PROLOG

fix·a·tion
/fikˈsāSH(ə)n/

An obsessive interest in or feeling about someone or something.

---

Selamat Membaca!!!

💌💌💌

Gadis ber-hoodie abu-abu itu sejak tadi terus tersenyum simpul menatap lelaki dambaannya. Sudah lama sekali ia memiliki niat seperti ini, dan akhirnya sekarang terwujud. Ia bisa mengikuti lelaki itu secara diam-diam. Sebelum ini, sebenarnya ia pernah mengikuti lelaki idolanya secara diam-diam, tetapi gagal karena lelaki tersebut mulai curiga ada yang mengikutinya. Namun, sekarang tidak lagi. Gadis itu sudah lumayan pandai untuk menyembunyikan diri.

Ya, setidaknya menurut gadis itu sendiri.

Ia terus melangkah dengan pelan. Mengendap-endap, supaya sang idola tak menyadari keberadaannya. Gadis itu berupaya mencari sisi yang agak gelap supaya siluetnya tak tampak.

Gadis tersebut sangat bersyukur karena rembulan sangat mendukungnya saat ini. Sebab, sinar dari satu-satunya satelit bumi itu tampak tak terlalu menyorot gang yang lumayan sempit ini.

Si gadis sejak tadi hanya mendengar derap sepatu dari lelaki itu. Dan juga siulan dari yang disenandungkan lelaki di depannya ini.

Ya, dia tak peduli. Asalkan dia bisa melihat lelaki tersebut lebih dekat meski tampak siluetnya saja, dan setidaknya jika ada update terbaru perihal idolanya, ia tak akan ketinggalan lagi seperti yang sudah-sudah. Ia juga ingin memastikan sesuatu.

Namun, kebahagiaan itu hanya sesaat, ketika tiba-tiba ponselnya berdering dengan suara nyaring. Sontak saja gadis tersebut kelabakan, bahkan mulai mencari benda pipih miliknya itu tergesa. Akan tetapi, justru membuat benda yang ia cari itu terjatuh ke selokan. Tak sadar, ia pun langsung berteriak histeris atas kesialannya malam ini.

Keterkejutannya pun semakin bertambah saat seseorang menarik hoodie-nya dan mendorong tubuh gadis itu hingga membentur dinding gang tersebut. Lalu, kedua pundaknya dengan cepat ditahan oleh kedua tangan seseorang yang mendorongnya tadi hingga membuat posisi si gadis terkunci.

"Oh, jadi kamu yang selalu menguntit seorang Ardito William, ya?" Tubuh gadis itu bergetar hebat saat orang yang ada di hadapannya menatap dengan pandangan mengintimidasi.

"Ng—nggak. B—bukan. Bukan gitu. A—aku—"

"Banyak omong, deh. Terus kamu habis ngapain tadi kalau bukan nguntit? Dasar, Sasaeng Fan! Kelakuanmu sudah melewati batas. Mengobrak-abrik privasi orang." Tubuh si gadis semakin bergetar hebat saat mendengar bentakan orang tersebut.

"Ng—nggak. Aku nggak ngapa-ngapain." Ucapannya lantas terhenti saat melihat orang di hadapannya tiba-tiba menodongkan pisau tepat di depan wajahnya tepat saat ia selesai berbicara. Tak dapat dielak, mata gadis itu sontak terbelalak lebar.

"Ternyata kamu nggak tau akibat kalau berani menguntit Ardit, hm?" Mulut gadis tersebut langsung saja terbungkam. Seolah, jika ia bicara meski hanya sedikit, pisau tersebut akan membuat nyawanya melayang.

Dan sayangnya, dalam gerakan cepat, pisau tersebut langsung terhujam ke perut gadis itu tanpa ampun. Si gadis tersebut hanya bisa semakin terbelalak tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata. Bahkan, untuk berteriak saja lidahnya terasa kelu.

Terlebih lagi saat darah sedikit demi sedikit menetes dari perut sang gadis. Cairan berwarna merah nan segar itu langsung saja mulai membasahi pakaiannya ...

... dan juga tangan si penusuk.

Orang yang ada di hadapan gadis itu pun tersenyum miring. Ditambah lagi ketika melihat raut pucat gadis itu yang campur aduk, antara ketakutan dan menahan rasa sakit. "Inilah akibat karena kamu sudah berani menguntit Ardit. Tidak boleh ada yang mengikuti Ardit ... sampai sejauh ini!"

💌💌💌

"Hah, kapan bisa sukses kalau kerjaan gini terus." Seorang pria paruh baya tampak mengeluh dengan karung sampah kosong yang ia sampirkan di pundak.

"Dapat duit, langsung habis buat makan sehari. Gimana bisa nabung buat masa depan? Kalau urusan perut lebih genting." Lelaki itu terus menggerutu dengan kesal. Bahkan, berujung menyalahkan pemerintah yang kurang adil.

"Kalau kayak gini terus, apa bedanya Indonesia sama India. Yang kaya semakin kaya, yang miskin malah semakin miskin. Kapan aku bisa sejahtera." Itulah kebiasaan pria tersebut di pagi hari sebelum melakukan pekerjaannya, memulung sampah. Selalu mengeluh dengan keadaan ekonominya.

Namun, langkah pria tersebut terhenti saat mencium aroma yang sangat aneh. Ia akhirnya lanjut berjalan untuk mencari sumber bau tersebut.

Langkah kaki pria paruh baya itu akhirnya mulai mendekat pada sebuah semak belukar. Lebih tepatnya semak di sebuah gang sempit, yang di mana sepertinya adalah sumber bau aneh tersebut.

Tanpa pikir panjang, pria itu langsung mendekati semak tersebut dan dengan cepat menyibaknya. Ia terkejut saat melihat kaki yang bersepatu terjulur.

Karena sudah kepalang tanggung, ia menyibak lebih dalam lagi semak tersebut untuk menuntaskan rasa penasarannya, meski pria itu mulai merasa was-was.

Ketika semak tersebut telah terbuka sepenuhnya, tulang pria itu berasa dilolosi satu persatu. Bulir keringat dingin pun berlomba-lomba mengucur di pelipisnya. Bahkan, tubuhnya bergetar hebat. Kini, raut pria itu mulai memucat.

"M—mayat?"

💌💌💌

Halo, terima kasih untuk yang sudah membaca prolog cerita ini. Bagaimana dengan prolognya? Hihi, rasanya nggak afdol untuk aku kalau buat cerita misteri tanpa pembukaan konflik dulu 😂

Tunggu up selanjutnya, ya!

Have a nice day.

©Surabaya, 5 Maret 2021

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top