Chapter 2
"Ayo Harry! 5 menit lagi kita harus sudah ada di lapangan" Zayn yang sudah berada di ambang pintu kamar, terus-terusan memberiku komando.
"Iya, aku tahu! Cerewet amat sih." Aku buru-buru memakai kaus putih olahragaku dan mengikat tali sepatu.
Sial.
Apa aku harus terus-terusan di kejar waktu seperti ini tiap ganti pelajaran? Ditambah lagi mulut Zayn yang selalu berkibar menyerukan 'ayo Harry', 'cepat', 'cepaatt', 'cepaaattt'
Rasanya aku ingin segera keluar dari gudang tua ini. Urgh.
"Ah, kau itu lama sekali." Desahnya, lalu keluar kamar meninggalkanku.
"Zayn, tunggu aku!" Aku langsung lari menyusulnya.
Aku dan Zayn sama-sama berjalan cepat menyusuri lorong asrama putra yang panjangnya bukan main ini. Seringkali ia melirik jam tangannya dan berjalan lebih cepat lagi.
"So, apa olahraga kali ini?" tanyaku bersemangat. "Gulat? Tinju? Karate?" Aku membunyikan sendi-sendi yang ada pada jemariku.
Sudah lama aku tidak membanting tubuh orang. Dan aku benar-benar menginginkannya kali ini.
"O ya, dan siapa lawanku nanti? Kau? Atau justru si botak jelek itu?" Maksudku Mr.Grey, guru olahraga. "Aku sangat siap."
Zayn menggeleng sambil mengernyit, "Kita tidak melakukan olahraga itu."
"Ha?"
Senyum mengembang di mulutnya, kemudian bersorak gembira, "Kriket. Tentu saja."
"APA?!"
Kriket?! Permainan yang hanya berlari memukul-mukul bola itu? Dan tidak ada banting-bantingan? Yang benar saja! That ain't cool, man!
Prriitt...
Suara peluit yang keras berhasil memekakan telinga kami.
"Malik, Styles, kalian telat 1 menit! Push-up 40 kali!" Teriak Mr.Grey saat kami baru sampai di lapangan.
Zayn mendesah kesal, "Aahh.."
Wait, one minute? one fucking minute?!
"Sir, kami hanya telat 1 menit!" Protesku, membusungkan dada berhadapan dengannya. Zayn menarik-narik tanganku untuk kembali mundur. "Itu tidak adil!"
"Harry, sudahlah. Ikuti saja.." Ia berbisik di telingaku.
Mr.Grey mengangkat sebelah alisnya dan berkacak pinggang, "Kau menentangku?"
Aku mengedikkan bahu dan melipat kedua tangan di depan dada. Dari yang terlihat bagaimana?
"Begitu ya?" Ia mengusap-usap dagunya. Kemudian menatapku dengan penuh kegelapan di matanya dan menaruh peluit di mulutnya.
Prriiitt...
"DOUBLE PUSH-UP 80 KAAALLIII"
"Alaahh~" Zayn menurunkan badannya dengan malas.
Damn. God bless you, bald.
Aku bersandar pada tembok di pinggiran lapangan sambil memain-mainkan sehelai ilalang yang ada pada mulutku. Memperhatikan permainan yang sudah berlangsung lumayan lama.
Memang hanya aku sendiri yang tidak main. Jumlah kriket putra sudah pas 11-11. Dan hanya lebih satu, yaitu aku. Tentu saja aku harus menunggu sampai pergantian pemain. Tidak mungkin aku aku ikut ke kelompok kriket putri. Tapi ini bagus, aku juga tidak tertarik dengan permainan kriket.
"Peter Horan ganti dengan Harry Styles!"
Sial. Si botak itu menyuruhku main.
Peter berlari kecil ke arahku dengan tubuh yang bercucuran keringat, kemudian menyerahkan bat padaku.
"Shit." umpatku. Membuang ilalang tersebut dan turun ke lapangan.
Benar-benar ya. Rasa benciku pada kriket makin bertambah seiring dengan bertambahnya kelelahanku. Lari kesana-kesini di lapangan sebesar ini. Itu pun juga belum tentu kedapatan bola.
Tapi kali ini bola berwarna merah itu melayang datang ke hadapanku. Aku bersiap mengayunkan bat dan memukulnya hingga..
Kembali melihat gadis brunette itu.
Dia sedang berjalan bersama temannya di lorong terbuka. Dan astaga.. dengan dibalut cardigan merah, pertama kalinya aku melihat ia tersenyum. Rambutnya dibiarkan tergerai diterpa angin. Ternyata di balik tatapan dinginnya, dia sangat cantik.
"Harry!!"
Georgie menoleh begitu mendengar namaku diteriaki. Sayang senyumnya memudar dan kembali diganti dengan tatapan dingin.
Wait! Kenapa namaku diteriaki?
"Harry itu!!!!" Zayn kembali berteriak.
Aku cepat tersadar dan..
PRAAANG..
Bola kriket yang ku pukul tadi menghantam kaca ruangan Mrs.Clark dan bat yang ku gunakan sudah ada di atas kepala Mr.Grey.
Haa.. sejak kapan bat itu lepas dari tanganku?
Aku memang panik-awalnya. Tapi aku sudah terbiasa dengan ini. Dan ku pikir, wajah Mr.Grey sekarang terlihat... lucu.
"HAHAHA"
Aku memegangi perutku dan tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan yang lain melihatku dengan aneh.
"Mr.Grey!! Wajahmu itu menggelikan! Hahaa"
Mereka berpaling pada Mr.Grey, dan malah ikut tertawa.
Mr.Grey mengepalkan kedua tangannya dan berteriak geram,
"Diam! Tidak ada yang tertawa! Grr.."
Serentak, mereka semua langsung diam dan berusaha menahan tawa. Yeah, kecuali aku. Aku masih saja tertawa. Maksudku, untuk apa menahan tawa kalau itu bisa menyehatkanmu? Terakhir aku dengar, tertawa 15 menit bisa menambah jangka hidup 1 hari.
Mr.Grey berjalan ke arahku. Ia mengayunkan bat dan memukul kaki belakangku lumayan keras.
"Auuuww."
Apa-apaan ini? Oh ya, aku lupa ini asrama.
"Harry Edward Styles, ikut aku!"
Oh, mulai lagi. Apa ini? Nostalgia? Deja vu? Sudah biasa.
Sembari mengekor di belakangnya, aku memutar kepala.
Hm, tatapan gadis itu kelihatan makin sebal saja denganku.
---
Sekali lagi, aku berusaha memejamkan mataku. Tapi tetap tidak bisa. Bahkan aku sudah mencoba untuk menghitung domba-domba meloncat, tetap saja tidak bisa tidur.
Aku tidak biasa tidur secepat ini. Seharusnya sekarang aku sedang berkumpul dengan teman-teman satu gangster ku, ataupun midnight party di club. Walaupun sekarang belum midnight.
Aku melirik tempat tidur di seberangku, kemudian melirik jam di atas meja.
Baru pukul 9, dia sudah tertidur pulas? Dasar alim.
Aku membuka selimut dan menurunkan kedua kaki. Ku rasa aku butuh angin segar sebentar, atau musik, atau lampu, atau lantai dansa. Yah, tidak ada club malam disini, aku tahu.
Kakiku melangkah ringan pada lantai kayu ini menuju pintu, kemudian mengintip sejenak pada lubang kunci. Memastikan tidak ada guru penjaga yang lewat. Mereka pasti sedang berpatroli ke seluruh kamar sambil membawa senter. Itu kata Zayn.
Tanganku meraih gagang pintu dan pelan-pelan membukanya. Keluar sembari celingak-celinguk dan kembali menutupnya, berjalan pelan menjauhinya.
Entahlah sekarang aku akan kemana. Aku belum tahu betul ruangan-ruangan yang ada disini. Yang ku tahu, kalau terus berjalan lurus di lorong ini, akan membawamu ke kafetaria, atau sebelumnya melewati lobi sekolah dulu.
Aku menengok keluar jendela dan memandang bulan yang berwarna kebiru-biruan.
Hm, kira-kira apa yang sedang teman-temanku lakukan? Aku bahkan tidak memberitahu mereka kepindahanku kesini. Apa mereka panik?
PRAANG..
Tiba-tiba terdengar suara berisik dari.. kafetaria? Siapa malam-malam begini ada di kafetaria? Guru penjaga? Impossible. Lagipula untuk apa juga mereka patroli ke kafetaria?
Karena penasaran, aku memberanikan diri untuk memeriksa. Berjalan mengendap-endap menuju kafetaria. Berharap kalau itu hanya kucing atau apalah.
Tapi disana justru kosong. Tidak ada jejak kucing sama sekali.
Klaang.. klaang..
Sesuatu menggelinding ke arahku. Aku menunduk dan mendapati sebuah botol alkohol menabrak kakiku.
"Asrama ini menyediakan alkohol?"
Tanganku memungut botol tersebut dan menerawang isinya. Ternyata masih banyak, walaupun tidak penuh. Tapi.. siapa yang meminumnya?
Aku terpaku, dan menyadari sudah 2 hari semenjak masuk kesini tidak meminumnya. Mataku melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan kafetaria benar-benar kosong, kemudian menyingkir ke pojok ruangan.
Senyum mengembang di mulutku. Tanganku cepat-cepat membuka tutupnya dan meneguknya berkali-kali.
Benar-benar surga. Aku merasa seperti pulang kembali ke Chesire.
Aku kembali meneguknya dan mulai merasa berkunang-kunang. Sayang hanya ada satu botol.
Untuk yang terakhir kali, aku meneguknya lagi, hingga sebuah sorotan senter menyilaukanku. Aku membuka mata dan...
"Harry Edward Styles?!"
"Apa yang kau lakukan dengan benda haram itu?!"
Sial.
Tertangkap basah oleh Mrs.Clark, Mr.Moore, dan Mr.Dave
-bersambung-
Jeng.. jeng.. Harry nakal banget ya.
Vote, kritik, dan saran ditunggu! ^^
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top