|2|
Jika harus memilih antara ilmu dan harta. Maka pilihlah ilmu. Karena ilmu yang tepat bisa melahirkan harta.
~1001_Katabijak~
.....
.....
.....
"Wak Udin tunggu di sini. Ay mau lihat calon suami yang lagi kerja keras untuk masa depan kami," Ujar Hayati pada supirnya sambil membuka pintu mobil.
Namun baru akan keluar, Hayati langsung menutup pintu lagi.
"Loh? Nggak jadi lihat calon suaminya kerja Non?"
"Jadi kok." Hayati menjawab seraya mengambil Sunblock merk ternama dari dalam tasnya. "Tapi cuaca lagi panas. Jadi Ay harus pake cream ini dulu, biar kulit Ay nggak terbakar sama sinar matahari. Ay putih kinclong gini aja nggak dilirik sama Bass, konon lagi Ay hitam seperti wak Udin? Beugh! Bastian pasti langsung muntaber lihatnya."
Spontan wak Udin menatap diri lewat kaca yang ada di atas kepalanya. "Non Ay percaya nggak kalau dulu wak Udin ini orangnya ganteng?"
"Serius?"
Wak Udin mengangguk. "Ya beda tipislah sama artis korea kesukaan Non itu."
"Yang mana?" Hayati menggaruk kepala. Pasalnya dia sering memberikan ponselnya pada wak Udin untuk menonton video korea agar tidak bosan menunggu jika sedang pergi keluar, seperti saat ini.
"Ituloh Non personil Super Junior yang punya lesung pipi. Tawon apa Kliwon ya namanya?"
"Siwon kali."
"Nah iya. Dulu wak Udin mirip banget sama Siwon. Tapi itu sebelum negara api menyerang Non."
"Oh pantes jadi gosong gini ya wak Udin. Tapi Ay jadi kasihan sama oppa Siwon deh."
"Kok gitu Non?" Wak Udin merasa dikhianati oleh majikannya.
"Iya kasihan aja. Wak Udin mirip dengan Siwon itu suatu anugerah. Sedangkan Siwon mirip wak Udin justru musibah."
"Jujur amat sih Non?"
"Oh harus itu. Karena dari kecil Papa udah mendidik Ay harus jujur dan punya attitude yang baik pada semua orang," Ucapnya mantap dengan senyum yang manis. "Udah ah. Ay mau ketemu Bass dulu."
Hayati turun dari mobil dan berjalan hati-hati ke arah bangunan rumah yang menjadi tempat kerja Bastian. Dia rajin pergi ke sana hanya untuk memberi semangat pada cowok incarannya itu.
"Bass!" Teriak girang Hayati dari kejauhan.
"Pacar kamu datang lagi tuh," Seru salah satu pekerja bangunan ke Bastian.
"Kamu pintar ya pilih cewek. Dia masih SMA kan? Sebaya kamu? Tapi badannya mantap. Berisi pas sesuai tempat seharusnya. Ajarin Abang-Abang di sini dong gimana cara biar dapat cewek bening gitu."
"Udah ngapain aja sama dia? Cantik gitu jangan disia-siakanlah. Langsung tandai biar nggak ditikung orang."
Bastian membanting skop dari tangannya ke tanah. Ditatapnya tajam satu per satu di antara mereka. Membuat para pekerja bangunan itu tidak berani mengeluarkan suara lagi.
Kemudian Bastian menoleh kesal ke arah Hayati dan mendatanginya yang berdiri di dekat pohon tak jauh dari tempat bangunan.
"Kamu ngapain datang ke sini lagi?! Aku kan udah larang, kenapa nggak pernah dengar omongan aku?!" Bentak Bastian.
Hayati terkejut dengan reaksi Bastian yang seperti itu. "Aku baru datang Bass. Kok kamu tiba-tiba marah sih? Aku salah apa coba?"
"Aku nggak suka kamu datang!"
"Tapi kemarin-kemarin aku ke sini kamu biasa aja. Nggak marah kayak gini."
Bastian memandang ke arah lain untuk meredam rasa kesalnya. Dia sangat tidak nyaman dengan pembicaraan para pekerja tadi yang berpikiran kotor terhadap temannya.
Dia juga tidak bisa marah, karena usia para rekan kerjanya jauh lebih tua darinya. Membuat Bastian merasa segan jika harus berkata kasar.
"Bass... jangan marah dong. Nanti Ay sedih nih." Jari telunjuk Hayati menusuk-nusuk lengan Bastian dengan wajah cemberut. "Kalau kamu marah, aku bakal...."
"Bakal apa? Makan cabe rawit lagi?" Potong Bastian cepat karena tahu kebiasaan temannya itu.
Hayati ini orangnya sangat unik. Dia tidak akan menangis jika sedang sedih, kesal ataupun marah. Dia lebih suka suka melampiaskannya dengan memakan cabe rawit. Bahkan ia pernah masuk rumah sakit karena menghabiskan dua genggam cabe rawit dari dalam kulkas rumahnya hanya karena tidak dibelikan ponsel keluaran terbaru yang menjadi incarannya.
Hayati mengangguk. "Iya rencananya gitu. Di dalam mobil aku udah sediakan tupperware yang isinya cabe rawit. Jadi lebih memudahkan untuk bawa dia kemana-mana. Pintar kan aku?" Katanya dengan menaik-naikkan sebelah alis kanan.
"Kalau kamu pulang, aku nggak akan marah sama kamu." Suara Bastian melembut. "Jadi pulang aja ya?"
"Enggak mau. Aku mau lihat kamu kerja."
"Tapi di sini panas."
"Sejuk kok, apalagi kalau lihat muka kamu."
Bastian mengangkat kedua tangannya, pertanda menyerah. Dia lebih suka mengerjakan soal fisika yang paling rumit sekalipun daripada harus berdebat dengan Hayati.
"Semangat Bass! Doaku menyertaimu! Cari duit yang banyak ya untuk masa depan kita nanti! I love you, saranghae, wo ai ni, mahal kita, ich liebe dich, Ik hou van jou, ti amo, aishiteru, phom rak khun, aku tresno karo kowe!"
Bastian kembali bekerja tanpa memperdulikan teriakan cempreng dari mulut Hayati. Sementara pekerja yang lain tertawa karena hal itu. Baru kali ini mereka bertemu orang seperti Hayati Kahla.
"Dek... kalau Bastian nggak mau. Abang siap membahagiakan Adek dunia akhirat," Celetuk pekerja pria dari atas bangunan.
Hayati mengeluarkan ekspresi mual. "Amit-amit jabang bayi!" Balasnya sambil menginjak-injak tanah.
"Jangan gitu Dek. Jelek-jelek gini Abang udah punya istri loh."
"Terus ngapain godain daun muda?"
"Ya namanya juga usaha. Siapa tahu Adek mau jadi yang kedua."
Kembali lagi terdengar tawa dari para pekerja bangunan. Hanya Bastian yang diam. Sampai akhirnya dia membuka suara.
"Abang kalau mau sama dia, izin dulu sama Bapaknya. Mau apa enggak putrinya jadi istri ke dua Abang."
"Memangnya siapa Bapak dari cewek cantik itu?"
"Abang godain dia tapi Abang nggak tahu siapa Bapaknya. Dia itu putri Bupati kita. Pak Barret Mendrofa. Abang berani jadiin putrinya istri kedua?"
Hampir saja batu bata yang ada di tangan pria itu terjatuh kala mendengar omongan Bastian tadi.
"Dia putri Bupati?" Tanyanya memastikan.
"Hmm." Bastian bergumam sambil menghapus keringat di dahi.
"Kok nggak bilang dari tadi?" Tanyanya pelan. Nyalinya mendadak ciut.
"Mampus. Siapa yang mulai godain dia?"
"Aku nggak ikutan ya. Aku cuma ikut ketawa bareng."
"Iya. Aku juga cuma haha hihi aja."
Mereka takut dan saling menyelamatkan diri masing-masing. Mereka pun tak berani menggoda Hayati lagi.
"Aw!" Teriak cewek itu dari bawah saat matanya terkena sisa pasir yang jatuh dari atas.
"Kenapa?" Tanya Bastian.
Hayati mengucek-ucek mata. "Nggak tahu. Kena pasir kayaknya."
Bastian menggeram. "Ngerepotin aja."
Namun ia tetap turun dari lantai dua untuk memastikan Hayati baik-baik saja.
"Coba sini aku lihat." Bastian menangkup wajah Hayati.
"Aduh pedih Bass!"
"Diem dulu."
Hayati menurut. Dia membiarkan Bastian membuka kelopak mata kirinya. Pelan-pelan merasakan hembusan napas hangat dari tiupan bibir cowok itu.
"Udah?" Tanya Bastian.
"Belum. Masih perih."
Bastian meniup lagi ke arah mata Hayati sampai benar-benar bersih. "Udah Ay. Nggak ada lagi pasirnya."
Hayati membuka mata dan mendapati wajah Bastian yang begitu dekat dengannya. Meskipun keringat, kotoran debu bangunan menghiasi wajahnya tapi tak mengurangi sedikitpun ketampanan cowok itu.
"Bass?"
"Ya?"
Cium dong!
Sayang Hayati tidak berani mengucapkan itu.
"Beli es tebu yang itu." Hayati menunjuk ke arah penjual tebu.
"Yaudah beli sana. Kamu kan punya kaki."
"Maunya kamu yang beli."
"Aku nggak bawa uang," Jawab Bastian jujur.
"Yaudah pakai uang aku belinya." Hayati mengeluarkan duit dari tas kecilnya.
Tak berapa lama Bastian balik sambil membawa es tebu milik Hayati.
"Ini pesanan kamu." Bastian menyodorkan es tebu itu.
"Kok cuma satu. Kamu nggak mau?" Tanya Hayati.
Bastian bergeleng. "Aku bawa minuman sendiri."
"Coba cicip es tebunya dulu Bass."
"Enggak. Kamu aja."
"Aku maunya kamu dulu yang minum."
Karena tak mau berdebat akhirnya Bastian mengalah dan meminum sedikit dari sedotan es tebu. Setelah itu dia beri es tebunya pada Hayati lagi.
Hayati tersenyum licik. "Kata orang kalau kita minum dari satu sedotan yang sama, secara nggak langsung itu kita udah ciuman."
Lalu dia menyedot minuman es tebu dengan penuh penghayatan. "Mmm... rasa bibir kamu manis ya Bass."
"Bego!"
"Kok kamu gitu sih Bass? Jahat banget sama aku." Hayati mengembungkan pipinya.
"Itu bukan rasa bibir aku yang manis. Tapi dari es tebu yang kamu minum. Cuaca lagi panas Ay, jangan bikin tambah panas lagi." Bastian merasa gerah dan mengibaskan leher bajunya.
"Gerah ya? Bajunya dibuka aja Bass."
Bastian menoleh ke arah Hayati.
"Nggak akan," Tegasnya. "Aku bisa tebak apa yang ada dalam pikiranmu. Khayal yang jorok pasti."
Ih kok dia tahu sih?? Dasar pelit!
Hayati menggerutu dalam hati sambil meminum es tebunya.
14-April-2018
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top