16. Sebuah Kabar
Selamat Membaca!!!
💌💌💌
"Teman-teman, aku minta perhatiannya sebentar, ya. Sebentar aja." Semua siswa yang asyik dengan aktivitas masing-masing langsung mengalihkan atensi pada sang ketua kelas XI IPA 3. Termasuk Tiara yang sejak tadi asyik tiduran karena dari jam pertama sampai saat ini masih kosong.
"Ada apa, Vin?" tanya seorang lelaki yang duduk di bangku depan pojok kanan, dengan posisi punggung menyandar ke dinding.
"Tadi aku, kan, dipanggil. Nah, kita dapat kabar duka. Ada anak XI IPS 2 yang meninggal. Katanya setelah ini mau dikubur."
Sontak suasana di kelas XI IPA 3 menjadi gaduh setelah mendengar ungkapan dari Alvino, Si Ketua Kelas. Tak terkecuali Tiara. Wajahnya tampak syok.
"Innalillahi wa innailaihi raji'un"
"Loh? Serius, Vin?"
"Siapa namanya?"
"Aduh, kasihan banget, ya."
"Kok bisa?"
"Temen-temen, tenang dulu. Tenang, ya. Aku belum selesai ngomong." Setelah mendengar ucapan dari Alvino, suasana kelas kembali hening. Seluruh atensi siswa di kelas XI IPA 3 langsung terpusat pada ketua kelas tersebut.
"Anak XI IPS 2 yang malang itu namanya Tania. Yang Tania Arandita. Soalnya, nama Tania di kelas IPS 2 ada dua, kan, kalau nggak salah?" Selepas itu, mulai terdengar suara bisik-bisik yang sepertinya dari beberapa siswa.
Tiara sendiri agak tertegun setelah mendengar nama yang tak asing di telinganya. Gadis tersebut ingat, nama Tania yang itu kerap kali disandingkan dengan namanya gara-gara hampir sama.
Tiara Anandita dan Tania Arandita.
Jujur, Tiara sendiri agak tak suka saat ada yang mengatainya kembar dengan Tania. Sebab, Tiara sendiri agak sebal dengan kelakuan gadis itu, yang terkadang terlalu agresif ingin dekat dengan Ardit. Ya, Tania adalah salah satu dari sekian banyaknya penggemar Ardito William. Tiara tau sahabatnya itu pasti risih dengan kelakuan Tania. Akan tetapi, Ardit selalu berusaha untuk menahannya dan menunjukkan raut ramah.
Sungguh, sebal sekali perasaan Tiara saat itu.
Lagipula, ini hanya nama. Mengapa beberapa orang heboh sekali menyangkut pautkannya? Padahal, ada dua nama Tania di kelas XI IPS 2, tetapi mengapa mereka justru menyangkut pautkan dengannya? Bahkan membuat teori konspirasi yang aneh pula. Seperti, barangkali Tania adalah kembaran Tiara yang terpisah.
Tiara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Padahal, Tania dan Tiara tampak tak pernah akur. Bahkan, teman saja, Tiara hanya punya Ardit dan personil band GoeSevent lainnya.
Ya, ini memang salah satu kelemahan Tiara. Agak susah beradaptasi dengan orang sekitar. Itulah yang membuat Tiara sering dianggap ansos. Bahkan, di kelas pun dia duduk sendirian. Tidak bersama Ardit, meski lelaki itu pada akhirnya memilih untuk duduk di samping Tiara walau tak sebangku.
"Wah, Ti. Ternyata kembaranmu yang meninggal. Aku serius nggak nyangka," celetuk seorang gadis yang membuat Tiara menghentikan lamunannya.
"Oh, iya, ya. Tania, kan, kembarannya Tiara." Selepas itu, kelas sontak menjadi ramai, yang membuat kepala Tiara rasanya semakin berputar. Alhasil, ia langsung menelungkupkan kepalanya di atas lengan lagi.
Tentu saja membuat Ardit yang duduk di bangku seberangnya menjadi khawatir. Namun, lelaki itu hanya bisa terdiam sambil menatap sahabat kecilnya itu.
"Dengar-dengar, si Tania itu ditemukan tewas di semak-semak dekat gang kecil—aduh, aku lupa namanya apa." Ungkapan dari Alvino selanjutnya langsung membuat seisi kelas terbungkam. Mendadak saja mereka semua merinding. Tak terkecuali Tiara yang spontan mengangkat kepala.
“Beneran, Vin? Berarti dia meninggal karena dibunuh?”
“Dengar-dengar, sih, gitu,” ujar Alvino sembari mengangkat kedua bahu.
"Oh, ya. Gaes, kumpulin uang duka buat keluarga Tania, ya. Ini kotaknya. Gantian, kayak biasanya. Nanti bakal diserahin anak-anak OSIS ke keluarga Tania." Selepas mengucapkan hal tersebut, Alvino meletakkan selembar uang kertas berwarna kuning ke dalam kotak itu, lalu menyerahkan kotak tersebut pada temannya yang duduk di bangku pojok kanan depan.
Setelah itu, kotak tersebut mulai bergilir secara mengular. Ketika kotak yang berada di genggaman Ardit akan digeser ke Tiara, lelaki itu sempat menyenggol sedikit lengan sahabatnya.
"Ti, kepalamu masih pusing, ya?" Ditanya seperti itu, bukannya menjawab, Tiara justru meraih kotak yang ada di genggaman Ardit, lalu meletakkan uangnya ke dalam situ. Tanpa menghiraukan Ardit yang menunggu jawabannya.
Tak terasa, bel istirahat pertama pun berbunyi. Di saat yang lain mulai bersorak dan beranjak dari bangku masing-masing, Tiara justru masih asyik dalam posisinya yang tiduran.
Entahlah, kepalanya semakin lama mulai terasa berat.
Namun, gadis itu tiba-tiba merasa terusik saat ia merasakan lengannya digoyang oleh seseorang. Alhasil, Tiara pun mengangkat kepala dan menatap orang yang telah menganggungnya.
"Ti, ke UKS aja, ya. Atau izin pulang, deh. Tuh, badanmu panas, kayaknya demam." Rupanya Ardit yang telah mengusik aktivitas tidur Tiara. Lelaki itu pun saat ini menyentuh kening Tiara dengan punggung tangannya. Yang membuat gadis itu menyingkirkan tangan Ardit.
"Apaan, sih, Dit? Udah, ah."
Jujur, Ardit semakin merasa aneh dengan perubahan sikap Tiara yang bisa dikatakan sangat mendadak. Gadis itu memang suka marah padanya jika Ardit mengusilinya. Akan tetapi, jika Ardit perhatian seperti ini, biasanya Tiara biasa saja, tidak sampai semarah ini.
Jadi, tak salah, kan, jika Ardit merasa ada yang aneh dengan Tiara?
💌💌💌
Have a nice day.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top