33. - The Flashbacks
Siap-siap wall of text alias paragraf panjang berderet karena isi bab ini banyak narasi kilas balik(?). Biasalah ... saya berusaha memasukkan konteks, tapi bingung caranya. Monmaap.
****
Detik begitu Leana melangkah keluar, ia merasa pandangannya berputar.
Bangunan sekolah itu tetap, tetapi hawanya sangat berbeda. Entah ini dimensi lain sekolah keberapa yang Leana masuki. Ia pernah berada di tempat di mana waktu berjalan begitu lambat. Pernah pula di mana jam tidak berdetak. Sekolah mereka, yang mulanya aman tenteram damai, entah sejak kapan jadi diliputi berlapis-lapis ruang asing.
Gawat, batin Leana. Aku bahkan enggak tahu ini tempat yang sama kayak Bang Tantra apa bukan.
Leana menoleh ke belakang. Pintu ruang OSIS sudah tertutup rapat. Leana tak ingat ia menutupnya tadi karena langsung berganti fokus. Kalau begitu, ia terlalu gegabah. Harusnya ia keluar bersama KOKO. Leana tak bisa memastikan apakah KOKO bisa menemuinya setelah ini atau tidak.
Namun, sebenarnya, ia tak terlalu menyesal.
Jauh, jauh di dalam lubuk hati Leana, ia merasa lega. Lega karena keluar dari situasi bersama dua orang aneh itu, dan lega karena tidak harus menjelaskan apa-apa lagi ke KOKO.
Yang Leana lakukan pertama-tama adalah ke UKS. Ia memastikan sudah tidak ada Ezzy dan Yessy di sana. UKS tampak rapi, seolah tidak ada yang menggunakan kasur dan peralatan di sana sama sekali. Leana menghela napas sambil menutup pintu perlahan. Melihat nuansa rumah sakit di keadaan seperti ini bukan ide yang bagus.
Leana lanjut menjelajah. Ia sempat melirik sekilas ruang OSIS. Ia tahu pasti, Tantra tidak ada di sana. Namun, ia penasaran juga. Leana menyentuh gagangnya. Terkunci. Ia kaget sejenak, lalu mencoba membuka kuncinya dengan kunci serep yang tadi dilempar KOKO. Terbuka. Namun, tidak ada orang di dalam.
Jadi, aku sama sekali sendirian sekarang, batin Leana. Oke, ini menyeramkan.
Leana mulai merinding. Kapan ia bisa tidak bertindak bodoh atau impulsif begini? Namun, ia merasa harus. Seolah, ada sebagian tanggung jawab Leana di sini.
Padahal aku enggak ngapa-ngapain! Apa ini yang dirasakan Anya–Anyelir? Dia enggak salah, tapi merasa bertanggung jawab gara-gara paham apa yang terjadi?
Leana kembali mengunci pintu. Meski ruang OSIS tampak aman, berdiam di sana tidak akan membawa solusi. Leana menyusun prioritas dalam hati. Temukan Bang Tantra, lalu temukan cara buat ketemu KOKO lagi dan memastikan Iko!
Tidak ada sinyal di ponsel. Namun, di beberapa tempat, sinar flashlight cukup membantu.
Setelah mengintip ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang wakil, dan ruang tata usaha yang kosong, Leana berjalan ke lantai dua, tempat sederetan kelas sepuluh dan dua belas. Ia tidak menaiki tangga di mana terdapat lemari reot yang sering mengejutkannya itu. Leana mengintip kelas demi kelas. Semuanya kosong. Tidak ada tanda-tanda rombongan ustaz di sini.
Kesimpulan: Leana benar-benar ada di dunia lain.
Leana mulai banyak-banyak berdoa. Ia lebih memilih terus dalam keheningan dan kesepian ini, daripada tiba-tiba muncul sesuatu.
Namun, depan ruang kelas Dania, yang tadi sempat Leana sambangi, terasa begitu aneh.
Leana sangat ragu untuk mendekat. Kalau ia nekat, rasanya sama saja dengan menjerumuskan diri sendiri. Namun, kalau tidak, Leana bisa apa lagi? Sekolah jelas sedang tidak baik-baik saja, dan Leana akan berusaha supaya keanehan ini terangkat sedikit demi sedikit.
Maka, Leana lanjut berjalan ke arah lain, tanpa melalui ruang kelas XII MIPA 3. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bunyi tetesan air dari keran di toilet yang bocor membuat Leana merinding sekujur badan. Ia buru-buru menjauh. Pokoknya, jangan ke UKS atau toilet! Setting yang terlalu cocok untuk adegan horor.
"Gerryyy ...." Leana mulai memanggil-manggil, meski tahu sobatnya itu tidak ada di sisinya, dan tidak akan muncul tiba-tiba. Kalau Gerald sungguhan muncul, Leana akan kabur.
Ia sampai di lantai teratas. Kelasnya, tempat kejadian perkara tadi pagi, tampak begitu suram. Entah sudah berapa kali Leana bolak-balik hari ini. Ia memindai seisi kelas dan tercenung.
Ada tas Gerald di sana.
Dari semua yang Leana ingat, sejak insiden hilang tempo hari, Gerald memang belum ke sekolah sama sekali. Leana juga ingat, terakhir ia melihat tas Gerald di kelas dimensi normal adalah sore hari ketika Gerald menghilang, sebelum Iko muncul, disusul Ezzy, lalu Sonya. Setelah itu, ia melihatnya ketika memutari sekolah sekali di dimensi lain, tetapi ia biarkan di meja. Selanjutnya, ia tak mencarinya lagi.
Tas Gerald tetap ada di sini, ternyata. Gerald belum membawanya pulang. Leana tiba-tiba merasa begitu sedih. Ia raih tas itu, lalu ia peluk. Kenangan dua tahun terakhir menyeruak. Ketika mereka hanya bisa mengandalkan satu sama lain, untuk pertama kalinya. Saat itu, Anyelir berpesan supaya hati-hati, karena hidup mereka tidak akan pernah kembali normal. Meski begitu, Anyelir tampak lebih cerah dibanding sebelumnya. Ia baru saja memutus rantai penjaga gaib keluarga, cita-citanya sejak lama.
Leana menolak, pada mulanya. Ia tetap ingin hidup "normal" seperti ia yang dulu, tidak ingin strict urusan ini-itu, apalagi butuh penjaga, tetapi Gerald si penjaga sedikit-sedikit mengingatkannya, dan bersikap sangat protektif padanya. Hal itu membuat Leana jengkel pada Gerald, dan puncak ketegangan mereka pecah tahun lalu, saat kelas mereka mengadakan wisata akhir tahun sekaligus perpisahan kelas.
Saat itu, Leana dan Gerald sama-sama nyaris celaka, andai Anyelir tidak muncul tiba-tiba. Ketiganya terikat dengan sindrom paranormal yang lebih kuat dari sebelumnya. Leana dikejar entitas lelaki bernama Pram, dicelakai entitas perempuan bernama Alisa, dan diteror sosok menyerupai tiga mendiang temannya. Gerald dikejar Alisa, dicelakai Pram, dan digoyahkan hatinya soal Leana–lelaki itu memang sempat naksir Leana. Dan Anyelir, ia bisa muncul tiba-tiba bukan karena kebetulan. Itu disebabkan ia mendapat kabar itu lewat cara yang tidak diduga-duga.
Khodam yang sudah susah payah Anyelir lepas ikatannya itu kembali padanya. Sang penjaga gaib itu yang memberinya kabar soal Leana dan Gerald, tentang kejadian mistis yang menimpa mereka, membuat Anyelir bisa menyusul. Kejadian paranormal yang mencelakakan dua orang teman senasib, pasti adalah kelemahan Anyelir. Kini, masalah Anyelir jauh lebih pelik dari sekadar memiliki khodam yang sangat protektif. Terakhir yang Leana dengar, Anyelir berkata kalau khodam itu sangat berusaha supaya Anyelir ketergantungan, dan itu membuatnya rentan terjerumus kesyirikan.
Leana tahu, maka ia tak bisa menahan Anyelir lama-lama di sini. Ia tahu, urusan yang membuat Anyelir berusaha memutus pertemanan mereka berkaitan dengan makhluk itu. Anak itu hanya ingin bebas dari belenggu yang siap menyeretnya kapan saja.
Maaf, Anya. Aku sudah berusaha biar bisa lebih kuat. Tapi ... kayaknya, aku masih lemah. Andai kamu ada di sini ....
"Len?"
Leana mendelik. Suara itu ... familier, tetapi bukan yang Leana dengar baru-baru ini. Masih mencengkeram tas Gerald, ia menoleh patah-patah ke pintu kelas.
"Leana?"
Tak ada orang. Namun, ada bayangan, yang membuat Leana merinding sejadi-jadinya.
Ia bilang, Tantra melihat mimpi. Sepertinya, ada yang lebih tepat daripada itu.
KOKO bilang, Tantra bilang maaf, entah untuk siapa. Kini, Leana bisa mengira-ngira apa yang terjadi.
Tantra melihat penyesalan. Seperti apa yang Leana alami sekarang.
"Leana ... Leana. Leanaaa! Leaaanaaaa! LEANAAAAA!"
Leana mendelik. Ia mencangklong tas Gerald sambil bersiaga dengan tongkatnya. Tiba-tiba, ruangan ini terasa begitu penuh, tanpa ada satu pun yang benar-benar mewujud.
Leana mulai sesak. Ia terbatuk selama berusaha meraih pintu kelas. Tubuhnya seperti didorong, ditarik, kanan-kiri, diganggu makhluk tak kasatmata, dengan suara tawa yang sahut-menyahut. Ia merasa sangat pusing begitu mencapai balkon. Tas Gerald sudah ketemu, lalu ... apa lagi?
Novel Kak Dania?
Leana ingat, tadi Dania memegang novel, tetapi apakah judul yang sama? Leana meringis. Kalau begitu, ia harus ke kelas dengan suasana mencekam tadi.
Leaanaaa ....
Gawat, suara itu mendekat. Leana harus kabur. Ia ingat itu suara siapa. Suara Nelly; salah satu teman angkatannya yang terhapus.
Apakah ini sama seperti tahun lalu?
Tidak. Tahun lalu, Leana lengah. Tidak sekarang. Sudah cukup, ia tak mau mendengar suara mengiba itu lagi.
Leana berlari. Ia menuruni tangga dengan buru-buru dan menjerit ketika tiba-tiba ada suara derit pintu terbuka.
Kenapa lemari ini muncul lagi?!
Kiri, kanan, Leana tiba-tiba lupa arah. Ke mana arah kelas XII MIPA 3? Ia berjalan maju, dan tiba-tiba terdorong mundur. Ada penghalang tak kasat mata. Leana berdiri dengan kaki gemetar, kebingungan.
Aku harus apa?
Begitu saja, suara riuh tawa terdengar bergemuruh. Leana makin lemas. Ia hanya bisa memekik ketika tas Gerald ditarik dan lepas. Leana memeluk tongkatnya erat, melindunginya. Apa pun yang terjadi, ia harus membawa tongkat itu!
Di antara riuh tawa yang makin mengepung, Leana bisa mendengar suara langkah kaki. Berlari ke arahnya. Namun, Leana tak tahu itu itu siapa, manusia atau bukan, apalagi jeritan kini memenuhi telinganya.
Seruan itu sahut menyahut dari tiga suara berbeda. Tiga suara yang Leana kenali, meski kini jejaknya terhapus sama sekali. Leana menggertakkan gigi dan mulai berlari, meski sedikit-sedikit menyandung dan menabrak entah apa. Kakinya terasa begitu dingin dan lemas, ia bisa jatuh sewaktu-waktu. Belum juga sampai di depan ruangan yang dituju, hawa yang begitu menekan membuat Leana terpental. Ia tersungkur. Telinganya kini dipenuhi suara memanggil dan tawa melengking.
Ini saatnya ... giliran kamu yang menghilang!
Leana mengernyit. Jika selama berada di sini keberadaannya hilang di luar sana, maka Leana harus keluar. Jika terlalu lama di sini, Gerald akan melupakannya, dan mungkin saja Anyelir juga. Sekarang mungkin belum, tetapi nanti?
Hilanglah! Jangan ganggu dia!
"Dia?" gumam Leana. Ia bangkit lagi dan mulai berlari. Persetanlah semua. Ia akan ke ruang OSIS dan berpikir dengan lebih jernih. Namun, baru saja sampai di persimpangan tangga, ia melihat lemari itu, dengan pintu yang masih terbuka lebar.
Lemari reot itu selalu mengadangnya di tiap kelokan, seolah menghantui.
Leana tak tahu mengapa ia tertegun. Yang ia tahu, tiba-tiba ada yang mendorongnya ke dalam lemari dan menutup pintu serta menguncinya. Bukan kesedihan atau putus asa yang melingkupi Leana sekarang, melainkan kemarahan.
"Siapa itu? Buka pintunya!" Ia menggedor dengan siku, dengan tongkat, dengan kaki, semuanya, tetapi pintu itu bergeming. Leana akhirnya berhenti berteriak, tetapi ia tetap menggedor pintu. Debu-debu berjatuhan, Leana bersin.
Itu orang, 'kan? Yang dorong aku orang, 'kan?
Leana mulai sesak. Ia terbatuk. Ia diam cukup lama, berusaha mengatur napas, lalu menggedor lagi. Begitu berkali-kali, entah berapa lama Leana terjebak di sana. Ia kalut, suntuk, dan sesak. Dengan sisa-sisa tenaga, ia kembali menggedor pintu ... yang tiba-tiba terbuka. Leana nyaris tersungkur, tetapi ia bisa menyeimbangkan dirinya, meski tetap bersin-bersin.
Penglihatan itu menyambutnya. Padang rumput, langit biru, awan putih ... dan, laki-laki itu ....
Deja vu.
Memori suatu petang hari tepi pantai terngiang. Kala itu, siluet sang lelaki memunggungi dirinya. Namun, kali ini, mereka jelas berhadapan. Dan lelaki itu jelas sekali merentangkan tangan.
"Ger ... ry?"
Yang Leana tahu, ia sudah menghambur sambil menangis.
(Bersambung)
****
1690w
Len, Gerry masih pake baju bobo! 😠
Ok ini mulai kebanyakan sudut pandang, tapi bomat lah
Jkt, 29/7/25
zzztare
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top