Let It Go

Title : Forbidden Love
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, etc.
Genre : Sad
Rate : G
Jung Yunho pewaris utama keluarga Jung yang tengah disibukkan dengan pekerjaannya sebagai CEO Jung Corp. Walaupun sibuk ia tidak pernah melewatkan selama 4 tahun dimana sahabatnya, Kim Jaejoong mendekap di rumah sakit karena kanker otak yang dideritanya semenjak kelulusan SMA.
Yunho sangat menyayangi Jaejoong layaknya seperti adik sendiri, dimana ia membiayai semua pengobatan Jaejoong karena Jaejoong kini hanya tinggal bersama ibunya yang seorang Manager Utama di Jung Corp, sementara ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan kapal laut dan mayatnya tak pernah ditemukan.
Bukan karena ia mengasihani Jaejoong, sama sekali bukan.
Saat ini Jaejoong sedang fit, biasanya ia akan pergi ke taman bermain dengan anak-anak kecil yang menyukai dirinya.
"Yunho ajusshi tidak datang eoh oppa?" Tanya seorang gadis kecil disana, Jaejoong terkekeh.
Yunho dan dirinya seumuran tapi karena pembawaan maskulinnya terlalu menguar ia terlihat lebih dewasa sementara Jaejoong memiliki wajah yang cantik walaupun ia seorang laki-laki.
"Jusshi kalau tidak datang berarti sibuk dengan kertas yang... Segunung!" Jawab Jaejoong yang menggambarkan gunung dengan gerakan tubuhnya membuat sang gadis kecil tertawa lucu.
"Apa yang dibawa jusshi hari ini ya?" Tanya gadis kecil itu, Jaejoong hanya mengendikkan bahu.
Percakapan mereka didengar oleh Yunho yang berada tak jauh dari mereka, melihat Jaejoong tersenyum membuat hatinya damai, sampai kapan Jaejoong bisa tersenyum?
"Hey aku datang" interupsi Yunho pada keduanya, Jaejoong menoleh dengan rona diwajahnya.
Yunho yang melihatnya terkekeh, pasti karena terkena paparan sinar matahari.
"Woah! Jusshi datang!" Teriak gadis kecil itu.
"Kau tidak sibuk, Yunho?" Tanya Jaejoong, Yunho tersenyum dan duduk dikursi panjang yang Jaejoong duduki dan memangku anak itu.
"Kalau aku kesini tandanya aku free hehe" jawab Yunho dengan kekanakkannya.
Percayalah, Yunho itu minim ekspresi apalagi dengan pacarnya. Ia menunjukkan ekspresi yang kaku, tidak sekaku saat bersama Jaejoong.
"Kau terlihat aneh Jung" cibir Jaejoong, Yunho tertawa.
"Jusshi bawa apa?" Tanya anak itu, Yunho tersenyum.
"Aku membawa suatu hadiah untukmu, aku memberikannya pada ibumu. Ini sudah sore kembalilah keruanganmu, okay?" Jawab Yunho yang dijawab anggukan dan anak itu meninggalkan keduanya.
"Ajusshi tampan! Terima kasihh!!"
Jaejoong terkekeh.
"Tampan? Dia tidak tahu kalau sedang tidur ajusshi tampan-nya mata dan mulutnya terbuka ewhh sangat mengerikan" gerutu Jaejoong, Yunho terkekeh tidak peduli. Toh itulah kenyataannya.
"Kau terlihat pucat, kenapa keluar?" Tanya Yunho.
"Semenjak aku tinggal dirumah sakit kulitku semakin putih bukan pucat Jung" jawab Jaejoong.
"Kau ini selalu menjawab" omel Yunho, Jaejoong memutar matanya sebal.
"Dokter bilang stadiumku menambah"
Sunyi.... Yunho ingin mencerna semuanya tanpa sia-sia.
"Kau pasti ingin bertanya kan? Stadium berapa? Hum?" Terka Jaejoong, Yunho menatapnya dengan wajah ingin tahunya.
"Ne, aku tidak bisa menanyakan itu"
"Stadium akhir"
Deg
"Waktuku tidak banyak"
"Jae jangan mengatakan hal yang tidak berguna!"
"Aku tidak akan pernah lari dari kenyataan Yunnie-ah" jawab Jaejoong dengan senyumnya, ia mencoba untuk pasrahkan dirinya.
Stadium akhir? Hanyalah pengobatan untuk pereda sakitnya, tak ada yang bisa dilakukan karena berbahaya.
"Jihye meninggal karena sakit yang sama denganku"
"Jangan mengingatkanku pada kakak-ku Jae"
"Kenapa? Kau masih lari dari kenyataan bahwa Jihye noona memasrahkan hidupnya? Aku tidak mau hidup dengan alat-alat bantu sialan itu semua"
"Geumanhae"
"Aku lelah Yun.... Aku..."
Grep
Yunho memeluk Jaejoong sebelum pertahanan mereka runtuh dengan sempurna.
"Disini ada aku"
"..."
"Jae?"
"Hmm?"
"Jangan tinggalkan aku"
"Kau juga"
Saat dari sanalah Jaejoong keadaannya semakin memburuk karena ia menolak memakai alat bantu.
"Joongie sayang, kau tidak boleh seperti ini..." Ujar sang ibu yang melihat anaknya merajuk.
"Umma mau melihat Joongie hidup dengan alat-alat itu? Begitu? Joongie lebih memilih mati" jawab Jaejoong, ia benar-benar sudah selesai.
"Setidaknya saat pernikahan Yunho kau harus datang dengan keadaan yang fit, Joongie"
Deg
Deg
Deg
Denyutan tak nyaman dirasakannya, kapan Yunho akan menikah?
Memang benar sudah satu bulan Yunho tidak mengunjunginya, oh... Ini sebabnya.
Yang ia tahu Yunho sangat memperhatiakannya dan menyayanginya dan ia sangat tahu Yunho masih sangat normal untuk mencintainya.
"Aku tidak akan datang, hari itu atau sekarang bisa saja aku sudah tidak bernafas" tolak Jaejoong, ummanya sudah berderai airmata.
Jaejoong selalu bersikap menyerah seperti ini. Hanya Yunho lah yang dapat membuatnya kembali semangat.
"Kau menyayangi umma kan?"
"Umma tahu jawabannya"
"Kau menyayangi Yunho kan?"
"Umma pun tahu apa jawabannya"
"Kau mencintai Yunho?"
"..."
Tidak mungkin ibunya tahu bahwa kenyataannya putra semata wayangnya yang berada diujung maut ini juga orientasi seksualnya melenceng.
"Katakan pada umma, umma tidak akan marah karena umma mengerti"
"..."
"Kau mencinta.."
"Umma aku ingin tidur, kumohon jangan ganggu aku"
Ibunya akhirnya keluar dari ruang perawatan itu lalu menangis.
"Kenapa hidupmu sangat menyedihkan nak?! Kau sakit dan sekarat sekarang kau mencintai sahabatmu yang akan menikah? Apa rasanya hatimu sekarang nak?"
Tangisan dan gumaman ibunya dapat terdengar karena Jaejoong menguping.
"Aku? Matipun tidak masalah. Hatiku? Ia tidak akan pernah tahu sampai aku mati. Perasaanku? Tidak akan pernah hancur karena hanya dia akan menikah. Aku senang dia memiliki kebahagiaannya sendiri, sebaiknya aku pergi, bukan?"
Hari itu adalah tiga hari sebelum hari pernikahan Yunho dan kekasihnya, Go Ahra.
Wanita baik dan cantik, Yunho punya selera yang bagus.
"Umma, aku ingin pergi ke amerika" ujar Jaejoong.
"Untuk apa?"
"Pengobatan...."
"Kenapa begitu jauh?"
"Aku ingin disana"
Tap
Tap
Tap
Suara sepatu terdengar dikoridor namun keduanya tidak mendengar, Yunho datang.
"Dokter menghitung hidupku"
"Dokter sialan! Dia bukan Tuhan!"
"Tuhan tidak ada umma, dia tidak pernah hadir dihidupku"
"Joongie hiks"
"Satu bulan atau kurang"
Tap
Langkah Yunho terhenti saat Jaejoong mengatakan itu, Jaejoong akan meninggalkannya?
Yunho datang untuk menemui Jaejoong karena sudah lama ia tidak berkunjung, sibuk menyiapkan pernikahan. Ia juga datang membawakan tuksedo khusus untuk Jaejoong.
Tapi diurungkan ia datang, ia menaruh kotak kado yang berisi tuksedo didepan pintu kamar perawatan Jaejoong.
"Kau harus datang Jae...."
Hari pernikahan Yunhopun tiba, Jaejoong memakai tuksedo yang ditemukan ummanya. Ia yakin itu pemberian Yunho.
Yunho menegaskan pada dokter yang merawat Jaejoong, dia harus dibolehkan keluar untuk melihatnya mengikat janji suci sehidup semati dengan pasangan hidupnya. Jaejoong harus melihatnya. Dan izin itu pun dikeluarkan.
Pancaran Yunho mengatakan bahwa hari itu adalah harinya Yunho dan Jaejoong. Tapi ia menikahi orang lain.
Kini Yunho berdiri didepan cermin besar, Jaejoong memandang punggung bidang Yunho yang sangat ia sukai karena dapat melindungi tubuhnya, menghangatkan tubuhnya, ah.... Jaejoong tidak dapat membayangkannya lagi.
Yunho memutar tubuhnya dan melihat Jaejoong yang sedang melamun.
Jaejoongnya tetap cantik walaupun semakin pucat dan kurus, tidak masalah. Cantiknya tidak pernah hilang.
"Jae...."
"Oh ya?!"
Ia terkejut, suara yang ia rindukan memanggilnya lembut dan menuntun.
Jaejoong berdiri dan menghampiri Yunho untuk membenarkan dasi kupu-kupu Yunho.
"Kau gugup ya?"
"..."
"Padahal kau tadi sedang bercermin, tidak melihat yang satu ini eoh? Dasar Jung teledor"
"..."
"Nah, kau sudah tampan Jung Yunnie, ah... Yunho haha"
"Aku melihatmu"
"Eh?"
Yunho menatapnya tegas dan lembut, Jaejoong salah tingkah dibuatnya.
"Aku tidak bercermin, aku melihat pantulan dirimu yang ada di cermin sedang menitihkan airmata"
"..."
"Jae, aku mencintaimu"
Deg
Deg
Deg
"Aku mencintaimu Kim Jaejoong"
"Kau gila? Atau... Mabuk? Kau harusnya menyebut Go Ahra"
"Tidak, aku mencintai Joongie-ku"
"..."
"Apa kau rela melihatku menikah dengan Ahra?"
"Selama kau bahagia, untuk apa aku tidak rela?"
"Tidakkah hatimu memiliki hati yang sama denganku?"
"..."
"Kau pintar menyembunyikan segalanya Kim Jaejoong, tapi kau tidak dapat menyembunyikannya dariku"
"..."
"Tidakkah hatimu sakit?"
Mata yang saling pandang itu.... Mata Jaejoong buram karena airmata yang menumpuk, akhirnya jatuh.
"Selama kau bahagia, aku sakit bukan apa-apa"
"Kau mencintaiku"
"Itu tidak benar, aku menyayangimu sebagai sahabat Yunho-ah"
"Kau tidak menyebutku Yunnie lagi"
"Yun, 10 menit lagi jangan bicara hal aneh"
Senyuman miris tercetak dibibir hati Yunho, harusnya ia tahu itu.
"Benar, ini aneh. Laki-laki yang menyatakan cintanya pada sesama laki-laki, kau benar ini aneh Joongie..."
'Tidak! Ini tidak aneh Yunho! Aku juga!'
Teriakan hati Jaejoong yang tidak dapat dia utarakan.
Ia memikirkan perasaan gadis baik yang menunggu Yunho siap untuk menikah.
"Baiklah, aku akan mencoba membuka lembaran baru dengan Ahra"
Diruangan itu hanya ada mereka berdua, Jaejoong menunduk. Dia tidak dapat bicara apapun.
"Hey, tatap aku"
Jaejoong menatapnya lagi dan kecupan di bibir yang ia terima.
"Aku mencintaimu, Tuhan tidak mengizinkan aku untuk mengatakannya didepan sana"
"..."
"Doakan aku Joongie"
Tap
Tap
Tap
Cklek
"Kau harus dikursi paling depan sekarang"
Brak
Sreettt
Tubuh Jaejoong melemas, jatuh terduduk dengan airmata yang mengalir. Inikah akhirnya? Mereka sama-sama mencintai tapi ini cinta yang terlarang. Apa yang harus dia lakukan?
"Tuhan, kalau kau benar ada.... Kumohon.... Kumohon..."
Upacara perjanjian suci sudah selesai, Jaejoong pergi dari sana terburu. Yunho yang melihatnya segera mengejarnya.
"Jae!"
Jaejoong menoleh.
"Selamat atas pernikahanmu Yunho-ah" ucap Jaejoong dengan senyumnya.
"Mau kemana?"
"Ke Amerika"
"Apa?!"
"Hidupku terhitung hanya satu bulan kurang, aku ingin berlibur disana untuk beberapa waktu"
"Aku akan bulan madu disana"
"Tidakkah kau fikirkan perasaanku Yunho?"
"..."
"Aku kesana untuk menjauhkan diri darimu, mungkin untuk menjaga jarak. Kalau bisa kita tidak bertemu lagi"
"Tidak"
"Kenapa? Kau sudah bahagia, aku juga mencintaimu tapi aku tidak dapat kebahagiaan"
"Aku mencintaimu"
"Kau berbohong pada Tuhan"
"Aku tidak percaya Tuhan ada Jae! Kenapa ia memisahkan kita?! Kenapa?!"
"Aku pergi"
Jaejoong membalikkan tubuhnya namun Yunho menahannya, ia memeluk Jaejoong.
"Kau akan kembali kan?"
"Tentu"
"Cepatlah kembali"
"..."
Akhirnya Jaejoong pergi dengan taksinya, semua menanyakan dimana Jaejoong sekarang.
"Ia ke Amerika kan, oppa?" Tanya Ahra.
"Iya, berlibur" jawab Yunho dengan senyumnya yang kaku.
"Sebaiknya biarkan dia sendiri, batalkan saja honey moon disana oppa" ujar Ahra penuh pengertian.
"Ne"
Akhirnya mereka honey moon di pulau Jeju, resort milik keluarga Go.
"Pagi oppa" sapa Ahra dengan mengantarkan kopi dan sandwich buatannya.
"Pagi" sapanya balik.
Pip
'Kecelakaan pesawat Korea ke Amerika pada dini hari tadi dikarenakan mesin yang meledak diatas udara, penumpang yang berhasil ditemukan berkisar 96 orang dengan 99 mayat yang ditemukan, 18 orang luka-luka dan 21 mayat tidak teridenifikasi dari 234 penumpang. Sisanya dinyatakan hilang'
"Oppa?"
Yunho berfikir keras dan berusaha bangun, ini hanyalah mimpi.
'Daftar penumpang yang hilang : Park Sujeong, Yong Jiyoung, Kwon Yeri, Lee Hana, Jung Jihee, Jung Yoonso, Yeon Yeonae, Kim Jaejoong-'
PRAK!
"KIM JAEJOONG KAU MENINGGALKANKU!"

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top