Bagian XIII : I Don't Understand

"Luar biasa, kita masuk ke babak selanjutnya! Astaga, aku sangat bahagia," ucap Deppna dengan suara lantang, mengisi ruangan ganti untuk peserta yang memang telah disediakan. "Aku jadi penasaran, siapa yang akan menjadi lawan kita kali ini?" tanyanya yang langsung menoleh pada rekan tim yang tengah duduk bersantai.

"United High School. Sekolah itu yang lolos dan akan bertanding dengan kita lusa nanti." Zoe lantas menjawab setelah meneguk botol yang berisi air melegakan tenggorokan yang dibuat kering. Bermain selama empat quarter memang sangat melelahkan. Napasnya terasa sesak. Jika tidak dibiasakan melatih daya tahan tubuh dan otot dengan latihan fisik, mereka akan pingsan.

Ishana yang tadinya duduk kini bangkit, menghadap ke arah temannya. "United High School cukup kuat. Aku memiliki rekan tim yang begitu andal menjadi shooting guard di komunitas basket jalanan," ucapnya tiba-tiba.

Alhasil, fokus tertuju pada Ishana. Gaye dengan cepat memikirkan suatu hal. "Apa itu bisa menjadi sebuah ancaman buat kita? Yang tadi juga cukup kuat dan kita bisa mengalahkannya."

"Walau seperti itu, kita tidak bisa menganggap semua lawan setimpal, Gaye. Kamu akan terkejut jika lawan nanti bisa melampau kita," balas Zoe yang langsung mengambil tasnya dan pergi. Ishana yang melihat itu lantas memanggil. Beruntung, Zoe menghentikan langkah dan menatap Ishana dengan datar.

Ishana tidak peduli. Ia mendekat seraya memperbaiki posisi kacamatanya. "Kamu mau ke mana? Ayo kita makan dulu."

"Aku akan menemui temanku dulu. Dia juga ada di sini. Kirimkan alamatnya. Jika sempat, aku akan ke sana," ucap Zoe yang kembali melanjutkan perjalanan. Ishana tidak mengatakan apapun, ia menganggap Zoe memang memiliki keperluan, tetapi berbeda dengan yang lainnya.

"Apa Zoe kesal dengan perkataan Gaye yang terkesan memberikan tekanan?" sahut Elakshi tiba-tiba. Gaye yang namanya disebut memasang raut wajah terkejut, karena ia juga mengkhawatirkan hal yang sama.

Kepala Gaye sontak menggeleng. "Aku sungguh tidak bermaksud untuk mengatakan hal tersebut. Aku memang salah karena tidak mem-filter perkataanku. Aku akan menemui Zoe—"

"Tidak perlu. Biarkan Zoe melakukan hal yang ingin ia lakukan. Pertandingan hari ini cukup melelahkan, bukan? Ayo kita makan dulu," ucap Ishana yang tersenyum lebar. Ia berbalik, kembali ke perkumpulan teman-temannya yang tampak khawatir. Walau ia juga merasakannya—tekanan besar yang akan mereka hadapi. Namun, ia sangat yakin, Zoe tidak akan mengambil jalan yang salah.

"Sudah-sudah! Biarkan Zoe pergi menemui temannya, dia akan berusaha untuk menyusul. Ayo kita pergi ke Kedai Cak Yen dulu. Di sana ada promo untuk semua makanan khas China yang mereka jual. Aku yang traktir kali ini," sahut Avanti yang terlebih dahulu bangkit. Ia berusaha untuk menghilangkan kecanggungan yang tercipta. Benar saja, Gaye, Elakshi, Ishana dan Deppna dibuat bersorak.

Hei, siapa yang menolak makanan gratis?

"Oke, ayo kita ke sana!"

"Kamu memang yang terbaik Avanti!

Sementara Zoe, ia yang sudah menutupi seragam basketnya dengan jaket yang semua tim miliki, pun ia melangkah menjauh dari ruangan khusus bagi tim yang bertanding. Kepergiaannya bukan karena perkataan Gaye atau pembahasan beberapa menit yang lalu. Memang ia sedikit tertekan dan takut untuk menghadapi hari lusa, tetapi itu bukan menjadi alasannya tidak ingin ikut.

Seperti yang Zoe katakan pada Ishana. Ia akan menemui salah seorang teman yang ikut bertanding di Women's Eiland Cup. Teman seperjuangan saat di Hakley Boarding School. Bahkan, satu-satunya orang yang bisa mengerti Zoe yang terkadang menyebalkan. Dia adalah Bella Damika—tahun pertama di Akademi Aschra yang akan bertanding lusa dengan Instisitut Le Rusel. Jika Akademi Aschra nanti menang, kemungkin mereka akan bertanding—menjadi rival. Zoe mengharapkan kemenangan, karena ia dan Bella memang sudah memprediksi di masa depan nanti, mereka akan memperebutkan kemenangan—bukan untuk satu tim, melainkan dengan tim yang berbeda.

"Zoe, temanku yang paling terbaik! Apa kabar?" pekik seorang gadis yang berpakaian olahraga lengkap. Gadis yang Zoe ingin temui kini berlari ke arahnya dan langsung berpelukan bak teman yang tidak pernah bertemu. "Aku rindu sekali denganmu, teman dinginku. Sial, kita baru bisa bertemu karena sekolahku yang cukup jauh dari ibukota," katanya lagi.

Zoe dibuat mengerjapkan kedua mata. Jujur, ia terkejut dengan gerakan tiba-tiba Bella. Namun, ia memilih untuk membalas pelukan tersebut, saling membalas rindu karena jika tidak, Bella akan mengamuk. Hanya lima detik, lalu Zoe melepaskan diri. Bella sedikit kesal. Terbukti dengan dirinya yang mengerucutkan kedua bibir dan Zoe tidak peduli.

"Hai, Bella. Terakhir kita bertemu saat acara perpisahan. Sudah cukup lama dan aku sebenarnya sangat terkejut kamu melanjutkan studi Akamedi Aschra," ucap Zoe santai dengan ekspresi wajah dingin.

Bella mengangguk paham, tetapi jemarinya dengan spontan memegangi dagu dan ia tersenyum lebar. "Aku malahan lebih terkejut saat kamu melanjutkan studi di Universe High School. Really? Kenapa tidak di Akademi Lanakila yang sudah pasti mengenai basket? Kedua orangtuamu juga lulusan sana dan kamu memilih masuk di kandang penuh jarum," jelas Bella yang berhasil membuat Zoe bungkam—kehabisan kata-kata. Banyak orang mungkin menganggapnya bodoh dengan memilih Universe High School. Zoe tahu itu, tetapi ia memiliki alasan. Bella berbicara banyak yang menurutnya penuh omong kosong, jadi ia akan mengatakan beberapa hal.

Keduanya berjalan menuju bagian belakang stadion—cukup sepi tetapi memiliki objek pemandangan yang lumayan dengan tanaman-tanaman hijau yang disorot oleh rembulan.

"Aku memiliki alasan—"

"Apa? Kamu tidak ingin diolok-olok karena menjadi anak dari atlet basket lagendaris? Itu omong kosong!"

Namun, Zoe hanya menghela napas. "Sedikit benar. Aku ingin berbeda dan hanya itu yang terpikir. Aku selalu mendengar mereka menang untuk klub basket putra dan aku bosan masuk asrama jika memaksa di Akademi Lanakila!"

"Seperti meledakkan bom bunuh diri! Kamu memang ajaib! Tak ada yang berpikiran sampai ke sana dan satu lagi, kamu yang memang dasarnya tidak peduli dengan berita-berita mengenai patriarki di Eiland, Zoe. Come on!" ucap Bella kesal. Ia lantas menghela napas. "Sudahlah, semuanya juga sudah terjadi. Kamu sudah berada di sana dan sungguh, kamu memang masih keren seperti biasa."

Zoe tersenyum sebagai tanggapan. Ia memilih duduk di atas tangga dengan kaki yang ia luruskan. Melihat hal tersebut, Bella juga ikut serta melakukannya. "Zoe, aku jadi rindu saat-saat kita bermain tim. Sangat menyenangkan," kata Bella lagi. Ia mengamati lurus ke depan dengan raut tak bersemangat. Ya, Zoe bisa paham.

"Lain kali kita bisa bermain secara tim. Untuk sementara waktu, kita rival. Jadi, bersikaplah sebagai rival jika sedang berhadapan denganku," balas Zoe dengan santai.

Bella lantas menoleh dengan tawa yang mengejek. "Tentu saja, Kapten Zoe! Kupastikan akan menang jika menghadapimu nanti."

"Coba saja! Aku tidak akan membiarkanmu menang." Zoe membalas dengan serius. Bella bisa merasakannya dan faktanya mereka memang akan saling berusaha untuk memenangkan tim. Bella hanya tersenyum tipis—menikmati momen bersama dengan Zoe.

***

Avanti berkata jujur dengan traktiran yang ingin ia lakukan. Beberapa jenis makanan khas China pun sudah ada di atas meja seperti long chao shou hingga sichuan hot pot yang bisa dimakan secara bersama-sama. Tidak lupa, enam botol limun yang sudah dipesan. Mereka tetap menyiapkan untuk Zoe yang barangkali akan datang.

Deppna yang sudah memegang botol limun, bangkit dan menaikkannya ke udara. "Ayo bersulang untuk Klub Basket Putri!Kita pasti bisa!" serunya dengan suara melengking. Berhasil mengalihkan amatan pengunjung, tetapi Deppna tidak peduli. Sungguh, ia sangat senang.

Alhasil, Gaye, Ishana, Avanti dan Elakshi ikut bangkit dan bersulang—membuat suara adu botol berbunyi.

"Terima kasih Avanti atas traktirannya!" Mereka kembali bersahut secara bersamaan. Lantas, mulai menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja—tanpa menanti kehadiran Zoe yang pasti.

Ishana sesekali melirik ke arah pintu, berharap Zoe datang setelah ia mengirimkan alamat kedai yang mereka singgahi. Elakshi yang mengerti kekhawatiran Ishana sontak menghentikan kunyahannya. "Apa Zoe benar-benar datang?" Bersamaan dengan Ishana yang mengalihkan amatan, ia sedikit terkejut, tetapi memilih untuk tersenyum.

"Jika urusannya sudah selesai, dia akan menyempatkan diri ke sini. Akan tetapi, aku sudah mengirimkan alamat kedai," kata Ishana yang memperjelas. Elakshi mengangguk paham. Ia tidak berniat untuk bertanya lagi dan mulai menikmati makanan yang mengunggah selera. Ishana pun juga mulai melupakan soal Zoe, karena sebenarnya ia tengah lapar dan tidak bisa menolak makanan enak dan gratis.

Namun, tidak berlangsung lama, Zoe datang dengan langkah lesu—sedikit lelah. Beruntung, kedai yang teman-temannya kunjungi tak begitu jauh dari lokasi Land Center—stadion lapangan basket yang digunakan untuk menyelenggarakan Women's Eiland Cup. Akan tetapi, langkah kaki Zoe dibuat berhenti kala melihat Yuuki datang dari arah berlawanan dengan gaya begitu cool. Sekali lagi, Zoe terpaku disaat-saat seperti ini dan hal tersebut sangat menyebalkan. Rasanya ingin berlari masuk ke tempat di mana teman-temannya berada. Hei, kedai sudah ada di sampingnya. Hanya saja, Zoe berakhir menurunkan ego dan mencoba untuk tetap tenang.

"Kapten Yuuki!" Zoe memanggil yang membuat Yuuki baru saja menghentikan langkah. Keduanya, saat ini berdiri tidak jauh dari depan pintu. Yuuki yang mendengar namanya dipanggil, perlahan menyunggingkan senyum. Secara spontan, tangannya terulur—seolah-olah ingin menjabat tangan Zoe, tetapi Zoe tidak mengerti hingga ia memilih untuk diam.

Yuuki paham dengan respon Zoe, alhasil ia menganggukkan kepala. "Selamat atas kemenangan di babak pertama. Kalian memang bisa. Aku sudah menduganya," katanya yang bergegas membuat Zoe membalas uluran tangan Yuuki dengan canggung.

"Terima kasih Senior! Ini semua berkat kerja keras tim dan sangat senang karena Senior juga ikut andil dalam perkembangan tim," ucap Zoe disela tangan mereka yang membagi kehangatan. Bahkan, tangan keduanya masih tertaut tanpa ada satupun kata terucap—hanya lewat mata dan Zoe pun tak mengerti. Untuk menghalau hal-hal yang serasa memuakkan diri, Zoe melepas uluran tangan dengan senyum canggung.

"Senior, aku harus menemui teman-temanku. Hm ... Senior bisa ikut bergabung—"

"Tidak untuk hari ini. Aku harus bertemu dengan teman-temanku juga." Yuuki langsung memotong perkataan Zoe yang belum usai, sehingga Zoe yang semula terkejut, memilih untuk mengangguk seraya menunjuk ke kedai yang berada di sampingnya.

"Baiklah. Aku masuk ke sana dulu, Senior. Sampai jumpa." Zoe meninggalkan Yuuki tanpa menantikan balasan setelah mengucapkan perpisahan. Menurutnya tidak perlu tetapi langkahnya seketika dibuat terhenti karena Yuuki ternyata memegangi lengannya.

Zoe bingung. Tampak dengan jelas sebelah alisnya yang terangkat. "Senior—"

"Ayo bertemu setelah kamu selesai latihan besok, Zoe. Ada yang ingin aku katakan."

Namun, keduanya tidak menyadari jika saat ini menjadi tontonan bagi Ishana, Gaye, Avanti, Deepna dan Elakshi. Melihat kedekatan tiba-tiba antara Kapten Yuuki dengan Kapten Zoe jelas memberikan tanda tanya. Apa mereka memiliki hubungan lebih dari batas antara Senior dengan Junior?

Hola guys! Aku update sesuai jadwal.

See u pokoknya di bab selanjutnya!!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top