Port City, Ballamb

Pagi itu Bran melepas-landaskan Ragnaroknya dari pantai Winhill menuju sisi utara dari desa Winhill. Tidak jauh dari utara desa, terdapat gunung dimana vila pribadi maupun vila sewaan dibangun. Keluar dari perbukitan itu, tampaklah sebuah bangunan melayang berbentuk seperti ikan raksasa. 15 tahun lalu terjadi pertikaian antara Ballamb dengan Centra yang membuat bangunan melayang tersebut memerlukan renovasi. Jendral Besar memutuskan untuk mengecat bangunan itu menjadi hitam, sesuai warna kesukaannya.

Setelah pertikaian antara Ballamb Garden dan Centra, banyak kejadian yang mengubah sistem dan bentuk dari Ballamb Garden. Misalnya, Zell Dincht menyadari betapa pentingnya bagi Ballamb untuk memiliki sistem militer sendiri. Ballamb Garden memang berasal dari Ballamb, namun berhubung status para prajurit di sana adalah prajurit bayaran, maka kliennya fleksibel. Maka keluarlah Zell Dincht dari sana untuk mendirikan kesatuan militer Ballamb. 

Bersamaan dengan itu, Ballamb Garden dan Eshtar menjalin kerja sama membangun Ragnarok sebagai angkatan udara sekaligus untuk mempermudah mobilisasi para prajurit. Eshtar membangun Ragnarok tipe SFX yang lebih ringan dan lebih irit bensin daripada Ragnarok yang klasik, namun kelemahannya, tipe SFX tidak seluas Ragnarok yang klasik. Hasil dari kerjasama tersebut adalah meluasnya tempat parkir di Ballamb Garden yang kini memiliki pelabuhan udara.

Di sanalah Bran mendaratkan Ragnarok SFXnya, memasuki garasi. Setelah proses identifikasi selesai dan komputer mengenali identitas Ragnarok tersebut, Bran meninggalkan kendaraannya keluar garasi. Dia menggesekkan kartu identitasnya, dan terkuncilah garasi tersebut. Masuk ke dalam Ballamb Garden yang sudah direnovasi, Bran berpapasan dengan beberapa gadis-gadis muda yang bening-bening. Ia tidak pernah lupa memasang kacamata hitam, untuk menambah kesan misterius karena orang lain tidak dapat melihat kemana matanya melirik.

Sampai di unit kesehatan, poliklinik, Bran tidak menemukan wanita paruh baya yang dicarinya. Ia menemukan poliklinik itu dalam keadaan sepi, tidak ada yang sedang dalam perawatan, dan hanya ada seorang wanita berambut gelap sedang memunggungi pintu masuk memeriksa ensiklopedi.

"Maaf, permisi," panggil Bran. "Aku yakin anda bukan Dr Treepe?"

Wanita itu menoleh, menampakkan wajahnya yang muda dan cantik. Mata birunya menatap langsung pada Bran, sedikit mengecil karena sedang menerka siapa pemuda berjaket kulit ini.

"Bukan, kembalilah lain waktu," jawab gadis itu.

"Di mana Dr Treepe sekarang? Maksudku, ini pukul sepuluh dan aku tidak yakin dia sedang keluar untuk makan siang ataupun makan pagi." 

"Dia sedang makan, sebentar lagi juga kembali. Bila anda tidak punya keperluan di sini, silakan pergi."

"Benar juga. Ada nomer telepon? Biar aku bisa menanyakan apakah Dr Treepe sudah kembali atau belum nanti." Bran mengeluarkan smartphone dari saku pakaiannya.

Gadis itu sekarang menutup buku ensiklopedinya, lalu memandang Brandish penuh curiga. Dia sadar orang ini sedang meminta nomer teleponnya. Dan "mata keranjang" jadi sifat utama dari penilaian singkat gadis itu mengenai Bran.

"Baiklah kalau kau memang memerlukannya," gadis itu lalu memberikan deretan nomer telepon. 

Bran memasukkan nomer tersebut, namun rupanya nomer itu sudah ada dalam smartphonenya. Atas nama "Instruktur Bulldog". Matanya langsung melotot dan dia menelan air liur. 

"Hubungi aku malam ini, yah." Gadis itu tersenyum culas, seakan siasat kejinya diambang kesuksesan.

Bran baru membuka mulutnya, akan mengucapkan sesuatu bahwa dia tahu ini bukan nomer telepon seorang gadis manis seperti yang berdiri di hadapannya saat ini, namun seseorang datang menyela, masuk ke dalam poliklinik.

"Bran? Kau sudah datang, rupanya." Sapa seorang wanita paruh baya berambut pirang dengan kacamata tipis. Usianya nyaris 50 tahun, namun dia masih terlihat cantik dengan sedikit sekali keriput pada wajahnya.

"Yeah, Dr Treepe, aku kira kau sedang makan pagi di kantin," jawab Bran.

"Tadinya begitu," jawab wanita itu. 

"Halo, Bran. Apa kabarmu?" sapa seorang lelaki yang berdiri di belakang Quistis Treepe. Ia sama usianya dengan Dr Treepe, namun terlihat lebih tua dari 50 tahun. Seluruh rambutnya sudah memutih, kantung matanya sudah turun, dan keriput sudah terlihat di wajahnya. Lehernya cukup kendur dan perutnya buncit, sehingga mudah terlihat bahwa orang ini tidak suka olahraga.

"Baik, Tn Faggot," jawab Bran, tidak membuat si pemilik nama tersinggung karena bunyinya sama dengan nama aslinya.

"Kami baru saja makan pagi bersama. Bila kau datang lebih pagi, kita bisa makan bersama layaknya keluarga sungguhan. Kita bisa mengobrol banyak hal agar kau bisa belajar mengenai kehidupan," kata James Fagod, penuh percaya diri.

Bran tertawa, "haha ... yah, tak pernah berhenti berharap itu pelajaran bagus mengenai kehidupan."

Wajah sumringah James Fagod langsung terjatuh seketika menjadi seperti anjing bulldog yang murung.

"Terima kasih, Bran, kau membuat pagi ini menjadi penuh harapan," Dr Treepe mendorong Brandish menjauh dari calon suaminya, melerai dua orang pria yang penting dalam hidupnya itu agar perang dingin tidak berkembang.

"Sonja, aku cuti dulu," kata Dr Treepe pada gadis muda yang masih saja memeluk buku ensiklopedi di tangannya. Kini matanya terbelalak, bergantian memandang antara Bran dengan Dr Treepe.

"Oh ya, Bran, kenalkan, ini muridku yang sangat berbakat, Sonja Watson. Sonja, kenalkan ini putraku, Brandish."

Sambil tersenyum simpul, Bran mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan gadis itu, "Brandish Treepe." Katanya, kemudian menarik tangannya kembali dengan cepat. Ia lanjut berjalan menuju dua tas besar yang pasti berisi barang-barang milik ibunya.

"Kalau ada masalah yang pelik, kau bisa hubungi aku lewat skype. Oke? Bye," Dr Treepe meninggalkan polikliniknya dengan putranya mengikuti di belakang. Sebelum pintu ditutupnya, Bran berkata, "pantas kau beri nomer telepon ayahmu tadi."

"Instruktur Bulldog" adalah orang yang paling dibenci Bran. Orang itu sepertinya punya dendam kesumat pada Bran, selalu mencari-cari kesalahan agar bisa menghukum Bran dengan hukuman fisik yang sangat berat. Karena galaknya, Bran memberi nama panggilan "Bulldog" sebagai ganti nama "Watson" dalam ponselnya.

Mereka segera kembali ke tempat parkir untuk lepas landas meninggalkan Winhill dan kembali ke Ballamb. Dengan begini, Dr Treepe dan kekasihnya tidak perlu mencari kendaraan tumpangan menuju Ballamb. Seperti layaknya ibu pada umumnya, Dr Treepe memprotes betapa berantakan ruangan tempat tinggal putra tunggalnya itu. Bran sendiri hanya diam mendengarkan dan berjanji untuk merapikannya di waktu luang nanti, bila bukan ibunya yang mengatakan itu, dia tidak akan menyukainya.

"Biar kukemudikan," kata Tn Fagod.

"Tidak perlu," Bran cepat-cepat mensetting auto-pilot menuju Ballamb.

"Auto-pilot boros bensin," kata Tn Fagod.

"Kalau digunakan pada kendaraan air atau daratan. Kalau kendaraan udara malah irit." jawab Bran, sok tahu.

Tn Fagod sebagai instruktur teknik merasa dirinya dilangkahi, harga dirinya pun mendesak untuk mengeluarkan segenap ilmu pengetahuan yang berbuah menjadi argumentasi dipenuhi istilah teknik yang berat untuk mengungkapkan betapa borosnya auto-pilot pada kendaraan udara. Namun Bran dengan ucapan sarkastisnya berhasil menyinggung Tn Fagod dan harga diri serta kredibilitasnya sebagai seorang instruktor sehingga akhirnya perdebatan mereka berdua memanas lagi.

Dr Treepe menepuk-nepukkan tangannya dengan keras sebagai isyarat agar mereka berdua berhenti, "James, anda benar. Auto-pilot sangat boros. Tapi ini kendaraan anakku, dan biar dia melakukan apapun yang dia mau."

"Bocah ini sok tahu sekali," keluh Tn Fagod sambil menuding Bran yang memalingkan wajah dengan muak. Bila orang itu bukan kekasih ibunya, bogem Bran sudah melayang.

Berdiri melindungi Bran, Dr Treepe menyelingkap kedua tangannya menghadapi calon tunangannya itu. "James ... sejak kecil, aku mendidik Bran untuk menjadi orang yang bertanggung jawab. Aku selalu menyebutnya "pria muda", bukan "anak lelaki". Sebagai orangtua, aku hanya memberinya nasihat, setelah itu kuserahkan padanya sendiri apa yang ingin dia putuskan. Sejauh ini Bran tidak pernah mengecewakanku, jadi mari kita tidak memperpanjang masalah auto-pilot yang kecil ini, oke?"

Sambil menggerutu, Tn Fagod meninggalkan ruangan kokpit.

Setelah mereka hanya berduaan, Dr Treepe merangkul anaknya. "Aku tahu sulit bagimu untuk menerimanya. Tapi kau harus mengerti, Bran. Aku dan ayahmu tidak bisa bersama."

"Aku tahu," ujar Bran dengan nada suara seakan dia tidak mau mendengarnya.

Setelah mengecup pipi anaknya, Dr Treepe pun berjalan meninggalkan kokpit untuk menyusul calon tunangannya. Langkahnya terhenti saat ia mendengar Bran memanggilnya.

"Mom!"

"Ya?"

"Bila Jendral tidak mengincar Dad, apakah kau mau menikah dengan Dad?"

Dr Treepe terpaku sesaat, matanya terlihat tegar. "Tidak, Bran." Jawabnya dengan tenang dan tegas, "aku dan dia tidak saling mencintai. Kamu adalah kecelakaan, hadiah yang tak terduga." Lalu lanjut Dr Treepe, "dan aku merasa bahagia bahwa keputusanku untuk melahirkanmu itu tidak salah."

"Terima kasih telah membiarkanku lahir, Mom." Bran tersenyum tipis.

"Terima kasih sudah hadir, Bran." Dr Treepe membalasnya.

"Oke," pemuda itu kembali duduk di kursi kemudi dan main game diamond dash di smartphonenya.

Permainannya terganggu oleh panggilan video dari Triple L. Bran menerimanya dan terlihatlah wajah seorang lelaki muda yang rambutnya sudah dicukur habis, kini terbalut perban.

Bran menertawakannya dengan keras, "whoahahaha!! Hoii ke mana rambutmu?!"

Orang itu mengeluh sambil mengusap kepalanya, "operasi 20 jahitan, dan sekarang ada pelat besi yang menempel di tengkorakku. Jangan tertawa!"

Tapi Bran masih tertawa, "baru bangun, Luke?"

"Ya, begitulah. Di meja operasi semalaman. Kudengar ayah memberimu misi baru?"

"Ya, kadang aku berharap dia peka terhadap sindiran."

"Tidak mungkin! Ini gila! Kau kan sendirian, kenapa dia masih menyuruhmu?"

"Mana kutahu, mentang-mentang aku blue magician. Dia tidak mengizinkanku merekrut orang. Aku berharap bisa merekrut orang di luar SeeD."

"Halah ... aturan itu cuma lelucon. Kau tahu? 2 kru milik Claude semuanya berasal dari bengkel Timber. Jendral sudah tahu tapi dia tidak menggubris."

"Jadi bisa nih?"

"Ya, makanya aku menghubungimu sekarang."

"Kau mau ikut? Sori ya, orang sakit dilarang bergabung."

"Omong kosong, aku bisa menggunakan magic untuk menyembuhkan diri. Aku kan sorceress."

"Satu-satunya lelaki yang sorceress ..." 

"Kau sendiri Blue Magician!"

"Blue Magician bukan sorceress, kita manusia cerdas yang menggunakan perlengkapan canggih rakitan sendiri dan menggunakannya seperti sihir."

Pokoknya kau harus ajak aku, Bran. Aku ikut!"

"Sembuhkan dulu kepalamu. Kalau sakit bisa-bisa malah merepotkanku saja nanti."

"Beres, jangan cerewet. Ya sudah, aku harus terapi sekarang, susternya sudah datang. Pokoknya jangan mulai tanpa aku, Bran."

"Besok ibuku bertunangan, jadi aku akan mulai misi ini lusa. Sebaiknya kau sudah sembuh saat itu atau kutinggal."

"Bukan masalah. Kau lihat saja."

Sambungan terputus dan permainan diamond dash dimulai dari awal lagi.

***

Ballamb masih seperti dulu, bersih, air biru, pantai putih, angin hangat, hanya saja bertambah luas. Pelabuhannya kini memanjang ke sepanjang pantai, dan di sekitar lembah dimana Ballamb Garden berada, ada barak militer BMDF, Ballamb Military Defense Force dimana Zell Dincht akhirnya mendapatkan jabatan Jendral bintang lima, setara dengan Squall Lionheart.

Dr Treepe memutuskan untuk membeli apartemen di Ballamb, letaknya dekat dengan pantai, maka setiap hari dari jendela kondonya, dia bisa menikmati pemandangan laut yang indah. 

Ragnarok Bran tiba di Ballamb pada pukul enam saat matahari terbenam dan langit semakin gelap. Jendral Dincht langsung mengundang mereka untuk makan malam di rumahnya, sebuah mansion besar yang pada pekarangannya terdapat bangunan bengkel dimana Jendral Dincht dan putri sulungnya melakukan konstruksi mesin yang unik-unik. Mereka sudah mampu membuat mobil berbahan bakar air laut yang kekuatannya tidak kalah dari mobil berbahan bakar bensin. 

Rumah Zell tidak bernuansa klasik, karena sejak muda dia suka dengan mesin dan kemajuan teknologi. Dia suka hooverboard walau dilarang menggunakan itu di Garden, waktu muda, hooverboardnya pernah disita oleh penegak hukum Garden. Mungkin itu sebabnya kini dia balas dendam dengan cara menjadikan hooverboard sebagai kendaraan sehari-hari kesatuan keamanan di Ballamb. Jadi bila kelak terjadi perang, pasukan militer Ballamb menggunakan hooverboard untuk bergerak ke lokasi. Rumah Jendral Dincht seperti rumah kaca dengan desain minimalis yang modern. Atap rumahnya bisa dibuka dengan remote bila dia ingin melakukan star-gazing. Dan di halaman belakang ada lapangan basket yang lantainya bisa dibuka menjadi kolam renang dan bermain basket air. Garasinya tersembunyi di bawah tanah, dimunculkan dengan remote kontrol. 

Untuk masuk ke dalam rumahnya, mereka menggunakan identifikasi sidik jari, atau memasukkan kode password dari proyeksi hologram. 

"Selamat datang, anggap saja rumah sendiri," Zell merentangkan tangannya agar ketiga orang tamu spesialnya masuk ke dalam rumah.

"Yo, Bran! Wah semakin dewasa saja. Terakhir kali aku melihatmu, kau masih remaja yang baru lulus tes SeeD, sekarang sudah lebih kekar. Siapapun ayahmu, dia pasti bangga melihatmu sekarang." Jendral Dincht belum tahu siapa ayah Bran, dan dia tidak boleh tahu.

"Dia baru naik pangkat setelah menemukan GF di Trabia empat bulan lalu, Zell," ujar Dr Treepe dengan bangga.

"Benarkah?! Wow! Kau bisa menggantikan Squall kelak!"

"Hanya GF kecil yang bisa menumbuhkan tanaman dengan cepat. Bukan sesuatu yang hebat," Bran merendah sedikit.

"Tapi tetap saja itu bagus, sangat bermanfaat untuk mereboisasi paru-paru dunia. Apa namanya?"

"Flauren," jawab Bran mengenai nama GF temuannya terakhir itu.

"Flauren ... hmm ... penumbuh tanaman ya? Kurasa dia bisa menggemburkan wilayah Centra yang tandus," Zell tertawa lagi lalu membawa ketiga tamunya naik ke lantai dua. 

Mereka duduk di meja makan kaca yang besar, dimana istri Zell dengan seorang pembantu rumah tangga sedang mempersiapkan makan malam. Acara ramah tamah dan silaturahmi berjalan dengan hangat sehingga rumah besar lima lantai itu jadi rampai oleh tawa kecil dan celotehan mereka. Bran hanya duduk kalem saja di meja makan, di seberang ada putri bungsu Zell yang cantik sedang memandanginya. Dia masih remaja, mungkin lebih muda daripada adik Luke. Bulu matanya tebal dan lentik, pipinya kemerahan dan dia terlihat sangat cantik. Tapi dia putri sahabat ibunya, dan Bran bersumpah untuk tidak mendekati siapapun yang merupakan kerabat atau teman dekat ibunya. 

Obrolan makan malam diisi dengan topik yang membahas bagaimana Dr Treepe dan Tn Fagod akhirnya menjadi dekat seperti sekarang ini. Sejak dulu Tn Fagod merupakan siswa yang dibimbing oleh Dr Treepe saat dia masih seorang instruktur. Namun Tn Fagod nyaris gagal menjadi SeeD dan dropout, dan sejak itu dia serius belajar sehingga akhirnya Squall menjadikannya instruktur. Karena itulah Tn Fagod memiliki kesempatan untuk dekat dengan Dr Treepe yang menjabat sebagai wakil komandan Ballamb Garden. 

"29 tahun pendekatan, akhirnya luluh juga." Tn Fagod menggelengkan kepala, namun terlihat senyum bangga di bibirnya.

"Jangan khawatir, Quistis memang sulit didekati orang. Sempat kukira dia bukan manusia karena tidak bisa jatuh cinta. Hahaha ..." ledek Zell.

"Tapi kau sudah menikah, James, mana mungkin aku tersanjung?" 

"Sudah bercerai belum?" ingin sekali Bran menanyakan hal itu, namun ditahannya karena dia takut pertanyaan itu akan mengacaukan suasana gembira yang memenuhi makan malam saat ini. 

"Yang penting sekarang aku dan istriku sudah berpisah," James Fagod menggenggam tangan Quistis. "Tak ada yang bisa menghalangi kita."

Bran memotong bistiknya yang alot dengan kuat sehingga terdengar suara piring berdenting.

"Ngomong-ngomong, Bran, bagaimana SeeD? Kau suka?"

"Menyenangkan," jawabnya, singkat.

"Ceritakan mengenai misi terakhirmu," Zell mengunyah daging sapinya dengan cepat sehingga kumis di bibirnya terlihat berputar.

"Ada insiden di Winhill," Bran memulai. "Kabarnya ada sesosok monster yang tidak biasa muncul, kami curiga dia mengincar sesuatu. Jendral memintaku untuk menyelidikinya."

"Oh, aku dengar mengenai insiden itu. Weapon ya?"

Bran harus mengakui bahwa Jendral Dincht memang selalu up-to-date terhadap perkembangan zaman. Tampaknya dia tidak pernah ketinggalan berita. "Kami mencurigainya seperti itu."

"Lalu bagaimana? Aku dengar kau sendirian sekarang. Maksudku, kau kekurangan bantuan, kan?"

"Ya, begitulah. Dengan kematian dua orang kru ku, sulit untuk mengajukan perekrutan SeeD lain. Bila bukan Jendral Lionheart yang tidak setuju, calon krunya yang takut. Sepertinya menjadi anggota Tim H sudah jadi bencana bagi mereka." Bran menyesap anggur merahnya, teman terbaik bagi bistik sapi.

"Kau harus hati-hati dan perhatikan anak buahmu," Tn Fagod mencoba untuk menjadi ayah yang baik.

"Terima kasih, tapi nasib orang siapa yang tahu."

"Ya, tapi nasib bisa diubah kalau kau bertekad."

"Kalau sudah waktunya mati, ya mati." Jawab Bran, kembali membuat Tn Fagod merasa nasihatnya tidak berguna. Nafsu makannya jadi hilang dan dia meletakkan garpu dan pisau makannya untuk menahan gemas.

"Bran," panggil Jendral Dincht. "Apakah ada ruang untuk seorang mekanik di kapalmu?"

"Ya, ada. Tentu saja ada."

"Putraku baru saja memasuki semester akhir, dan dia butuh magang. Aku ingin tahu apakah dia bisa berguna di Ragnarok dalam misi ini."

"Anak anda seorang mekanik?"

"Tidak juga sih. Dia seorang ahli sejarah, menurun dari ibunya," Jendral Dincht berpaling pada istrinya lalu tersenyum. Bran dengar dulu istri Jendral Dincht adalah seorang SeeD yang bertugas menjaga perpustakaan. "Tapi jangan khawatir, dia juga suka dengan mesin, dan dia memahami mesin. Walau semua dipelajarinya secara otodidak. Sayang kau belum pernah bertemu Dylan, anakku yang ke dua."

"Kalau dia bersedia magang di Ragnarokku, aku butuh profil dan CV nya untuk diajukan pada Jendral Besar."

Jendral Dincht tertawa, "tak perlu pusingkan itu. Aku sudah bicara dengan Squall. Sekarang dia sedang dalam perjalanan kembali dengan kereta, nanti di pesta pertunangan besok, aku kenalkan kalian berdua."

"Bagus sekali. Aku tidak sabar menanti besok." Bran tersenyum, berharap anak Jendral Dincht ini sekuat ayahnya di masa muda dulu dengan jurus-jurus duelnya yang membantai Omega Weapon dalam hitungan detik. Di samping itu, dirinya sudah mendapatkan dua kru yang terjamin kredibilitasnya. Ini sempurna!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top