✩。:•.───── ❁ ❁ ─────.•:。✩
𝐠𝐮𝐦𝐮𝐬𝐬𝐞𝐫𝐯𝐢
✩。:•.───── ❁ ❁ ─────.•:。✩
Aku pernah bermimpi, tentang kehilangan seseorang yang ku cintai dan begitu dekat denganku. Sayangnya aku adalah manusia yang tidak terlalu memikirkan bagaimana arti dari sebuah mimpi.
Itu hanyalah bunga tidur.
Begitu menurutku. Tak pernah terlintas dalam pikiranku, bahwa aku akan merasakan sakitnya kehilangan. Tetapi, semua akan terjadi ketika tuhan berkehendak.
✩。:•.───── ❁ ❁ ─────.•:。✩
𝐠𝐮𝐦𝐮𝐬𝐬𝐞𝐫𝐯𝐢
✩。:•.───── ❁ ❁ ─────.•:。✩
"hah?"
Sebuah suara dengan nada kebingungan keluar dari mulut mungil milik [Name]. Detik berikutnya, benda persegi panjang yang tadinya ia tempelkan di telingannya kini terjatuh mencium lantai.
Ia menampilkan raut wajah membelak, kebingungan. Lebih tepatnya, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Halo?"
Suara dari telepon genggam ia abaikan. Dirinya menolak untuk percaya apa yang terjadi. Hatinya terasa sakit, seperti ada sesuatu yang hilang. Matanya perih, tetapi air matanya tak kunjung meluncur dari pelupuknya.
Sang nenek, Telah tiada.
"Hah... hahh.. [Name]?"
Suara Satoru yang datang dengan deru nafas tersenggal - senggal. "Ah, Okaeri Gojou -San" balas [Name]. Satoru mendapat istrinya yang sudah mengenakan baju hitam dan wajahnya yang pucat di paksakan menampilkan senyum tipis.
"Aku akan pergi sebentar ke kediaman ku. Jaa" Ujarnya sembari berjalan melewati Satoru yang tengah berdiri di ambang pintu. Kemudian sebuah tangan menangkap pergelangan tangan [Name], memaksanya menghentikan langkah kakinya.
"Aku akan ikut"
Kini Satoru sudah berdiri di jajaran keluarga besar Miyazaki. Lengkap dengan setelan hitam, Tak lupa kacamata hitam yang bertegger di telinganya. Di hadapannya sudah ada ibu mertuanya yang tengah menangis sesegukkan dan Istrinya yang sedari tadi setia merangkul sang ibu.
"Okaa-sama, bukan kah ini terlalu cepat? hikss"
Suara ibu [Name], di sertai isak tangis pilu. Mengantarkan kesedihan ke penjuru ruangan di rumah duka. Yang lebih mengagumkan lagi adalah, [Name] tidak meneteskan air mata sama sekali.
Yang ia lakukan hanyalah menenangkan ibunya, sesekali menghapus air mata ibunya yang mengalir deras. Tetap mulutnya juga tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Pemakaman berlangsung dengan khidmat. Kini Nyonya Miyazaki telah lebih tenang daripada sebelumnya. Satoru juga setia di samping istrinya selama acara pemakaman.
Setelah pemakaman selesai, seluruh keluarga besar kembali ke kediaman besar. Semuanya telah berkumpul di ruang keluarga, dengan aura gelap yang menyelimuti seisi ruangan. "Bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu?" Ujar [Name] Akhirnya membuka suara.
"Apa maksudmu?! kita ini tengah berduka, yang kau ppikirkan adalah makan?!"
Suara paman terakhrnya membentak [Name]. Sang kepala keluarga angkat bicara melihat putri sulungnya yang di bentak oleh adiknya. "Apa salah nya? walau sedang berduka, kita harus tetap menjaga kesehatan. Aku mengandalkanmu ya" Ujar Sang ayah.
[Name] mengangguk. Kemudian ia bangkit dan pergi melangkah menuju dapur keluarga. Dengan di bantu oleh beberapa pelayan, [Name] berhasil menyajikan beberapa makanan mewah yang tentunya, rasanya tak di ragukan lagi.
"Selamat makan"
Semuanya menikmati makanan yang dibuat [Name] dan para pelayan. Suasana masih hening. Hanya terdengar suara dentingan sumpit yang beradu dengan mangkuk. Tidak ada yang berniat membuka suara.
Setelah selesai makan, Tuan besar Miyazaki mengajak menantunya yaitu Gojou Satoru unutk berbincang sebentar di ruangan pribadinya.
"Ada apa Otou -sama?" Ujarnya. Tuang Miyazaki menuangkan sake ke dalam gelas kecil di hadapan Satoru. "Temani aku sebentar ya." Ujarnya sembari menegak gelas miliknya.
"Yahh, sejak dulu aku ingin sekali berbicang dengan mu. Hahah" Suara lantang tawa milik Tuan Miyazaki. Entah mengapa, terselip sepercik kesedihan di besarnya suara tawa itu.
Setelah beberapa gelas di teguk, kini ayah Mertua Satoru sudah mabuk. Lebih cepat dari biasanya.
"Hah.. Kau tahu, aku selalu percaya tidak ada yang abadi di dunia ini" Setelah berucap, kembali segelas sake ia tegak. Menjeda perkataan yang keluar dari mulutnya.
"Tetapi, aku tak pernah menyangka akan kehilangan ibu ku. Atau lebih tepatnya, aku tak pernah siap"
Setelah itu, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Bahu yang biasanya tegap, mulai bergetar disertai air matanya yang semakin deras mengalir.
"Aku lebih merasa sakit, melihat putriku berusaha tegar di hadapan ibunya. Padahal aku tahu, dia yang paling terpuruk. "
Satoru dengan setia mendengar penuturan sang ayah mertua. Berharap meringankan beban yang di tanggung oleh beliau.
"Putriku adalah cucu yang paling dekat dengan ibuku. Karena ibunya yang terkadang sibuk mengurusi adik adiknya, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibuku"
Kini air matanya sudah berhenti mengalir. Wajahnya mengadah. Maniknya yang masih basah memaksa menatap manik ocean milik menantu satu satu nya.
"Maka dari itu, aku titip dia kepada mu. Jika ia berbuat salah, silahkan hukum dia. Bimbinglah ia ke jalan yang benar. Aku menjodohkan kalian berdua bukan semata mata tentang perjanjian keluarga, tetapi karena aku percaya kepada mu".
Hari semakin larut. Kini sepasang suami istri itu pamit undur diri untuk kembali ke kediaman milik keduanya.
Karena terlalu larut, keduanya memilih memesan taksi. Merasa lebih aman juga. Selama perjalanan berlangsung, seperti biasa tidak ada percakapan.
[Name] terlalu sibuk menatap jalan di luar jendela. Sedangkan Satoru memilih diam, karena harga dirinya terlalu tinggi untuk membuka suara. Menyapa istrinya terlebih dahulu.
Sampai tiba di rumah pun keduanya masih acuh tak acuh. Di tambah sang istri yang memilihl langsung membersihkan diri dan pergi berbaring di atas kasur.
Setelah Satoru selesai dengan kegiatan membersihkan diri, ia juga ikut membaringkan diri di samping [Name]. Menatap [Name] yang tertidur membelakanginya.
Detik berikutnya, ia di kejutkan dengan suara menahan isak tangisnyang di pastikan keluar dari mulut [Name] serta bahu wanita itu yang mulai bergetar.
Melihat itu, ingatannya kembali berputar. Tentang perbicangannya dengan Tuan Miyazaki.
Tanpa sadar, kini tangan Satoru melingkar di pinggang sang istri. Membawanya lebih dekat dengannya.
"Kau sudah bekerja keras. Sekarang menangislah. Menangislah sepuasnya"
Setelah mendengar ucapan Satoru, suara isak tangis tertahan itu kini keluar. Walau sejak tadi ia terus menahan diri agar tidak menangis. Tetapi, [Name] tetaplah manusia lemah. Ia menangis ketika merasakan sakitnya kehilangan.
Suara tangisan pilu, seperti meraung kesakitan membuat Satoru mengeratkan pelukannya. Ada sepercik rasa sakit yang timbul di dalam lubuk hatinya ketika mendengar isak pilu dari [Name], tetapi ia tepis jauh jauh.
"Menangislah. Aku akan disini menemani mu"
✩。:•.───── ❁ ❁ ─────.•:。✩
𝒕𝒐 𝒃𝒆 𝒄𝒐𝒏𝒕𝒊𝒏𝒖𝒆𝒅
✩。:•.───── ❁ ❁ ─────.•:。✩
【 4 April 2021】
Karena gabut jadi berusaha mempercantik work, pliss bilang udah cantiik:(
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top