilang. Tentu saja itu perbuatan Samsuk. Kuda Norvin berlari kencang. Sedangkan penyihir yang masih hidup dibereskan oleh anak buahnya di belakang.

"Kau boleh melepas penutup matamu."

Kirei langsung melepasnya dan melihat cipratan darah di pedang Norvin.

"Kau terluka?!" ucap Norvin.

"Seharusnya aku yang mengatakan itu."

Ucapan Kirei dibalas senyuman oleh Norvin. Laki-laki itu memasukkan pedangnya dan mempercepat laju kudan nya.

Sekitar 10 menit mereka berkuda. Mereka telah sampai di markas desa Ume. Banyak para penyihir badan kemaanan yang berkeliling. Norvin turun dari kuda dan membantu Kirei turun.

Setelah semua penyihir turun dari kuda mereka menuju ke sebuah rumah yang di siapkan oleh badan keamanan. Rumahnya memang rumah kayu, namun cukup untuk 5 orang tentunya kamar mereka di pisah antara laki-laki dan perempuan. Mereka memasuki rumah itu.

"Ini tempat yang aman untuk penyihir medis, kami akan menjaga kalian sebaik mungkin. Dan berikan ponsel kalian untuk menjaga rahasia badan keamanan."

Mereka memberikan hp mereka kepada Zoray yang sedang membawa kotak.

"Tempat kami ada di samping pohon besar, kalian bisa mencari kami di sana. Selamat beristirahat." ucap Norvin.

Pasukan khusus itu pergi meninggalkan mereka berlima. Kirei dan lainnya memilih untuk duduk dulu di sofa. Ada juga yang mencari makanan di dapur.

"Bukankah pangeran Norvin sangat tampan." ucap Miki.

"Pangeran??!!" ucapan Miki mengagetkan Kirei.

"Siapa yang pangeran?!!" teriak Kirei.

"Apa kau bukan dari kota Kirei-san?" tanya Miki.

"Tidak, aku baru tinggal di Hana City sekitar 1 tahun yang lalu."

"Norvin-sama yang jadi kapten tadi itu adalah seorang pangeran."

Kaki Kirei lemas dan terduduk. Dia tidak mengira bahwa perlakuannya saat ingin sangat buruk kepada seorang pangeran. Dia mengusap wajahnya kasar.

"Aku ke kamar dulu." kesal Kirei.

"Kenapa dengannya?" tanya Kyoto  dari dapur.

Kirei memasuki kamar yang berisi 3 ranjang itu kesal. Dia meletakkan tasnya di ranjang dekat jendela, kemudian merebahkan tubuhnya.

"AHHH Apa yang akan terjadi padaku!" ucap Kirei sambil menutup matanya.

-

"Kapten apa kau punya hubungan khusus dengan penyihir medis tadi?" tanya Samsuk.

Norvin sedang melihat rumah yang ditinggali Kirei melalui teropong hanya tersenyum mendengar pertanyaan Samsuk. Dia tetap memperhatikan Kirei yang sedang berada di kamar.

"Bukankah dia milik istana?"

"Apa yang kau katakan kapten?" tanya Samsuk.

Norvin hanya tertawa senang sambil meninggalkan ruangan itu. Dia menuju kamarnya untuk tidur.

-

-

Next part ya guys....

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top