Chapter IV - Twins?
Aku boleh mati, tapi rohku abadi. Aku boleh mati, tapi kekuatanku abadi. Aku boleh menghilang, tapi aku akan kembali.
***
PERLAHAN aku membuka mataku yang terasa berat. Bau antiseptik menyeruak masuk kedalam rongga hidungku dan aku dapat menebak dimana aku berada sekarang. Kepalaku berdenyut nyeri dan lama kelamaan terasa menyakitkan. Aku meringis. Lalu, ketika pandanganku mulai fokus, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Hanya ada aku.
Dengan sekuat tenaga aku berusaha bangkit dari posisi tidurku. Kepalaku masih berdenyut dan aku kembali meringis. Namun aku butuh ketenangan, diruangan ini aromanya terlalu menyengat dan tidak ada udara segar. Aku butuh udara segar.
Setelah aku duduk di tepi ranjang, aku meraih tiang tempat tergantungnya kantong infus. Menariknya pelan agar dapat menjadi penyanggaku berdiri. Setelah berhasil berdiri aku memutuskan untuk pergi ke taman di belakang Vincentia Hospital ini. Dulu kecil, aku pernah dirawat di rumah sakit ini akibat Demam Berdarah, dan aku pernah di ajak ayahku ke taman belakang rumah sakit ini. Disana sejuk dan banyak suara burung. Mungkin disana aku dapat menenangkan diri dan menetralkan seluruh pikiranku terhadap masalah ini.
Koridor rumah sakit terlihat ramai akan pasien. Kebanyakan diantaranya sedang berjalan dengan seorang suster sebagai bantuan, beberapa sedang duduk dikursi roda di temani orang terdekat mereka. Beberapa memandangku sembari tersenyum hangat, seperti nenek-nenek yang sedang disuapi dengan cucunya yang berumur tujuh tahunan atau bapak-bapak yang sedang belajar berjalan memakai alat penyangga karena kakinya di amputasi, dan aku membalas senyuman mereka dengan senyuman bersahabat yang hangat. Nasib mereka memang berat memang, tapi entah mengapa mereka masih dapat tersenyum denganku.
Aku merasa begitu kalut, hidupku entah mengapa terasa hancur. Mungkin ini terdengar berlebihan, namun jika seseorang yang berhasil membuatmu jatuh cinta itu tiba-tiba meninggalkanmu untuk ... selamanya, bagaimana perasaanmu? Apalagi ia meninggalkanmu karena berusaha menolongmu.
Beberapa menit setelah tersenyum, aku terpaksa menempel di dinding akibat pasien Unit Gawat Darurat yang sedang dibawa dengan tergesa-gesa. Well, aku dapat melihat pasien tersebut dengan kepala dan tangan yang terus mengeluarkan darah. Mengerikan memang.
Aku duduk di salah satu bangku taman berwarna tembaga. Menatap bunga Flax berwarna biru terang itu. Ah, aku jadi ingat warna mata Edward dan Bastien, mereka sama-sama mempunyai warna mata yang berwarna biru jernih bak bunga Flax. Mencoba merelaksasikan diri dengan mendengarkan kicauan burung yang bersahutan, yang terdengar seperti alunan simphony yang indah. Aku memejamkan mata dan mempertajam pendengaranku terhadap burung-burung tersebut.
"Bolehkah aku duduk di sebelahmu?" Pertanyaan itu membuatku tersentak.
Aku menoleh ke asal suara dan menemukan seorang perempuan dengan rambut scarlet mencoloknya yang panjang sepinggang, lalu wajah rupawan dengan kulit seputih porselen dan senyuman yang manis.
"Ah, ya. Tentu saja," kataku membalasnya dengan senyuman hangat.
Dia menatapku dengan tatapan bersahabat. Dia mempunyai warna mata blue shappire yang indah. Aku baru menyadari bahwa tatapannya itu membuatku tenang.
"Siapa namamu?" Tanyanya memecahkan lamunanku.
Aku mengernyit bingung lalu berusaha bersikap normal terhadap seseorang yang ingin berkenalan. "Ave," jawabku singkat.
"Hanya itu?" Dia memiringkan kepala tanda penasaran, sedangkan matanya masih menatapku dengan tatapan yang tenang. Bisakah aku memiliki tatapan seperti itu? Ah, hanya berharap.
Aku mengambil napas lalu menghembuskannya dramatis. "Evangeline Aveolela Ilona Keinher," kataku memperkenalkan diri. "Kau sendiri?"
"Alarice Grean," jawabnya.
"Apa rambutmu asli?" Tanyaku penasaran.
"Ya. Banyak yang mengira aku mewarnainya, padahal tidak. Ini keturunan dari ibuku," katanya sembari tersenyum hangat.
Senyumnya itu membuatku merasa aneh, maksudku ... hei! Aku bukan seorang lesbian, oke? Maksudku, ia terlihat sangat manis dan hangat, kulitnya yang begitu pucat itu tidak membuat kecantikannya luntur.
"Kau unik." Kataku terkekeh pelan lalu melanjutkan tatapanku terhadap tanaman Flax itu.
"Aku menderita HIV Aids."
Aku menoleh, menatapnya dengan kening berkerut bingung, sedangkan gadis yang kutatap sedang menatap lurus kedepan seperti memikirkan sesuatu.
"Jujur, sebenarnya aku adalah seorang pelacur." Dia terkekeh pelan. "Tapi tidak sengaja seorang lelaki memberi ... maksudku, menulari virus HIV-nya padaku. Penyakit ini bersarang terlalu lama di tubuhku hingga membuat umurku tinggal sedikit." Pernyataan itu membuatku bergidik sekaligus iba.
Kenapa perempuan cantik yang bisa mendapatkan pekerjaan layak seperti dia memilih jadi pelacur? Postur badannya bagus, tingginya pas, wajahnya cantik, dan rambutnya unik. Tetapi, kenapa dia lebih memilih pekerjaan haram seperti itu? Dunia ini memang begitu kejam, haha.
"Jadi ... kau akan-"
"Ya. Tapi aku tidak menyesal, tidak akan pernah. Lagipula ini semua salahku," katanya lalu menundukkan kepala. "Tuhan yang mengkehendakinya, inilah takdir ... kita tidak dapat mengembalikannya, ataupun menghindarinya." lanjutnya.
Dia ada benarnya. Kepalaku ikut tertunduk. Aku berusaha mengingat kata-katanya. Inilah takdir, kita tidak dapat mengembalikannya, maupun menghindarinya. Batinku mengulangi kata-kata tersebut.
"Al?"
"Hm."
"Apa aku harus berusaha melupakan semua ini?"
"Jangan berusaha melupakan, ingatlah itu sebagai kenangan yang memberikanmu pelajaran untuk merubah diri dari keterpurukan. Usahakan pula kau bahagia, karena jika kau bahagia, aku yakin mereka juga bahagia. Dan kau mempunyai tatapan itu, Ave. Tatapan yang dapat membuat seseorang tenang dan tawa yang dapat mengubah dunia." Jelasnya.
Tunggu, kenapa dia bisa tahu? Aku cepat-cepat menoleh keasal suara, namun yang ku lihat hanya kursi sebelahku yang kosong dan angin yang berhembus sehingga rambutku melayang terkena terpaan angin. Tidak ada satupun orang. Jadi yang tadi itu siapa? Aku bergidik ngeri.
Tapi aku membuang jauh-jauh semua pikiran burukku. Semua yang Alarice katakan benar, inilah takdir, dan aku harus berusaha membuat mereka bahagia. Kalau saja Alarice masih di sampingku, mungkin aku akan langsung menerjang gadis berambut merah itu lalu memeluknya lalu berterima kasih.
Tanpa sadar aku tersenyum menatap kursi sebelahku yang kosong dan bergumam, "Terima kasih, Alarice." Lirihku.
"Ave! Ah, disini rupanya kamu." aku sedikit terlonjak karena ibu memanggilku dari kejauhan beberapa meter dari tempatku duduk.
"Ada apa, bu?" Tanyaku setelah ibu berada didepanku seraya berdiri mensejajari diriku dengannya-walau aku lebih tinggi sedikit darinya.
"Ayahmu kedatangan teman-temannya, dan kau kedatangan saudara," kata ibu sembari tersenyum penuh arti, matanya memancarkan binar kebahagiaan.
Firasatku mulai tidak enak, ada getar-getir aneh yang bisa kulihat dari gaya ibu.
"Maksud ibu, Anna?" Tanyaku mengerlingkan alis dengan senyuman mengejek. Tentu saja, kenapa aku harus bangga jika adikku yang menyebalkan itu datang berkunjung. Lagipula tidak ada untungnya bagiku.
"Bukan," ibu menggeleng, lalu memberiku tatapan ibu-mempunyai-kejutan-yang-dapat-membuatmu-ingin-terjun-payung.
Aku memutar bola mata.
Kami berjalan menyusuri koridor tempat aku melihat pasien-pasien tadi. Beberapa masih berada disana dan yang lainnya (sepertinya) sudah berada di kamar mereka. Sampai akhirnya kami sudah berada diruangan VVIP tempatku dirawat. Berlebihan memang, tapi apa daya aku. Sebenarnya bukan permintaanku, bahkan kalau aku menginap di kamar kelas biasa pun tidak apa-apa, karena aku bisa mendapatkan banyak teman disana.
Pintu terbuka dan kau tahu perasaan apa yang langsung menyambutku? Takut, terkejut, tidak percaya, sedih. Tak sengaja kepingan bayangan masa depanku meluncur begitu saja di pikiranku.
Aku ... bisa membaca masa depanku sendiri. Jika aku merasakan sesuatu, maupun melihat apapun yang terselubung barulah aku bisa melihat bayangan masa depanku. Tapi ... itu terjadi sangat jarang sekali.
Aku berusaha memasang wajah senormal mungkin. Aku tahu ini akan terjadi, namun aku masih tidak percaya. Menurutku ini mustahil. Sangat mustahil malah, ya ampun.
"Wah! Dia sangat cantik!" Ujar seorang gadis dengan wajah yang begitu mirip denganku.
"Hai! Aku saudari kembarmu, katanya. Namaku, Ivyrla Mitexi Lunette. Panggil aku Ivy!" katanya antusias. Pernyataan itu sukses membuatku melongo seperti orang bodoh.
"Dan dia-" Ivy menunjuk seseorang yang 'ku yakini adalah saudara kembarku. "Psst," desis Ivy memperingati sembari menatap tajam sang kembaran.
"Alcander Deacon Eugene. Ace." Katanya acuh tak acuh. Wajahnya memang bisa dibilang mirip denganku, namun yang membedakannya adalah matanya yang berwarna blue shappire yang sangat menawan. Well, tentu saja dia lebih mirip ayahku, sedangkan aku dan Ivy lebih mirip dengan ibuku.
Oh, great. Sekarang aku benar-benar seperti orang idiot dengan wajah aneh. Tapi kau tahu, berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa adalah tindakan paling tepat dan yang bisa kulakukan untuk saat ini.
"Kau sendiri? Kami tidak diberi tahu siapa namamu. Katanya supaya kejutan, dan aku menyukai kejutan!" Kata Ivy seraya mengeluarkan senyum sumringahnya dan menatapku penuh binar kebahagiaan. Oke, ini memang berlebihan, tapi itulah yang kusaksikan sekarang ini.
Ah, aku baru sadar bahwa ruanganku sekarang dipenuhi dengan orang-orang yang tidak kukenali-kecuali ayah dan ibu. Aku mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan, siapa mereka? Sepertinya aku mengenali mereka, sepertinya.
"Jadi, siapa namamu? Kalau kau beritahu, aku akan beritahu juga siapa mereka dan kenapa kami berada disini."
Pernyataan Ivy membuatku tertegun, entah mengapa, ada suatu getaran tersendiri. Disatu sisi aku begitu ingin mengetahui siapa mereka, disisi lain aku seperti deja vu bersama mereka.
"A-aku Evangeline Aveolela Ilona Keinher," jawabku gugup.
"Oh, jadi nama keluargaku sekarang Keinher, ya!" Kata Ivy antusias dan dibalas dengan anggukan mantap dari ayahku. Aku tersenyum tipis melihat saudari kembarku.
Aku mulai bertanya-tanya, darimana datangnya Ivy dan Ace? Tidak mungkin 'kan, ayah dan ibu membuang mereka? Aku benar-benar penasaran.
"Begini, Carl," panggil seorang laki-laki paruh baya (yang kuyakini adalah teman ayahku) kepada ayahku. "Aku ingin membicarakan hal penting pada anakmu dan meminta persetujuanmu atas ini." Lanjutnya dan dibalas dengan anggukan kaku dan tatapan bingung oleh ayahku.
"Ehm, bisakah kita berbicara ditempat lain? Biarkan anak-anak kami menjelaskan hal tersebut pada anakmu." Kata seorang laki-laki paruh baya lainnya.
"Baiklah," jawab ayahku santai, walau aku tahu bahwa ayahku sedang bingung.
Ayah dan ibu beserta lima pria paruh baya itu melenggang pergi keluar dari ruangan ini. Bisa membuatku lega memang, tapi tatapan anak-anak mereka yang tidak bersahabat, belum lagi mata Ivy yang berbinar menatapku, dan itu membuatku bergidik ngeri sendiri.
"A-apa?" Tanyaku gugup karena diperhatikan dengan intens oleh beberapa pasang mata itu. Ayolah, jika kalian berada di posisiku, kalian juga pasti akan malu 'kan?
"Aku akan menepati janjiku dengan memberitahumu mengapa kami disini," kata Eve yang tengah menatapku lekat.
[]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top