11. Larangan Mama
Selamat Membaca!!!
💌💌💌
“Kamu pulang jam berapa semalam?” Tiara yang baru saja keluar dari kamar untuk mandi, langsung dicegat sang mama dengan sebuah pertanyaan.
Namun, gadis itu lebih memilih untuk cuek dan berjalan meninggalkan mamanya. Jujur, ia masih kesal dengan wanita yang telah melahirkannya itu saat mengingat kejadian semalam. Hari ini adalah hari Minggu, sehingga Tiara tak ingin hari liburnya ini menjadi buruk gara-gara mood yang tak baik.
“Tiara! Mama tanya sama kamu kenapa malah pergi? Nggak sopan!” teriak sang mama yang membuat Tiara menghentikan langkah.
“Oh, semalam kamu keluar sama temen cowokmu itu, ya? Yang namanya Ardit itu, kan? Cowok itu emang suka bawa pengaruh buruk, ya. Ngajak anak gadis keluar malem-malem. Makanya mama nggak suka kalau kamu temenan sama dia.” Mendadak saja Tiara menjadi geram setelah mendengar ucapan dari mamanya.
Entahlah, sejak sang mama bercerai dengan papanya, wanita yang telah mengandungnya selama sembilan bulan itu selalu tidak suka jika Tiara dekat dengan Ardit. Padahal, mereka sudah bersahabat sejak kecil. Tentu saja hal itu membuat Tiara semakin membenci mamanya.
Dengan helaan napas panjang, Tiara balik menoleh ke sang mama. “Sekarang aku yang mau tanya. Apa Mama ada janji dengan klien Mama semalam?”
Wajah wanita bernama Shafeeya itu sontak mengendur saat mendengar pertanyaan anak gadisnya.
“Klien apa maksudmu, Ti?” Namun, gadis itu mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh.
“Mama pikir aja sendiri.” Setelah itu, Tiara pergi meninggalkan mamanya. Baru saja selangkah ia berjalan, lengannya ditahan oleh sang mama.
“Jawab dulu, Ti. Klien apa yang kamu maksud? Jangan sembarangan kalau bicara.” Tiara langsung berbalik dengan wajah yang merah padam.
“Klien apa lagi, Ma? Apa mama lupa sama pekerjaan mama sendiri?” Wajah Shafeeya sontak mengeras saat mendengar penuturan putrinya.
“Apa maksud kamu, Ti? Kamu nggak terima sama pekerjaan mama? Kita masih bisa bertahan hidup aja sudah bersyu—”
“Aku ketemu sama klien Mama semalam. Dia laki-laki sudah tua, kan?” Mendadak raut Shafeeya menjadi pias.
“K—kamu ... ketemu orang itu? Dia bilang apa sama kamu?”
“Dia mau aku menggantikan posisi Mama asal Mama tau!” teriak Tiara dengan kesal. Sebab, sejak tadi ia benar-benar menahan emosinya. Namun, sekarang, gadis itu tak dapat menahannya lagi.
“Apa maksud kamu, Ti? Menggantikan posisi mama yang kamu maksud itu apa?” tanya Shafeeya lagi dengan bergetar. Degup jantungnya mulai berdebar hebat.
“Dia mau merampas keperawananku, Ma. Dan itu gara-gara Mama tidak memenuhi janjinya semalam. Mama jahat! Tega buat aku nyaris jadi santapan pria tua bejat itu. Aku benci Mama!” Selepas itu, Tiara berlari pergi dengan air mata yang mulai mengalir.
Hati Shafeeya pun teriris saat mendengar bentakan anaknya tadi. Namun, ia tak dapat membantahnya. Sebab, yang Tiara katakan memang tidak salah.
Tiba-tiba saja Tiara berhenti lari, lalu berdiam diri di tempat. Shafeeya yang melihat hal tersebut hanya bergeming.
“Ah, ya. Asal Mama tau aja. Ardit, laki-laki yang kata Mama membawa pengaruh buruk buat aku, nyatanya dia yang justru menyelamatkanku dari klien Mama itu. Apa Mama tidak ingin berterimakasih padanya karena telah menyelamatkan anak gadis Mama satu-satunya ini?”
Selepas itu, Tiara benar-benar pergi meninggalkan Shafeeya yang menatap anak gadisnya dengan pandangan kosong.
💌💌💌
Bingung mau nulis a/n nya apaan ಥ‿ಥ Intinya, happy reading 💜
Have a nice day.

©Surabaya, 26 April 2021
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top