-prolog-
Kenangan suatu waktu selalu terbekas sebab ia berharga, tapi jika kenangan itu menyakitkan, bagaimana?

Lembayung di akhir senja musim panas selalu menjadi fenomena alam yang paling Akame benci setiap waktunya. Namun sayangnya, bocah usia delapan tahun itu tak bisa menghindari.
Dengan berlatarkan debur ombak yang memecah karang, Akame berteman dengan bayang-bayang. Ya, dengan kata lain dirinya sendirian, tanpa teman. Hanya ada dia dan alam yang menghangatkan.
Tapi, bagi Akame inilah yang terbaik. Dirinya bebas berekspresi apapun sesuka hati. Menunjukkan kemurkaannya, kekecewaannya, kesenduannya pada alam yang akan selalu menjadi saksi bisu segala kejadian pahit yang menimpa diri.
Tak akan ada yang mengiba padanya, tak akan ada yang mengkritiknya, tidak akan ada tatapan memuakkan dari makhluk bernama manusia yang sifatnya begitu palsu. Akame tidak menyukai itu.
"Hei, apa yang kau lakukan disini, sendirian?"
Suara dari gadis kecil datang merayapi dengan sang empu suara berhenti di depan Akame. Mata bulatnya yang senada namun lebih muda darin milik Akame menatap Akame polos, seksama serta begitu meneliti. Seolah, tengah membaca raut wajah lelaki kecil bersurai perak tersebut.
Akame yang ditatap begitu menatap balik tajam. Gadis kecil ini agak mengganggu pemandangan senja yang molek sekaligus memuakkan yang tengah Akame tatap.
"Harusnya kau tidak di sini, ini sudah hampir gelap. Diamlah di dalam rumah yang hangat, orang tuamu pasti mengkhawatirkanmu," ucap gadis kecil itu lagi.
Akame mendecih kecil, mundur selangkah sebab gadis itu kini justru semakin mendekatinya. "Diamlah bocah. Harusnya aku yang bilang begitu padamu," decihan menjadi penutup ucapan Akame pada gadis itu, pula Akame mulai menyusuri pesisir pantai berniat menjauhi gadis kecil yang baru pertama kali bertemu dengannya.
"T-tunggu dulu! Kau mau ke mana?" Gadis tadi bertanya, langkah kecilnya menyusul dengan sedikit berlari.
"Aku pulang seperti yang kau minta," jawab Akame tanpa berbalik mengingat gadis itu masih di belakangnya. Pun nadanya terdengar risih, menggambarkan betapa tidak nyamannya Akame yang terganggu sebab kehadiran gadis itu.
"A-ah … begitu ya …" Langkahnya ikut melirih similar dengan kata yang gadis itu ucap, ia menunduk murung berhenti di sana dengan Akame yang seketika membeku, terhenti sebab merasakan aura kesepian yang begitu kentara di sana.
Akame menoleh, sejenak bersama cahaya senja yang kini menuju kegelapan ia memperhatikan gadis kecil itu lekat-lekat. Gadis itu, nampak lusuh dan tak terurus.
Gelandangan. Akame dengan tepat menerka latar belakangnya. Pandangan Akame teralih pada luka di sikut dan lutut si gadis kecil.
"Lagi-lagi ada anak-anak yang mencuri dagangan di pasar, katanya mereka sempat kejar-kejaran dengan petugas keamanan pasar."
Akame jadi teringat dengan pembicaraan petugas keamanan di rumahnya beberapa waktu lalu.
"Oh iya, mereka. Jujur aku merasa iba, kudengar mereka anak-anak terlantar yang tinggal di sudut kota, mereka anak yang tidak memiliki orang tua dan kawasan di sana sangat kotor."
"Pantas saja, mereka tidak pernah diajari adab dan sopan santun, makanya malah jadi pencuri begitu."
"Jaga bicaramu dasar, kalau tak bisa membantu jangan berkomentar begitu."
Akame menghela napas panjang. Gadis kecil tadi kini duduk beralaskan pasir setengah basah dan Akame menghampiri pula duduk di sampingnya.
"Lukamu itu, apa terasa sakit?" tanya Akame. Gadis kecil itu terkaget, satu sisi mengira Akame sudah berlalu meninggalkannya dan satu lagi sebab tak menyangka lelaki kecil itu menanyakan lukanya.
"Ini hanya luka kecil bahkan tidak berdarah," jawabnya. Gadis itu terkekeh manis, mengusap pelan luka di lututnya. Mengatakan lewat gerak ia tidak apa-apa.
"Justru luka yang tak berdarah itu lebih sakit dari yang berdarah."
"Eh?"
Akame tersenyum kecil melihat reaksinya. "Siapa namamu?" tanya Akame lembut.
"A-aku Ichi, dan kau?" tanya balik si gadis rubi.
"Akame."
"Namamu manis sekali," puji Ichi yang tersenyum semakin mengembang ceria.
Manis. Menurut Akame gadis kecil ini manis. Bersama senja yang mulai bertransisi menjadi malam, Akame merasakan kehangatan. Tidak biasanya begitu, karena biasanya malam akan membekukan dan Akame akan makin membenci senja. Dan menurut Akame, Ichi hangat.
Kehangatannya berhasil membangun kembali rasa cintanya pada senja.
"Ini sudah malam, apa orang tuamu tidak khawatir kau belum pulang?" tanya Ichi. Akame menggeleng. "Orang tuaku---maksudku mereka bahkan tidak akan sadar aku tidak ada di rumah."
Hanya ada suara gelombang yang saling bergesekan di waktu ini, Akame diam usai menjawab sedang Ichi mulai tak enak hati. 'Aku tak seharusnya menanyakan itu ya?'
"M-maafkan aku," lirih Ichi.
Akame memiringkan kepalanya bingung. "Kenapa minta maaf, hm?"
"K-kau pasti sedih, apa sakit rasanya tak diperhatikan orang tua?" ucap Ichi sendu.
"Aku tidak tahu, di sini rasanya sakit tapi tidak ada darah apapun ...," jawab Akame memberi meremas dadanya. Ingatan tentang orang tua yang tak pernah sekalipun memberinya kasih sayang terlintas. Akame membencinya.
"Kata ibuku luka itu sulit untuk sembuh, tapi ada cara untuk menghilangkan rasa sakitnya, kemarilah."
Akame tanpa banyak bertanya menurut, ia beringsut mendekat pada Ichi yang tersenyum kecil.
Grep!
Ichi memeluk Akame, membawa kepala pemuda itu ke bahunya dan mengusap lembut kepala si surai perak. Akame diam dalam geli dan hangat yang bersamaan menghujami. Gadis kecil ini manis sekali.
"Setiap aku merasa sakit di dadaku karena teringat orangtuaku, ibu akan memelukku begini, beliau bilang ia akan selalu ada untukku menemaniku sekedar melupakan rasa sakit yang bisa tak bisa disembuhkan."
Akame melepas pelukan Ichi darinya sebab merasakan ada air yang jatuh. Ah, air mata. Gadis itu menangis dengan bibir yang tersenyum manis.
"Kalau kau sedih, kau hanya perlu seseorang untuk menemanimu," lanjut Ichi dengan senyum yang masih terbit di bibir mungilnya.
"Dan aku akan ada untukmu."
/
"Dan aku akan ada untukmu--eh."
Ichi terdiam mendengar Akame yang juga mengucapkan hal sama dengannya bersamaan.
Akame tertawa kecil pula menepuk surai kelam Ichi dan mengusapnya lembut. "Aku juga akan ada untukmu Ichi."
"Terima kasih, Akame."
"Terima kasih kembali."
-prolog end-
|Character:


Dear reader, welcome to my book and my brother book--!
(Laugh)
Big thanks to my brother 'cause udah mau diajakin bikin ini bareng. Kakak selalu minta maaf kalau ini malah bikin adek repot :(
Baca terus ya :)
Ttd,
yappleich
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top