PETIKAN KESEMPATAN
Tomy terdiam sejenak. Ia mencoba mengolah kalimat di pikirannya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengungkapkan kepada semua teman-temannya.
"Emmm, gini ... kalian inget nggak, sih, pas El mainin kartu-kartu?"
"Itu bukan mainan," tegas Gabriel dengan tatapan nyalang.
"Ngopi dulu Mbak, biar nggak tegang, iya, El gue paham, cuman, ya, bahasa gue begitu, mau gimana?"
Gabriel memutar bola matanya, kemudian berkata, "Jadi teruskan yang mau lo omongin tadi."
"Nah, iya gue jadi lupa, lo semua inget, kan yang waktu itu disebutin El apa aja, yak, bentar gue lupa," Tomy menengadah sambil berkacak pinggang. "Ah, itu, yang tentang catatan, kayak Catatan Hati Seorang Istri, eh, bukan ya—"
"Lama banget intronya, langsung aja, kenapa?" sergah Feby yang mulai kesal dengan basa-basi Tomy.
"Iya, Ndoro Ayu, jadi gini, yang tentang catatan itu, gue yakin itu diorama yang tercetak di dinding tadi. Terus burung gagaknya ini gue yang penasaran, apa yak, kayaknya ini bukan pengertian yang sebenarnya seperti catatan, kan ternyata diorama, nah, ini bisa jadi sesuatu atau apa, gitu? Kartu-kartu lo isinya nggak buruk semua, kan El?"
"Lo yang ingat, gue ngeliat juga dari penggambaran kartu gue, ya, itu bukan sepenuhnya dari gambaran yang tercetak di kartu gue."
"Nah, bisa jadi itu memang petunjuknya, kita masih punya harapan."
"Terus rencana lo apa, udang?"
Tomy berjengit, kali ini bukan dari orang yang sedari tadi terlihat kesal dengan prolog terlalu panjang yang dijelaskannnya. Melainkan dari pemuda yang berdiri di sebelah gadis yang masih tampak merenung.
Tumben dia begitu? Apakah dia sudah menemukan dirinya lagi? Ah, ini memang kesempatan bagus.
"Gue cuman mikir kemungkin Lilia bisa mengalahkan yang namanya makhluk kayu raksasa itu dengan bantuan lo, Re."
"Gu-gue?Lo jangan konyol, punya apa gue?"
"Punya kekuatan, lo bisa bantu Lilia, gue nggak ngerti prosesnya tapi ketika lo bantuin buat memompa napas Lilia, lo berhasil menyelamatkan dia," Tomy mengarahkan pandangan ke arah gadis yang terlihat tertegun, Tomy memperhatikan gadis bersurai cokelat itu tampak terperanjat dengan kata-katanya, "Lilia, yang sedang berada di sana juga berhasil mengalahkan makhluk kayu itu, kan, Li?" Lilia membalas dengan anggukan samar.
"Berarti memang Rega punya kekuatan untuk mengalahkan makhluk itu, tapi bagaimana caranya?"
"Setiap orang berada di dekatnya tidak merasakan bahaya atau merasa sesuatu terjadi, kan?"
"Woy, ,tapi gue juga ngalamain sendiri, gue didatangi—"
"Ma-makhluk hitam itu? yang seperti asap hitam?"
"Kok bisa tahu?"
"Aku juga ... kau juga melihatnya," kata Lilia dengan tatapan yang tak fokus ke arah Rega berdiri.
"Terus ... yang pertama kali terseret makhluk itu Aka, kemudian Henda, mereka yang pertama kali menemukan lubang di dalam kota itu dan mereka menghilang dalam urutan. Ini masuk akal, sepertinya mereka telah menentukan urutannya." Tomy mondar mandir, kebiasaannya tak hilang ketika tengah memaksa otakknya untuk diputar ulang.
"Jadi?"
"Yang dalam bahaya sekarang ada tiga orang."
***
Sekarang keseriusan Tomy membuat semuanya tegang, ketegangan masing-masing orang hampir sama dengan dinding-dinding yang membeku di sekitar mereka.
"El, tapi El punya kekuatan mungkin untuk melawan mereka, lo punya cara tersendiri, kan?"
El yang sedari tadi menyilangkan kedua tangan di depan dada kini dilepaskan lalu beringsut ke arah si penanya. "Gue hanya melakukan sebisa gue, hal yang di luar kuasa gue, gue juga nggak sanggup."
Tomy bergeming, ia mengatur dan mengotak-atik ulang rekaman yang tercipta dari rangkaian kata-kata sulit yang dikeluarkan oleh gadis dengan polesan bibir berwarna gelap itu.
"Gue dan Feby, sepertinya kita ditakdirkan untuk selalu bersama Feb,"
Feby tak merespons, seperti membuang pandangan dari rayuan Tomy dan yang mengharap untuk dibalas hanya tergugu sekarang. Rega yang melihat gelagat mereka berdua hanya bisa menggeleng sambil berkacak pinggang.
"Mereka merespons melalui suara, sepertinya kalau kita berteriak sekali mungkin mereka akan menunggu, mereka juga punya taktik. Ketika kita merasa aman barulah mereka menyerang kita, menghabisi kita dengan menyeret satu demi satu."
"Apa mungkin kita bisa melakukannya bersamaan? Aku ... aku khawatir ini mustahil," ujar Lilia dengan intonasi serupa angin lemah.
"Ya, Li, kita harus menguatkan diri untuk jangan terus menjauh satu sama lain, mungkin kita bisa, kau juga termasuk harapan kita, Li."
Sebuah sengatan listrik merayap ke dinding-dinding pertahanan Lilia, rasa gelisah mencuat dan ingin mendominasi setiap jengkal kegetiran rekaman yang amat menakutkan bagi dirinya, tetapi ia harus membalas budi baik dan membayar atas dosa yang menurutnya tak termaafkan.
"Teman-teman ...."
"Yap," Tomy menjawab santai sebelum akhirnya ia terkejut menemui gadis yang tak jauh dari sorot matanya itu mengalirkan air matanya.
"Li kamu—"
"Lo kenapa?" kata-kata Tomy bertubrukan dengan pertanyaan Rega yang kontan membuat Tomy menghentikan perkatannya.
"Aku ... aku pernah membuat kesalahan," katanya dengan suara yang sedikit gemetar, bibir terkatup itu semakin tipis saja dan ekspresinya menahan tangis membuat sayatan luka pada hati Rega—kebingungan dengan dirinya sendiri tentang gadis yang baru saja dikenalnya.
"Aku pernah membunuh orang dengan kemampuanku, dan kalian tahu? Lilia semakin membenamkan bibirnya yang terkatup, sengatan panas menjalar ke seluruh bola matanya, air bening tak bisa lagi dibendung, "orang yang kubunuh adalah ... Mamah," rintih Lilia, ada seperti beban yang merosot di pundaknya.
Tomy memberi isyarat pada Rega dengan mengedikkan dagu ke arah Lilia yang masih tersedu di bahu Gabriel yang mengelus bahu Lilia dengan lembut. Gabriel pun mengira, ada yang terjadi, selama berteman dengan Lilia, gadis bertubuh mungil yang sekarang tengah berselimut di dekapannya itu memang tidak memiliki Ibu, sejatinya yang dipanggilnya 'Mamah' adalah wanita yang selalu mengucil dan menyiksa dirinya. Gabriel telah mengetahui sejak lama semua kejadian yang menimpa temannya ini.
***
Putaran memori berkelebat di kepala Gabriel yang mendorng Gabriel untuk bercerita dan mengutarakan kebenaran yang terjadi.
"Lilia nggak salah, gue tahu persis sikap penyihir wanita itu, dia benar-benar memperlakukan Lilia macam babu." Mendengar semua itu membuat Feby, Rega, dan Tomy terperangah.
"Mungkin, karma telah menyambut wanita sinting itu."
"El," celetuk Lilia, mencegah Gabriel melanjutkan ceritanya.
"Kenyataannya itu Li, dia memang bukan wanita baik-baik, dia pun bersekutu dengan iblis, aku tahu itu. Dia sudah termakan dengan sihirnya sendiri, jangan merasa bersalah,"pinta Gabriel pada Lilia.
Lilia menggeleng air matanya semakin menjadi, hatinya telalu rapuh menerima perkataan Gabriel yang mencabik luka yang sudah ia upayakan untuk pulih,"El, udah El, udah," rengek Lilia dan kontan merosot, terduduk di samping Gabriel.
"Sorry, ya, Li, aku hanya ingin memberitahu kebenarannya kepada mereka, agar semua orang nggak salah paham dan kamu ngggak terus-terusan merutuki diir sendiri, apa yang ada di dalam dirimu itu menjagamu, percayalah, yah, " terang Gabriel sambil mendekap kembali gadis yang masih terisak.
Sementara itu, Rega, Tomy, dan Feby yang terdiam menyaksikan mencoba memikirkan kembali.
"El, benar, Li, dan sekarang dengan kemampuanmu, kamu bisa menyelamatkan kita, juga Henda dan Aka."
"Jadi, apa yang akan kita lakukan di sini."
***
Kembali, berkelebat kabut yang tak kasat mata, hanya Rega, Lilia, dan Gabriel yang bisa melihatnya—terasa di indra perasa mereka, begitu pekat sampai-sampai semua terasa bergetar. Masing-maisng dari mereka saling tatap. Rega dan Tomy yang lesat menggandeng tangan Feby segera beringsut mendekat ke Lilia dan Gabriel.
Kali ini mereka percaya dnegan kemampuan mereka masing-masing
apa yang terjadi selanjutnya, ya?
Selamat menunggu cerita berikutnya
Terima kasih sudah mau mampir dan memberi masukan
See ya ^^
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top