Bab 10

Dua ego yang bergesekan tidak akan mudah untuk mencapai titik temu meskipun sudah ada di depan mata. Seperti itulah gambaran keadaan Regina dengan laki-laki itu. Meski hati bergejolak, memberontak ingin segera kembali namun apa daya jika lidah enggan untuk bicara jujur.

Tidak tahu, bagaimana bisa keduanya memilih menjalani hari dengan gelisah, saling mencuri kabar. Ucapan terakhir dari Leo saat ia turun dari mobil nyatanya hanya menggelitik hati gadis itu. Akan tetapi belum mampu untuk menggerakkan hati berteriak jujur.

"Minggu depan ada acara keluarga. Mamaku pengen jodohin aku sama anak teman sekolahnya," ucap Leo saat gadis itu melepas seatbelt.

"Sound nice. I'm happy for you," jawab Regina singkat disertai senyum ke arah Leo.

"Aku serius, Na."

Gadis itu semakin menampakkan raut wajah seriusnya untuk meyakinkan Leo. "Kamu pikir aku bercanda? Serius. Bahagia banget malah. Pada akhirnya kamu ketemu sama orang yang tepat. Aku turun, ya. Makasih tumpangannya."

Ia bergegas keluar dari mobil lalu diam-diam menghirup udara banyak-banyak. Beberapa kali ia mengerjapkan mata sambil terus berjalan dan berusaha keras untuk tidak menoleh ke belakang. Tangannya menggenggam erat tas genggam untuk meredam tubuhnya yang menggigil. Demi apapun, ia ingin menangis dengan keras saat itu. Hanya saja, ia tahu ini konsekuensi dari mulutnya yang selalu berbohong.

"Restoran Warisan Nyonya jam tujuh malam!"

Sampai detik ini, di akhir pekan ini, Regina masih pada pendiriannya. Gadis itu lebih memilih sibuk di Butik Batik miliknya meski sudah berapa puluh kali Mariska mengingatkan dan Mark juga selalu mengirim kalimat bijaknya agar dikemudian hari ia tidak menyesal.

"Permisi, ibu."

Regina mengangkat wajah ketika seorang karyawan menyapa dengan sopan di ambang pintu ruang kerjanya. Gadis itu tersenyum mempersilahkan. 

"Iya, ada apa, Dit?"

"Ada tamu, Bu."

Ia mengerutkan kening lalu menatap jam di pergelangan tangan. Jam menunjuk pada angka tujuh kurang sepuluh menit malam. Sedangkan di akhir pekan ia tidak menerima kunjungan tamu. Ia sendiri merasa tidak memiliki janji dengan siapapun. Dalam hitungan detik pikirannya sudah bermain liar dan jantungnya berdebar keras. Tidak mungkin laki-laki itu, kan?

"Tamu? Siapa?"

"Aku, Na," sahut seseorang sambil menampakkan diri dengan senyum lebarnya lalu melangkah masuk setelah karyawan yang mengantarnya undur diri.

"Lho, Mbak Rie?" ucapnya seiring dengan helaan napas lega. Namun di sisi lain, diam-diam ada sedikit kecewa yang tidak bisa dijabarkan. "Tumben mampir."

"Mas Mark lagi lihat-lihat Batik di bawah. Lihat mobil kamu di luar, aku minta anterin karyawan kamu ke sini."

"Duduk, Mbak. Kok nggak bilang mau ke sini?"

"Aku nggak lama. Cuma mau anterin Mas Mark doang. Kalau lama aku udah nelpon kamu dulu. Kamu nggak ke acaranya Leo?"

"Leo?"

"Iya, emang kamu nggak tahu? Malam ini dia mau lamaran. Makanya Mas Mark dadakan nyari batik."

"Lamaran?" Ia kembali membeo. Dalam hati ia berkata, bukannya ceritanya tidak seperti ini? Leo bilang hanya perjodohan. Mindset Regina malam ini hanya perkenalan. 

Ia melihat Maurie menganggukkan kepala. Tatapannya lalu beralih pada apa yang dikenakan foodvlogger itu. Sebuah gaun brokat sederhana dengan riasan flawless melekat di tubuh ramping itu. Melihatnya, Regina hanya bisa diam. Otaknya mendadak seperti tidak mampu bekerja dengan baik.

"Serius?"

"Nggak lihat? Udah rapi begini. Ikut nggak? Ya, setidaknya kasih selamat ke mantan nggak ada salahnya, kan?"

"Iya, nggak ada sih salahnya. Nanti aku nyusul aja, Mbak. Aku lagi ada sedikit kerjaan. Bentar lagi selesai."

"Bareng aja. Kalau sebentar doang, kita tunggu nggak apa-apa."

"Nggak usah, Mbak. Nanti kelamaan. Aku ke sana sendiri aja."

"Oke, deh. Sampai ketemu di sana ya, Na."

Gadis itu mengangguk, tersenyum meyakinkan. Tangannya tidak lupa melambai saat Maurie meninggalkan ruang kerjanya.

Kelebat bayangan Leo memasangkan cincin di jari gadis lain membuat Regina kesulitan menyelesaikan sisa pekerjaannya. Hatinya kini semakin gelisah. Ia berdiam sejenak, memikirkan keputusan terbaik. Sampai kemudian ia melepas kacamata antiradiasi-nya lalu bergegas meninggalkan ruang kerjanya. Langkahnya sedikit tergesa menuju ke mobil.

Sementara hatinya terus berkecamuk. Beneran udah rela dia sama yang lain? Yakin nggak apa-apa? Sepanjang perjalanan pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus menghujani pikirannya. Hingga kemudian ia berhenti di sebuah restoran yang pernah disebutkan laki-laki itu. Namun, Regina tidak segera turun. Ia memilih tetap di dalam mobil, mengamati keadaan sekitar.

Beberapa orang berseragam batik terlihat memasuki restoran bernuansa Jawa. Sepertinya acara belum dimulai, meleset dari waktu yang ditentukan. Sejenak, gadis itu menahan napas. Keraguannya pada apa yang dikatakan Maurie kini seolah diyakinkan kebenarannya. Terlebih, tidak lama berselang, seseorang yang bersemayam di hatinya nampak turun dari mobil. Dia terlihat jauh lebih tampan malam ini dengan setelan Batiknya. 

Gadis itu memperhatikan dengan sesekali menarik napas berat. Perlahan kedua matanya terasa menghangat. Kisah panjangnya akan berakhir dengan pasti sebentar lagi. Laki-laki itu secara resmi akan menjadi milik orang lain. Hatinya kini bicara, ia bisa apa? Sesaat, Regina menghela napas. Ia berusaha mengendalikan diri sebelum memutuskan untuk turun dari mobil.

Ia berusaha keras menyeret kakinya mendekati restoran itu. Namun kemudian ia berhenti dan menyembunyikan diri di belakang badan mobil saat laki-laki itu berhenti di ambang pintu. Kepalanya terlihat berkeliling seperti mencari seseorang. Ia berdiri cukup lama hingga kemudian berjalan masuk.

Sementara Regina sendiri malah berdiam di depan restoran itu. Ia mengurungkan niat untuk masuk. Tatapannya berkaca-kaca dengan senyum tipis dipaksakan. Ia menghela napas panjang lalu berbalik arah, bersiap untuk pulang. Ia tidak akan sepicik itu menghentikan cerita yang baru akan dimulai.

"Gina!"

Suara itu membuat langkah Regina berhenti. Tubuhnya kini menegang kaku. Rasanya sepuluh menit ia berdiam diri, tidak ada orang keluar masuk. Saat itu ia yakin acara sudah dimulai. Bagaimana bisa suara itu ada memanggilnya?

"Na!" panggilnya seiring derap langkah mengejar kaki kecil Regina. "Aku tahu kamu pasti akan datang!"

Ia berucap dengan keras. Demi apapun, kaki gadis itu kini seperti terpatri di tempat. Padahal dua meter lagi, ia akan mencapai mobilnya.

"Gimana acaranya?" tanya Regina serak sambil membalikkan badan. Ia mendapati laki-laki itu menatap dengan sorot tak terbaca. 

Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Regina. Yang dilakukan adalah menarik lengan gadis itu. Satu tangannya meraup wajah Regina lalu melesakkan bibirnya pada celah bibir merah gadis itu. Malam ini, ia merasa sudah benar-benar kehilangan kewarasannya. Ia tidak peduli gadis itu syok dan kehabisan napas. Ia dengan egois merasa perlu melakukan hal ini.

***
TBC
28 March 2025
Sorry, guys baru up lagi. Aku ketagihan nonton dracin short movie gitu. Kenapa ya itu bikin ketagihan sampe males mau nulis lagi. Inipun up bukan tulisan baru. Sisa draft tau🤣🤣

Salam,
S. Andi

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top