-[ D A Y 5.0 ↬ A. RYUNOSUKE × OC! T. YUKIKO ]

Fluff Week Pungut Project

Theme: Future / Photograph

Akutagawa Ryunosuke x OC! Tomozaki Yukiko
[Bungou Stray Dogs]




"Yukiko, tidak ada salahnya membayangkan masa depan, 'kan?"

Gadis yang ditanyai menoleh ke arah samping kirinya, "Tidak, memangnya kenapa?"

"Bukan apa-apa."

Kelereng hitam kepunyaan lawan bicara Yukiko ikut menoleh ke arah samping, menatap setiap inci dari paras manis sang kekasih yang dilatarbekakangi titik-titik cahaya dalam kanvas raksasa. Angin malam berhembus melambaikan helaian gelap yang membingkai wajah putih pucat, merendahkan suhu di sekitar kedua insan kala sedang menatap bulan serta bintang di balik pagar. Bayangan tiang-tiang penghalang yang dihasilkan bulan semakin membuat Akutagawa betah memandang wajah Yukiko.

Sedangkan sang perempuan sendiri merasa heran, tumben-tumbenan Akutagawa memulai pembicaraan. Biasanya, Ialah yang selalu berbicara tentang segala hal.

Namun kala ini, Yukiko memang menyadari bahwa lelaki itu sedang dalam masa aneh. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin keinginan yang tak pernah keluar lewat ucapan, kekesalan dari luar yang tak Ia lampiaskan, atau hanya sekedar gurauan.

Baiklah, poin terakhir itu cukup tidak masuk akal.
Akutagawa Ryunosuke bukan seseorang yang bisa bercanda, mungkin.

"Ryuu-kun, aku benci dirimu yang seperti ini," ujar Yukiko tiba-tiba setelah berfikir beberapa saat.

Raut kaget segera terlukis di wajah sang lelaki bersurai hitam yang tadinya datar, "Apa aku melakukan kesalahan?"

"Ya, kau melakukan kesalahan."

"Apa?" Akutagawa bergerak lebih dekat, raut kaget yang barusan tergantikan dengan tatapan tajam yang berusaha mencari kejujuran dalam kelereng merah maroon.

Yukiko memalingkan pandangannya, "Aku benci dirimu yang selalu menolak untuk membicarakan apa keinginanmu, perasaan yang ada dalam hatimu, sedangkan kau sendiri selalu bertanya tentang diriku. Itu tidak adil. Jika aku memang tidak bisa membantu masalahmu, setidaknya biarkan aku mendengarkan keluh kesahmu. Bukankah aku ini rumah untukmu, Ryuu-kun?"

Mendengar kalimat panjang lebar yabg diucapkan wanita itu, Akutagawa berdecak. Tangannya kemudian terangkat, mengacak-acak rambut warna malam milik Yukiko. Tanpa tahu bahwa sang kekasih sudah menatanya dengan sepenuh hati.

"Aku benar-benar tidak apa-apa, bodoh."

Yukiko cemberut, "Padahal wajahmu seperti manusia banyak beban hidup."

"Sepertinya memang begitu." Akutagawa melepaskan tangannya.

"Tuh, 'kan!"

"Sudah larut. Tidur! Nanti tambah pendek," titah pria tersebut sambil menarik Yukiko untuk masuk ke dalam ruangan. Gadis berusia 19 tahun itu sedikit protes karena disebut pendek. Namun kemudian, tatapannya berubah sendu.

Apakah Ia cukup egois kali ini dengan secara tidak langsung menyuruh kekasihnya untuk bercerita padahal sebenarnya Akutagawa sendiri masih enggan?


*


"Aku belum mau tidur."

"Nanti tambah pendek."

"Tubuhku sudah tidak bisa tumbuh lagi, asal kau tahu."

"Tidak tumbuh lagi, namun bisa tambah menyusut."

"Mitos darimana itu?"

"Dariku."

"Ryuu-kun!"

Begitulah sekiranya perdebatan yang terjadi dalam apartemen Tomozaki Yukiko. Berakhir dengan kedua tangan Akutagawa Ryunosuke yang mencubit pipi sang wanita, entah karena gemas atau kesal.

"Tidur, atau dihukum?"

Mendengar kalimat tegas yang terlontar, takut segera menguasai Yukiko. Dengan cepat, Ia menuju tempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

Hukuman Akutagawa itu mengerikan. Dia pasti menyuruhnya untuk tidur dengan mata terbuka. Mana ada orang yang bisa melakukannya! Tidak manusiawi memang.

Hening beberapa menit setelah deklarasi tadi. Sang pria dalam ruangan kini merasa yakin bahwa Yukiko sudah menuju alam mimpi. Didekatinya Ia, lalu duduk di sampingnya.

Sebelah tangan Akutagawa terangkat lagi, mengelus helaian malam berombak kembali. Manik gelapnya menatap wajah Yukiko dengan mata terpejam. Ia menarik nafas.


"Soal pertanyaanku tentang masa depan tadi ... aku hanya ingin membicarakan tentang ... tentu saja, masa depan.

Maksudku, Yukiko, pernahkah kau sekali saja membayangkan bahwa kita berdua pergi ke tempat yang jauh. Jauh dari kota Yokohama, dan menjalani hidup normal yang bahagia seperti kebanyakan orang? Hanya kita berdua ... di masa depan.

Saat aku mulai menjalin hubungan denganmu, aku selalu membayangkan hal itu. Namun disisi lain, aku juga tak bisa melepaskan tugasku disini.

Jauh dari masalah berbahaya, tanpa ada sesuatu yang mengancam keselamatanmu karena aku seorang anjing mafia.

Pernahkah kau menginginkan hal itu, Yukiko?"


Setelah kalimat panjang yang pria tersebut ucapkan, Ia melepaskan belaiannya. Dan seketika merasa bodoh karena berbicara dengan orang yang tengah tertidur.

Mana mungkin perempuan ini mendengarnya, 'kan?

Akutagawa berniat untuk bangkit dari duduknya, sehingga sebuah genggaman menghentikan. Kala dirinya berbalik, tampak Yukiko tengah menggenggam tangannya dengan niat menahan kepergian.

Tak lama kemudian, gadis itu bangkit. Lalu tersenyum, yang mana hal tersebut membuat lelaki di hadapannya sedikit kaget.

"Bohong jika aku mengatakan bahwa aku tidak menginginkannya. Aku benar-benar ingin hal indah itu terjadi." Yukiko membuang nafas untuk sejenak, Ia kemudian kembali tersenyum lebih manis, "Namun, aku tidak mau jika Ryuu-kun meninggalkan tugasnya disini yang Ia rasa belum selesai hanya demi diriku. Maka dari itu, aku akan menunggu. Sampai akhirnya ... kita tiba di masa depan yang diimpikan."

"Ah, aku, 'kan, sudah bilang bahwa aku belum mau tidur," lanjutnya sambil tertawa kecil.

Tak ada respon, Yukiko yang masih tersenyum semakin ragu bahwa Akutagawa akan senang setelah perbuatannya yang mendengar seluruh perkataan sang kekasih. Mengingat bahwa pria satu ini sangat gengsian.

Namun, keraguan itu sirna seketika kala sebuah pelukan hangat menubruk tubuhnya. Tak ada kata yang terucap, tak ada emosi yang ditunjukkan dalam raut wajah. Namun semuanya bisa dipahami dengan perbuatannya yang kini sedang mendekap Yukiko erat.

Tak lama setelah itu, kedua tangan kurus gadis bermarga Tomozaki terangkat, membalas pelukam tersebut dengan sama hangatnya sambil tersenyum bahagia.






End.

Mari kita bersikap seolah tak terjadi apa-apa pada Akut :D

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top