Chapter I - Library of Life

"NONA, tidak seharusnya nona ditengah hutan seperti ini," kata Felic cemas.

"Sudahlah Tuan Felic. Aku hanya sekadar ingin berjalan-jalan mencari udara segar," jawab Ave sembari berjalan dengan riang.

Felic tersenyum, tentu saja, ia tahu bahwa Tuan Putrinya itu adalah gadis yang berani. Tapi sudah berapa tahun ia bekerja sebagai pelayan pribadi Tuan Putri itu? Empat tahun itu cukup lama hingga ia menganggap Ave adalah keponakannya sendiri. Rasa khawatirnya terhadap Ave melebihi dirinya sendiri.

Felic yang melihat raut wajah bahagia Ave itu ikut bahagia. Tuan Puterinya setiap hari dikelilingi dengan kehangatan. Dia selalu tertawa bahkan disaat ia terjatuh sekalipun, jangan lupakan hal yang paling Ave suka; melompat, sebab itu Felic kadang memanggilnya Nona Kelinci dan Ave tidak pernah mempermasalahkan itu, gadis kecil itu malah menyukai sebutan tersebut.

Gadis itu mempunyai senyum yang dapat membuat seluruh dunia berubah.

Gadis itu sekarang tengah memakai gaun berlengan panjang berwarna cream dengan renda-renda putih di sekitar leher. Rambutnya dikuncir kuda dengan hiasan bunga Hydrangea berwarna putih yang-di selipkan di setiap sela rambutnya sehingga berbentuk oval-selaras dengan rambut brunette nya.

"Tuan Felic," kata Ave seraya menatap lekat Felic.

"Felic saja, nona." Felic tersenyum ramah kepada Ave.

Felic merasa ada rasa nyaman dan hangat didalam tatapan tersebut. Tatapan yang dapat membuat seseorang menjadi lebih tenang.

"Apa Perpustakaan Kehidupan itu ada, Tuan Felic?" Tanya Ave. Sesaat, ia menyadari sesuatu. "Maaf, aku ingin menjadi anak yang sopan dengan memanggilmu begitu." lanjutnya tersenyum manis.

"Tentu ada, nona. Hanya saja, yang dapat menemukan atau memasukkinya hanyalah orang tertentu," jawab Felic.

"Oh," jawab Ave. "Tuan Felic? Bolehkah aku memanggilmu paman?" Tanya gadis berumur delapan tahun itu sekali lagi.

"Tapi itu sebutan yang tidak pantas bagi saya, nona." Kata Felic sesopan mungkin dengan pipi merona. Walau didalam hatinya dia sangat senang jika Ave memanggilnya paman.

"Jangan se-formal itu denganku, Felic. Aku hanyalah manusia biasa, dan kita juga sama-sama pemimpi disini, bersikaplah sewajarnya paman padaku." kata Ave dengan nada riang.

Jujur saja, walau umur Ave baru menginjak delapan tahun, tapi ia mengerti. Gadis kecil itu lebih menyukai hal yang berbau frontal, lagipula kata Felic, frontal itu adalah orang yang menunjukkan keterbukaannya. Maksudnya, Ave lebih menyukai kebebasan dalam berbicara maupun bertindak, sama sepertinya, ia melakukan apapun yang ia inginkan hatinya.

"Maaf, Tuan Puteri. Tapi saya tidak bisa," dan mungkin tidak akan pernah bisa. Tambahnya dalam hati. Dia berpikir dua kali untuk memanggil tuan puterinya dengan sebutan keponakan. Baginya, dia adalah seorang pelayan. Hanya itu. Tidak lebih.

"Felic," panggil Ave. Felic terkejut mendengar Ave memanggil namanya secara blak-blakan, karena gadis itu tidak pernah melakukannya.

"Panggil aku Ave saja. Aku merasa sangat bersalah dengan menciptakanmu di dunia ini sebagai pelayan. Aku berjanji, suatu saat nanti, kau akan menjadi paman terhebatku!" Kata Ave antusias, ia menggenggam lengan lelaki jangkung itu.

Oh, Ave benar-benar merasa bersalah, seandainya ia bisa mengubah segalanya.

Ave dan Felic bertemu dengan rusa, dan itu membuat Ave melompat-lompat kegirangan. Kembali Felic bahagia dengan tingkah Ave itu. Dia merasa bahwa di dalam Ave ada kekuatan yang dapat merubah seseorang. Dia merasa tawa, tatapan dan perilakunya dapat membuat dunia berubah.

Ave menatap Felic lekat-lekat. Mereka sedang bersembunyi disemak-semak agar rusa tersebut tidak lari. "Tuan Felic," panggil Ave.

"Apa aku bisa memelihara rusa tersebut?" Tanya Ave polos.

Felic kadang bingung dengan sifat polos dan lugu Ave. Sifat tersebut dapat membuat Felic semakin ingin melindungi Ave. Tapi dilain sisi juga, ia melihat sesuatu berkilau yang kuat di mata gadis bersurai coklat itu.

"Binatang itu tidak bisa kita bawa ke istana, nona. Sebaiknya, kita biarkan mereka hidup di habitat mereka sendiri. Umpamanya, seperti Nona kalau diculik dan hidup di rumah orang lain tidak mau, 'kan?" Felic berbalik bertanya, dan dibalas dengan gelengan kepala Ave.

Felic tersenyum. "Kita harus menjaga kelestarian seluruh makhluk hidup, nona. Kita tidak boleh menangkap binatang sembarangan untuk menjadikan mereka milik kita. Asal Nona tahu, sebenarnya itu bersifat tidak manusiawi," kata Felic menjelaskan.

Ave yang mendengar itu tertegun dan mencerna baik-baik apa nasihat Felic. Ave mengerti sekarang, semua yang ada di dunia ini, kadang tidak bisa sepenuhnya milik dia. Ave merasa bahwa kejamnya dia menculik rusa tersebut lalu memeliharanya dengan habitat yang terasa asing bagi rusa tersebut. Hidup dalam dunia asing. Dia tidak pernah merasakannya.

Tapi suatu saat nanti, Ave akan merasakannya.

***

Ave berlari dan terus berlari. Dia takut. Sangat takut. Peluh membasahi tubuhnya, dan dia tidak tahu kemana dia harus pergi. Sekarang, Felic tidak menemani Ave. Felic sedang melawan Serigala kelaparan yang hampir memakannya tadi. Untung saja Felic langsung datang menolong Ave dan menghunus pedangnya kearah serigala tersebut. Tapi, beberapa kawanannya datang dan Felic menyuruhnya pergi.

Dia ingat percakapan terakhirnya dengan Felic.

"Pergilah nona! Larilah!" Teriak Felic cemas dengan Ave.

"Tidak!" Ave menggeleng keras. "Aku tidak akan meninggalkanmu!" Lanjutnya masih dengan berteriak.

Salah satu serigala sudah mulai menyerang Felic. Tapi Felic berhasil menangkisnya.

"Lari, Ave! Lari!"

Kata terakhir Felic membuat Ave menuruti perintah Felic. Dia berlari sekencang-kencangnya menjauh dari kawasan pertarungan tersebut.

Ave yang sedang berlari itu menangis. Dia berhenti sejenak lalu menoleh kanan kiri, berharap menemukan seseorang yang dapat membantunya keluar dari hutan ini.

Tapi disisi lain Ave sangat khawatir dengan Felic. Bagaimanapun juga, Felic sudah dia anggap seperti paman sendiri. Felic 'lah yang tiap malam menceritakannya dongeng. Feliclah tiap pagi yang membangunkannya. Felic. Nama itu terus terngiang dikepalanya. Nama paman yang paling dia sayangi.

Ave mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Dia tidak boleh menangis di saat seperti ini. Menurutnya, itu akan membuatnya lemah. Dan tidak ada kata lemah di kamus Ave.

Ave masih mencari jalan kemana dia ingin pergi. Dia kembali berlari sekencang-kencangnya dan berteriak dengan nada bergetar, "Tolong! Siapapun, tolong aku!" Katanya sembari terisak.

Ave tidak dapat menahan tangisnya. Dia begitu kehilangan. Dan sekarang, dia sendirian di kegelapan. Ia benci kegelapan.

Ave mengusap kembali air matanya dengan punggung tangannya lalu berlari. Tak sengaja dia menemukan sebuah rumah, tidak, itu bukan rumah. Itu seperti gedung yang sangat besar dengan pintu setinggi lima meter-bahkan lebih mungkin. Dengan jendela model abad tujuh belas. Ave yang melihat gedung sebesar itu terperangah. Mulutnya menganga lebar dan matanya yang masih sembab itu menelusuri setiap bagian dari gedung tersebut.

Dengan seluruh keberanian yang ia kumpulkan, Ave berjalan masuk ke dalam gedung tersebut. Dia mendorong pelan pintu raksasa dengan ukiran sulur tumbuhan yang menjalar seperti membentuk sesuatu. Ave yang seakan terhipnotis dengan sulur tersebut perlahan mengikuti jejak-jejak sulur tersebut sampai ke suatu ukiran bunga yang dia sukai. Bunga matahari. Dia melihat pintu raksasa tersebut terbuka sedikit akibat dorongannya tadi. Dengan gontai Ave masuk. Didalam terdapat banyak sekali rak dengan buku yang tertata rapi di dalam rak tersebut. Seakan dia tahu apa tempat ini dan dimana dia berada, dia melompat girang lalu masuk lebih dalam.

"Library of Life!" Ujarnya girang.

Ave tidak pernah melihat buku sebanyak ini. Setelah mendengar cerita Felic bahwa di Perpustakaan Kehidupan itu banyak sekali buku-buku tentang sejarah manusia dan dunia dia menjadi ingin sekali membaca seluruh buku di sana. Ave menjadi teringat dengan Felic. Dia terus bertanya pada dirinya, 'Apakah Tuan Felic baik-baik saja?'

Ave masih gusar karena telah meninggalkan Felic sendirian di tengah hutan bersama kerumunan serigala. Bagaimana pun juga, Felic telah banyak membantunya, dan ia merasa kecewa terhadap dirinya sendiri karena tidak dapat menolong orang yang ia cintai.

Ave menghela nafas. Ia takut air mata tanda kelemahannya kembali menetes, dan ia tidak ingin itu terjadi. Sekarang, tujuannya adalah membaca buku di Perpustakaan Kehidupan ini. Jarang-jarang ada orang yang berhasil menemukan dan masuk kedalam Perpustakaan Kehidupan ini. Akibat rasa penasaran Ave yang sudah mencapai tingkat tertinggi untuk mengetahui sejarah dunia, dia pergi menjadi rak buku tentang sejarah dunia.

***

Felic terus menusuk dan menangkis para serigala. Sekarang, dia harus melawan lima serigala lagi. Felic tak menyangka bahwa para serigala ini pintar. Mereka terus-terusan memanggil kawanan mereka yang lain dengan lolongan mereka.

Satu serigala menyerang Felic dengan kuku dan giginya yang tajam. Felic berhasil menangkis serangan serigala tersebut dengan pedangnya lalu menusuk tepat di jantung sang serigala, yang menyebabkan darah kental serigala tersebut menyembur ke wajah Felic. Serigala lainnya berusaha menyerang Felic dan Felic berhasil memotong leher serigala tersebut.

'Tiga serigala lagi...' gumamnya dalam hati.

Keringat membasahi tubuhnya. Nafasnya terengah-engah. Dan dia memikirkan bagaimana keadaan sang Tuan Puterinya. Ave. Dia takut Ave kenapa-kenapa. Tapi dia buang jauh pemikirannya karena Felic tahu, Ave adalah gadis kecil pemberani. Gadis kecil yang tidak takut dengan apapun.

Tiga serigala itu menyerang Felic bersamaan dan membuat Felic berpikir ulang untuk menangkis serangan mereka. Dia berhasil menusuk tepat di dada serigala pertama, lalu memotong kepala serigala kedua, dan serigala ketiga sempat membuat luka gigitan di lengan kanan Felic dan itu membuat Felic meringis kesakitan. Tapi di balik kesakitan itu, semangatnya untuk hidup sangat besar.

'Aku harus hidup jika aku ingin melindungi Ave.' Dia menyemangati dirinya sendiri.

Serigala ketiga melompat berusaha menyerang Felic. Felic bersiap-siap untuk menusuk jantung sang serigala. Tetapi sesuatu hal tak terduga terjadi.

***

Sekarang Ave tengah membaca buku tentang Demigod. Entah mengapa dia menjadi bosan dengan semua buku disini. Pikirannya masih tentang Felic dan Felic. Dia takut terjadi apa-apa dengan Felic. Ave takut dia akan kehilangan pelayan, oh bukan, paman yang paling dia sayangi.

Seseorang membuat pintu raksasa itu terbuka lebar, remang-remang cahaya bulan membuat sosok siluet seseorang. Ave menjadi takut sekarang. Dia bersembunyi di belakang rak tersebut. Ave takut seseorang tersebut akan membunuhnya.

"Hei! Ada orang disini?" Tanya seseorang tersebut dengan suara lembutnya.

Ave tidak peduli siapapun itu. Gadis itu sekarang benar-benar takut.

"Jangan takut. Aku Edward!" Kata seseorang itu antusias.

Ave menyadari bahwa itu suara anak laki-laki. Suaranya tidak berat dan tidak menakutkan. Dengan berat hati Ave keluar dari persembunyiannya.

"Kau siapa?" Kata Ave dengan suara kecilnya yang lembut.

"Aku Edward! Kau sendiri siapa?" Tanya Edward mengulurkan tangan seraya mendekati Ave yang masih ketakutan.

Cahaya yang minim membuat wajah Ave tidak terlihat dengan jelas dan itu membuat Edward penasaran.

Edward memiringkan kepala menatap Ave heran. "Jangan takut begitu gadis cantik ... aku Edward Feredrick. Kau sendiri siapa?" Tanyanya dengan suara khas anak kecil.

"Um, aku..." Ave menegakkan badan dan maju perlahan. "Ave." Lanjutnya singkat.

Edward sedikit tersentak dengan wajah Ave yang begitu cantik bak bidadari dan mata hazel Ave yang indah itu. Jujur, Edward berkata 'Gadis Cantik' itu hanya ingin memancing sang gadis-yang memang cantik tersebut-keluar.

Ia melongo menatap Ave dari atas sampai bawah, gaun (lusuh) yang gadis itu kenakan membentuk tubuh mungil gadis tersebut. Terdapat rona merah muda yang samar di kedua pipi Ave yang tembam itu, kepalanya sedikit menunduk malu bercampur takut.

"Kenapa kau bisa ada disini sendirian?" Tanya Edward.

Ave mengatur kata-kata yang ingin dia lontarkan sebagai jawaban. "Aku tersesat," jawab singkat dengan lembut.

Edward merasa indra pendengarannya terhipnotis.

"Kau bisa menginap disini. Aku akan menemanimu," tawar Edward pada Ave.

Ave masih memikirkan tawaran Edward. Walau umurnya masih delapan tahun, tapi pemikirannya sudah lumayan dewasa-itu menurutnya. Dia sudah dapat membedakan yang mana yang baik dan yang mana yang tidak baik. Kata Felic, kalau besar nanti, perempuan tidak boleh sembarangan tidur dengan laki-laki nanti bisa hamil, cuma masalahnya Ave ini masih kecil. Ave sudah memutuskan, daripada dia ketakutan diluar sana sebaiknya dia tidur di Perpustakaan ini dahulu.

"Tenang saja, aku tidak akan menganggumu pada saat tidur ataupun mengeluarkan air liur," kata Edward polos. Ave yang mendengar penuturan Edward terkekeh.

"Kau lucu," Ave masih tertawa kecil. Dia bersyukur sekali dapat bertemu teman bermain baru di tengah hutan yang menyeramkan ini. Tunggu, darimana dia berasal?

"Kau sendiri, kenapa bisa sampai disini?" Tanya Ave penasaran. Ave memiringkan wajah ditambah dengan binar keingintahuan dimatanya.

"Aku?" Edward berbalik bertanya seraya menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.

Ave hanya mengangguk.

"Aku hapal jalan dari kerajaanku sampai kesini." Jawab Edward dengan wajah datar dan dengan nada sedingin es. Ave yang menyadari hal itu bergidik ngeri.

"Kenapa kau tidak mengajakku ke kerajaanmu saja?"

"Kau yakin? Kau gadis kecil yang cantik. Aku tidak akan rela menjadikanmu makanan untuk orang tuaku. Bahkan aku sendiri tidak akan bisa mengisap darahmu yang kelihatannya manis itu," kata Edward panjang lebar sembari tersenyum penuh arti pada Ave. Tapi Edward tak sadar bahwa setiap kata yang dia tuturkan membuat Ave merinding dan ketakutan.

"Apa kau ... vampire?" Tanya Ave dengan nada bergetar. Keringat bercucuran disekitar dahinya dan wajahnya yang tadinya dihiasi dengan rona merah sekarang berubah menjadi putih pucat. Mulutnya tak lagi berwarna merah jambu-yang kelihatan manis itu-melainkan pink pucat.

Edward baru menyadari apa yang ia katakan sedari tadi membuat Ave takut. Dia tidak bermaksud membuat gadis itu ketakutan seperti itu.

"Maaf, aku ... tidak bermaksud..."

"Kau dapat menggigitku sewaktu-waktu," sergah Ave. Wajahnya datar tanpa ekspresi dan tatapannya menatap tidak percaya kepada Edward.

"Maaf," kata Edward berusaha menenangkan Ave. Jujur saja, Edward menyukai gadis itu dari saat pertama kali melihatnya, kau tahu sendiri bagaimana sifat bocah kecil. Dia tidak mungkin menjadikan gadis yang dia sukai sebagai santapan dia. Dia juga masih mempunyai akal sehat-sebagai seorang vampire.

Ave kecewa. Benar-benar kecewa. Padahal anak laki-laki dihadapannya ini berhasil membuat Ave menyukainya. Ave menyukai cara bicara Edward dan Ave juga menyukai tawa Edward. Dia menganggap Edward ... tampan, sangat tampan.

"Kau jahat! Seharusnya kau jujur dari awal! Jadi, aku tidak menyukaimu. Walaupun kau tampan dan aku suka tawamu, tapi, bagaimanapun juga kau ini adalah vampire dan aku manusia. Aku tidak bisa menyukaimu. Dan sekarang aku telah menyukaimu ... kau jahat!" teriak Ave marah. Edward sampai dibuatnya pusing dengan Ave karena penyampaian polos gadis itu.

"Apa kau sepolos ini? Kalau kau mau tidur satu malam disini, aku janji, besok aku akan mengajakmu berkeliling. Aku juga janji bahwa aku tidak akan menggigitmu, ataupun kentut saat tidur ataupun ngiler!" Kata Edward menghiraukan apa yang dikatakan Ave tadi.

"Lalu kau dengan mudahnya menggigitku dan melahapku habis? Lalu bagaimana kalau aku berubah jadi vampire? Lalu bagaimana aku akan beradaptasi? Kata Tuan Felic itu tidak manusiawi jika menculik seseorang lalu membawanya ke tempat yang terasa asing baginya." Kata Ave masih dengan kepolosannya.

Ia sedikit mengerutkan dahi dan mengulum bibirnya. Ave berpikir keras dan mulai berkhayal bagaimana saat ia menjadi vampire dan tinggal ditempat yang asing. Pikirannya pun melayang; ia membayangkan saat ia menggigit salah satu manusia, lalu tertawa puas ala penyihir, lalu memamerkan taringnya yang berkilau. Beberapa saat kemudian ia tersadar dan menggelengkan kepala.

Edward terkekeh melihat raut wajah Ave yang terlihat lucu di hadapannya.

"Aku janji. Aku tidak akan menggigitmu! Kan sudah kukatakan bahwa kau cantik dan aku benar-benar tidak rela jika gadis secantik dirimu digigit. Aku akan melindungimu. Aku janji," Edward menjelaskan panjang lebar sembari mengangkat tangan kanannya membentuk angka lima tanda janji itu sudah dibuatnya.

"Hem. Baiklah!" Kata Ave antusias. Rona merah dipipinya kembali seperti semula dan bibir mungilnya itu dipenuhi dengan warna pink terang. "Tepatilah janjimu!" Lanjutnya.

"Aye!" Balas Edward. Dia senang melihat Ave seperti ini. Entah mengapa ada rasa bergejolak didalam hatinya. Jantungnya berdegub kencang membuatnya dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri. Tunggu, vampire kan tidak memiliki detak? Baiklah anggap saja Edward itu seperti manusia yang mempunyai rasa cinta juga.

Ave merasa bingung. Dia menyukai Edward tapi menurutnya ini masih terlalu dini. Dia masih berumur delapan tahun sedangkan Edward...

"Hei Edward," panggil Ave.

"Hm," jawab Edward dengan mata tertutup namun Ave masih dapat melihat senyum tipis yang terulas dibibirnya.

"Berapa umurmu?"

"Dua belas tahun."

Baiklah, umur Edward dua belas tahun. Dan kalian merasa tidak bahwa ini rasa cinta yang sangat terlalu muda. Well, untuk seorang anak kecil, Ave bingung dengan perasaannya. Disatu sisi dia ingin sekali bermain-main dengannya, melihat wajah tampannya, dan melihat tawanya yang mempesona itu tapi disisi lain, Edward itu vampire dan Ave tahu bahwa kedua orang tuanya akan menolaknya habis-habisan cuma karena dia ingin bermain dengan anak vampire. Tunggu dulu, vampire itu punya anak ya?

"Ed?" Panggil Ave-lagi.

"Hm,"

"Vampire mempunyai anak, ya?" Tanya Ave dengan kepolosannya.

Edward yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan Ave kepadanya tersentak. "Itu rahasia vampire Ave. Manusia tidak perlu tahu," jawab Edward.

"Oke." Ave mengerti. Dia belajar dari Felic bahwa kita tidak boleh terlalu memaksakan diri untuk mengetahui rahasia seseorang. Apalagi ini rahasia kaum vampire. Sebaiknya Ave diam saja.

"Sekarang tidurlah," kata Edward lembut seraya mengelus pelan rambut brunette lurus Ave. Edward menatap mata hazel Ave lembut dan itu membawanya pada ketenangan tiada tara. Salah satu alasan dia tidak ingin menggigit Ave karena; Ave memiliki mata yang dapat membuatnya tenang, dan dia tidak ingin mengubah mata itu menjadi semerah darah.

Ave yang menyadari kelembutan Edward pun mengangguk lalu memejamkan mata disamping Edward. Mereka tidur dengan menggunakan tumpukan buku sebagai bantal. Walau keras tetapi mereka menikmatinya karena mereka bersama. Ave merasa dirinya senang dan nyaman berada di sisi Edward.

[]

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top