BAB 27

Pagi-pagi Marda sudah dibangunkan oleh perdebatan antara Teressa dan Stevie. Mereka meributkan entah apa, dan Marda belum siap bangun karena sekarang masih pukul setengah enam pagi. Dia memejamkan matanya sekali lagi sambil menyayangkan alasan Teressa memilih unit apartemen yang tak bersekat begini. Semalam mereka tidur berjejalan di sofa dalam posisi berpelukan. Lengan Marda rasanya sakit setelah menjadi bantal istrinya semalaman. Teressa tak bisa mengklaim ranjangnya karena Stevie sudah lebih dulu tidur di sana.

"Lo tetap harus sekolah!" Teressa bersikeras.

"Cuma karena gue nginep sehari di sini, bukan berarti lo bisa nyuruh gue ini-itu!" balas Stevie tak kalah sewot.

Marda menutup kedua telinganya dengan bantal cushion. Selama Stevie dalam pengawasan Teressa, sebaiknya mereka segera pindah ke penthouse Marda saja. Setidaknya di sana bersekat, dan mereka punya privasi.

Tak lama berselang, terdengar suara orang muntah. Marda melompat bangun dan melihat Stevie jatuh terduduk di lantai. Teressa mendampinginya.

"Mual banget, Kak. Gue enggak mungkin sekolah dalam keadaan begini. Lagian gue enggak bawa seragam ganti." Stevie mengeluh sambil memegangi perutnya yang masih rata.

Marda mengambil minyak angin dari kantong belanjaan semalam untuk diberikan pada Teressa.

"Ini normal. Namanya morning sickness. Rata-rata ibu hamil merasakan ini." Teressa mengusap punggung Stevie dengan lembut sambil mengoleskan minyak angin ke tengkuk Stevie.

Marda yang melihat mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Sebentar bertengkar, sebentar rukun. Mungkin ini yang disebut dinamika persaudaraan. Berhubung dia anak tunggal, jadi tak pernah merasakannya.

"Kita perlu ke rumah sakit lagi?" tanyanya.

Teressa menggeleng. "She'll be fine. Bisa tolong ambilkan Hpku di meja?"

Marda melakukan yang disuruh, lalu menyerahkan ponsel itu pada Teressa. Wanita itu mengetik pesan singkat yang ditujukan pada asistennya, mengabarkan kalau hari ini dia tidak akan ke kantor. Harus ada seseorang yang menjaga Stevie, dan Marda tidak punya kualifikasi untuk itu.

"Apa Stevie mau makan sesuatu?" tanya Marda sedikit ragu.

"Lagi mual begini, malah ditawarin makan!" Stevie justru menggerutu. Teressa mencubit lengannya sampai gadis itu mengaduh.

"Siapa suruh hamil, hah?" Dia mencubit lagi karena amarahnya kembali terbit. "Siapa pecundang yang menghamili lo?"

"Kalau gue bilang, terus apa?" balas Stevie sengit. "Kakak mau nyuruh dia tanggung jawab?"

"Ya iyalah, bego! Tanggung jawab enggak harus dalam bentuk pernikahan! Gue enggak sudi punya ipar tolol kayak dia!"

Marda mengusap wajahnya sambil mendesah pelan. Satu setengah jam lagi dia harus ke kantor. Namun, dia mengkhawatirkan keadaan dua kakak-beradik itu. Dan jujur saja, dia masih ingin tinggal lebih lama dengan Teressa.

"Lo enggak tahu apa-apa tentang dia! Jangan ngatain sembarangan!" Stevie berpegangan pada dinding karena kepalanya tiba-tiba berputar. "Memangnya siapa yang mau hamil? Ini enggak disengaja!"

"This brat!" Teressa hampir memukul Stevie kalau saja bukan karena lengan Marda yang menahannya. Hidung Teressa kembang kempis selagi dia mengatur emosinya.

Marda menuntun Stevie untuk kembali ke ranjang agar gadis itu dapat beristirahat.

"Dia keras kepala!" dengkus Teressa ketika keduanya berada di dapur. "Dan bodoh!"

"Kamu juga," timpal Marda sembari tersenyum.

"Kamu ngatain aku bodoh?"

"Keras kepala aja, kok." Marda menyelipkan helaian rambut yang menutupi mata Teressa. Dia suka melihat wanita itu tanpa riasan dan rambut acak-acakan. Terlihat lebih manusiawi dan mudah diraih. "Kamu enggak akan bisa membuatnya bicara dengan cara begini."

"Terus gimana caranya?"

"Mungkin dia akan bicara kalau kita bicara lebih lembut padanya. Enggak usah ditakut-takutin bakal ngapa-ngapain cowok itu. Siapa tahu memang betulan pacarnya. Menurutmu, kamu bisa mengurusnya selama dia menginap dengan kita?"

"Marda," desah Teressa dramatis. "Kamu kira aku bisa mengurus orang hamil? Mengurus diriku sendiri aja udah setengah mati!"

"Dia cuma perlu makan, minum vitamin, dan beristirahat. Jangan diajak bertengkar, nanti dia pingsan."

"Ha. Sekarang kamu ahlinya?"

Marda memutar bola mata. "Aku memperhatikan omongan dokter, Sayang."

Mendengar panggilan itu, Teressa spontan membuang muka untuk menutupi semu tipis di pipinya. "Aku enggak tahu caranya ngasih tahu Papa. Mungkin Stevie akan dipaksa menggugurkan kandungan demi menjaga nama baik keluarga." Teressa setengah bergumam sambil menggigiti bagian dalam pipinya.

"Om Herman enggak akan tega melakukan itu."

"Kamu enggak kenal papaku." Teressa kembali memandangnya. "Dia orang keras kepala yang hanya peduli pada uang dan ketenaran. Baru-baru ini mega proyeknya gagal gara-gara kita menikah di luar rencana keluarga besar. Suasana hatinya enggak akan bagus setidaknya sampai beberapa bulan ke depan."

Marda mengangguk. "Estimasi kerugiannya besar." Dia balas memandang Teressa. "Kalau begitu, enggak ada cara lain. Kita biarkan dia tinggal dengan kita."

"Kalau Linda mencarinya?"

"Kita katakan sejujurnya."

Teressa kelihatan gelisah. "Kenapa kita musti peduli padanya, sih?"

"Because she's your sister." Marda mengedikkan bahu.

***

Teressa tak tahan lagi.

Lebih baik dia mengurus bayi gajah daripada Stevie yang rewelnya minta ampun. Sejak Marda pergi ke kantor, sudah lebih dari sepuluh kali Stevie minta diantar ke toilet. Untuk muntah lah, pipis lah, buang air besar lah. Awalnya Teressa bersimpati karena mengira itu semua gara-gara hormon kehamilan. Namun, semakin sore, tingkah Stevie semakin tak terkendali.

Dia minta Creme Brulee buatan rumah. Artinya, harus Teressa sendiri yang membuatnya. Teressa hampir membakar apartemennya kalau saja alarm kebakaran tidak berbunyi. Rumahnya basah kuyup oleh hujan dari langit-langit yang melakukan prosedur pertama untuk memadamkan api sebelum menyebar ke mana-mana. Bukannya membantu mengepel, Stevie malah merajuk. Dia ingin pulang ke rumahnya.

"Oke!" ujar Teressa. "Gue antar lo pulang ke rumah bokap sekarang! Apa pun yang terjadi sama lo kemudian, gue enggak akan ikut campur lagi!"

Alih-alih mengantarkan Stevie pulang ke rumah, dia hanya mengantar sampai lobi dan memesan taksi. Stevie masih merajuk. Dia diam seribu bahasa ketika masuk taksi dan berlalu pergi meninggalkan komplek apartemen.

"You are not my problem anymore!" rutuk Teressa.

Sore harinya Marda pulang ke apartemen Teressa. Melihat seisi rumah basah kuyup tentu membuatnya terkejut. Teressa terlihat sedang duduk di meja makan. Dua koper besar sudah siap di sebelah kakinya.

"Apa yang terjadi?" tanya Marda. Dia berjalan berjingkat hati-hati agar tidak terpleset.

"Stevie udah balik ke rumah bokap." Teressa menunjuk sekeliling. "Gue hampir bikin apartemen ini kebakaran gara-gara masak buat si Princess."

"Kamu bisa masak?"

Teressa memutar bola mata. "Kalau bisa, ya enggak akan sampai kebanjiran gini."

"Kalau gitu, kita pindah ke apartemenku aja?"

Wanita itu mengangguk dan bangkit berdiri. Dia sudah siap mengepak semua barang penting yang perlu dibawanya. Tiba-tiba ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Come here!" ujarnya.

Marda mengulum senyum. Suasana hati Teressa sulit ditebak. Mumpung sekarang moodnya sedang bagus, sebaiknya dioptimalkan saja. Lelaki itu menjawab tawaran Teressa dengan mengambil langkah lebar menuju pelukannya.

"Hari ini menyebalkan." Teressa berujar, tapi suaranya teredam di bahu Marda.

"Nanti aku telepon petugas kebersihan buat membereskan tempat ini." Marda memeluk Teressa erat-erat. Menyenangkan sekali disambut oleh istri sepulang kerja.

"Boleh jujur?"

"Hmm?"

"Sebenarnya aku khawatir sama keadaan Stevie. She's too young to go through this mess. Melakukan hubungan di usia semuda itu, ya ampun," gumam Teressa sambil geleng-geleng kepala. "Aku merasa bersalah. Entahlah. Rasanya campur aduk di dalam sini." Ia memegangi dadanya sendiri. "Bagaimana kalau seandainya nanti kita jadi orang tua dan punya anak semacam Stevie. What are we gonna do?"

"Jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi, Tessa."

***

.

.

.

.

Stevie nih tipe anak manja pembangkang yang enggak mau dianggap salah. Udah salah, nyusahin pula.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top