BAB I

Shift malam selesai pukul enam pagi. Fatah keluar dari pintu belakang coffee shop, jaketnya masih bau kopi bercampur asap rokok. Hujan turun deras, membuat jalanan licin dan sepi. Ia duduk sebentar di bangku besi depan kafe, menyalakan sebatang rokok terakhir. Asapnya berbaur dengan bau aspal basah, menusuk hidung, tapi justru menenangkan.

Setiap hisapan rokok terasa pahit, tapi entah kenapa justru itu yang ia butuhkan. Ada getir yang akrab, getir yang sudah lama jadi temannya. Dalam diam itu, kepalanya riuh oleh hal-hal yang tak pernah ia bilang pada siapa pun. Tentang kehilangan, tentang marah, tentang sesuatu yang bikin dadanya serasa macet di satu titik.

Ia mengisap lagi, dalam-dalam, lalu membuang napas panjang. Asap rokok bercampur dengan bau aspal basah.

Dengan langkah berat, ia turun ke jalan. Ujung sepatunya langsung disambut genangan air. Fatah mendongak sebentar, membiarkan rintik menghantam wajahnya. Ada perasaan aneh—antara bebas, tapi juga kosong. Seperti tiap tetes hujan menyapu sisa kantuk sekaligus membangkitkan sesuatu yang sudah lama ia kubur.

Lalu tiba-tiba, ada sesuatu yang berubah. Hujan yang seharusnya jatuh di wajahnya terhenti. Payung bening terbuka di atas kepalanya, menampung rintik air yang mestinya mengenai dirinya.

Fatah menunduk sedikit, pandangannya bertabrakan dengan sepasang mata yang sudah bertahun-tahun cuma jadi bayangan di kepalanya. Alya.

Wajah itu masih sama, hanya lebih dewasa. Dan justru karena itu, hantaman di dada Fatah makin keras. Tangannya, yang masih menggenggam rokok hampir habis, mendadak kaku.

"Hai," suara Alya pelan, nyaris terseret deras hujan.

Senyum tipis muncul di wajah Alya, tapi cepat padam. "Udah lama ya."

Fatah mengangguk. Tangannya ingin dimasukkan ke saku, tapi lalu dibiarkan menggantung, canggung.
"Iya. Lama."

Diam lagi. Hujan di sekitar mereka seperti memperpanjang jeda. Payung Alya bergerak sedikit, menepi agar menutupi Fatah juga.

"Kamu masih ngerokok," katanya pelan, matanya menatap puntung yang masih berasap tipis di sela jari Fatah.

Fatah menunduk, lalu tersenyum kaku. "Cuma habisin yang terakhir."

Mata mereka bertemu. Ada begitu banyak kalimat yang seharusnya terucap, tapi pagi itu hanya satu hal yang terasa: pertemuan sederhana, penuh hening, yang justru menyimpan semua cerita yang belum selesai.

Mereka berdiri di bawah payung yang sama. Hujan turun deras, tapi di antara mereka justru ada keheningan yang lebih deras.

Alya menggenggam bunga putihnya lebih erat. "Aku lewat sini... nggak nyangka ketemu kamu." Suaranya bergetar sedikit, seperti menimbang kata-kata.

Payung bening di tangan Alya menampung rintik hujan. Aroma tembakau dari Fatah bercampur dengan bau aspal basah, mengusik hidungnya. Ia menatap Alya sekilas, lalu sekali lagi. "Hai," katanya pendek.

"Hai."

Sesaat hening. Tapi di kepala Fatah, pintu lama terbuka.

Fatah menarik napas, menatap genangan air di trotoar. "Aku juga nggak nyangka. Rasanya... aneh."

Enam tahun lalu. Putih abu-abu. Bukan cerita anak rajin. Fatah bukan tipe kutu buku yang duduk manis di kelas. Dia anak belakang: nongkrong di warung depan sekolah, rokok diselipkan di kaus kaki, sering dapat surat peringatan dari guru.

Tapi Alya... Alya itu lain. Cewek pintar, rajin ikut organisasi, selalu rapi, nggak pernah absen nyatet. Semua orang bilang mereka nggak nyambung. Tapi entah kenapa, Alya bisa betah duduk di sampingnya waktu pelajaran olahraga, bisa nyubit lengannya kalau dia ketahuan tidur di kelas, bisa nyodorin contekan waktu ulangan Matematika.

Dan buat Fatah, itu cukup. Dia nggak butuh dunia ngerti. Yang penting, ada satu orang yang bisa lihat dirinya lebih dari sekadar berandalan.

Sampai suatu hari, semuanya berhenti. Alya nggak lagi nyapa di koridor. Chat nggak dibales. Senyum hilang. Dia mulai jaga jarak.

Fatah bukan tipe yang gampang nerima diacuhin. Dia coba ngejar—kadang sengaja ngajak ribut temen cowoknya biar Alya melirik. Tapi nggak mempan. Alya benar-banar menutup pintu.

Hari kelulusan, Ketika nama Fatah dipanggil, ia bangkit dengan langkah malas, dasinya sengaja dibiarkan longgar. Tepuk tangan tetap terdengar, sama seperti yang lain. Tapi pandangannya tidak ke arah panggung, melainkan ke satu titik di barisan depan.

Alya.

Namun tepat ketika tatapannya hampir bertemu, Alya memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan map di pangkuannya.

Ijazah di tangan Fatah mendadak terasa lebih berat daripada seharusnya.

Malam setelah wisuda, Fatah duduk sendirian di lapangan bola dekat rumahnya. Botol kosong berserakan di sekeliling, setengah bungkus rokok habis tak bersisa. Kepalanya berat, tenggorokan panas, tapi ruang di dadanya tetap hampa. Sesekali ia tertawa kecil—tawa yang lebih mirip cemoohan pada dirinya sendiri—lalu menendang botol ke tengah rumput basah. Dari semua orang yang bisa melukainya, justru Alya yang memilih pergi tanpa sepatah kata. Hari kelulusan menjadi poros, titik pasti bahwa gadis itu benar-benar menghilang dari hidupnya. Dan lima tahun setelahnya, meski ia sudah mencoba menenggelamkan diri dalam alkohol, rokok, bahkan ribut-ribut di jalanan, perasaan itu tak pernah lepas. Luka itu melekat, seperti tato yang mustahil dihapus.

"Aneh gimana?" Pertanyaan Alya sederhana, tapi matanya menunggu jawaban lebih.

Fatah tersenyum kaku. "Kayak... yang dulu tiba-tiba nongol lagi, pas aku udah capek mikirin."

Hening lagi. Payung bening bergetar ditimpa titik-titik hujan. Alya menunduk, lalu menghela napas panjang.

"Maaf."

Kata itu membuat Fatah menoleh cepat. Pandangannya menajam, menahan emosi yang ia simpan bertahun-tahun.

"Untuk apa?"

Alya menatapnya, kali ini tanpa menghindar. "Untuk semua yang nggak sempat aku jelasin."

Fatah terdiam. Ada banyak kalimat ingin ia lemparkan—marah, kecewa, rindu—tapi semuanya terhenti di kerongkongan. Yang keluar hanya satu kalimat pendek: "Ya. Aku nunggu itu."

Hujan masih jatuh, makin rapat. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, keduanya merasa suara mereka akhirnya saling menemukan jalan.

Awalnya, hening itu kaku. Fatah berdiri setengah basah, jemarinya gemetar menahan rokok yang hampir habis. Ia mengangkat wajah sekilas, melihat Alya di balik payung beningnya, lalu buru-buru menunduk lagi. Semua terasa janggal, seakan-akan waktu yang lama sekali itu tiba-tiba diringkas jadi beberapa detik saja.

"Hai," sapanya pendek, suara serak dan nyaris patah.

Alya membalas dengan anggukan kecil. Senyum tipis terbit di bibirnya, tapi justru menambah tebal jurang di dada Fatah.

Hening lagi. Hanya suara hujan yang jatuh di atas plastik bening, mengisi celah percakapan yang tak terisi. Fatah ingin pergi, ingin menyelamatkan dirinya dari canggung yang menusuk, tapi sepasang mata itu—mata yang dulu selalu ia cari di keramaian sekolah—menahan langkahnya.

Detik berikutnya, seakan sesuatu pecah dalam dirinya. Rokok di tangannya bergetar, dan kalimat yang selama ini ia kubur meletup tanpa bisa dicegah.

"Enam tahun aku hidup kayak orang bego," ucapnya tiba-tiba, suaranya meninggi sedikit. "Nyari alasan sendiri, bikin skenario sendiri, sementara kamu cuma pergi tanpa bilang apa-apa. Gila, Ya. Rasanya gila."

Alya tersentak, matanya turun ke tanah. "Aku... aku takut, Tah."

Fatah mendengus, setengah tertawa getir. "Takut? Itu doang alasan kamu?"

Nada suaranya makin berat, makin penuh bara yang selama ini ia pendam. Jemarinya meremas puntung rokok sampai padam, lalu ia nyalakan yang baru dengan gerakan kasar. Asapnya keluar bersama napas panas, seperti emosi yang terlepas satu per satu.

"Jadi kamu pilih ninggalin aku gitu aja? Nggak ada kata, nggak ada penjelasan? Kamu ngerti nggak rasanya, Ya? Aku habisin malam-malam sendirian kayak orang tolol, mabuk, ngerokok sampai habis setengah bungkus, tapi tetap nggak dapet jawaban!"

Hujan makin deras, memukul trotoar seperti ikut menekankan amarahnya. Alya diam, hanya menunduk, bibirnya gemetar tapi tak ada kata keluar.

Mata Fatah menajam, memerah karena terlalu banyak menahan. Suaranya serak, tapi tetap pecah, "Kamu ngerti nggak, satu kata 'takut' itu udah ngerusak bertahun-tahun hidupku?"

Alya akhirnya mengangkat wajahnya, menatap lurus pada Fatah. Tatapan itu tak lagi lari, tak lagi sembunyi. Suaranya pelan, tapi jelas menusuk di antara derasnya hujan.

"Memangnya selama ini ada apa dengan kita, Tah?" tanyanya. "Aku tahu kita sempat dekat, tapi... apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku menyakitimu?"

Kata-kata itu menggantung di udara. Bagi Fatah, pertanyaan itu seperti pisau lain yang menusuk, sekaligus pintu yang entah menuju penjelasan atau luka baru.

Ia hanya menatap Alya, rahangnya mengeras, tapi tak ada jawaban keluar. Hujan terus jatuh, dan bab itu berakhir di situ—di antara tatapan yang saling menunggu, tapi tidak ada yang berani lebih dulu membuka pintu masa lalu.

Di saat itu, semua canggung yang tadi membeku meleleh. Yang tersisa hanyalah derasnya luapan emosi—marah, kecewa, dan rindu—yang akhirnya tumpah setelah sekian lama terkubur.

Fatah terdiam lama, seperti semua kata yang tadi meledak kini kehabisan tenaga. Ujung rokoknya menyala sebentar, lalu padam tersapu hujan. Ia menjatuhkan puntungnya ke tanah, menginjak pelan sampai benar-benar mati.

Matanya menatap Alya sekilas, hanya sekilas—cukup untuk menunjukkan luka yang belum terjawab, cukup untuk membiarkan Alya tahu betapa besar harga yang harus ia bayar karena diamnya dulu.

Tapi Fatah tidak menjawab.

Ia menarik napas panjang, lalu membuangnya dalam desahan berat. Bahunya merosot, seolah semua beban itu tiba-tiba menua di tubuhnya. Setelah itu, ia melangkah mundur satu langkah, memberi jarak dari payung bening yang melindunginya tadi.

Alya masih berdiri di sana, wajahnya penuh tanda tanya, matanya berusaha menembus dinding yang Fatah bangun selama enam tahun.

Namun, hujan yang turun lebih deras menutup sisa percakapan. Fatah berbalik, berjalan perlahan menyusuri trotoar yang licin, meninggalkan Alya dengan pertanyaan yang belum terjawab.

Fatah berjalan di trotoar yang basah, kepalanya berat, pikirannya penuh. Puntung rokok terakhir yang tadi ia matikan di depan Alya masih terbayang jelas—bagaimana ujung bara itu padam, diinjaknya sampai hancur. Biasanya rokok terakhir adalah penutup, tapi kali ini ia menyesal. Menyesal mematikannya terlalu cepat, sama seperti menyesal membiarkan pertanyaan Alya menguap tanpa jawaban.

Sekarang justru ia yang memberi punggung. Alya berdiri di belakang, menunggu, dan ia memilih pergi. Ironis, setelah bertahun-tahun menyimpan dendam karena pernah ditinggalkan tanpa kata, malam ini ia mengulang hal yang sama.

Langkahnya makin cepat, seakan ingin kabur dari bayangan sendiri. Tapi di dalam dada, ruang itu makin sesak—antara marah, rindu, dan penyesalan yang menempel seperti bau asap rokok di jaket lusuhnya.

Sementara itu, Alya masih berdiri di tempat yang sama. Payung beningnya menahan sisa gerimis, matanya menatap punggung Fatah yang menjauh hingga lenyap di tikungan. Ada helaan napas panjang yang tak sanggup ia tahan, setengah lega karena akhirnya bertemu, setengah perih karena justru kini Fatah yang meninggalkan tanpa sepatah kata. Namun jauh di dalam hati, Alya tahu satu hal: jawaban itu sebenarnya tak pernah hilang. Fatah bukan sosok yang berbeda—ia hanya seseorang yang selalu kesulitan mengekspresikan isi hatinya.

BERSAMBUNG

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top