Sunflower🌼02


Suhu di bulan November mulai dingin pertanda musim gugur segera diganti dengan musim dingin. Tubuhku tidak terlalu lemah terhadap suhu dingin, meski begitu aku lebih suka mengenakan pakain yang nyaman dan hangat saat keluar.

Hari Minggu ini pun tetap kerja. Padahal hari libur biasanya jadwal kerjaku dimulai jam sembilan, tapi entah kenapa hari ini si bos menyuruhku datang lebih cepat. Isi pesannya....

'Telat, tidak hanya gaji yang kupotong, jatah makanmu hari ini juga dibagi separuh!'

Dasar oni!

Jika mengambil jalan kucing, aku bisa saja lewat belakang ruko, mengagetkan keduanya atau salah satunya yang ada di kebun. Tapi aku paling malas mencari perhatian, karena itu setiap tiba aku selalu lewat pintu depan. Terkadang saat itu jua Fujimura-san menyambut kehadiranku layaknya pelanggan.

Tapi kali ini agak berbeda!

"Hora, Pachira-chan~, hari ini pun tumbuhkan berkah~!"

Semenjak tanaman aneh--batangnya terlilit-lilit sampai ke atas--itu ditanam di depan toko, Fujimura-san lebih memerhatikan si Pachira dan bicara seorang diri. Asal kalian tahu, semenjak itu sudah jarang kakak-kakak pesolek mendekatinya. Apa kondisinya itu harus disyukuri atau tidak? Tentu saja tidak! Aneh! Menggelikan bicara dengan tanaman!

"Apa istimewanya tanaman ini?" heranku memberi tatapan datar pada daun pachira seperti umbi-umbian.

Fujimura-san yang tengah jongkok di dekat pachira mendongakkan pandangan. "Eh, Hina-chan! Pagi!"

"Pagi," balasku singkat.

Ia bergumam, menatap pachira setinggi setengah meter itu kembali. "Sou ne? Hina-chan belum tahu makna pachira itu apa? Asal kau tahu, pachira ini dalam bahasa Inggris disebut money tree, alias pohon uang!"

Aku tertegun sembari membelalakkan kedua mata. "Pohon uang?" Sesentipun tidak terlihat di mataku bentuk pohon maupun daunnya seperti uang!

"Tanaman ini asalnya dari Amerika Tengah. Kabarnya, setiap kau mengepang batangnya, kau jua tengah mengepang uang! Juga berarti pohon ini sebagai lambang keberkahan!" Fujimura-san menjelaskan makna pachira dengan mata berbinar-binar.

"Sama dengan memajang maneki neko, dong?" ujarku ikut antusias. "Ah, benar juga! Karena ini toko bunga, aneh memasang maneki neko di kaca toko. Lebih afdol dengan tanaman dengan makna yang sama! Wah, ide bagus!"

Fujimura-san mengangguk setuju. "Menarik, bukan? Dari dulu aku pengin sekali memilikinya! Baru saja dikirim distributor pagi ini--" Seketika raut wajah Fujimura-san berubah kalut. "Haaaa.... Ke-kelupaaaaan!!"

"Kelupaan apaan?" tanyaku terheran.

Ia segera bangkit, hendak mendorong pintu. Namun saat itu pula pintu sudah dibuka dari dalam. Sakuraba-kun menatap kami berdua, bersedekap dengan wajah masam.

"Sampai kapan main dengan pacar barumu, Mamoru?"

Fujimura-san terlihat gemang, suaranya mencicit bagai anak burung bertemu kucing kelaparan.

Ia mengalihkan pandangan padaku, masih dengan raut serupa. "Apanya ide bagus? Pachira tidak sekedar tanaman biasa. Kau sampai ikutan bodoh, aku bisa kewalahan. Me-nger-ti?"

"Ha--" baru kali ini kulihat Sakuraba-kun marah hingga suara sepatah saja sulit keluar, "ha-i...."

"Kalau sudah mengerti," ia menunjukku dengan tangannya dibungkus sarung tangan kotor dengan tanah, "cepat singkirkan mereka!"

Me-mereka?

Mungkin ada tiga hal yang membuat Sakuraba-kun naik darah.

Pertama, ia tidak suka dengan orang yang lelet bekerja di tokonya. Meski Fujimura-san telaten mengurus tanaman sekali pun, jika sering bermain-main dengan Pachira, Sakuraba-kun akan memarahinya. Dan jika aku salah menulis pesanan maupun alamat tujuannya. Untung saja hanya sesekali, tapi yang sesekali itu menimbulkan kekesalan Sakuraba-kun.

Kedua, ia tidak menyukai siapapun yang menganggapnya perempuan. Kalau yang ini aku sih setuju. Karena jika ia perempuan akan sangat menyakitkan seluruh perempuan kalah cantik dengannya. Jika ada pelanggan yang sudah mengungkit akan parasnya yang cantik, Sakuraba-kun akan beralasan ada urusan di belakang lalu menyuruh Fujimura-san menggantikannya memenuhi pesanan pelanggan.

Ketiga. Serangga. Tidak usah kubahas karena sebelumnya sudah kuceritakan, bukan?

Kemarahannya pagi tadi karena alasan satu dan tiga. Sebagai karyawan aku tetap kena marah walau tak tahu ada pekerjaan tambahan yang harus dikerjakan.

Pagi-pagi sekali pesanan tanah datang dan tanah tersebut harus segera dimasukkan ke pot. Menghadapi musim dingin, kami harus menanam dalam ruangan. Karena itu butuh tanah untuk memenuhi pot-pot agar dapat tetap menanam bunga meski salju menutupi jalan yang kami pijak. Mereka berdua mengerjakan penanaman dan persiapan musim dingin di kebun, karena itu aku diminta datang lebih awal untuk berjaga di depan.

Kutatap seantero toko yang penuh dengan berbagai macam bunga, tanaman dikotil yang tumbuh dengan batang dan tangkai yang kokoh, dan ada juga tanaman yang perlu wadah untuk merambatkan sulurnya. Yang mana pun semuanya tumbuh dan kembang dengan cantik. Kepalaku menompang di atas telapak tangan, tidak sengaja tersenyum menikmati jerih payah kedua pemuda di toko ini.

Andai aku juga bisa bertangan dingin seperti mereka. Tanaman di rumah semua ibu yang menanam dan merawatnya. Jika mereka mati, aku tak bisa banyak membantu kecuali memberi air lebih dan pupuk. Meski sedikit, mereka peninggalan ibu yang berharga. Mulai saat ini harus kujaga baik-baik!

Sebuah mobil pengangkut barang berhenti di depan toko. Aku mengamati dua orang turun dari sana. Yang satunya berdiri saja di dekat pintu masuk. Ia laki-laki tinggi dengan rambut pirang, mengenakan coat biru tua, masker menutupi hidung hingga mulut, dan kacamata hitam. Aneh, kesanku pertama kali, tapi rasanya aku pernah melihatnya.

Sementara yang satunya lagi karyawan pengangkut barang. Ia membawa sebuah tas besar dengan kedua tangannya, terlihat begitu hati-hati menjinjingnya hanya sampai depan pintu. Kemudian ia pergi. Tinggal laki-laki misterius yang membawa tas besar itu. Tangan kanannya membuka pintu toko terlebih dahulu, lalu menjinjing tas pelan-pelan.

Aku sama sekali tak merasa orang asing ini jahat. Normalnya aku harus bergerak, atau berteriak memanggil Sakuraba-kun. Siapa tahu orang ini perampok, kan? Tapi perampok tak akan berpenampilan keren dan membawa alat rampok berat. Itu akan membuatnya menghambat aksinya, kan?

Ia pun menatap ke arahku, menarik maskernya ke bawah, lalu melepas kacamata. Kami saling memandang dan saling terpegun. Mulut kami terbuka, berkata "Ah," bersamaan.

"Ada urusan apa ke sini?" tanyaku lebih dulu.

"Kamu... karyawan baru?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Walau bukan baru lagi, sih," jawabku ringan.

Ia mengangguk jua. "Ah, begitu ya? Aku sudah lama tidak berkunjung ke sini. Ryo dan Mamoru mana?"

Pertanyaannya membuatku tercengang. Kenapa ia bertanya seakan akrab dengan Sakuraba-kun bahkan denganFujimura-san?

Pemuda yang mampir ke toko bunga ini adalah Eto Kouki.

Jika di sekolah Sakuraba-kun dijuluki ouji, Eto-kun dipanggil dengan Kou-sama. Kenapa? Entahlah. Mungkin karena aura yang dipancarkannya bak bangsawan yang disegani. Terlebih ia terlihat jarang bicara dan kaku. Sou! Dia satu sekolah dengan kami. Tidak hanya terkenal di sekolah, ia sebenarnya seorang model dan bintang iklan!

Kenapa bisa kenal dengan Sakuraba-kun? Apa karena mereka sama-sama pangeran sekolah lalu akrab sampai tahu toko bunga ini? Padahal kurasa murid sekolah kami tidak ada yang tahu Sakuraba-kun memiliki toko bunga. Ah kalau ada pasti para siswi ribut!

"Me..reka ada di belakang," jawabku masih bingung akan kehadirannya. "Akan kupanggilkan--ah, silakan duduk dulu." Aku menggerakkan kedua tangan dengan kikuk menyuruhnya duduk di kursi yang biasa ditempati Sakuraba-kun saat bersantai.

Tampaknya ia memang sudah biasa ke toko bunga ini. Tak perlu kuperjelas letaknya yang tertutupi rak bunga, ia sudah berjalan dengan hati-hati membawa tas besar itu agar tidak mengenai pot bunga.

Aku buru-buru keluar lewat pintu samping, menengok dengan setengah badan keluar. "Sakuraba-kun, ada tamu penting!" panggilku dengan suara setengah berbisik.

Sakuraba-kun menoleh bingung. Aduh, di pipinya ada tanah. Hampir saja aku kelepas tawa menyadari wajah cantik itu bisa kotor.

"Siapa?"

"Eto... Kouki-sama?" ujarku masih tidak percaya.

Kupikir Sakuraba-kun sama bingung denganku, sebaliknya ia malah tersenyum cerah. "Ah, akhirnya tiba juga." Ia menendang pelan bokong Fujimura-san dari belakang. "Mamoru!"

"Hai?"

Apa pria bernama Fujimura Mamoru tidak punya emosi bernama marah? Ditendang begitu malah menoleh dengan wajah polos, 'iya?'. Kalau aku udah langsung menggelitiki telapak kaki si pelaku!

"Keyboard-mu sudah ketemu!"

"Eh?" Fujimura-san terkejut.

Aku yang langsung menerka situasi kaget berlebihan. "EEH??" Jadi tas yang dibawa itu.... Bentuknya... mirip sih? "Tapi kenapa Eto-san yang bawa?" heranku.

Sakuraba-kun melempar sarung tangannya padaku, spontan aku kewalahan menangkapnya. "Buatkan teh untuk tamu spesial kita."

"H-hai...."

Meski otak dipenuhi tanda tanya, aku menuruti titah Ouji-sama. Kembali ke dalam, pergi ke dapur untuk membuat teh kamomil khas toko bunga Sakuraba. Setelah aku masuk, terdengar langkah tergesa Fujimura-san memasuki toko dan harikan Sakuraba-kun agar ia membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menginjak area toko.

Di dalam toko bunga ini ada satu ruang yang cukup meletakkan meja bundar dan empat kursi lipat. Suasananya begitu cantik dikelilingi bunga nan warna-warni. Ditambah tiga laki-laki--tampan, cantik, dan lumayan cakep--saling bercengkrama akrab sembari minum teh. Pemandangan yang sejuk di mata.

Meski begitu aku merasa terasingi harus duduk di kasir, jauh dari ketiganya, menatap dengan tanda tanya masih berawan di atas kepala.

"Arigatou, Kou-kun, dengan ini aku bisa membuat lagu lagi!"

"Tidak usah berterima kasih padaku. Setelah Ryou bercerita tentang keyboard-mu, aku hanya meminta orang mencarikannya. Untunglah ditemukan."

"Dasar Kou, tidak mau menyebutkan di mana barang rongsokan ini ditemukan?"

"Ryou-kun jahat! Keyboard ini masih bagus! Belum rusak sama sekali!"

"Padahal aku penasaran dibalik cerita menemukan keyboard ini. Kou bertindak sebagai pahlawan yang tak ingin diketahui tindakan heroiknya. Terima kasih sudah menemukannya. Walau bagiku tidak begitu berarti!"

"Ryou-kun~!"

Eto Kouki tertawa. Sakuraba-kun tertawa. Fujimura-san yang awalnya dikerjai habis-habisan juga tertawa. Ada apa dengan mereka bertiga?!

Eto-kun kemudian terdiam. Wajahnya terlihat serius, lebih dari sebelumnya. "Sebenarnya, Ryou, ada sesuatu yang ingin kubahas."

Sakuraba-kun meletakkan cangkir tehnya, bergestur siap meminjamkan telinga.

"Sebenarnya... beberapa kali ini aku menerima bunga matahari."

Sakuraba-kun bersedekap, bergumam, ia tengah tertarik dengan topik pembicaraan yang baru. "Seperti apa cara pemberiannya?"

"Bermacam-macam. Awalnya... aku menerimanya di loker sekolah dalam bentuk gambar."

"Gambar?" heran Fujimura-san.

Eto Kouki mengangguk. "Karena sejak awal lokerku penuh dengan surat dan barang pemberian siswi di sekolah, kuputuskan menguncinya. Dengam begitu mereka hanya bisa menyisipkan benda setipis surat."

"Hanya gambar?" tanya Sakuraba-kun alih-alih bagai detektif.

"Gambar manual. Tampaknya pengirim ini pandai melukis. Di balik gambarnya hanya ditulis 'aku bunga matahari'. Tidak setiap hari kutemui gambar tersebut, tapi sering. Awalnya kuterima beserta surat-surat yang memenuhi loker. Namun rasanya... semakin lama aku tertarik dengan pengirim gambar ini. Karena selain gambar ia memberikan stiker bunga matahari, gantungan kunci bunga matahari, berbagai macam aksesoris dengan gambar bunga matahari."

"Lalu, Kou, kamu ingin menemuinya? Memintanya berhenti memberikanmu segala bentuk akan bunga matahari, atau hal lain?"

Eto-kun menggelengkan kepala. "Tidak juga. Aku hanya ingin tahu arti bunga matahari itu."

"Sou ne?" Sakuraba-kun menaikkan satu tangan yang tadi bersedekap.

"Di internet bisa dicari lho," ungkapku spontan.

Fujimura-san terseleok dari tempat duduknya. Sakuraba-kun segera membalikkan badan, menajamkan matanya padaku. Memangnya jawabanku tadi salah?

"Aku tahu. Tapi rasanya lebih afdol jika langsung mendengar pendapat dari ahli bunganya langsung." Jawaban Eto-kun terdengar membela diri. "Jadi menurut Ryou bagaimana?"

"Dengar Fuusawa, jangan memotong pembicaraan orang," Sakuraba-kun berkata tanpa menoleh lagi padaku.

Aku mengangguk meski tidak dilihatnya. Jari telunjuk dan ibu jari bergerak di samping mulut seolah resleting yang harus ditutup. Aku tidak akan lagi mengganggu percakapan para lelaki.

Sakuraba-kun mulai bicara. "Hanakotoba dari bunga matahari itu sendiri 'dambaan', 'kesetiaan', juga menjadi simbol 'kekuatan'.

"Secara romantisme, bunga matahari bermakna 'watashi wa anata dake wo mitsumeru--aku hanya melihatmu seorang'. Dengan kata lain dia--ah, apa boleh kuanggap sebagai dia perempuan? Karena kurasa pengirim misterius ini perempuan."

"Hiyaah, yang mengirim surat ke Kou-kun pastinya anak gadis!" ungkap Fujimura-san sembari terkekeh.

"Sudah kubilang jangan memotong kalimat orang lain!"

Fujimura-san mengaduh. Ternyata Sakuraba-kun menginjak kakinya. Oni!

"Kulanjutkan!" Sakuraba-kun berdeham. "Di balik gambarnya ia menuliskan 'saya bunga matahari'. Bunga matahari selalu menghadapkan dirinya ke mana pun matahari bersinar. Dengan begitu sudah dipastikan Kou merupakan sosok matahari baginya. Sosok yang sangat berarti bagi setangkai bunga matahari.

"Tidak diragukan lagi setiap surat yang dikirim merupakan ungkapan perasaannya padamu, Kou."

Eto-kun mengangguk dengan mata agak memicing. Ia terdiam sesaat. "Begitu..., ya? Tapi... rasanya masih ada yang mengganjal di hatiku."

"Masih ada clue lain yang belum kau sebut?"

"Entahlah." Eto-kun tampak bingung sendiri. "Sejak sebulan lalu ia tidak lagi mengirimiku gambar bunga matahari. Tapi, setiap ada perayaan, ada buket matahari yang ditujukan padaku."

"Itu, bukan berarti dia juga kalangan artis?" terka Sakuraba-kun.

Eto-kun mengangguk. "Kemungkinan besar. Jika dia dari murid sekolah kita tidak masalah. Hanya saja... aku sedikit terganggu dengan pemberiannya di tempat kerja. Tanpa nama."

"Pasti jadi bahan pembicaraan orang-orang di tempatmu bekerja, kan?"

"Ya."

Tidak ada percakapan. Ketiganya terdiam dengan pemikiran masing-masing.

"Aku ada ide," ungkap Sakuraba-kun. Eto-kun meliriknya dengan tatapan antusias. "Kita cari tahu dulu apa pengirimnya salah satu murid sekolah kita atau tidak."

"Bagaimana caranya?"

"Fansclub-nya Kou."

"Fansclub-ku? Aku sama sekali tidak tahu siapa mereka. Apa Ryou tahu?"

"Sayang sekali aku juga tidak tertarik mengenai mereka. Tapi yang pernah kudengar fansclub berdiri agar menjadi penghalang dan media termudah mendekati idolanya.

"Kou pernah bilang jumlah surat di lokermu setelah dikunci semakin sedikit, kan? Setiap hari hanya sepuluh. Nama pengirimnya selalu berbeda, dari kelas acak. Itu berarti fansclub bekerja, mereka menyaring surat yang masuk agar Kou tidak risi dengan perasaan mereka padamu.

"Dan setiap surat yang masuk harus lewat mereka, fansclub. Jika ketahuan ada surat asing yang masuk, atau reaksi Kou terhadap surat-surat itu ganjil, mereka akan bertindak, mencari tahu siapa yang berniat mengambil kesempatan.

"Lewat info mereka kita bisa tahu siapa yang mengirim gambar bunga matahari itu padamu."

"Benar juga," ungkap Eto-kun terlihat setuju. "Tinggal tanyakan langsung pada mereka?"

"Tidak. Jika itu yang Kou lakukan, mereka akan bertindak sekenanya. Mereka akan cari perhatian Kou dan mengambil sisi baikmu. Karena itu kita harus bertindak dengan hati-hati."

"Begitukah? Lalu bagaimana?"

"Fuusawa!"

"He, kenapa tiba-tiba aku dipanggil?" Tubuhku meremang, firasatku tidak enak!

Sakuraba-kun menoleh padaku. "Mulai besok bergabunglah dengan fansclub-nya Kou!"

...

Hai?

Bersambung
Sunflower🌼03

Unggah: 9 Mei 2020

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top