Chapter III - Once again

Ave's POV

"Kak Ave!"

Mataku tersentak. Nafasku terengah-engah, dan keringat perlahan turun di pelipisku. Aku mengatur pernapasanku yang abnormal ini. Entah mengapa sudah tujuh malam berturut-turut aku memimpikan hal yang sama, seseorang yang bernama Edward mati. Dan entah mengapa pula mimpi ini terasa begitu nyata, suaranya, tatapannya, dan ... sentuhannya begitu jelas dan nyata.

"Mimpi buruk, Ave?" Pertanyaan Anna membuat lamunanku pecah.

"Hm, ya." Jawabku seraya bangkit dari posisi tidurku lalu beranjak menuju kamar mandi. "Jam berapa sekarang?" Tanyaku pada Anna.

"Jam setengah enam," Jawabnya mengerdikkan bahu.

"Saat aku terbangun tadi, kalau tidak salah aku mendengar kau memanggilku memakai embel-embel 'kak'," Aku mengerlingkan alis.

"Begitulah," jawabnya kembali mengerdikkan bahu acuh tak acuh dan itu membuatku jengkel dengan sikap konyol adikku ini.

"Jangan bertindak seperti idiot," Aku melenggang pergi meninggalkan Anna yang sedang menatap kepergianku, ia mendengus namun sesaat kemudian ia mengulas seringaian mengejeknya yang menyebalkan.


Aku sempat tersentak akibat melihat wajahku sendiri. Apakah aku sedang depresi? Maksudku, wajahku sudah seputih kapas dengan mulut berwarna ungu kebiru-biruan. Oh, anggap saja wajahku seperti mayat hidup sekarang. Mayat hidup. Aku jadi ingat mayat hidup yang berada di mimpiku. Perempuan itu, perempuan yang membunuh Edward. Tanpa sadar air mataku menetes begitu saja di pipi halusku yang pucat. Aku tidak tahu kenapa, kenapa aku merasa kehilangan saat mengingat laki-laki bernama Edward itu mati? Apa aku pernah mencintai seseorang bernama Edward itu?

Cih, aku tak menyangka aku masih dapat mengingat apa yang dia katakan.

"...Kau gadis kecil yang cantik. Aku tidak akan rela menjadikanmu makanan untuk orang tuaku. Bahkan aku sendiri tidak akan bisa mengisap darahmu yang kelihatannya manis itu..."

Tanpa sadar pula aku terkekeh pelan, dengan air mata menggenang dimataku lalu menyekanya dengan lengan baju tidurku. Dan ya, aku tidak akan lupa tentang Felic. Walau aku tidak tahu siapa dia, tetapi aku beranggapan bahwa dia adalah seseorang yang begitu spesial dimata gadis kecil itu-dan walau sebenarnya gadis kecil itu adalah aku.

Felic. Edward. Aku terus mengingat nama itu, namun seperti ada ingatan yang mengganjal di otakku, menolak aku mengetahui kepingan memori berhargaku.

Kupejamkan mataku dengan tangan yang memegang pinggiran wastafel erat seraya mengingat kembali masa lalu-masa lalu yang ku lupakan. 'Kumohon, biarkan aku mengingatnya...' batinku. Namun apa daya, bukannya mengingat, malah kepalaku menjadi sangat sakit. Aku mengerang sembari melepaskan tanganku dari gagang wastafel dan beralih pada rambut di kepalaku. Kujambak pelan rambutku hingga rasa sakitnya mereda.

Ada apa denganku?

Aku mulai mengatur pernapasanku agar kembali normal lalu membasuh wajahku yang pucat ini. Aku memilih untuk berendam sementara dengan air hangat yang dicampur dengan sabun cair beraroma lavender. Sebenarnya aku lebih suka dengan aroma mawar, tapi untuk saat ini sepertinya tidak salah jika mencoba hal yang berbeda, lagipula sabun cair beraroma mawarku juga sudah habis. Aku menanggalkan seluruh pakaianku-yang basah akibat keringat, lalu perlahan memasukkan tubuhku di mulai dari kaki.



Setelah acara mandiku selesai, aku melirik jam dinding yang menunjukkan jam enam lewat lima menit. Well, waktu yang cukup untuk pergi ke sekolah.

Aku memutuskan untuk memakai kaos polo berwarna merah padam dipadukan dengan cardigan berwarna putih ditambah dengan jeans berwarna biru dongker lalu sepatu converse high bermotif garis merah putih yang senada dengan warna kaos dan cardiganku. Tak luput dari penglihatanku, aku mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar tidurku-yang biasa ku sebut; surga kecilku. Setelah kurasa semua sudah siap, aku melirik sekilas jam dinding yang menunjukkan jam enam lewat dua puluh tiga menit lalu menyambar tas gendongku yang berwarna hitam dengan motif skull putih.

"Kau terlambat tiga menit, Ave," Kata Anna yang tengah menyipitkan mata. "Apa yang kau lakukan dikamar mandi hingga selama ini, huh?" Lanjutnya dengan tatapan menyelidik dan bokong yang sedang terduduk manis di kursi.

Aku memutar bola mata jengah. "Berendam?" Itu bukan pernyataan, melainkan pertanyaan konyol yang aku tidak tahu di tujukan pada siapa.

"Dasar tolol."

Well, seperti inilah yang sering kami lakukan, mengumpat satu sama lain atau yang paling sering mencaci maki. Walau begitu, kadang kami terlihat begitu akur, seperti bermain game online bersama atau mungkin memandikan Geo bersama-anjing Dalmation yang kami rawat sedari dia bayi. Ah ya, nama panjang Anna adalah; Farianna Cleoria Keinher, aku hanya memberitahu. Kami memang sering bertengkar, membocorkan rahasia satu sama lain pada ibu atau ayah, dan menjahili satu sama lain. Akur? Yah, di waktu-waktu tertentu pastinya.

"Anna, jaga mulutmu." Ibu memperingati Anna dengan matanya yang melotot menatap tajam Anna dan itu membuat Anna tidak berkutik lagi lalu melanjutkan makannya. Dan ya, nama ibuku; Sera, aku hanya memberitahu.

"Dengarkan kata ibu." Kataku dengan senyum mengejek. Dia hanya mendengus kesal dan menatap aku tajam.

***

"Ms. Keinher, ini sudah ketiga kalinya anda diperingatkan. Apa anda tidak bosan?" Tanya Ms. Floy, kepala sekolah di tempat aku bersekolah ini. Dia adalah salah satu guru terkiller, mengajar pelajaran matematika (sangat cocok), rambut gimbalnya yang sudah seperti sarang tawon menambah kesan menyeramkan guru satu ini, tetapi aku sudah terbiasa dengan ocehannya itu.

"Tentu aku bosan." Jawabku acuh tak acuh. Aku menyilangkan tanganku di depan dada lalu membalas tatapan tajam Ms. Floy.

"Kau..." geramnya seraya menunjukku dengan telunjuknya. Ms. Floy memijat pelan pelipisnya. "Aku akan memulainya baik-baik. Kenapa kau membuat hidung Gracey berdarah?" Tanyanya dengan suara sok lembutnya.

"Aku meninjunya," kataku santai lalu berpaling pada Gracey yang sedang diobati oleh Alley-salah satu teman dari kelompok idiot Gracey. Gracey yang tahu aku sedang menatapnya seraya memberikan seringaian itu melirikku sekilas dengan mata sembabnya lantas berpaling dariku dengan wajah ketakutan.

"Kenapa kau meninjunya?"

"Kesal."

"Kesal karena apa?"

"Dia menyebalkan."

"APA YANG DIA LAKUKAN PADAMU!?" Ms. Floy berdiri seraya menggebrak meja.

Aku memutar bola mata jengah lalu berdiri sembari menatap tajam mata Ms. Floy. Kau tahu, sebenarnya hanya aku satu-satunya murid yang tidak takut menatap mata Ms. Floy secara terang-terangan. "Kalau anda ingin jawaban yang pasti, silahkan tanya pada orang yang telah membuat saya melakukannya," Kataku seraya menunjuk Gracey dengan dagu.

Mata Ms. Floy membelalak. Aku tidak peduli, lagipula, bukankah aku sudah berbicara dengan sopan? Ms. Floy memalingkan wajahnya pada Gracey, "Apa yang kau lakukan pada Ave, Ms. Tove?" Tanya Ms. Floy dengan suara yang super lembut.

Oh, aku benci drama ini. Ms. Floy selalu bersikap manis pada Gracey seakan-akan dia akan mati jika menyentil gadis itu sedikit saja. Oh, c'mon! Gracey itu juga manusia sama seperti aku, kami juga sama-sama pelajar, dan disini aku juga muridnya! Kenapa kami harus di beda-bedakan? Mentang-mentang Gracey merupakan anak dari penyumbang terbesar yayasan, huh.

"A-aku...hanya..." kata Gracey terbata-bata.

Ms. Floy kembali memijat pelan pelipisnya frustasi. "Baiklah, baiklah. Kau-" katanya sembari menunjukku sambil menatapku dengan tajam. "Silahkan kembali ke kelasmu." Lanjutnya.

"Dan anda, Ms. Tove-" Ms. Floy memalingkan wajah lalu menunjuk Gracey dengan senyuman lembut-yang terlihat sangat mengerikan dimataku. "Anda bisa beristirahat di ruang UKS." Lanjutnya masih dengan senyuman lembut nan hangat itu.

Aku memutar bola mata bosan, lalu bergegas pergi menuju kelas. Ku hentakkan kaki saat berusaha menggapai kenop pintu akibat peristiwa yang menjijikkan ini. Ini semua menyebalkan. Dimulai dari senyum palsu yang lebih mirip ringisan kucing kejepit itu, lalu akting murahan dari Gracey, juga makian para pendukung Gracey. Ah, lihat saja anak-anak songong itu.

Aku kadang bingung dengan mereka, disaat aku sedang mendapatkan masalah, mereka mencemoohku. Sedangkan jika aku sudah menghajar seseorang, mereka takut kepadaku seakan aku adalah para rentenir yang menagih hutang kepada mereka. Hei! Aku tidak segarang itu kok, aku hanya memberikan pengajaran terhadap mereka yang berhak menerimanya dariku.

Kalian mungkin bertanya-tanya apa yang Gracey lakukan hingga membuatku meninju hidungnya. Hah? Tidak? Oke, aku beritahu, dia tidak sengaja menumpahkan sup kari-yang memang dijual di kantin-keatas kepalaku, lalu menyebarkan fotoku dengan wajah yang sangat konyol ke seluruh sosial media, sialnya foto itu cepat menyebar dan langsung dijadikan bahan pajangan di mading. Bukankah itu sama saja menginjak harga diriku? Sebab itulah aku tidak menerima perlakuan Gracey terhadapku. Dia harus mendapatkan balasan yang setimpal dari itu, dan menurutku meninju hidungnya saja tidak setimpal. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang dapat aku lakukan.

Disinilah aku, duduk sendirian di tepi danau di bukit belakang sekolah. Great, aku kesepian dan tidak ada teman bicara sekarang. Yah, aku sedang bolos. Aku benci pelajaran Mr. Harton, pembawaannya begitu halus dan membuatku mengantuk. Matanya yang begitu tajam bisa saja melihatku tertidur nanti, karena itu lebih baik aku sekalian kabur saja dari pelajarannya yang membosankan itu.

"Hei, cantik!" Seseorang memanggilku. Aku menoleh ke belakang dan menemukan laki-laki yang berhasil menjadi firstkiss-ku berada beberapa meter dariku, Bastien.

Aku memutar bola mata. "Mau apa?" Tanyaku ketus saat dia sudah berdiri di sampingku.

"Wow, jangan seperti itu, babe. Aku tahu, aku adalah laki-laki yang lancang mencuri ciuman pertamamu, tapi bukan berarti kau harus terus menjauhiku seperti ini." Katanya berkacak pinggang. Err, aku tidak peduli.

"Aku tidak menjauhimu." Kataku santai lalu perlahan memasukki kaki telanjangku ke air danau-yang jernih-itu.

Dia duduk bersilang kaki di sebelah kiriku. "Tapi, kenapa kemarin aku memanggilmu, tapi kau tidak menghiraukanku?" Tanyanya mengerlingkan alis.

"Aku tidak mendengarnya."

"Baiklah, baiklah. Lebih baik aku mengalah, karena aku tahu aku pasti kalah kalau berdebat denganmu." Kata Bastien memutar bola mata. "Jadi, mau pulang bersama?" Lanjutnya.

"Tidak."

"Oh, ayolah. Sebentar lagi hujan, memangnya kau pulang naik apa?"

Aku menengadah sebentar. Huh, dia benar, sebentar lagi hujan karena langit hampir tertutup awan abu-abu.

"Err..." aku melirik Bastien yang sedang memasang wajah innocentnya yang menjijikkan. Aku memutar bola mata. "Baiklah," jawabku.

"Yey!" Dia menarik tanganku.

"Hei!"

"Apa? Ayo, sekarang kita pulang."

"Sebentar lagi." Kataku tapi dia mengacuhkannya dan tetap menarik paksa tanganku agar segera pulang.

"Tunggu, sepatuku!"


Entah mengapa ada perasaan tidak enak di dalam hatiku. Entahlah, yang pasti bukan rasa tidak suka dengan Bastien, tapi semacam firasat buruk tentang perjalanan kami nanti. Jujur, sebenarnya aku menyukai Bastien, hanya sedikit kok. Tidak ada yang mengetahui perasaanku ini, karena aku masih ingin menjadi gadis tak berperasaan yang tidak menyukai siapapun. Aku, malu mengakui perasaanku ini.

Kami sudah terduduk manis di jok depan mobil Porsche Bastien. Mataku menatap kosong tak tentu arah akibat firasat burukku yang semakin menjadi. 'Tuhan...kumohon. Jangan lagi...' batinku.

Aku tersentak akibat badan Bastien yang dicondongkannya agar dapat memasangkanku Safetybelt.

"Aku bisa sendiri, Bastien." Gerutuku.

"Aku tahu. Tapi, sedari tadi aku memanggilmu, kau tidak menyahut. Ya sudah, aku saja yang memasangkannya untukmu." Katanya mengerdikkan bahu acuh tak acuh. "Lagipula, aku mendapatkan keuntungan." lanjutnya dengan alis terangkat sebelah dan seringaian jahilnya.

Aku memutar bola mata lalu mendengus, "Itu menjijikkan, idiot."

Dia hanya mengerdikkan bahu lalu menstater mobilnya dan melaju dengan cepat.

Aku melihat kehidupan di balik kaca mobil. Melihat seorang pedagang kaki lima yang sedang mencari nafkah demi menghidupi keluarganya-aku hanya menebak, dan seorang pengemis dengan teganya membawa anak perempuannya yang baru berusia sekitar dua tahun.

"Melihat kehidupan orang lain, huh?" Tanya Bastien sehingga membuatku sedikit tersentak.

"Hm. Begitulah," ujarku malas dan kembali melanjutkan penglihatanku terhadap dunia yang kejam ini.

"Kau tahu-"

"Tidak," jawabku cepat.

Aku melihat Bastien melirikku jengkel lalu memutar bola matanya. Ia menghela nafas lalu melanjutkan.

"Kau adalah orang pertama yang memperlihatkan dunia kepadaku. Awalnya aku tidak pernah ingin mendengarkan kakek yang terus-terusan mengingatkanku tentang orang lain yang lebih membutuhkan daripada aku. Aku benar-benar manja saat itu," Bastien tertawa renyah namun matanya tetap fokus ke depan.

"Hingga aku bertemu denganmu. Melihatmu tertawa bersama anak-anak panti membuat hatiku bergerak membantu mereka. Orang-orang kecil yang terpinggirkan." Lelaki itu terlihat sedang menerawang jauh.

Lalu keheningan menyelimuti kami.

"Aku jadi merindukan Velly," Aku terkekeh pelan, menghembuskan nafas dramatis seraya berpikir keras apa yang akan kukatakan padanya. "Kau baik. Aku tahu itu." Aku tersenyum hangat sembari menatapnya lembut.

Dan kau tahu, dia membalas tatapanku dengan lembut.

"Melihat senyumanmu, rasanya, aku ingin menciummu sekali lagi." Katanya dengan nada mengejek. Huh.

Aku memutar bola mata dan tersenyum penuh arti.

Bastien balas menatapku dengan pandangan yang tidak dapat 'kuartikan. Antara bahagia, cinta, dan ... sendu.

Aku memalingkan wajahku yang terasa panas, hingga aku melihat seorang gadis yang ingin menyebrang dengan pandangan kosong tanpa melihat kearah mobil yang kami tumpangi.

"BASTIEN AWAS!" teriakku sambil menunjuk gadis tersebut.

Bastien membanting stirnya hingga mobilnya oleng dan kecelakaan pun tak terelakkan.

Duaaarr!!!

"Ave!" Bastien menenggelamkanku kedalam pelukannya setelah kepalaku sempat terbentur bagian dari dalam mobil ini dengan keras. Kepalaku terasa pusing dan dunia seakan berputar-putar.

Setelah penglihatanku yang buram menjadi normal aku dapat melihat Bastien tengah melindungiku dari benturan bagian depan mobil terhadap pohon.

"Bastien!" Pekikku.

Dia meraih pipi kiriku lalu mengusapnya pelan. Tak sadar air mataku menetes dan dia menyekanya dengan ibu jarinya yang besar. "Aku...baik-ba...ik...saja..." katanya sembari tersenyum-yang kelihatan bahwa itu dipaksa.

"Tidak. Bertahanlah." Isakku. "Aku ... menyukaimu," Lanjutku masih dengan isak tangis.

Aku belum siap. Maksudku, dia laki-laki yang telah mencuri ciuman pertamaku, lalu membuatku jatuh hati padanya dan dengan kejamnya dia meninggalkanku?

"Berikan a-aku...s-satu...arggh...ciuman" katanya dengan senyuman itu. Senyuman hangat nan mempesona yang berhasil membuatku menyukai senyuman manis itu.

Perlahan aku meraih pipinya yang pucat dan halus itu lalu perlahan pula 'ku dekatkan bibirku pada bibir merah jambu yang mengeluarkan darah itu. Aku melumat bibirnya pelan, merasakan desiran hangat di pipiku, lalu seperti sesuatu yang bergejolak dalam perutku merasakan nikmatnya gairah sang pemilik bibir tersebut. Semua itu bertambah saat bibir tersebut membalas melumat bibir mungil tipisku, membalas tiap luapan emosi cinta dalam dirinya padaku, menambah tekanan dari tiap gerakannya-walau itu terasa dipaksakan. Aku ingin menyudahi ciuman hangat ini tapi dia memaksaku merasakan lebih dalam rasa cinta yang dia miliki padaku.

Tapi semua itu terhenti tepat saat nafasnya berhenti. Desiran hangat yang keluar dari rongga hidungnya berhenti untuk selamanya. Selamanya.

Aku menjauh perlahan. "Bastien?" Aku mengguncang tubuhnya dengan seluruh tenaga yang kumiliki. "Jangan bercanda, Bastien. Kau baru saja membuatku mencintaimu. Bangunlah ... kumohon..."

Itu kata terakhir yang kuingat saat kepalaku mulai berdenyut dengan sakit yang begitu memilukan.

Kemudian, gelap...

Gelap...

Bastien...

Berjanjilah kau akan kembali...

[]

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top