|5|

Kepercayaan itu diibaratkan sebuah keperawanan. Jangan berikan kepada sembarang orang dan berhati-hatilah kepada siapa yang kamu percaya.

....

....

....

....

Begitu keluar dari rumah, Bastian segera berjalan ke arah lapangan sepak bola yang tidak jauh dari gang tempat tinggalnya. Sesampainya di sana, dia langsung mencari sosok Hayati di tengah keramaian orang yang heboh menonton pertandingan bola. Bastian yakin Hayati berada di sana, karena cewek itu suka menonton bola. Tak butuh waktu lama, Bastian sudah menemukan keberadaan Hayati. Dia masih memakai seragam sekolah dengan tas ransel bewarna merah di punggungnya. Hayati berdiri sambil menyedot minuman es kelapa. Dan ketika terjadi Gol, dia bersorak kegirangan seraya mencubit gemas bahu cowok yang berada di sampingnya. Bastian yakin seratus persen, Hayati tidak mengenal dan juga tidak sadar melakukan tindakan itu kepada cowok tadi. Terlihat jelas kerutan di dahinya yang memandang aneh ke arah Hayati. Seolah berkata 'Eh, kamu siapa berani cubit-cubit? Kita kenal?'

Seolah sadar apa yang terjadi, Hayati spontan menyengir dan meminta maaf pada orang tersebut. Kemudian dia berjalan mundur secara teratur dan saat berbalik badan, Hayati terkejut kala mendapati Bastian tengah berdiri di depannya.

"Kenapa nongkrong di sini?" Tanya Bastian tanpa basa-basi.

Hayati menatap sebal. "Nonton bola," Jawabnya sambil berjalan melewati Bastian.

"Setidaknya kamu setor muka dulu ke rumah, baru main ke sini. Pasti sekarang Papa sama Mama kamu khawatir."

Hayati berhenti berjalan dan memandang Bastian curiga. "Tahu darimana aku belum pulang ke rumah?" Jari telunjuknya mengarah ke wajah Bastian. "Diam-diam kamu ngikutin aku ya?" Tanyanya kegeeran.

Bastian bergeleng. "Aku kebetulan lewat, nggak sengaja lihat kamu di sini dengan seragam sekolah yang belum diganti. Jadi mudah bagi aku untuk menebaknya, kalau kamu pasti belum pulang ke rumah."

Bastian sengaja berbohong. Karena Hayati tidak boleh tahu kalau selama ini Papanya dan dia saling berkomunikasi. Pak bupati itu meminta Bastian untuk menjaga dan menjadi teman putrinya di sekolah sampai lulus nanti.

"Lagi malas pulang ke rumah, jadi aku main-main dulu, " Jawab Hayati enteng.

Bastian melangkah maju. Begitu dekat dengan tubuh Hayati, dia menunduk sambil mencium sesuatu yang ia kenali baunya. "Kamu merokok?"

Hayati bergeleng. "Enggak."

"Jangan bohong."

Hayati mundur membuat jarak. "Kamu salah cium kali. Itu mungkin karena aku berdiri di tengah-tengah para cowok pas nonton bola tadi."

Bastian kembali mendekat. Dan kali ini dia menahan kedua bahu Hayati. "Hembuskan napas kamu coba," Perintahnya.

Refleks Hayati menutup mulut sambil bergeleng. Dia mati kutu.

"Kamu merokok kan? Berapa batang Ay?"

Hayati tetap bergeleng dengan posisi tangan yang menutup mulut.

"Oke. Kalau kamu nggak mau buka suara, biar aku yang cari bukti sendiri."

Bastian tidak menemukan apapun saat merogoh kantong rok sekolah Hayati. Lalu dia memutar tubuh Hayati untuk membelakanginya, sehingga ia mudah membuka isi tas ransel itu. Dan Hayati langsung meringis kala Bastian menemukan sebungkus rokok bewarna putih.

"Cuma sebatang kok. Serius. Hitung deh jumlah isinya. Aku cuma ambil satu." Hayati mencoba menyelamatkan dirinya.

Bastian hanya diam memandang cewek itu. Dia tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menghentikan kegiatan aneh Hayati.

"Tapi tunggu deh. Ini kan hak aku. Kenapa kamu harus marah coba kalau aku merokok? Teman bukan. Pacar juga enggak. Beli rokok juga pakai duit aku sendiri. Terus apa hak kamu ngatur-ngatur aku nggak boleh ini dan itu? Dan kenapa juga aku harus takut ketahuan sama kamu?" Dada Hayati terlihat naik turun karena melempar banyak pertanyaan yang menggebu-gebu.

Hembusan angin sore yang begitu kencang membuat Bastian tertolong. Dia menatap langit gelap yang pertanda kemungkinan akan turun hujan.

"Sepertinya mau hujan, kamu ke rumah aku dulu sambil nunggu jemputan wak Udin."

Kedua tangan Hayati terlipat di depan dada. "Jangan bujuk aku. Aku lagi sebel sama kamu." Dia memalingkan wajah.

Dan tiba-tiba rintik-rintik hujan mulai berjatuhan.

"Masih yakin tetap berdiri di sini? Nggak mau ikut sama aku ke rumah?" Tanya Bastian lagi.

"Kamu pulang aja sana. Aku tunggu wak Udin di bawah pohon kelapa itu aja," Ujar Hayati sambil menatap orang-orang yang berlari mencari tempat berteduh.

"Oke. Tapi hati-hati dengan tas kamu."

"Memangnya kenapa?"

"Kata orang, petir suka menyambar hal-hal yang bewarna merah. Apalagi kamu berdiri di bawah pohon. Bisa jadi sasaran utama. Aku takut kamu gosong Ay."

Bastian menahan senyumnya saat Hayati terlihat terpengaruh dengan omongannya tadi.

"Aku pergi dulu." Bastian pamit.

"Bass! Aku ikut deh. Aku tunggu di rumah kamu aja."

Bastian mengangguk. Lalu mengulurkan tangan pada Hayati. "Ayo kita lari sebelum hujannya semakin deras."

Hayati menerima uluran tangan Bastian dan menggenggamnya erat. Begitu hitungan ketiga, mereka berdua pun berlari di tengah hujan.

*****

Sesampainya di rumah, Bastian langsung menyuruh Hayati masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Sementara Bastian ke dapur membuat teh hangat, sedangkan Desember sibuk memasak untuk makan malam.

Begitu selesai mandi, kepala Hayati muncul dibalik pintu dan mengintip. Setelah ia rasa aman, dengan hanya berbalut handuk Hayati berlari kecil menuju ke kamar Desember. Kakak Bastian yang super lembut itu dengan senang hati mau meminjamkan pakaiannya pada Hayati.

Di lain sisi, suami Desember yang baru saja pulang kerja segera masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya yang juga basah karena terkena hujan. Langit tersenyum saat menatap wanita yang sedang membungkuk memilih baju di dalam lemari dengan handuk yang melilit ditubuhnya. Karena mengira wanita itu adalah istrinya, tentu sisi kemesuman Langit pun muncul.

"Des...." Bisiknya seraya memeluk tubuh wanita itu dari belakang.

Seketika bulu kuduk Hayati berdiri menyadari kedua tangan kekar memeluk perutnya. Dia sadar itu bukan suara Bastian dan bukan tangan Bastian.

Hayati membalikkan badan.

Langit terkejut bukan main. Spontan ia melepaskan pelukan.

"Aaakkhhhh...." Hayati dan Langit berteriak dengan kedua mata terbelalak.

"CALON ABANG IPAR NGAPAIN PELUK-PELUK AKU?!"

"KAMU YANG NGAPAIN ADA DI KAMAR ISTRI AKU, BOCAH ALAY!"

Dan selanjutnya dua anak manusia itu kembali lagi berteriak berjamaah. Langit segera keluar dari dalam kamar ketika Hayati melemparkan bantal dan selimut ke arahnya.

17- April- 2018

Next part udah part baru ya hehehe :)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top